1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Fakta Terbaru Ledakan Amunisi TNI yang Tewaskan 13 Korban

14 Mei 2025

Ledakan amunisi di Garut, Jawa Barat, menewaskan 13 orang dari TNI AD dan warga sipil. TNI AD melakukan investigasi terhadap penyebab ledakan tersebut. Ini fakta terbarunya.

Papan larangan masuk ke lokasi pemusnahan amunisi yang tidak layak pakai
Ledakan dari pemusnahan amunisi yang tidak layak pakai menewaskan korban dari TNI AD dan warga sipilFoto: Hakim Ghani/detikJabar

Lokasi ledakan diketahuri jauh dari permukiman warga setempat. Anak perempuan salah satu korban mengungkapkan bahwa ayahnya bukan memulung bekas ledakan amunisi, tetapi bekerja dengan TNI. Berikut fakta-fakta terbaru terkait peristiwa ledakan amunisi TNI di Garut.

1. TNI AD investigasi penyebab ledakan

Ledakan bermula dari pemusnahan amunisi yang sudah tak layak pakai pada Senin (12/05) pukul 09.30 WIB di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Garut, Jawa Barat, yang merupakan milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Pemusnahan amunisi itu dilakukan oleh jajaran Gudang Pusat Amunisi (Gupusmu) III Peralatan TNI AD.

Ledakan tersebut memakan korban jiwa. Kini, penyebab ledakan tengah diinvestigasi oleh TNI AD.
"Kami akan melaksanakan investigasi secara menyeluruh atas kejadian ini," kata Kadispenad Brigjen Wahyu Yudhayana dalam keterangannya kepada wartawan, Senin (12/05).

Dalam kesempatan itu, Wahyu mewakili TNI AD juga menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban meninggal. Dia mengatakan prajurit TNI yang meninggal merupakan prajurit yang berdedikasi tinggi.

"Kami segenap jajaran TNI Angkatan Darat mengucapkan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya terhadap semua korban, dan para prajurit TNI Angkatan Darat yang menjadi korban dalam musibah ini adalah prajurit-prajurit yang memiliki dedikasi yang tinggi dan kami juga berdukacita-berbelasungkawa atas meninggalnya korban masyarakat sipil," ujarnya.

"Kami mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk turut mendoakan para korban dan semua keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," kata Wahyu.

Aparat berjaga di sekitar lokasi ledakan pemusnahan amunisi tidak layak pakai di Garut, Jawa BaratFoto: Hakim Ghani/detikJabar

Berikut daftar nama korban ledakan:

1. Kolonel Cpl Antonius Hermawan;

2. Mayor Cpl Anda Rohanda;

3. Agus bin Kasmin;

4. Ipan bin Obur;

5. Iyus Ibing bin Inon;

6. Anwar bin Inon;

7. Iyus Rizal bin Saepuloh;

8. Toto;

9. Dadang;

10. Rustiawan;

11. Endang;

12. Kopda Eri Dwi Priambodo;

13. Pratu Aprio Setiawan.

2. Lokasi ledakan jauh dari rumah warga

Lokasi ledakan amunisi di Garut, sangat jauh dari permukiman warga setempat. Dikutip dari detikJabar, jika diakses dari kawasan pusat Kota Garut, lokasinya berjarak sekitar 100 km. Namun, waktu tempuhnya bisa mencapai 4-5 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor, karena jalurnya yang berkelok.

Tim detikJabar mendatangi lokasi tempat kejadian perkara (TKP) di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Garut, Selasa (13/05) pukul 07.54 WIB. Dari tempat detikJabar mengabarkan, lokasi peledakan berjarak sekitar 500 meter masuk ke jalan setapak. Di tepi jalan raya, sudah ada peringatan zona berbahaya yang dipasang TNI.

3. Anak korban: Bapak saya bukan pemulung

Total sembilan warga sipil tewas dalam insiden ledakan amunisi di Garut, Jawa Barat. Putri dari salah satu korban ledakan mengatakan ayahnya bukan pemulung.

"Bapak saya di situ bukan seperti yang orang-orang pikirkan, bapak saya bukan mulung, bapak saya di situ kerja sama tentara," kata seorang putri korban kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, seperti dilansir Kompas TV, Selasa (13/05).

Sambil menangis, perempuan tersebut mengatakan ayahnya sudah lama bekerja membantu TNI.

"Bapak saya kerja sama tentara, saya tahu dari zaman saya sekolah," ucap perempuan tersebut.

"Sudah lama, bapak saya sudah ke mana-mana, ke Manado, ke Makassar, ke Bali, ke Jakarta, Mabes TNI. Saya tahu, Pak," tambahnya.

4. Korban sipil yang tewas: Bekerja bantu TNI

Sembilan warga sipil yang menjadi korban tewas ledakan amunisi kedaluwarsa di Garut sudah lama bekerja di lokasi tersebut. Bahkan ada yang sudah bekerja hingga 10 tahun.

"Mereka pengakuannya bekerja di sana. Sudah cukup lama, ada yang sampai 10 tahun membantu dan menjadi profesi yang ditekuni setiap harinya. Dan memang sudah berpengalaman," kata Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kepada wartawan di RSUD Pameungpeuk setelah mengunjungi keluarga korban, Selasa (13/05).

Bahkan, salah satu korban bernama Endang diketahui baru sehari bekerja di sana. Ia diajak oleh temannya untuk bekerja di lokasi kejadian.

"Dia buruh serabutan. Ada temannya yang mengajak kerja di sana," kata perwakilan keluarga Endang, Farid dilansir detikJabar, Selasa (13/05).

5. Pemprov Jabar akan bagikan santunan Rp50 Juta

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berkomitmen untuk menanggung biaya kehidupan dan pendidikan anak dari para korban ledakan amunisi di Garut. 

"Untuk anak-anaknya yang belum menikah, itu menjadi tanggung jawab Gubernur (Jawa Barat). Mereka pendidikannya, kehidupan sehari-harinya, biar nanti kami yang mengambil alih tanggung jawab itu," ungkap Dedi.

Pemprov Jawa Barat juga akan memberikan uang santunan sebesar Rp 50 juta per korban kepada keluarganya. Uang itu untuk biaya pemulasaraan jenazah.

6. TNI AD bantu proses pemakaman korban ledakan

TNI AD membantu pemakaman korban ledakan amunisi di Garut, Jawa Barat. Sembilan korban merupakan warga sipil dan empat korban adalah personel TNI AD.

"Baik terhadap empat personel TNI AD maupun sembilan warga sipil yang menjadi korban, TNI AD berkomitmen untuk membantu proses pemakaman secara maksimal," kata Kadispenad Brigjen TNI Wahyu Yudhayana dalam keterangannya, Selasa (13/05).

Wahyu mengatakan pemakaman warga sipil akan dibantu jajaran Kodam III/Siliwangi, Korem 062/Tarumanagara, dan Kodim 0611/Garut. TNI AD akan membantu proses pemakaman hingga selesai.
Sementara itu, empat prajurit yang menjadi korban peristiwa tersebut akan dimakamkan di kampung halaman masing-masing. 

Baca artikel Detik News

Selengkapnya di 6 Fakta Terbaru Ledakan Amunisi TNI di Garut yang Tewaskan 13 Korban