1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Film Horor Indonesia Refleksikan Masalah Global di Berlinale

Sorta Caroline
19 Februari 2026

Di festival Berlinale, film “Ghost in the Cell”, “Monster Pabrik Rambut”, dan “Volcanology” mengajak penonton merenungkan budaya korupsi, obsesi kerja berlebihan, dan tradisi lokal yang kerap dipandang sebelah mata.

Cuplikan film eksperimental karya Riar Rizaldi "Volcanology"
Cuplikan film eksperimental karya Riar Rizaldi "Volcanology"Foto: DW/Sorta Caroline

Jika mengetik kata kunci "Indonesia" pada laman program situs Berlinale tahun ini, mungkin terlintas pertanyaan, "Mengapa semua film Indonesia yang lolos didominasi genre horor?" Jika bukan pecinta genre horor, mungkin pengunjung akan berpikir dua kali untuk membeli tiket.

Padahal, film horor telah lama jadi kekuatan sinema Indonesia. Film-film seperti "Ratu Ilmu Hitam", "Beranak Dalam Kubur" yang lahir di era 80-an telah menghantarkan perfilman nasional ke era golden age bioskop lokal pun kembali ramai. Namun, ketenaran ini merosot drastis di tahun 90-an karena gempuran film impor, persaingan ketat dengan kehadiran TV swasta, serta penurunan kualitas film horor yang mengumbar sensualitas belaka.

Kini industri perfilman Indonesia kembali bangkit menggali potensi film-film horor yang sempat lama terkubur. Kehadiran film-film "Jelangkung", "Pengabdi Setan", dan "KKN di Desa Penari" kian menguatkan industri perfilman Indonesia.

Bahkan Festival Film Berlinale ke-76 tahun ini turut menayangkan tiga film horor asal Indonesia: Film "Ghost in the Cell", "Monster Pabrik Rambut", dan "Volcanology".

Film "Ghost in the Cell", yang tayang perdana di Berlin akhir pekan lalu, mengisahkan kehidupan di balik jeruji. Kehadiran hantu di dałam sel penjara yang membunuh secara brutal tahanan satu per satu membuat para narapidana tidak tenang dan berburu solusi untuk mengamankan diri mereka dari serangan hantu tersebut.

Dalam Film "Monster Pabrik Rambut", Edwin berkisah tentang ketiga saudara yang harus menghadapi kematian misterius ibu mereka yang bekerja di pabrik rambut. Sang kakak dan adiknya pun bekerja di pabrik tersebut. Saat bekerja di sana mereka mengalami banyak kejadian aneh, terutama saat bekerja lembur tanpa henti.

Terakhir, ada film bergenre eksperimental "Volcanology" karya Riar Rizaldi. Riar menggambarkan sosok Franz Wilhelm Junghuhn sebagai sesosok zombie. Junghuhn yang sesungguhnya adalah seorang geolog asal Jerman yang memiliki ketertarikan akan alam seperti gunung-gunung berapi di Indonesia. Namun, saat menggali aspek-aspek keilmuan dari alam Indonesia, Junghuhn kerap mengesampingkan kepercayaan atau mitos warga lokal.

Pemeran film "Monster Pabrik Rambut" dan sang sutradaraFoto: DW/Sorta Caroline

Tidak sekadar seram

“Saya rasa orang sudah cukup cerdas ya untuk paham konteks yang lebih dalam,” jelas sutradara "Monster Pabrik Rambut - Sleep no More", Edwin.

Di balik set pabrik rambut yang menyeramkan dan sosok monster yang bisa merasuki siapa saja, Edwin berharap para penonton berefleksi soal bekerja. "Kenapa sih kita bekerja? Untuk apa? Pekerjaan sehari-hari kalau dihitung jam kerja menghabiskan 70% hidup kita… Kalau pun enggak kerja kita pun memikirkan pekerjaan. Sejauh mana kita merelakan waktu kita untuk pekerjaan? Ini bisa jadi obsesi yang membabi-buta juga."

Jika "Monster Pabrik Rambut" mengajak para penontonnya berefleksi di tengah ketegangan suasana pabrik yang tidak menentu, film "Ghost in the Cell" membawa hadirin menengok kehidupan di balik jeruji.

Joko Anwar menggambarkan penjara sebagai ‘miniatur masyarakat’ dan Polsuspas sebagai pemegang kuasa. Film ini dengan cepat beralih adegan dari penuh humor satir menuju kisah dramatis, aksi laga, teror, hingga misteri. Film ini sebenarnya tengah ‘memotret’ masalah-masalah sosial yang terjadi tidak hanya di Indonesia: penyalahgunaan wewenang dan korupsi, bagaimana sistem tidak melindungi masyarakat, tapi hanya mereka yang dekat dengan kekuasaan.

Setelah berefleksi lewat pabrik rambut dan penjara, kita dapat melihat kembali potongan sejarah yang terlupakan lewat instalasi film "Volcanology" Riar Rizaldi di Silent Green. Keilmuan tidak melulu soal rasionalitas yang bisa diukur dan diverifikasi, seperti di barat.

“Kita hidup di Indonesia pasti berkelindan dengan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan tapi kita menganggapnya itu sebagai kenyataan,” tegas Riar.

Riar Rizaldi (kedua dari kanan) saat diskusi "Authorized Version" Berlinale bersama para seniman lainnya di Silent Green, BerlinFoto: DW/Sorta Caroline

Mengapa orang Indonesia menyukai sesuatu yang horor atau mistis?

“Kita adalah bangsa yang percaya takhayul,” jelas Joko Anwar dalam wawancara kepada DW. Bahasa horor bisa dipahami seluruh orang di dunia karena rasa takut adalah hal yang mendasar.

“Sebenarnya orang Indonesia suka juga komedi dan drama, tetapi horor ini adalah bagian dari keseharian yang tidak ingin kita alami tapi ingin kita ketahui. Orang Indonesia masih memercayai unsur-unsur supranatural. Film horor membuat kita bisa mengalami itu tapi bukan di kehidupan nyata,” jelas Suma Riella Rusdiarti, seorang pakar Budaya Layar dan Transmedialitas dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Menurut Riella film horor Indonesia sangatlah dekat dengan praktik budaya yang ada. “Kita kaya sekali, dari Sabang sampai Merauke, bahan-bahan film horor ini tidak akan habis. Tiap kelompok masyarakat punya mitos dan kepercayaannya sendiri. Hal ini bersinkretisasi dengan agama dan praktik budaya lain yang lebih modern. Indonesia lebih kaya aspek kultural. Mitos kita kaya sekali,” kata dosen Fakultas Ilmu Budaya UI tersebut.

Produser, aktor, dan sutradara film "Ghost in the Cell" saat penayangan perdana di Delphi Filmpalast BerlinFoto: DW/Sorta Caroline

Apakah film horor Indonesia relevan di mata orang asing?

Seusai film "Ghost in the Cell", kami mewawancarai beberapa warga Berlin yang ikut menonton.

“Yang seram adalah hantu yang tidak kita ketahui apa yang diinginkannya, apa tujuan yang ingin dicapainya. Hantu itu seperti memiliki kekuatan emosi yang besar yang sedang berupaya ‘memukul‘ ketidakadilan. Selain itu fakta kalau mereka di dalam penjara tidak bisa melarikan diri juga seram,” jelas Daniel.

Menurut Daniel, kisah horor barat lebih seputar cerita orang yang sudah mati sedang horor Indonesia soal roh yang bisa begitu marah menghadapi ketidakadilan, “Rasanya aneh juga, banyak dialog humor yang membuat tertawa dan menghilangkan beban, lalu kembali sadar secara nyata masalahnya masih ada.”

“Kalau film Amerika lebih ke aspek teror psikologis dan grafis, tapi Indonesia menampilkan aspek sosialnya, ada soal korupsi,” kata Anita yang pertama kali menonton film horor Indonesia.

“Kalau horor barat mungkin lebih banyak soal persoalan personal tapi kalau horor Indonesia bisa melibatkan persoalan yang sistemik di masyarakat,” jelas Max sehabis menonton "Monster Pabrik Rambut".

Menurut Riella, orang asing bisa memahami bahkan menyukai film horor Indonesia selama ada konflik universal yang dibahas di dalamnya. “Aspek horornya bisa saja lokal, mitos bisa dari gunung mana atau dari suku apa. Nama hantunya juga bisa lokal, tetapi selama konfliknya universal seperti masalah ketidakadilan, kekerasan, kecurangan, dan pengkhianatan, orang (asing) akan bisa relate. Namun, hal tersebut juga perlu dibangun dengan sinematografi yang bagus dan narasi yang kuat.”

Selain horor, Indonesia juga bisa menguatkan film-film di laga aksi dengan seni bela diri lokal,“Kita punya pencak silat, nah ini bisa jadi kekuatan lainnya,” tambah Riella.

Edwin, Sutradara "Monster Pabrik Rambut"Foto: DW/Sorta Caroline

Apakah film horor Indonesia punya 'tempat spesial' di pasar global?

“Ke depannya saya yakin film horor bisa jadi pegangan kita untuk berada dalam konstelasi perindustrian film ini,” jelas sutradara "Monster Pabrik Rambut", Edwin.

“Film horor Indonesia sudah jadi ‘trademark’ Indonesia di sinema global. Kita kan punya beberapa golden age of cinema dan itu karena film horor. Sekitar 10 tahun ke belakang film Indonesia telah kembali, dulu memang sempat dipergunakan beberapa rumah produksi untuk memproduksi film yang murahan dan seksi. Sekarang sudah dikerjakan dengan sangat serius. Film horor kita selalu berkelas,” tegas Joko Anwar.

Kedua sutradara mengakui pemerintah Indonesia sudah memiliki kecenderungan untuk mendukung industri perfilman Indonesia, meski bantuan yang disalurkan masih cenderung sporadis.

Ke depannya mereka berharap lebih banyak dialog antara insan perfilman dengan para pembuat kebijakan untuk membahas kebijakan jangka panjang mengingat pentingnya potensi film sebagai soft power yang mampu menyebarluaskan kebudayaan secara organik.

Editor: Rizki Nugraha

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait