Filipina, India, dan Indonesia, Negara Paling Rawan Bencana
Christian Walz (sumber kna, epd, dpa)
25 September 2025
Ketidaksetaraan sosial dan sistem mitigasi yang lemah membuat dampak dari bencana alam semakin signifikan. Laporan Risiko Global tahun ini berfokus pada banjir.
Banjir di Bulayan, Manila Utara, 3 September 2024Foto: Noel Celis/Matrix Images/picture alliance
Iklan
Filipina menduduki pemuncak peringkat negara dengan risiko paling tinggi untuk menjadi korban bencana alam, disusul India dan Indonesia. Laporan Risiko Global ini diterbitkan oleh aliansi organisasi bantuan kemanuasaan dan pembangunan Jerman, Bündnis Entwicklung Hilfe, besserte Institut Hukum Humaniter dan Perdamaian (IFHV) Rühr-Universität Bochum.
Negara-negara lain yang turut masuk '10 besar' negara-negara berisiko adalah Kolombia, Meksiko, Myanmar, Mozambik, Rusia, Cina, dan Pakistan.
Laporan Risiko Global 2025 memfokuskan kajiannya pada banjir , sebagai bencana alam yang semakin sering terjadi dan berdampak secara global, tidak hanya merusak infrastruktur tetapi juga mengancam stabilitas sosial dan ekonomi jangka panjang. Laporan ini mengkaji penyebab banjir, dampaknya terhadap masyarakat, serta solusi berbasis alam dan kebijakan untuk meningkatkan ketahanan terhadap risiko banjir.
Banjir terbagi dalam tiga kelompok utama. Pertama, Banjir Fluvial yang terjadi ketika air sungai meluap setelah hujan deras atau pencairan salju seperti yang terjadi di Pakistan saat monsun (pergantian arah angin musiman) atau banjir Ahr di Jerman (2021).
Kedua, Banjir Pluvial yang diakibatkan curah hujan tinggi yang melebihi kapasitas tanah atau drainase kota - kerap terjadi di Jakarta karena tingginya urbanisasi membuat resapan yang rendah.
Ketiga, Banjir Pesisir yang disebabkan pasang laut, badai, atau Tsunami - hal ini kerap diperparah dengan kenaikan permukaan air laut akibat perubahan Iklim. Banjir pesisir kerap melanda Filipina, Maladewa, bahkan kota pesisir seperti Semarang atau Jakarta Utara.
Tahun 2022: Krisis Iklim Melanda Seluruh Dunia
Tahun 2022 seluruh dunia dilanda cuaca panas yang ekstrem, kekeringan, kebakaran, badai dan banjir yang terkait dengan perubahan iklim. Berikut sejumlah peristiwa cuaca yang terjadi tahun 2022.
Foto: Peter Dejong/AP Photo/picture alliance
Eropa: Lebih panas dan lebih kering dari sebelumnya
Musim panas di Eropa ditandai cuaca panas ekstrem dan kekeringan terburuk dalam 500 tahun. Lebih 500 orang tewas akibat gelombang panas di Spanyol, dengan suhu hingga 45 derajat Celsius. Di Inggris, cuaca panas juga mencapai lebih 40 derajat Celsius. Sebagian benua Eropa jadi wilayah paling kering selama lebih dari satu milenium, sehingga banyak daerah terpaksa menjatah air.
Foto: Thomas Coex/AFP
Kebakaran hutan melanda seluruh Eropa
Mulai dari Portugal, Spanyol, Prancis, Italia, Yunani, Siprus, hingga Siberia, dilanda kebakaran hutan. Bencana itu telah menghanguskan 660.000 hektar lahan pada pertengahan tahun 2022 — kebakaran terbesar sejak pencatatan iklim dimulai pada tahun 2006.
Hujan monsun yang ekstrem menenggelamkan sepertiga wilayah Pakistan. Banjir itu menewaskan lebih dari 1.100 orang, menyebabkan 33 juta orang kehilangan tempat tinggal, dan memicu penyebaran penyakit. Hujan lebat juga melanda Afganistan. Banjir besar menghancurkan ribuan hektare lahan, memperburuk bencana kelaparan yang sudah akut di negara itu.
Foto: Stringer/REUTERS
Gelombang panas ekstrem dan topan terjang Asia
Sebelum dilanda banjir, Afganistan, Pakistan, dan India alami panas dan kekeringan ekstrem. Cina juga alami kekeringan terburuk dalam 60 tahun dan gelombang panas terburuk sejak pencatatan dimulai. Awal musim gugur, 12 topan telah mengamuk di seluruh Cina. Badai besar juga melanda Filipina, Jepang, Korea Selatan, dan Bangladesh. Perubahan iklim membuat Intensitas badai semakin kuat.
Foto: Mark Schiefelbein/AP Photo/picture alliance
Krisis iklim memperburuk kondisi Afrika
Afrika memanas lebih cepat dibanding rata-rata global. Itu sebabnya benua ini secara tidak proporsional dilanda perubahan pola curah hujan, kekeringan, dan banjir. Somalia sedang menghadapi kekeringan terparah dalam 40 tahun. Krisis itu telah memaksa lebih dari satu juta orang meninggalkan kawasan mereka.
Foto: ZOHRA BENSEMRA/REUTERS
Bencana kelaparan di Afrika
Banjir dan kekeringan telah membuat pertanian dan peternakan praktis tidak mungkin dilakukan di beberapa bagian Afrika. Akibatnya, 20 juta orang mengalami kelaparan. Banyak yang meninggal karena kelaparan di Etiopia, Somalia, dan Kenya.
Foto: Dong Jianghui/dpa/XinHua/picture alliance
Kebakaran dan banjir di Amerika Utara
Badai dahsyat menerjang sejumlah negara bagian AS, seperti California, Nevada, dan Arizona. Gelombang panas menghanguskan ketiga negara bagian dengan suhu mencapai lebih dari 40 derajat Celsius di akhir musim panas. Sebaliknya, hujan lebat di awal musim panas menyebabkan banjir parah di Taman Nasional Yellowstone dan di negara bagian Kentucky.
Foto: DAVID SWANSON/REUTERS
Badai menghancurkan Amerika
Pada September lalu, Badai Ian menghancurkan Florida. Otoritas setempat menggambarkan kerusakan itu sebagai "peristiwa bersejarah." Sebelumnya, badai itu melewati Kuba, di mana penduduknya hidup tanpa listrik selama berhari-hari. Badai Fiona juga menjadi topan tropis terburuk yang melanda Kanada setelah pertama kali menghantam Amerika Latin dan Karibia, mengakibatkan kerusakan parah.
Foto: Giorgio Viera/AFP/Getty Images
Badai tropis dahsyat landa Amerika Tengah
Badai Fiona bukan satu-satunya badai yang melanda Amerika Tengah. Pada Oktober lalu, Badai Julia menghantam Kolombia, Venezuela, Nikaragua, Honduras, dan El Salvador, menyebabkan kehancuran yang meluas. Pemanasan global meningkatkan suhu permukaan laut yang memperkuat intensitas badai.
Foto: Matias Delacroix/AP Photo/picture alliance
Kekeringan ekstrem di Amerika Selatan
Kekeringan yang terus-menerus melanda hampir seluruh Amerika Selatan. Cile, mengalami merosotnya curah hujan ekstrem sejak 2007. Di banyak daerah, sungai-sungai menyusut antara 50 dan 90%. Meksiko juga hampir tidak pernah mengalami hujan selama beberapa tahun berturut-turut. Argentina, Brasil, Uruguay, Bolivia, Panama, sebagian Ekuador, dan Kolombia pun mengalami kekeringan.
Foto: IVAN ALVARADO/REUTERS
Selandia Baru dan Australia tenggelam
Curah hujan yang intens menyebabkan rangkaian banjir ekstrem di Australia. Antara Januari dan Maret, pantai timur negara itu menerima curah hujan sebanyak yang dialami Jerman dalam setahun. Selandia Baru tidak luput dari banjir. Fenomena cuaca La Nina berada di balik peristiwa ekstrem tersebut. Atmosfer yang lebih hangat menyerap lebih banyak air, membuat curah hujan lebih deras. (ha/as)
Foto: Jenny Evans/Getty Images
11 foto1 | 11
Mengapa Filipina, India, dan Indonesia ada di urutan tiga besar?
Secara geografis Filipina negara kepulauan yang sangat rentan bencana alam seperti badai tropis, tsunami, dan kenaikan permukaan laut. Sama halnya dengan Indonesia, yang ditambah dengan faktor "ring of fire” yang memungkinkan lebih banyak bencana letusan gunung berapi. Sedang India dengan luasnya wilayah daratan memiliki banyak sungai besar dengan dataran rendah rawan banjir dan padat populasi.
Iklan
Ketiga negara tersebut memiliki kerentanan sosial ekonomi dengan daerah miskin dan kepadatan tinggi, yang menyulitkan evakuasi. Infrastruktur yang ada juga masih belum memadai. Selain itu, sistem peringatan dini dan mitigasi bencana di Filipina walau sudah tergolong maju, namun belum menjangkau pulau terpencil, sedang di India keterbatasan koordinasi antar wilayah masih beramasalah dan di Indonesia integrasi teknologi dan koordinasi nasional terkait mitigasi bencana masih tergolong lemah. Faktor seperti urbanisasi yang cepat, degradasi lingkungan, dan perubahan iklim semakin memperburuk dampak bencana di ketiga negara tersebut.
Filipina hingga Sri Lanka, Banjir Merusak Secara Global
Peristiwa bencana mematikan seperti banjir kerap dan intensif terjadi lantaran terjadinya perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia.
Foto: AP
Sri Lanka terendam
Setidaknya tiga orang tewas saat banjir melanda Sri Lanka, sementara ibu kota Colombo mengalami dampak terparah. Banjir menyebabkan sejumlah daerah berisiko mengalami tanah longsor, sementara hujan lebat diprediksi bakal terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.
Foto: Pradeep Dambarage/NurPhoto/picture alliance
Pakistan dilanda penyakit dan kekurangan gizi
Hujan monsun dan bajir yang tak pernah terjadi sebelumnya sebabkan lebih dari setengah juta orang di Pakistan memgungsi dan 1,700 nyawa melayang. Banjir perlahan surut, tetapi warga di Sindh dan Balochistan menghadapi risiko penyakat yang terkandung di air. Hal itu disebabkan oleh rusaknya fasiltas kesehatan, genangan air, minimnya persediaan obat hingga sedikitnya sanitasi.
Foto: Sabir Mazhar/AA/picture alliance
Banjir hal lumrah di Filipina
Di beberapa negara bagian Filipina, penyedia jasa ojek motor memodifikasi kendaraannya agar dapat bertahan akibat banjir yang terjadi berulang kali. Di Hagonoy, di luar ibu kota Manila, ketinggian hujan mencapai dua meter saat musim hujan. baru-baru ini, topan tenggelamkan desa dan daerah pertanian di bagian utara Filipina.
Foto: Eloisa Lopez/REUTERS
Perubahan iklim jadi penyebabnya?
Malapetaka bencana cuaca jadi sering terjadi akibat perubahan iklim. Atmosfer yang lebih hangat menahan uap air sehingga menghasilkan curah hujan tinggi. Meskipun sulit dibuktikan berapa besar perubahan iklim berperan dalam satu kejadian, tetapi tren keseluruhannya terbukti. Korbannya, banyak negara rentan.
Foto: Sanjev Gupta/dpa/picture alliance
Apa yang bisa kita lakukan?
Agar tetap bisa memenuhi target Perjanjian Paris, manusia harus segera mengurangi emisi, setidaknya mendekati nol emisi dalam waktu 50 tahun ke depan. Negara yang berisiko perlu membangun sistem peringatan dini dan sistem penanggulangan banjir agar mengurangi dampak bencana iklim, termasuk banjir. Membuat sistem seperti ini bakal jadi fokus utama PBB dalam konferensi iklim selanjutnya.
(mh/ap)
Foto: Branden Camp/AP Photo/picture alliance
5 foto1 | 5
Afrika juga sangat rentan
Secara global negara-negara di Afrika juga tergolong sangat rentan, terutama Republik Afrika Tengah, Somalia, Chad, Sudan Selatan, dan Republik Demokratik Kongo. Para ahli mengelompokkan faktor-faktor seperti ketimpangan sosial atau sistem kesehatan yang lemah, yang semakin memperburuk dampak bencana alam. Perubahan iklim juga memperburuk situasi, memicu bencana alam lebih sering dan lebih ekstrem terjadi.
Bencana alam ekstrem melampaui kapasitas sistem perlindungan yang ada dan menyebabkan kerusakan yang semakin parah, demikian disebutkan dalam Laporan Risiko Global yang diterbitkan bersamaan dengan indeks tersebut.
Untuk periode antara 2020 dan 2024, para penulis studi memperkirakan kerusakan akibat banjir di seluruh dunia mencapai 325 miliar dolar (Rp 5400 triliun). Penyebabnya tidak hanya terletak pada proses alam, tetapi juga pada urbanisasi dan pengalih fungsian lahan yang terus berlanjut.
Banjir di Ahrtal, JermanFoto: Christoph Hardt/Future Image/imago images
Bagaimana dengan Jerman?
"Bencana banjir termahal terjadi pada Juli 2021 di Eropa Tengah (...) akibat banjir bandang di Ahrtal dan wilayah sekitarnya,” demikian laporan Risiko Global 2025. Meskipun demikian, Jerman hanya menempati peringkat ke-95 dalam Indeks Risiko Global saat ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Jerman berada di peringkat tengah dari total 193 negara yang dianalisis.
Laporan Risiko Global turut mendesak agar dilakukan perlindungan iklim dan lingkungan yang lebih baik serta peningkatan investasi dalam pencegahan bencana.
Selain itu, laporan turut memperingatkan agar anggaran bantuan pembangunan tidak dikurangi. "Daripada bereaksi setelah bencana itu terjadi, kita harus bertindak secara preventif,” tegas Ilona Auer-Frege, Direktur Eksekutif BEH. "Risiko banjir dapat dikurangi secara signifikan jika ada kemauan politik dan pengetahuan lokal yang bersatu.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman