1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Fenomena “Kristen Salafi” Anabaptis

Sumanto al Qurtuby
Sumanto al Qurtuby
13 Desember 2017

Di antara sekian banyak kelompok Kristen, Anabaptis sangat menarik untuk dicermati. Mengapa demikian? Simak opini Sumanto al Qurtuby

Foto: Imago/alimdi

Nama "Anabaptis” ini konon diberikan oleh rival-rival mereka. Fenomena ini kurang lebih sama dengan sebutan "Protestan” atau "Wahabi” yang juga awalnya disematkan oleh orang luar.

Secara harfiah, Anabaptis berarti "pembaptisan ulang” karena kelompok ini yang semula berkembang di Eropa pada abad ke-16 dan 17 beranggapan bahwa pembaptisan menjadi Kristen yang dilakukan sejak bayi/anak-anak (infant baptism) dianggap tidak sah, tidak valid, "tidak teologis”, atau menyalahi aturan Kitab Suci. Menurut mereka, pembaptisan harus dilakukan ketika orang yang bersangkutan menyadari diri dan dengan suka rela bersedia dibaptis. Dengan kata lain, pembaptisan yang valid harus dilakukan ketika orang yang bersangkutan sudah akil-balig atau dewasa, bukan ketika masih anak-anak.

Penulis;: Sumanto al Qurtuby Foto: S. al Qurtuby

Tentu saja, pandangan ini bertentangan dengan "tafsir resmi gereja negara” (baik yang dilakukan oleh kelompok literati Katolik Roma atau para sarjana agama Protestan) maupun otoritas pemerintah itu sendiri karena dalam konteks Eropa abad pertengahan "gereja dan negara” itu menjadi satu kesatuan yang saling mempengaruhi dan melengkapi. Kelompok Anabaptis awal juga menolak berpartisipasi dalam kemiliteran, sumpah setia pada pemerintah, maupun aktivitas-aktivitas kepemerintahan lain.

Karena dianggap melakukan "reformasi radikal” kekristenan dan pembangkangan terhadap pemerintah dan rezim Eropa, kelompok ini kemudian menjadi obyek kekerasan dan penindasan, baik oleh negara maupun"gereja mainstream”. Akibatnya mereka kabur ke berbagai kawasan di Luar Negeri, termasuk di Amerika Serikat dan Kanada yang kini menjadi "rumah terbesar” kelompok ini.

Dalam konteks modern dewasa ini, ada sejumlah kelompok Kristen yang merupakan "keturunan” atau bisa digolongkan sebagai Anabaptis ini, yaitu Amish, Mennonite, dan Hutterite yang disebut-sebut sebagai "pewaris langung dan utama” gerakan Anabaptis awal. Kemudian disusul Schwarzenau Brethren, Bruderhof, dan Apostolic Christian Church. 

Baca juga:

Seperti Kristenisasi, Islamisasi Itu Tidak Ada

Opini: Agama Adalah Senjata

 

Anabaptis ini yang bisa dijadikan sebagai pelajaran

Terlepas dari masalah perdebatan teologis dan perbedaan tafsir keagamaan antara kelompok Kristen Anabaptis dengan "Kristen arus utama”, ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati dari komunitas Anabaptis ini yang bisa kita jadikan sebagai pelajaran.

Yang pertama adalah soal tafsir, pemahaman, tradisi, dan praktik keagamaan yang sangat konservatif, puritan, eksklusif, "fundamentalis”, dan "radikal”. Kata "radikal” dan "fundamentalis” disini bukan berarti kekerasan tetapi mengacu pada pengertian "ke jantung atau akar persoalan”. Dengan kata lain, kelompok Anabaptis mengklaim dalam pemahaman dan tindakan keagamaan mereka sesuai dengan ajaran, pemahaman, atau maksud teks suci keagamaan dan praktik Kekristenan generasi awal Kristen.

Itulah sebabnya kenapa saya menyebut mereka sebagai "Kristen Salafi” karena pemahamaan dan praktik keagamaan mereka kurang lebih sama dengan kaum Muslim Salafi yang juga mengklaim sesuai dengan pemahaman dan praktik keislaman generasi awal Muslim. Kata "salafi” sendiri berasal dari kata "salaf” (jamak: "aslaf”) dalam Bahasa Arab yang berarti "nenek moyang” atau "leluhur”.

Karena didorong ingin mempraktikkan jenis kekristenan seperti termaktub dalam kitab suci dan dipraktikkan oleh generasi awal atau "leluhur” Kristen mereka, maka kaum Anabaptis mengadopsi gaya hidup yang cukup unik, baik dalam hal tata-busana maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun dewasa ini banyak sekali pengikut Anabaptis yang sudah berubah dalam hal penampilan, berbusana dan pandangan mereka terhadap perkembangan teknologi modern, masih ada cukup banyak para pengikut Anabaptis (terutama Amish, Hutterite dan Old Order Mennonite) yang berpegang teguh pada tradisi dan pemahaman mereka seperti menolak mobil sebagai kendaraan (mereka memilih delman atau "horse and baggy” sebagai kendaraan utama), tidak memakai listrik sebagai alat penerang ruangan, menolak menggunakan "kompor modern” dan produk-produk teknologi modern lain (seperti TV, HP dan lainnya), berpakaian tradisional yang sangat sederhana (baik warna maupun desain), bejenggot lebat (bagi kaum lelaki) karena dipandang "sunah”, dan sebagainya.

Baca juga:

Toleransi Untuk Intoleransi Agama?

Kebencian Antar Agama di Dunia Meningkat

Dalam konteks ini, ada perbedaan mencolok antara "Kristen Salafi” dan "Muslim Salafi”. Tidak seperti "Kristen Salafi”, kaum "Muslim Salafi” suka dan hobi dengan aneka produk teknologi modern.

Perbedaan lain adalah konservatisme kelompok "Kristen Salafi” cenderung bersifat internal (untuk kalangan mereka sendiri), tidak memaksakan terhadap pihak luar atau kelompok agama lain. Sementara kaum "Muslim Salafi” cenderung ingin "mengeksternalkan” atau menyebarluaskan konservatisme mereka kepada orang lain agar mereka mempratikkan apa yang mereka praktikkan. Dengan kata lain, kelompok Kristen Salafi cenderung "intoleran kedalam” tetapi "toleran keluar”. Sedangkan "Muslim Salafi” cenderung tidak toleran kepada kelompok agama lain.   

Menolak keras segala tindakan kekerasan

Hal lain yang menarik dari kelompok Anabaptis adalah visi mereka yang menolak keras segala tindakan kekerasan dalam bentuk apapun (baik kekerasan verbal, komunal, kultural, struktural, dan sebagainya). Oleh karena itu tidak heran jika kelompok ini disebut sebagai golongan "historic peace churches” bersama Quaker, yang juga bervisi anti-kekerasan.

Fenomena ini tentu saja sangat menarik mengingat Anabaptis dalam sejarah awalnya menjadi obyek kekerasan lantaran doktrin teologi dan sikap politik mereka yang berseberangan dengan "Kristen mainstream” dan pemerintah Eropa abad ke-16/17 (silakan simak studi William R. Estep dalam buku The Anabaptist Story).

Biasanya, orang (baik individu maupun kelompok) yang memiliki sejarah gelap dan pahit masa silam cenderung ingin melakukan aksi balas dendam sebagai bentuk pelampiasan. Tetapi Anabaptis tidak demikian. Mereka berhasil mengtransformasi kekerasan masa silam atau sejarah buruk masa lampau menjadi "energi positif” dan pelita yang menyinari kegelapan serta spirit perdamaian yang luar biasa. Mereka bukan hanya mewacanakan perdamaian saja seperti layaknya banyak orang dan kelompok agama tetapi mempraktikkan spirit perdamaian itu dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Harus diakui tidak banyak individu atau kelompok masyarakat yang mampu berbuat demikian.     

Visi anti-kekerasan dan pro-perdamaian Anabaptis ini sering disebut sebagai "pacifisme”, dan karena itu kelompok Anabaptis juga disebut sebagai "kaum pacifis”. Doktrin perdamaian dan anti-kekerasan Anabaptis yang diinspirasi oleh perkataan dan tindakan Yesus Kristus ini sangat populer di negara-negara Barat, khususnya Amerika Utara.

Untuk mewujudkan visi perdamaian global dan komitmen terhadap gerakan anti-kekerasan (nonviolent movement) ini, kaum Anabaptis rela menjadi "Christian peacemakers” yang menyebarluaskan perdamaian ke seantero dunia, terutama di kawasan rawan konflik dan kekerasan. Tak jarang, dalam menjalankan tugas-tugas perdamaian itu, mereka kemudian ikut menjadi terbunuh atau menjadi korban kekerasan.

Bukan hanya bergabung dalam "relawan perdamaian” saja, dalam menyebarkan visi dan misi perdamaian global itu, kaum Anabaptis juga gemar melakukan aksi-aksi kemanusiaan dan amal saleh untuk membantu orang-orang yang menjadi korban perang, kekerasan komunal, maupun bencana alam di belahan dunia manapun, tak peduli agama dan suku-bangsa para korban tersebut. Mereka mempunyai lembaga-lembaga amal-kemanusiaan khusus (seperti Mennonite Central Comittee) yang memiliki cabang di berbagai negara untuk mengelola masalah perdamaian dan aksi-aksi kemanusiaan ini. 

Apa yang dilakukan oleh kelompok "Kristen Salafi” ini cukup kontras dengan sebagian kelompok "Muslim Salafi” yang gemar menebar kekerasan di masyarakat.      

Penulis: Sumanto Al Qurtuby (ap/vlz)

Dosen Antropologi Budaya dan Direktur Scientific Research in Social Sciences, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, serta Senior Scholar di National University of Singapore. Ia memperoleh gelar doktor dari Boston University dan pernah mendapat visiting fellowship dari University of Oxford, University of Notre Dame, dan Kyoto University. Ia telah menulis ratusan artikel ilmiah dan puluhan buku, antara lain Religious Violence and Conciliation in Indonesia (London & New York: Routledge, 2016)

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWnesia menjadi tanggung jawab penulis.