Polisi Federal AS FBI melakukan pengusutan terpisah atas kasus pembunuhan tiga warga Muslim di AS. Polisi lokal tetap menonjolkan motif rebutan tempat parkir, sementara FBI akan menyidik motif kebencian agama.
Foto: picture-alliance/AP
Iklan
Federal Bureau of Invetigation FBI secara paralel mengusut kasus pembantaian tiga warga Muslim oleh seorang yang diduga atheis di Chapel Hill, North Carolina. Pengusut federal terus melacak dugaan bahwa kejahatan itu bermotif kebencian agama. Jika terbukti bermotif kebencian agama , hukuman terhadap pelaku akan sangat berat, minimal hukuman seumur hidup.
Sejauh ini polisi lokal tetap menyebutkan, kasus pembunuhan tiga Mulsim (10/02/15) hanya berindikasi sengketa akibat rebutan tempat parkir. Namun menimbang desakan banyak warga, yang menduga kasusnya bermotif kebencian agama, polisi lokal juga mulai mengusut ka arah sana.
Tersangka pelaku, Craig Stephen Hicks (46) yang mengaku atheis, diketahui memposting puluhan pernyataan kebencian agama lewat akun facebooknya. Diantaranya pernyataan pelecehan terhadap agama Kristen, Islam dan Mormon. Tetangga juga menyrbut Hick sebagai "biang kerok" yang selalu mencari gara-gara dengan alasan rebutan tempat parkir dan selalu membawa pistol.
Diskriminasi terhadap warga kulit hitam di Amerika Serikat masih menjadi momok. Di banyak bidang situasinya justru memburuk setelah era Martin Luther King.
Foto: picture-alliance/dpa/Justin Lane
Sebuah Ilusi tentang Persamaan
Ketika Barack Obama dikukuhkan sebagai presiden kulit hitam pertama AS, banyak yang menilai Amerika Serikat telah memasuki era "Post Racial", sebuah negara tanpa perbedaan ras dan diskriminasi. Tidak cuma kasus di Ferguson, data-data statistik lainnya mengubur imipian tersebut.
Foto: Reuters
Kemiskinan
Penduduk kulit hitam mendominasi statistik kemiskinan Amerika Serikat. Situasi tersebut tidak berubah banyak sejak 30 Tahun lalu. Tahun 1974 cuma 8 persen warga kulit putih dililit kemiskinan (kini 10%), sementara pada warga kulit hitam jumlahnya sebesar 30 persen (kini 28%).
Foto: Reuters
Separuh Prespektif
Diskriminasi di pasar tenaga kerja AS berlangsung hampir secara sistematis. Tingkat pengangguran masyarakat kulit hitam sejak 50 tahun adalah dua kali lipat lebih tinggi ketimbang warga kulit putih. Mirisnya jumlah tersebut tidak berubah terlepas dari pertumbuhan ekonomi atau perubahan pada tingkat pengagguran secara umum.
Foto: picture-alliance/dpa/Justin Lane
Perbedaan Pendapatan
Sejak 1950 pendapatan rata-rata warga kulit hitam selalu berada di bawah 60% dari upah yang diterima oleh warga kulit putih. Cuma pada tahun 1969/1970 jumlahnya meningkat menjadi sekitar 63 persen.
Foto: DW/G. Schließ
Jurang Kemakmuran
Saat ini rata-rata kekayaan warga kulit putih berkisar 97.000 US Dollar. Sementara warga hitam cuma berkisar 4.900 USD, atau 1500 USD lebih sedikit ketimbang tahun 1980. Melihat perbedaan pendapatan antara dua kelompok yang signifikan, tidak heran jika kemampuan warga Afro-Amerika buat menabung atau menyimpan harta lebih sedikit ketimbang warga kulit putih.
Foto: picture alliance/landov
Risiko Dibui
Peluang buat seorang warga kulit hitam mendekam di balik terali bui enam kali lipat lebih besar ketimbang seorang kulit putih. Menurut data NAACP, organisasi lobi kulit hitam AS, jumlah warga kulit putih yang menggunakan narkoba lima kali lipat lebih banyak ketimbang warga hitam. Namun warga Afro-Amerika yang didakwa terkait narkoba berjumlah 10 kali lipat lebih banyak ketimbang kulit putih
Foto: M. Tama/Getty Images
Cuma Pendidikan Dasar
Menurut catatan tahun 2012, cuma 21 persen warga Afro-Amerika yang memiliki ijazah universitas. Sementara warga kulit putih mencatat angka 34 persen. Secara ironis Departemen Pendidikan AS mengeluarkan statistik 2009 lalu, bahwa untuk pertamakalinya terdapat lebih banyak pemuda kulit hitam yang sedang berkuliah ketimbang mendekam di penjara.
Foto: Reuters
Pendidikan Terpisah
Pengucilan adalah keseharian pada sistem pendidikan AS. Hampir 40 persen bocah kulit hitam menempuh pendidikan di sekolah-sekolah yang juga didominasi oleh murid Afro-Amerika. Jumlah ini banyak berkurang ketimbang tahun 1968 yang mencatat angka 68%. Tidak berubah adalah fakta bahwa tigaperempat bocah kulit hitam belajar di sekolah yang lebih dari 50% muridnya non kulit putih.
Foto: Chris Hondros/Newsmakers/Getty Images
Besar di Ghetto
Segregasi di tengah masyarakat AS juga terlihat pada tempat tinggal. 45 persen bocah kulit hitam yang berasal dari keluarga miskin, hidup di wilayah-wilayah kumuh atau Ghetto. Sebaliknya cuma 12 persen bocah kulit putih yang hidup dalam situasi serupa.
Foto: picture alliance / blickwinkel/Blinkcatcher
Dua Realita yang Berjauhan
Lebih dari 50% warga kulit hitam Amerika Serikat menyebut empat hal sebagai ladang diskriminasi, yakni perlakuan aparat kepolisian, pekerjaan, pengadilan dan sekolah. Sementara pada warga kulit putih jumlahnya kurang dari 30 persen. Secara keseluruhan penduduk Afro-Amerika meyakini adanya praktik diskriminasi berbau rasisme terhadap mereka, entah itu di restoran atau rumah sakit.
Foto: Getty Images
Euforia Berakhir
Sebanyak 35% Warga kulit putih menilai kondisi hidup mereka lebih baik ketimbang lima tahun lalu. Sementara pada warga Afro-Amerika, jumlahnya cuma berkisar 26 persen. Euforia sempat memuncak ketika Barack Obama terpilih sebagai presiden Amerika 2009 silam. Namun kini harapan akan perbaikan situasi warga kulit hitam tergerus oleh realita.
Foto: Reuters
11 foto1 | 11
Picu ketakutan warga
Kasus pembunuhan ini mengguncang kota universitas Chapel Hill membuat warga ketakutan. Di negara bagian North Carolina yang populasinya sekitar 10 juta, tercatat 65.000 warga beragama Islam dan mayoritasnya bermukim di Chapel Hill.
Dalam acara pemakaman Deah Shaddy Barakat (23) dan istrinya Yusor Abu-Salha (21) serta iparnya Razan Abu-Salha (19) yang dihadiri 5000 orang Kamis (12/02/15), para pemuka Islam di Amerika mengimbau warga agar tetap tenang dan menahan diri. "Ini saat untuk berdukacita, tapi sekaligus juga waktu untuk menjaga harmoni serta perdamaian," ujar ketua Asosiasi Muslim setempat, Mohammed Elgamal kepada kantor berita AFP.
Sementara itu kecaman keras terkait pembunuhan itu berdatangan dari seluruh penjuru dunia. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang sedang melawat ke Meksiko mengecam Presiden AS Barack Obama karena tidak memberikan komentar apapun terkait insiden itu. Wakil Mufti Besar di Mesir, Ibrahim Negm, mengecam media AS yang ibaratnya bungkam. Sementara sekjen Majelis Ulama Muslim Internasional, Ali al-Qaradaghi, menyebut pelaku sebagai teroris. Ia juga mengecam media internasional yang bungkam.