Merz: Saatnya Jerman dan Uni Eropa "Tunjukkan Kekuatan"
17 Oktober 2025
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyerukan penguatan kerja sama ekonomi dan pertahanan Eropa demi mencegah kemunduran ekonomi serta menghadapi ancaman keamanan dari luar kawasan. Hal tersebut disampaikan Merz dalam pidatonya di parlemen Jerman, Bundestag.
Merz mengajukan argumen untuk memperkuat pertahanan Jerman dan NATO di Eropa. Menurutnya, menjadi "kekuatan untuk perdamaian di dunia" adalah salah satu tujuan pendiri Uni Eropa (UE).
Merz puji Netanyahu dan Trump soal Timur Tengah
Friedrich Merz memulai pidato pada Kamis (16/10) kepada majelis rendah parlemen dengan mengapresiasi gencatan senjata di Gaza dan menyebutnya sebagai "hari bersejarah".
"Setelah 738 hari dalam penyanderaan, pada 13 Oktober, semua 20 sandera yang masih hidup dibebaskan dari organisasi teroris Hamas, dengan empat warga negara Jerman di antara mereka," kata Merz. "Mereka sudah pulang. Mereka bersama keluarga mereka. Hal itu memuaskan kami dan saya secara pribadi, dengan kegembiraan dan kelegaan yang besar."
Dia mengatakan pembebasan sandera dan gencatan senjata dapat terlaksana terutama karena kerja sama antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu.
Selain itu, Merz juga berterima kasih kepada Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sissi, pemimpin Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, serta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Meski begitu, ia tidak mengucapkan terima kasih kepada otoritas Palestina.
"Eropa harus tunjukkan kekuatannya dengan lebih tegas"
Merz mengatakan bahwa momen pekan lalu telah menumbuhkan harapan akan "perdamaian nyata dan berkelanjutan di kawasan (Timur Tengah)," tetapi juga menambahkan bahwa Jerman dan Uni Eropa bisa mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut.
"Tindakan politik nyatanya berdampak pada dunia, untuk yang lebih baik atau lebih buruk," papar Merz. "Eropa harus menunjukkan kemampuannya dengan lebih tegas dan bersatu. Eropa harus menunjukkan kekuatannya, untuk membentuk dunia menjadi lebih baik."
Saat berbicara menjelang KTT pemimpin Uni Eropa di Brussel pada 23 Oktober, Kanselir Jerman tersebut menegaskan kembali dukungannya terhadap rencana peningkatan anggaran pertahanan dan peran Jerman yang lebih tegas di Eropa.
"Perdamaian hanya bisa ada dalam kebebasan ketika didasarkan pada kekuatan," tegas Merz, "dengan kekuatan ekonomi, dengan kekuatan politik dan tekad, dan juga dengan kekuatan militer."
Ia mengatakan, pelajaran yang diambil dari sejarah menunjukkan bahwa negara-negara UE terlalu kecil secara ekonomi dan politik untuk memberikan dampak bagi dunia jika berdiri sendiri.
"Namun, ketika semuanya bersama-sama, dalam sebuah aliansi, kita memiliki peluang untuk membantu membentuk dunia yang lebih baik," ungkapnya.
Merz: Aset Rusia harus digunakan untuk persenjataan Ukraina
Menanggapi invasi Rusia ke Ukraina dan ancaman yang lebih luas di Eropa, misalnya seperti serangan udara dan drone yang baru-baru ini mengancam wilayah udara UE, Merz menuduh Kremlin melancarkan tindakan yang disebutnya sebagai "serangan tidak aman” terhadap Benua Biru tersebut.
"Kami tidak akan membiarkan diri kami diintimidasi. Kami akan melawannya," katanya, sambil menyebut Dewan Keamanan Nasional Jerman yang akan segera bersidang sebagai salah satu buktinya.
Merz menuduh oposisi sayap kanan AfD membantu menyebarkan disinformasi Rusia, yang kemudian disambut tepuk tangan dari para peserta sidang.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Ia juga mengulangi seruannya agar sekitar €140 miliar (sekitar Rp2,72 kuadriliun) aset Rusia yang dibekukan digunakan untuk mendanai persenjataan bagi Ukraina. Menurutnya, jika Rusia tidak bisa diajak bernegosiasi demi perdamaian, maka mereka harus sadar bahwa memenangkan perang dengan kekuatan militer justru jauh lebih mahal.
"Dana tambahan ini akan digunakan secara eksklusif untuk membiayai perlengkapan militer," usul Merz tentang dana yang saat ini dibekukan di Uni Eropa, "dibayarkan secara bertahap, dana tersebut akan menjamin ketahanan militer Ukraina untuk beberapa tahun mendatang."
Merz juga menyampaikan bahwa Ukraina akan membayar kembali pinjaman tersebut setelah Rusia membayar ganti rugi perang.
Gagasan tersebut menimbulkan perdebatan di beberapa negara Eropa, khususnya Belgia, tempat dana itu disimpan. Dalam kunjungannya baru-baru ini ke Berlin, Perdana Menteri Bart de Wever memperingatkan tentang konsekuensi hukum dan ekonomi yang mungkin timbul dari langkah tersebut. Kala itu, Merz pun memahami kekhawatirannya.
Kepemimpinan Jerman di tengah Eropa yang lebih kompetitif
Merz juga menyerukan agar Jerman mengambil peran kepemimpinan yang lebih besar di dalam Uni Eropa, dengan menyatakan bahwa UE dan Jerman tidak akan bisa maju tanpa satu sama lain.
Ia mendesak peningkatan daya saing dan pengurangan regulasi, baik di tingkat nasional maupun kawasan. "Kita tidak perlu lebih banyak aturan, kita membutuhkan aturan yang lebih sedikit, tapi lebih baik," ucap Merz sambil menekankan pentingnya "meningkatkan produktivitas agar tetap kompetitif.”
Kanselir Jerman ini kemungkinan bakal menghadapi kritik di Brussel pekan depan, setelah sebelumnya menyatakan penolakan terhadap rencana Uni Eropa untuk menghentikan penjualan mobil berbahan bakar BBM pada 2035.
Meski ia tidak menyebutnya secara langsung pada Kamis (16/10), Merz tampak menyinggungnya secara implisit dalam pidatonya terkait dorongan pasar yang lebih terbuka, regulasi yang longgar, hingga larangan yang lebih sedikit.
"Eropa hanya akan menjadi lebih produktif, jika mampu mentransformasi diri secara mendasar," tegasnya. "Namun, bukan dengan lebih banyak aturan dan pasti bukan dengan larangan, melainkan dengan keterbukaan teknologi, inovasi, daya saing, terutama di bidang teknologi yang justru memungkinkan perlindungan lingkungan."
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Muhammad Hanafi dan Adelia Dinda Sani
Editor: Hani Anggraini