1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialAsia

Filipina Catat Peningkatan Kehamilan pada Remaja Usia Muda

Keith Walker
17 Februari 2026

Jumlah remaja usia sangat muda yang melahirkan di Filipina meningkat. Para remaja meminta pendidikan seks lebih baik di sekolah, namun para ahli menilai banyak guru masih belum nyaman mengajarkannya.

Kampanye keluarga berencana Kementerian Kesehatan Filipina
Keluarga berencana dan pendidikan seks bagi remaja merupakan kunci untuk mengurangi kehamilan pada remajaFoto: Commission on Population and Development

Filipina mencatat peningkatan kehamilan pada remaja tahap awal dan anak perempuan praremaja, meskipun jumlah kehamilan pada kelompok usia 15 hingga 19 tahun justru menurun. 

Berdasarkan data yang dikutip Komisi Kependudukan dan Pembangunan (CPD) Filipina, persentase remaja perempuan Filipina berusia 15–19 tahun yang telah memiliki anak menurun dari 8,6% pada 2017 menjadi 5,4% pada 2022. 

Namun, jumlah kelahiran hidup pada anak perempuan berusia 10–14 tahun meningkat dari 2.411 kasus pada 2019 menjadi 3.343 kasus pada 2023, menurut data pencatatan sipil Otoritas Statistik Filipina (PSA) yang dirujuk CPD. 

“Kenaikan yang kita lihat terjadi pada kelompok usia di bawah 15 tahun. Itulah yang harus kita waspadai,” ujar Lisa Grace Bersales, ahli statistik asal Filipina sekaligus wakil sekretaris CPD, kepada DW. 

Ia menggambarkan peningkatan pada kelompok usia termuda tersebut sebagai pertumbuhan eksponensial dan memperingatkan bahwa tingkat kehamilan pada anak usia 10–14 tahun perlu segera mendapat perhatian. 

“Kami tidak pernah membayangkan harus berbicara kepada anak perempuan dan laki-laki di bawah usia 15 tahun tentang perilaku seksual yang dapat menyebabkan kehamilan,” katanya. 

Kehamilan remaja menyumbang sekitar 2% dari seluruh kelahiran yang tercatat di Filipina. Bersales menekankan bahwa meskipun persentasenya kecil, angka tersebut dapat menjadi indikator kerentanan sosial yang mendalam. 

Mengapa remaja usia lebih muda punya risiko lebih tinggi?

Bersales menyoroti media sosial sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap jumlah yang tidak merata di berbagai kelompok usia. 

“Saya percaya salah satu alasan utamanya adalah anak-anak kini semakin melek digital dan terpapar media sosial,” ujarnya. 

Namun, ia mengingatkan agar tidak menyepelekan persoalan ini. 

“Masalah ini membutuhkan pendekatan seluruh lapisan masyarakat, keluarga, sekolah, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, hingga kelompok berbasis agama. Kita harus sistematis dalam mengajarkan anak-anak cara melindungi diri,” tambahnya. 

Salah satu respons pemerintah adalah pembentukan pusat layanan remaja oleh pemerintah daerah (LGU), yang menyediakan ruang bagi remaja untuk bertanya mengenai kesehatan dan kemungkinan intervensi medis. 

Hingga Mei 2025, sebanyak 84% pemerintah daerah dilaporkan telah mendirikan pusat layanan tersebut. Bersales menyebut hal ini sebagai kemajuan. 

Namun, peningkatan kehamilan pada anak perempuan di bawah usia 15 tahun memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pusat-pusat tersebut. 

“Kami terus menyempurnakan indikatornya. Pendirian pusat layanan adalah satu hal, tetapi fungsinya adalah hal lain,” akunya. 

Anak perempuan pekerja migran lebih rentan 

Mindanao Utara merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kehamilan remaja tertinggi di Filipina. 

Survei Demografi dan Kesehatan Nasional 2022 menunjukkan sekitar 10,9% remaja perempuan usia 15–19 tahun di wilayah tersebut telah memiliki anak. Ini adalah angka tertinggi dari seluruh wilayah di negara tersebut. 

Di pedesaan dan wilayah terpencil secara geografis, akses terhadap informasi dan layanan masih terbatas, sementara budaya yang cenderung bungkam soal isu seksualitas menghambat percakapan terbuka dalam keluarga. 

Bersales juga menyoroti kerentanan anak perempuan dari keluarga Pekerja Migran Filipina (OFW). 

“Mempelajari kondisi anak perempuan yang ditinggalkan oleh ibu OFW adalah pekerjaan penting yang perlu kami lakukan,” ujarnya, dengan menyebut berbagai risiko seperti eksploitasi seksual. 

Selain itu, keterbatasan hukum semakin mempersulit upaya pencegahan kehamilan di Filipina.

Berdasarkan Undang-Undang Responsible Parenthood and Reproductive Health Act tahun 2012, anak di bawah umur umumnya memerlukan persetujuan tertulis dari orang tua atau wali untuk mengakses layanan keluarga berencana modern, kecuali dalam kondisi tertentu, misalnya jika sudah menjadi orang tua atau pernah mengalami keguguran. 

“Saya merasa takut” 

Jenny* (17), remaja dari Tanay, sebuah kota di Provinsi Rizal yang terletak di sebelah timur Manila, melahirkan dua bulan lalu. Kini ia menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas melalui pembelajaran berbasis modul secara tatap muka. 

Pasangannya bekerja sebagai buruh tani yang bekerja serabutan. 

Saat mengetahui dirinya hamil, ia mengaku merasa “gugup dan takut karena harus memberi tahu orang tuaku. Saya takut.” 

Meski demikian, ia tetap tekun dan bertekad mengejar cita-citanya menjadi guru. 

“Terkadang pelajaran saya terabaikan. Nilai saya menurun,” katanya. 

“Yang saya inginkan adalah menyelesaikan sekolah… dan saya ingin terus melanjutkan,” ujarnya kepada DW. 

Meskipun memiliki tanggung jawab keluarga, Jenny tetap melanjutkan pendidikannya di sekolah menengah atasFoto: Jenny

Menjadi orang tua di usia muda juga mengubah kehidupan remaja laki-laki. 

Eman*, seorang pemuda berusia 18 tahun dari Santa Maria, sebuah kota di Provinsi Laguna, bagian tenggara Filipina, adalah ayah dari bayi perempuan berusia delapan bulan. Ia membagi waktunya antara mengasuh anak dan bekerja di sebuah kedai mi. 

Ia merasa telah mengecewakan ayahnya karena menjadi orang tua saat masih bersekolah. 

“Saya merasa begitu tertekan dalam hidup, tentang karier dan mimpi saya,” katanya, sambil menyebut keinginannya melanjutkan kuliah. 

“Saya bahkan tidak tahu harus berbuat apa karena saya masih sangat muda,” tambahnya. 

Ia akhirnya menyelesaikan sekolah menengah atas, tetapi memutuskan tidak melanjutkan pendidikan. 

“Saya tidak akan kuliah lagi… seiring waktu anak saya tumbuh dan saya harus ada untuknya,” ujarnya, menjelaskan bahwa ia memilih bekerja. 

“Ini bukan jalan yang benar. Ini benar-benar kecelakaan dan tidak pernah direncanakan,” tambah Eman. 

Menstruasi: Datang Bulan atau Ada Tamu?

06:49

This browser does not support the video element.

Pendidikan seks di sekolah dinilai terlambat 

Baik Eman maupun Jenny mengatakan bahwa sekolah mereka hanya memberikan pembahasan terbatas mengenai kesehatan reproduksi. 

“Kekurangannya adalah tidak memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang seks, kehamilan remaja, dan menjadi ibu di usia muda,” kata Jenny. 

Ia menekankan bahwa ia pernah membahas tentang saat sekolah menengah atas, tetapi tidak dilakukan selama sekolah menengah pertama. 

Eman setuju bahwa pendidikan seks bagi siswa sekolah menengah atas yang lebih tua berisi informasi yang lebih penting. 

“Ketika akhirnya diajarkan, semuanya sudah terlambat bagi kami,” ujarnya. 

Meski Kementerian Pendidikan Filipina memiliki inisiatif pendidikan seks komprehensif, Bersales mengakui sebagian guru masih merasa tidak nyaman menyampaikan materi tersebut karena keyakinan pribadi. 

“Kita perlu membuat para guru lebih percaya diri,” katanya, seraya menekankan pentingnya pelatihan yang tepat serta penghapusan stereotip, tabu, dan stigma adalah alat penting untuk membuat pendidik bisa menyampaikan pesan dengan benar. 

 

*Eman dan Jenny merupakan nama samaran untuk melindungi identitas nara sumbermereka. 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Algadri Muhammad
Editor: Prihardani Purba

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait