1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikFilipina

Filipina dan AS Berlatih Tempur di Laut Cina Selatan

11 April 2023

Kedua negara melaksanakan latihan militer gabungan terbesar dalam sejarah, sehari setelah militer Cina unjuk gigi di Selat Taiwan. Simulasi pertempuran mencakup operasi pendaratan dan pendudukan dengan amunisi tajam.

Kapal perusak AS, USS Milius, di Laut Cina Selatan, 10 April 2023
Kapal perusak AS, USS Milius, di Laut Cina Selatan, 10 April 2023Foto: U.S. Navy/REUTERS

Hampir 18.000 serdadu akan ikut serta dalam latihan militer tahunan di Filipina. Tradisi bertajuk Balikatan atau "bahu membahu” dalam Bahasa Tagalog itu untuk pertama kalinya melibatkan latihan dengan peluru kendali balistik di Laut Cina Selatan.

Selama latihan, militer AS dan Filipina rencananya akan melakukan simulasi pendaratan helikopter di ujung utara Pulau Luzon, serta operasi pendudukan terhadap pulau musuh dengan pasukan amfibi. 

"Untuk melindungi kedaulatan teritorial negara, kita harus berlatih merebut kembali pulau yang dikuasai musuh,” kata juru bicara militer Filipina, Michael Logico, kepada media. 

Luzon berjarak sekitar 300 kilometer dari Gosong Scarborough yang dikuasai Cina. Padahal Senin (10/4) kemarin, militer Cina mengakhiri latihan tempur dan blokade selama tiga hari di Selat Taiwan.

Dimensi besar latihan gabungan antara AS dan Filipina mengindikasikan kebijakan luar negeri baru oleh Presiden Ferdinand Marcos Junior. Berbeda dengan pendahulunya, Rodrigo Duterte, yang mendekat ke Cina, Marcos Jr. cendrung ingin memperkuat relasi dengan Washington.

Mayjend Marvin Licudin dari Filipina dan Mayjend Eric Austin dari AS dalam acara pembukaan latihan militer gabungan di FilipinaFoto: Aaron Favila/AP/picture alliance

Diplomasi keamanan

Lobi politik sudah dilancarkan sejak beberapa bulan silam, ketika Manila mengizinkan militer AS menggunakan empat pangkalan tambahan di wilayahnya, termasuk sebuah pangkalan angkatan laut yang terletak tidak jauh dari Taiwan.

Kedua negara juga sepakat menghidupkan kembali patroli gabungan di Laut Cina Selatan. Pertalian tersebut sontak membuat gusar pemerintah di Beijing.

"Negara-negara di kawasan harus mempertahankan kemerdekaan strategis, serta melawan mentalitas Perang Dingin dan konfrontasi blok,” tulis duta besar Cina di Manila, Huang Xilian, pekan lalu.

Sekitar 12.200 serdadu AS, 5.400 pasukan Filipina dan sekitar 100 tentara Australia, akan berlatih selama dua pekan. Mereka rencananya berlatih pendaratan amfibi di barat Pulau Palawan, wilayah Filipina yang paling dekat dengan Kepulauan Spratly. 

Kapal Induk Jepang Buka Pintu buat Warga Jakarta

01:12

This browser does not support the video element.

Kapasitas bertambah

Militer AS dikabarkan akan menggunakan peluru kendali Patriot dan HIMARS yang juga dipakai militer Ukraina untuk melawan invasi Rusia.

Kedua negara awalnya ingin berlatih di laut di utara Provinsi Ilocos Norte, yang juga merupakan basis pendukung Presiden Marcos Jr. Namun usulan itu ditolak karena lokasinya dianggap "tidak siap” untuk mewadahi perlengkapan yang dibutuhkan.

Lokasi latihan lalu dipindahkan lebih dekat ke Laut Cina Selatan, dari kata Mayor Jendral Marvin Licudine yang mengepalai latihan. 

Latihan ini akan memperkuat "taktik, teknik dan prosedur di seluruh level operasi militer,” kata juru bicara militer Filipina, Medel Aguilar. 

Menurut rencana, setelah upacara pembukaan di Manila, menteri luar negeri dan pertahanan Filipina akan melawat ke AS untuk bertemu rekan sejawatnya di Washington.

rzn/hp (rtr,ap)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait