1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PanoramaGlobal

Game Olahraga Mobile Buatan AI Makin Digemari

13 Agustus 2026

Meski Piala Dunia telah usai dan musim liga domestik belum dimulai, antusiasme penggemar sepak bola belum mereda. Para pembuat gim amatir pun hadir untuk mengisi jeda tersebut.

Penggemar sepak bola Jerman menonton pertandingan Piala Dunia lewat ponsel
Game sepak bola buatan para amatir mulai mengubah industri gimFoto: Wolfgang Maria Weber/IMAGO

Musim panas tahun ini, berbagai game olahraga mobile bermunculan untuk memenuhi antusiasme penggemar yang masih ingin menikmati dunia sepak bola. Banyak dari game ini mengandalkan unsur nostalgia dan cerita yang menarik. Tren tersebut tampaknya terinspirasi oleh game basket viral 82-0, yang memungkinkan pemain menyusun lima pemain starter NBA terbaik sepanjang masa dengan memutar roda acak untuk menentukan tim dan era pemain.

Terinspirasi dari konsep tersebut, Deniz Sancar, seorang programer amatir yang bekerja di bidang periklanan, menciptakan game 38-0-0.

Kepada Mobilegamer.biz, Sancar mengatakan bahwa meski sebelumnya tidak memiliki pengalaman membuat kode, ia berhasil membuat game tersebut dalam semalam dengan bantuan Claude Code, AI yang dirancang untuk membantu pemrograman. Pada Juni lalu, game itu berhasil menempati posisi nomor satu di tangga game App Store Inggris.

Destiny Eleven: Dari TikTok ke Prancis dan seluruh dunia

Contoh lainnya adalah Destiny Eleven. Maxence Pigne, seorang penggemar PSG sekaligus manajer proyek, terinspirasi oleh sebuah game yang ia lihat di TikTok. Game tersebut memungkinkan pemain menjalani perjalanan karier sebagai seorang pesepak bola profesional.

Setelah Piala Dunia 2026, Pigne merilis versinya sendiri. Game ini juga dibuat dengan bantuan AI. Namun, ia mengembangkan ide awal tersebut dengan memberikan lebih banyak variasi dan pilihan kepada pemain dalam menentukan perjalanan karier.

Pigne yang memiliki latar belakang ilmu komputer, mengatakan kepada majalah mingguan Prancis Le Point bahwa keputusan untuk merilis game tersebut lebih cepat dari rencana awal ternyata membuahkan hasil. Hingga akhir Juli, game itu telah dimainkan oleh lebih dari 1 juta orang, dengan 14 juta perjalanan karier yang sudah dibuat.

Striker Leverkusen, Martin Terrier, dilaporkan juga menjadi salah satu penggemar game tersebut. Dalam beberapa minggu sejak dirilis, game ini bahkan sudah dibuat dalam berbagai versi bahasa.

Game mobile adalah bisnis besar

Sejak Nokia merilis "Snake" pada 1997, jelas bahwa game di ponsel telah berkembang pesat dan berubah menjadi bisnis besar.

Menurut Sensor Tower, platform intelijen pasar digital, sekitar 50 miliar game mobile diunduh sepanjang 2025. Jumlah tersebut menghasilkan pendapatan sebesar 71 miliar euro (sekitar Rp1.420 triliun) dari pembelian dalam aplikasi.

Menurut Game, asosiasi industri game Jerman, pendapatan industri game di Jerman pada 2025 mencapai sekitar 3,12 miliar dolar AS (sekitar Rp55,5 triliun), dengan 28,1 juta pemain.

"Ini menunjukkan dengan jelas bahwa game mobile di Jerman bukan lagi sekadar pasar kecil, melainkan sudah menjadi genre serius dengan daya beli yang besar," kata Kyle Kuscu, Ketua German Mobile Gaming Association, kepada DW.

"Hal ini juga relevan bagi sektor esports. Jerman memiliki basis pemain yang luas, dan game mobile merupakan platform terbesar di negara ini jika dilihat dari jumlah penggunanya."

Musim panas ini, munculnya game yang memungkinkan pemain memilih dan menyusun tim olahraga jelas mendapat keuntungan dari suasana Piala Dunia. Namun, desain game itu sendiri juga menjadi salah satu faktor yang membuatnya menarik.

"Piala Dunia atau efek dari turnamen memang memperkuat tren ini, tetapi itu saja tidak cukup untuk menjelaskan mengapa game ini begitu populer," kata Kuscu.

"Game seperti ini memenuhi kebutuhan dasar manusia yang dirasakan banyak pengguna yaitu keinginan untuk mengendalikan, mengoptimalkan, dan berimajinasi dalam format yang sederhana. Dengan kata lain, pemain bisa merasakan bahwa semuanya berada di tangan mereka sendiri, mulai dari membangun tim terbaik hingga menentukan karier yang sempurna, tanpa harus melewati proses belajar yang panjang atau menggunakan kontrol yang rumit."

Yang penting adalah ide dan hasil akhirnya

Kecerdasan buatan (AI) sebenarnya sudah digunakan dalam pembuatan game selama bertahun-tahun. Namun, dengan AI yang semakin canggih dan cepat pada 2026, pengembang game kini memiliki cara yang lebih efisien dari sisi biaya untuk membuat game. Hal ini menjadi semakin penting di tengah kondisi ekonomi yang sulit, terutama bagi game mobile gratis yang mengandalkan pembelian dalam aplikasi.

"Tren menuju game yang lebih kecil dan lebih cepat dikembangkan dengan bantuan AI kemungkinan akan terus berlanjut, bahkan bisa semakin berkembang. Namun, saya tidak yakin setiap game yang sukses secara viral akan bisa mengulangi kesuksesan yang sama," kata Kuscu.

"Berdasarkan pengalaman kami sendiri dan sumber-sumber eksternal, kami tahu bahwa AI sudah lama digunakan secara luas dan intensif dalam pengembangan game, terutama untuk membuat kode, membuat prototipe, melakukan riset, dan mengerjakan tugas-tugas berulang. Di sisi lain, masih banyak orang yang mempertanyakan kualitas, ketergantungan pada AI, serta keterbatasan kreativitasnya."

"Meski kami mendukung penggunaan pemrograman dengan bantuan AI, pada akhirnya yang paling penting adalah ide dan hasil akhir sebuah game, dan hal itu tidak akan berubah."

Game Online Jadi Ruang Sosial Banyak Anak Muda Indonesia

00:56

This browser does not support the video element.

Sulit menjaga popularitas di tengah persaingan

Mempertahankan kesuksesan seperti ini tetap menjadi tantangan besar. Apalagi, secara keseluruhan, industri game masih jauh dari kata menguntungkan. Semakin banyak tim yang bisa membuat dan merilis game, membuat persaingan menjadi semakin ketat.

"Tantangan terbesar sekarang bukan lagi sekadar proses produksi, tetapi model bisnis di baliknya. Game mobile sangat bergantung pada perhatian pengguna, seberapa sering mereka kembali bermain, dan terutama pembelian dalam aplikasi," kata Kuscu.

"Peluncuran yang viral belum tentu berarti sebuah game memiliki model bisnis yang bisa bertahan, apalagi sukses. Pengembang harus segera mengelola durasi pemain dalam satu sesi, membangun komunitas, melakukan pembaruan secara rutin, dan menghasilkan pendapatan. Di situlah letak persoalan utamanya, karena tanpa semua itu, euforia bisa hilang sebelum game tersebut sempat mampu bertahan dalam jangka panjang."

Entah karena cerita yang membuat pemain seolah masuk ke dalam dunia game atau karena kemudahan untuk mengakses dunia virtual tersebut, yang jelas game ini berhasil menemukan celah di pasar.

Sejarah menunjukkan bahwa popularitas seperti ini mungkin tidak akan bertahan lama. Namun, meski game tersebut hanya menjadi tren sesaat pada musim panas ini, kemunculannya tetap menjadi pengingat penting tentang tantangan yang akan dihadapi industri game mobile seiring semakin besarnya peran AI.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Brenda Nursalim

Editor: Hani Anggraini

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya