1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
OlahragaRusia

FIFA Buka Pintu bagi Kembalinya Rusia di Laga Dunia

5 Februari 2026

Pemerintah Ukraina mengecam rencana Presiden FIFA Gianni Infantino itu karena dianggap tidak bertanggung jawab dan sekaligus meremehkan realita invasi Rusia yang mengorbankan banyak nyawa.

Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan dengan Presiden FIFA Gianni Infantino saat pertemuan di Kremlin, Moskow, pada 20 Februari 2019
Presiden FIFA Gianni Infantino (kiri) mengatakan bahwa ia ingin Rusia kembali ke dunia sepak bola internasionalFoto: Yuri Kadobnov/AFP via Getty Images

Presiden FIFA Gianni Infantino kembali melempar wacana sensitif usai mengucap ingin membuka pintu bagi Rusia untuk kembali ke turnamen sepak bola internasional.

"Kita harus mempertimbangkan kembalinya Rusia, tentu saja, karena larangan ini tidak membuahkan apa pun. Larangan justru hanya menciptakan lebih banyak frustrasi dan kebencian,” kata Infantino dalam wawancara dengan Sky.

"Memberi kesempatan kepada pemudi dan pemuda Rusia untuk bermain sepak bola di Eropa akan membantu.”

Sejak menginvasi Ukraina pada Februari 2022, Rusia dilarang berpartisipasi dalam ajang sepak bola internasional. Rusia dikeluarkan dari Piala Dunia 2022 di Qatar dan tidak ambil bagan dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Sejak saat itu, tim nasional putra Rusia hanya bermain dalam laga persahabatan. Turnamen kompetitif terakhir Rusia adalah Piala Dunia 2018, yang mereka gelar sendiri, dan berakhir manis dengan capaian perempat final.

Pada 2023, UEFA sempat berencana mengizinkan tim U-17 Rusia untuk kembali bertanding dengan alasan tidak ingin menghukum talenta muda atas keputusan pemerintah. Namun, rencana tersebut tidak berlanjut setelah mendapat tekanan dari belasan federasi nasional.

Komite Eksekutif UEFA akan menggelar pertemuan pada 11 Februari. Komisi ini memiliki kewenangan untuk mengembalikan Rusia ke kompetisi klub dan internasional. Presiden UEFA Aleksander Ceferin mengatakan bahwa untuk Rusia dapat kembali ke ajang kompetisi sepak bola, invasi ke Ukraina harus diakhiri.

Penolakan keras Ukraina

Menteri Olahraga Ukraina Matvii Bidnyi mengatakan kepada Sky News, "Pernyataan Gianni Infantino terdengar tidak bertanggung jawab bahkan bisa disebut kekanak-kanakan. Pernyataan itu memisahkan sepak bola dari kenyataan di mana anak-anak sedang dibunuh.”

"Perang adalah kejahatan, bukan politik,” lanjut Bidnyi. "Rusia-lah yang mempolitisasi olahraga dan menggunakannya untuk membenarkan agresi.”

"Posisi saya sama dengan Asosiasi Sepak Bola Ukraina yang juga mengecam kembalinya Rusia ke kompetisi internasional,” tegasnya.

"Selama Rusia terus membunuh warga Ukraina dan mempolitisasi olahraga, bendera serta simbol nasional mereka tidak memiliki tempat di antara mereka yang menghormati nilai-nilai seperti keadilan, integritas, dan fair play.”

Sehari setelah pernyataan Infantino, pejabat Ukraina menyatakan Rusia kembali melancarkan serangan ke Kyiv, mengakhiri gencatan senjata musim dingin yang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Otoritas Ukraina melaporkan adanya korban luka, serangan terhadap infrastruktur energi, serta pemadaman pemanas darurat.

Netralitas bersyarat

Tidak. Atlet Rusia dan Belarus hanya diizinkan berkompetisi sebagai Atlet Netral Individu, sebuah status khusus yang dibuat Komte Olimpiade Internasional (IOC) bagi negara yang komite olimpiadenya sedang dibekukan atau dilarang.

Status itu pun tidak berlaku otomatis untuk semua atlet. IOC memberlakukan syarat ketat untuk memastikan atlet tidak memiliki keterkaitan dengan tindakan politik atau militer Rusia. Situasi semakin rumit pada 2023, ketika Komite Olimpiade Rusia mengambil alih badan olahraga di wilayah Ukraina yang diduduki—langkah yang menurut IOC melanggar sistem Olimpiade.

Situasi ini menjadi lebih rumit pada 2023 ketika Komite Olimpiade Rusia mengambil alih badan olahraga di wilayah Ukraina yang diduduki Rusia. Tindakan ini, menurut IOC telah melampaui batas hukum sistem Olimpiade.

Sebanyak 13 atlet Rusia akan berkompetisi sebagai atlet netral di Milan - Cortina, bersama tujuh atlet dari Belarus. Jumlah ini jauh lebih sedikit dibanding dua Olimpiade yang diikuti Rusia sebelumnya.

Pada Olimpiade 2018, lebih dari 160 atlet Rusia berkompetisi di bawah bendera Olimpiade netral atau "Olympic Athletes from Russia” (OAR)  akibat skandal doping yang disponsori negara. Saat itu Rusia berhasil meraih 17 medali.

Empat tahun kemudian di Beijing, lebih dari 200 atlet Rusia meraih 32 medali di bawah "Russian Olympic Committee” (Komite Olimpiade Rusia). Namun, empat hari setelah Olimpiade tersebut berakhir, Rusia menginvasi Ukraina.

Pintu yang masih retak

Hal tersebut masih belum jelas. Namun, Presiden IOC Kirsty Coventry dinilai telah membuka kembali peluang kembalinya Rusia ke kompetisi Internasional itu melalui pernyataannya dalam KTT IOC, jelang Olimpiade Musim Dingin di Milan, Italia 6-22 Februari mendatang.

"Kami tidak bisa mengikuti keinginan semua pihak. Olimpiade dan nilai-nilai yang diwakilinya adalah aset terbesar kami,” kata Coventry.

"Kami memahami politik dan menyadari bahwa kami tidak beroperasi dalam ruang hampa. Namun permainan kami adalah olahraga. Itu berarti menjaga olahraga sebagai ruang netral, tempat setiap atlet dapat bertanding tanpa dibatasi oleh politik atau perpecahan pemerintah mereka.”

Pernyataan itu tak menyebut Rusia secara eksplisit. Namun bagi banyak pihak, sikap IOC berarti bahwa pintu belum terbuka, tapi juga tak lagi tertutup rapat, menuju kemungkinan kembalinya Rusia pada Olimpiade Musim Panas 2028 di Los Angeles.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizki Nugraha

 

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait