1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Fathi Aris Omar: Intoleransi Akan Semakin Terlihat di Malaysia

Andy Budiman25 Januari 2013

Kata "Allah" kini menjadi konflik di Malaysia. Politisasi agama untuk mendapat dukungan suara dalam Pemilu serta kebangkitan konservatisme membuat toleransi kini menjadi masalah serius di negeri jiran.

Foto: dapd

Ibrahim Ali, ketua Perkasa, organisasi sayap kanan yang dekat dengan pemerintah, menyerukan kepada kelompok muslim agar menyita dan membakar kitab injil yang menggunakan kata “Allah“.

Malaysia beberapa waktu terakhir diguncang ketegangan hubungan antar agama. Kelompok garis keras Islam menuntut agar komunitas Kristen tidak menggunakan kata “Allah” yang dianggap sebagai milik Islam. Hingga kini kasus itu masih di tangan Mahkamah Tinggi Malaysia yang belum mengambil keputusan. Perebutan kata “Allah” juga berbuntut perusakan gereja.

Fathi Aris Omar adalah pemimpin media independen www.malaysiakini.com. Dia dikenal sebagai wartawan sekaligus intelektual yang banyak bicara tentang Islam dan kebebasan. Tahun 2000, Fathi Aris mendapat penghargaan dari Reporters sans Frontières karena perjuangannya menegakkan kebebasan pers di Malaysia, negara semi otoriter yang hingga kini masih menerapkan sensor ketat atas media.

Fathi Aris Omar: tak ada suara kelompok moderat di Malaysia.Foto: Fathi Aris Omar

Kepada Deutsche Welle, Fathi Aris Omar menjelaskan problem hubungan antar agama di Malaysia. ”Masalahnya, semua kelompok mempolitisir agama,“ kata dia.

Deutsche Welle:

Bisa Anda ceritakan soal ancaman pembakaran injil di Malaysia?

Fathi Aris Omar:

Sebelum ada selebaran tentang seruan pembarakan injil, sejumlah media pekan lalu melaporkan adanya pembagian injil kepada para pelajar. Lantas, ketua Perkasa, organisasi kanan yang dekat dengan pemerintah, menyerukan agar masyarakat membakar kitab injil yang dibagikan kepada mereka. Tak lama kemudian ada ajakan di Penang untuk melakukan pembakaran akhir pekan ini. Tapi masih belum jelas, apakah itu serius atau tidak.

Deutsche Welle:

Kita tahu ada ketegangan akhir-akhir ini terkait larangan penggunaan kata “Allah“ di Malaysia. Apa yang sebenarnya terjadi?

Fathi Aris Omar:

Saya kira ini adalah ketegangan antara kelompok minoritas Kristen dengan pemerintah. Di akar rumput tak ada gejala serius, kecuali satu atau dua kasus pembakaran gereja. Satu kasus pembakaran sudah dibawa ke pengadilan dan diputuskan. Pelakunya dari kelompok muslim dan dekat dengan UMNO (partai pemerintah-red). Lainnya masih tidak jelas, siapa yang membakar. Memang ada sejumlah elemen di masyarakat yang ingin membesar-besarkan kasus 'Allah' ini. Ketegangan itu memang terjadi.

Deutsche Welle:

Apakah Anda melihat ada politisasi agama dalam kasus ini?

Fathi Aris Omar:

Itu jelas. Bukan cuma dari kubu pemerintah, politisi Malaysia pada umumnya menggunakan isu agama. Oposisi menggunakan isu agama untuk menaikkan dukungan dari kelompok minoritas Cina dan Kristen di Sabah dan Sarawak. Di wilayah ini kelompok oposisi mendukung penggunaan istilah Allah. Sementara pemerintah mencari dukungan dari kelompok Melayu Muslim dengan mendukung larangan penggunaan Allah bagi kelompok Kristen.

Deutsche Welle:

Tapi di luar itu, apakah sesungguhnya di dalam masyarakat Malaysia juga sedang terjadi kebangkitan konservatisme agama?

Fathi Aris Omar:

Ya di Malaysia itu terjadi. Konservatisme dan fundamentalisme menguat tidak hanya di kalangan Islam tapi juga Kristen. Partai-partai oposisi juga dipengaruhi kedua kelompok ini. Masuknya kelompok garis keras Islam dan Kristen di dalam politik terjadi sejak beberapa dekade terakhir.

Deutsche Welle:

Jadi Anda melihat yang sedang terjadi di Malaysia sekarang ini adalah ”the Clash of Fundamentalism“?

Fathi Aris Omar:

Ya saya kira begitu. Saya kira ini adalah clash antara orang kanan di Islam dengan yang ada di Kristen.

Deutsche Welle:

Lalu, dalam situasi seperti ini di mana suara kaum moderat Malaysia?

Fathi Aris Omar:

Mereka kurang terdengar. Mereka tidak mengambil sikap. Isu agama hanya dibicarakan oleh para politisi baik kubu pemerintah maupun oposisi. Kelompok lain memilih diam atau mendukung pendapat salah satu kubu. LSM Melayu yang dekat dengan pemerintah akan mendukung pemerintah kerajaan Malaysia. Sementara LSM yang lebih independen dan kritis, memilih posisi yang lebih dekat dengan oposisi. Jadi tidak ada kelompok moderat atau tengah dalam percakapan isu agama di Malaysia. Politisi menguasai semua panggung percakapan publik.

Deutsche Welle:

Menurut Anda siapa yang bertangungjawab atas munculnya intoleransi di Malaysia?

Fathi Aris Omar:

Pertama adalah pemerintah. Kedua adalah pengadilan, karena Malaysia mempunyai dua sistem peradilan yakni mahkamah sipil dan mahkamah syariah. Akhir tahun 80-an, ada penambahan pasal konstitusi yang memberi kuasa lebih kepada mahkamah syariah untuk menyelesaikan isu-isu agama. Ini menyebabkan mahkamah sipil yang sebetulnya lebih tinggi dan menentukan, takut mengambil keputusan terkait isu agama, karena isu seperti ini harus dimasukkan ke mahkamah syariah. Akibatnya, ada banyak kasus agama yang tidak ada penyelesaiannya.

Deutsche Welle:

Apakah Anda melihat kasus intoleransi akan terus terjadi di Malaysia?

Fathi Aris Omar:

Saya rasa ya, karena sepuluh tahun belakangan ini terjadi ketegangan bukan hanya antara kelompok Islam dengan Kristen, tapi juga dengan kelompok Hindu. Saya rasa ini akan semakin terlihat di tahun-tahun mendatang.