1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikAmerika Serikat

Gambar AI Mirip Yesus Ancam Hubungan Trump dengan Pemilihnya

Jenipher Camino Gonzalez sumber: AP, AFP, Reuters, dpa
14 April 2026

Unggahan kontroversial Trump dan serangannya ke Paus Leo berpotensi mengikis dukungan basis pemilih Kristen loyalnya.

Donald Trump (tengah, tengah) meletakkan tangannya yang bersinar pada seorang lelaki (tengah, bawah) yang sakit, dengan simbol-simbol AS dan agama terlihat dalam foto hasil AI
Dalam gambar yang dihasilkan oleh AI, Trump tampak sedang menyembuhkan seorang lelakiFoto: Truth Social/@realDonaldTrump

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat mengunggah sebuah gambar hasil artificial intelligence (kecerdasan buatan/AI) yang menampilkan sosoknya mirip Yesus. Kiriman tersebut langsung menuai kecaman, termasuk dari kelompok konservatif religius pendukung Trump.

Gambar AI tersebut diunggah Trump pada Minggu (12/04) di platform media sosial miliknya, Truth Social. Namun, pada Senin (13/04), Trump menghapus gambar tersebut. Dia mengeklaim bahwa unggahan itu dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai seorang dokter. Kiriman gambar tersebut muncul di tengah dinamika Trump dengan Paus Leo.

Pemimpin Gereja Vatikan tersebut mulai vokal dalam mengkritik perang, yang dimulai dengan serangan AS-Israel terhadap Iran. Paus Leo menyebutnya sebagai tindakan yang tidak manusiawi. Tak lama sebelum mempublikasikan gambar itu, Trump mengunggah serangan panjang terhadap Paus Leo, menyebutnya sebagai sosok yang "lemah dalam menangani kejahatan dan tidak paham dengan kebijakan luar negeri."

Paus Leo, yang juga merupakan Paus pertama dari Amerika Serikat, menanggapi serangan Trump dengan mengatakan bahwa ia “tidak takut” kepada pemerintahan Trump dan akan terus bersuara. Dalam pidatonya pada Senin (13/04) di Aljazair, ia mengecam kekuatan "neokolonial" telah melanggar hukum internasional, tanpa secara spesifik menyebut Amerika Serikat.

Paus Leo mengatakan bahwa ia tidak akan gentar dalam menyerukan perdamaianFoto: Guglielmo Mangiapane/REUTERS

Kritik bermunculan

Unggahan yang menampilkan Trump mengenakan jubah putih dengan tangan seolah memberi kesembuhan kepada lelaki yang berbaring tersebut, berpotensi menciptakan keretakan antara Trump dan kalangan religius, yang mendukungnya dan menjadi kunci kemenangan Trump dalam pemilu 2024.

Dalam gambar yang menyerupai lukisan itu, Trump memegang bola bercahaya di satu tangan dan dengan tangan lainnya menyentuh dahi seorang lelaki yang tampak sakit. Lalu, ada Patung Liberty, kembang api, sebuah jet tempur, dan burung elang menjadi latarnya.

Namun, Trump membantah bahwa gambar tersebut menampilkan dirinya sebagai sosok mirip Yesus.

"Itu dimaksudkan untuk menggambarkan saya sebagai seorang dokter yang menyembuhkan orang-orang dan saya memang membuat orang menjadi lebih baik," tegas Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Senin (13/4) tak lama setelah unggahan itu dihapus.

Brendan McMahon, profesor sejarah seni di Universitas Michigan, menilai penjelasan tersebut "sangat mencurigakan," mengingat gambar itu juga menampilkan sosok lain yang mengenakan pakaian medis. Trump digambarkan diselimuti cahaya, serta sinar terang juga muncul di tangannya. Cahaya menjadi simbol ketuhanan yang umum digunakan dalam karya seni religius selama berabad-abad.  

"Ini terinspirasi dari tradisi panjang gambaran Kristen yang menampilkan Kristus sebagai penyembuh," kata McMahon. ”Dari segi gaya, karya ini seolah-olah mengacu pada realisme sosial pada masa antarperang di Amerika Serikat, seperti mural-mural WPA, yang menggambarkan pemberdayaan kelas pekerja Amerika."

Brilyn Hollyhand, mantan wakil ketua Dewan Penasihat Pemuda Komite Nasional Partai Republik, menyampaikan kritik tajam melalui platform X.

“Ini adalah penistaan yang menjijikkan. Agama bukanlah alat peraga. Trump tidak perlu menggambarkan diri sebagai penyelamat ketika rekam jejaknya malah sebaliknya,” tulisnya.

Riley Gaines, mantan perenang dan aktivis atlet transgender dalam olahraga perempuan yang kerap tampil bersama Trump dalam berbagai kampanye, juga mengaku tidak memahami alasan Trump mengunggah gambar tersebut.

"Apakah dia benar-benar percaya akan hal ini?" tulis Gaines. “Apa pun itu, ada dua kebenaran, Trump harus sedikit rendah hati karena, hal itu akan baik baginya dan Tuhan tidak boleh dipermainkan."

Pemilih Kristen, termasuk umat Katolik, merupakan bagian penting dari basis politik Trump. Pemimpin AS yang tidak rutin menghadiri kebaktian gereja ini, meraih kemenangan telak di kalangan pemilih Kristen dalam pemilu 2024, termasuk umat Katolik yang sebelumnya cenderung terbelah.

Setelah Trump nyaris selamat dari upaya pembunuhan pada Juli 2024, sebagian pendukung Evangelis mengatakan peristiwa itu sebagai tanda bahwa ia diberkati oleh Tuhan.

Perseteruan Trump berpotensi menguji loyalitas pemilih Katolik

David Gibson, Direktur Pusat Studi Agama dan Budaya di Universitas Katolik Fordham mengatakan sulit memahami motif Trump menyerang Paus Leo dan mengunggah gambar tersebut. Namun, ia juga menilai belum jelas apakah umat Katolik Amerika Serikat akan berbalik menentang Trump.

"Apakah langkah ini akan sudah terlalu kelewatan bagi mereka? Apakah ini momentum yang membuat umat Katolik akhirnya menghukum Trump dan Partai Republik di bilik suara?" kata Gibson. "Ini adalah momen penentu, apakah umat Katolik Amerika akan memilih Paus atau Presiden?"

Uskup Robert Barron, anggota komisi kebebasan beragama yang dibentuk Trump, menulis di X bahwa presiden AS seharusnya meminta maaf kepada Paus Leo atas pernyataannya yang "tidak pantas" di media sosial. Namun, dalam unggahan yang sama, Barron juga memuji upaya Trump menjangkau umat Katolik.

Trump mengatakan kepada wartawan pada hari Senin (13/04) bahwa dirinya "tidak perlu meminta maaf" kepada Paus Leo.

Dalam beberapa pekan terakhir, Paus Leo menjadi salah satu pengkritik paling vokal terhadap perang di Iran, bahkan secara langsung menyerukan kepada Trump agar mencari "jalan keluar" dari konflik tersebut.

Paus Leo: Tuhan Menolak Doa Mereka yang Memulai Perang

00:37

This browser does not support the video element.

Ketegangan Trump dan Paus Leo semakin dalam akibat perang Iran

Paus Leo juga menegaskan bahwa Yesus tidak dapat digunakan untuk membenarkan perang, serta bahwa Tuhan menolak doa-doa mereka yang memulai konflik. Pernyataan ini secara luas dianggap sebagai teguran terhadap para pejabat Trump, termasuk Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang pernah mengutip ayat-ayat Alkitab untuk membenarkan penggunaan "kekerasan besar-besaran" terhadap musuh, serta menyamakan penyelamatan pilot AS di Iran dengan kebangkitan Yesus Kristus.

Trump juga pernah berselisih dengan pendahulu Paus Leo, yaitu Paus Fransiskus, yang secara terbuka menentang kebijakan deportasi Trump dan menyebutnya tidak mencerminkan nilai-nilai Kristiani. Tahun 2025, setelah wafatnya Paus Fransiskus, Trump sempat mengunggah gambar dirinya sebagai Paus, yang memicu kemarahan luas di kalangan umat Katolik.

Namun, serangan Trump terhadap Paus Leo dinilai jauh melampaui kritik-kritiknya terhadap Paus Fransiskus.

"Presiden Amerika dan umat Katolik Amerika memang pernah tidak sepakat dengan Paus sebelumnya," kata Gibson. "Namun, ini bukan sekadar perbedaan pendapat, ini adalah penistaan dan itu bahaya besar bagi Trump."

Setidaknya delapan anggota kabinet Trump beragama Katolik, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Vance, dalam wawancara dengan program Special Report with Bret Baier di Fox News, meremehkan kontroversi gambar mirip Yesus tersebut dengan mengatakan bahwa Trump mengunggahnya sebagai candaan. Ia juga menambahkan bahwa Vatikan lebih baik tetap fokus pada isu-isu moral saja. 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Athif Aiman

Editor: Muhammad Hanafi

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait