Seiring gelombang panas yang makin sering dan ekstrem, kota-kota di seluruh dunia berlomba mendinginkan jalanan, memperluas ruang hijau, dan mengubah tata kota agar tetap layak huni di tengah krisis iklim.
Untuk menghadapi suhu yang terus meningkat, kota-kota seperti Antalya mengembangkan berbagai solusi kreatif, mulai dari penambahan area teduh hingga penataan ulang ruang publikFoto: Leonid Eremeychuk/imageBROKER/picture alliance
Iklan
Kota-kota sangat rentan terhadap panas ekstrem, dan semakin sering mengalami hari-hari ketika trotoar terasa seperti kompor yang menyala, sementara tidur nyenyak di malam hari menjadi perjuangan tersendiri.
Perubahan iklim yang dipicu emisi bahan bakar fosil akan menyebabkan gelombang panas yang lebih sering, lebih intens, dan datang lebih awal dalam beberapa tahun mendatang. Namun, kota-kota yang menjadi tempat tinggal bagi lebih dari separuh populasi dunia berupaya tetap layak huni dengan berbagi strategi adaptasi dan ketahanan yang akan dibahas dalam pertemuan persiapan iklim PBB di Bonn minggu ini dan pekan depan.
“Panas adalah pembunuh senyap, tetapi bukan sesuatu yang tak bisa dicegah,” kata Hans Henri P. Kluge, Direktur Regional Eropa dari World Health Organization, saat mempresentasikan panduan terbaru mengenai langkah-langkah perlindungan dari panas pada Kamis. “Kita memiliki alatnya. Sekarang kita harus menggunakannya.”
Pemanasan Global: Petani Kroasia Tanam Buah Tropis
04:02
‘Karakter panas telah berubah’
“Saat ini, panas bukan lagi sekadar karakteristik iklim lokal. Panas telah menjadi tantangan bagi perkotaan, kesehatan masyarakat, ekonomi, dan sosial-lingkungan,” kata Leonardo Madeira Martins, pejabat bidang keberlanjutan untuk kota Teresina di timur laut Brasil.
Meski kota tropis yang padat penduduk itu dikenal memiliki banyak ruang hijau, Martins mengatakan suhu kini kerap melampaui 40 derajat Celsius. Dalam surat elektroniknya, ia mengatakan kondisi tersebut mengganggu “mobilitas perkotaan, kualitas tidur, produktivitas, dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan” di kota berpenduduk sekitar 870.000 jiwa tersebut.
Warga Antalya, tuan rumah Konferensi Iklim PBB COP31 mendatang, juga merasakan perubahan cuaca pada musim panas.
“Antalya adalah kota Mediterania yang musim panasnya memang selalu panas. Namun, karakter panasnya telah berubah,” kata Melike Kireccibasi, pakar iklim di pemerintah kota tersebut.
Ia mengatakan kepada DW bahwa gelombang panas kini datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan semakin sering terjadi. Tren ini diperkirakan akan “meningkat secara signifikan hingga pertengahan abad ini”, terutama di pusat kota yang padat penduduk.
“Hal ini memberikan tekanan yang semakin besar terhadap populasi kami yang kini melebihi 2,6 juta jiwa, serta terhadap layanan kesehatan, sistem energi dan air, dan jutaan wisatawan yang kami terima setiap musim panas,” tambahnya.
Gelombang panas ekstrem melanda Eropa lebih awal dari biasanya. Di Jerman, suhu yang diperkirakan bisa mencapai 40°C menambah kekhawatiran akan dampaknya pada kesehatan warga dan infrastruktur.
Foto: Michael Nguyen/NurPhoto/picture alliance
Berenang di kolam dingin jadi solusi
Gelombang panas merambat hingga ke Jerman. Pada Selasa (01/07), suhu melonjak antara 30 - 38°C dan menyelimuti hampir seluruh penjuru negeri. Beberapa wilayah di North Rhine-Westphalia dan Baden-Württemberg bahkan telah mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem. Di banyak tempat, satu-satunya cara meredakan panas adalah dengan berenang di kolam dingin, seperti di kolam renang Swabian Alb ini.
Foto: Thomas Warnack/dpa/picture alliance
Memecahkan rekor suhu panas
Seperti jamur warna-warni, payung-payung bertebaran di Pantai Almanda, Costa da Caparica, Portugal. Gelombang panas yang datang lebih awal membuat warga di Semenanjung Iberia mencari tempat berteduh di mana pun mereka bisa. Di El Granado, kota di selatan Spanyol yang berbatasan dengan Portugal, tercatat rekor suhu baru untuk bulan Juni: 46°C, menurut layanan cuaca Spanyol, Aemet.
Foto: CARLOS COSTA/AFP/Getty Images
Suhu panas berlanjut hingga malam hari
Tak hanya terasa menyiksa di siang hari, suhu panas berlanjut hingga malam. Di wilayah selatan Spanyol, seperti Sevilla, suhu udara sepanjang akhir pekan tak pernah turun di bawah 30°C. Kondisi serupa diperkirakan terjadi di barat daya Jerman, dengan suhu malam hari tetap di atas 20°C. Tanpa pendingin udara, tidur malam yang nyenyak terasa mustahil.
Foto: CRISTINA QUICLER/AFP/Getty Images
Menara Eiffel ditutup akibat panas terik
Matahari terik menyinari kota Paris pada Selasa (01/07), saat Prancis untuk pertama kali dalam lima tahun terakhir menetapkan tingkat peringatan panas tertinggi untuk ibu kotanya. Suhu diperkirakan akan mencapai 41°C. Akibat cuaca ekstrem ini, lantai atas Menara Eiffel, ikon terkenal Paris, ditutup untuk pengunjung hingga Rabu (02/07).
Foto: Thibaud Moritz/AFP/dpa/picture alliance
Gondola berpayung hingga jalan melembung
Akibat panas terik, para turis di Venesia terpaksa berlindung di balik payung saat menaiki gondola. Di Veneto, sebuah jalan raya bahkan harus ditutup karena permukaannya melengkung akibat suhu ekstrem. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Jerman mengeluarkan imbauan agar warganya menunda perjalanan ke Italia karena gelombang panas yang terus berlanjut.
Foto: ANDREA PATTARO/AFP/Getty Images
Tanpa pendinginan, cuaca panas bisa mematikan
Tanpa upaya pendinginan, suhu tinggi bisa membahayakan kesehatan. Menurut Kantor Statistik Federal Jerman, dalam sepuluh tahun terakhir, sekitar 1.400 orang dirawat di rumah sakit setiap tahunnya akibat gangguan kesehatan yang disebabkan oleh paparan panas atau sinar matahari. Rata-rata, 22 orang meninggal setiap tahun akibat kondisi tersebut.
Foto: Peter Kneffel/dpa/picture alliance
Olahraga saat cuaca panas? Pilih waktu yang tepat!
Olahraga luar ruangan tidak disarankan saat cuaca panas. Karenanya, pelari ini memilih berlari pagi di Berlin, saat udara masih relatif sejuk. Anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang paling rentan. Untuk terhindar dari dampak buruk, masyarakat dianjurkan berlindung dari paparan sinar matahari, banyak minum air putih, dan mencari tempat sejuk.
Foto: Christoph Soeder/dpa/picture alliance
Cuaca makin panas, olahraga air jadi pilihan
Olahraga air seperti wakeboarding menjadi cara ideal untuk menghadapi teriknya cuaca. Puncak gelombang panas diperkirakan akan terjadi di Jerman pada Rabu (02/07). Badan Cuaca Jerman memprediksi suhu akan berkisar antara 33 - 39°C, meliputi hampir seluruh wilayah, dari Laut Baltik di utara hingga Black Forest di selatan.
Foto: Henning Kaiser/dpa/picture alliance
Yunani hadapi panas ekstrem, laut mediterania menghangat
Di Yunani, seorang gadis tampak menyempatkan diri menyejukkan tubuh di air mancur Athena. Rekor suhu juga tercatat di perairan Laut Mediterania. Di lepas pantai Kepulauan Balearic, suhu air laut mencapai 26°C. Sementara itu, meski angin kencang sedikit membantu meredam panas, risiko kebakaran hutan justru meningkat ke level tertinggi di negara tersebut.
Foto: Stelios Misinas/REUTERS
“Ini belum pernah terjadi sebelumnya”
Di Provinsi Izmir, Turki, 1.000 petugas pemadam kebakaran dan 14 helikopter dikerahkan untuk memadamkan kebakaran hutan yang terjadi pada Minggu (29/06). Sementara itu di Prancis, kebakaran hutan menghanguskan 400 hektar lahan. Peringatan panas pun diberlakukan di 84 dari 95 wilayah. “Ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Menteri Transisi Ekologi Prancis, Agnes Pannier-Runacher, kepada AFP.
Foto: Mehmet Emin Menguarslan/Anadolu/picture alliance
Dari manusia hingga hewan, cuaca ekstrem ancam kehidupan
Panas ekstrem tak hanya berdampak pada manusia, tapi juga pada tumbuhan dan hewan. Seekor anjing dan pemiliknya tampak berusaha mendinginkan diri di Sungai Danube. Menurut penelitian, kini gelombang panas terjadi lebih sering, lebih lama, dan semakin intens akibat perubahan iklim. Di Jerman, suhu tinggi diperkirakan akan bertahan hingga Kamis (03/07), saat hujan diperkirakan akan turun.
Foto: Thomas Warnack/dpa/picture alliance
11 foto1 | 11
Kelompok paling berisiko: Anak-anak, lansia, dan orang sakit
Rumah, tempat kerja, dan bangunan lainnya dapat melindungi masyarakat selama periode panas ekstrem, tetapi perlindungan tersebut tetap memiliki batas. Jika suhu tinggi bertahan hingga malam hari, penghuni bangunan yang terlalu panas akan kesulitan mendinginkan tubuh. Kondisi ini sangat berbahaya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang yang sedang sakit.
Menurut Kireccibasi, Antalya ingin menyesuaikan bangunan dan membantu warganya hidup berdampingan dengan panas. Upaya tersebut mencakup penggunaan sistem pendingin udara, tetapi juga mengurangi kebutuhan pendinginan bangunan sejak awal.
Penilaian risiko panas yang didukung Uni Eropa, menggunakan data satelit dan proyeksi iklim, telah mengidentifikasi kelompok warga yang paling terpapar kenaikan suhu.
Teknologi tenaga surya semakin diminati di berbagai wilayah dunia, termasuk di Kota Fortaleza, BrasilFoto: Joaquim Melo/Divulgação
Strategi kota tersebut mencakup desain bangunan yang memberikan lebih banyak keteduhan, penggunaan material yang memantulkan panas atau memiliki insulasi yang lebih baik, serta atap hijau. Solusi lain meliputi penyediaan titik air minum publik dan peningkatan efisiensi energi.
“Dengan cara ini, pendinginan dapat menjadi lebih ekonomis, lebih mudah diakses, dan memiliki intensitas karbon yang lebih rendah,” kata Kireccibasi.
Iklan
Ketimpangan sosial memperparah dampak panas
Keterbatasan struktural dan ketimpangan sosial juga memperburuk dampak panas di Brasil.
“Di kota berpendapatan menengah seperti Teresina, tidak semua keluarga memiliki akses berkelanjutan terhadap pendingin udara,” kata Martins.
Hal tersebut menciptakan tantangan kesehatan masyarakat, terutama di komunitas rentan dan kawasan pinggiran, tempat banyak rumah memiliki ventilasi yang buruk, atap yang tidak memadai, serta tutupan pohon yang sedikit.
Sebuah proyek penelitian yang didukung PBB telah memberikan wawasan kepada Teresina mengenai dampak panas ekstrem terhadap kesehatan perempuan hamil dan bayi mereka, terutama di komunitas kurang mampu. Martins mengatakan temuan tersebut membantu kota menyusun strategi yang mencakup akses terhadap informasi dan sumber daya untuk mengelola risiko panas selama kehamilan.
Teresina juga berupaya melestarikan dan memperluas hutan kota, lahan basah, dan koridor hijau yang dapat menyerap panas serta membantu mendinginkan kota secara alami. Kebun komunitas yang teduh dan ruang publik bersama juga menjadi bagian dari strategi tersebut.
Sementara itu, kota metropolitan Brasil lainnya, Fortaleza, telah meluncurkan jaringan 10 stasiun cuaca yang menyediakan data suhu, indeks UV, dan kelembapan secara real time di wilayah-wilayah yang paling rentan terhadap panas perkotaan.
“Dengan menyediakan informasi ini secara terbuka kepada publik, kami ingin membangun pemahaman bersama mengenai risiko yang ditimbulkan oleh panas ekstrem dan mendorong pengembangan solusi secara kolaboratif,” kata Wali Kota Evandro Leitao melalui surat elektronik.
Tim peneliti mengamati perilaku kupu-kupu di Amazon Ekuador dan menarik kesimpulan tentang dampak perubahan iklim terhadap populasi serangga. Sayangnya, hasilnya tidak begitu menggembirakan.
Foto: RODRIGO BUENDIA/AFP
Kupu-Kupu sebagai Bioindikator
Suaka Margasatwa Cuyabeno di hutan Amazon Ekuador terkenal dengan kekayaan flora dan faunanya. Sejak Agustus tahun lalu, tim ahli biologi dan penjaga hutan memantau populasi kupu-kupu di taman tersebut. Riset itu perlu dilakukan karena kupu-kupu merupakan bioindikator, yakni organisme hidup yang kondisinya memberikan ukuran kesehatan ekosistem di sekitarnya.
Foto: DANIEL MUNOZ/AFP
Jebakan Bau
Seekor kupu-kupu tertarik dengan umpan yang terdiri dari ikan busuk dan pisang yang difermentasi — campuran yang berbau busuk ini menjadi makanan lezat bagi serangga. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk menangkap serangga tersebut dengan jaring.
Foto: DANIEL MUNOZ/AFP
Pengujian Sangat Hati-hati
Dipimpin ketua ekspedisi Elisa Levy (ka.), tim memeriksa kupu-kupu yang ditangkap. Para peneliti dengan hati-hati memegang perut kecil serangga tersebut dengan pinset dan memberi label pada sayapnya. Setelah terdokumentasi, sebagian besar kupu-kupu diepaskan terbang kembali.
Foto: DANIEL MUNOZ/AFP
Kaya Keragaman Hayati di Negara Kecil ini
Para periset meneliti beragam spesies kupu-kupu. Ada yang berwarna merah cerah dan biru, sedangkan pola pada spesimen ini menyerupai garis zebra. Kupu-kupu lainnya setransparan kaca. Ekuador, negara yang relatif kecil namun sangat kaya spesies, adalah habitat bagi sekitar 4.000 spesies kupu-kupu.
Foto: DANIEL MUNOZ/AFP
Keseimbangan yang Rentan
Kepala tim peneliti Elisa Levy kepada kantor berita AFP mengatakan, tanaman tropis – tidak seperti tanaman di wilayah dengan musim yang berbeda – tidak terbiasa dengan fluktuasi cuaca ekstrem. Jika flora gagal beradaptasi dengan perubahan iklim yang cepat, tanaman ini bisa mati, bersama larva kupu-kupu yang memakan tanamannya.
Foto: DANIEL MUNOZ/AFP
Keanekaragaman yang Terancam
Dan itulah yang sebenarnya sedang terjadi, seperti yang ditunjukkan oleh riset para peneliti: Meskipun jumlah spesies di Cuyabeno hanya berkurang sebesar 10%, jumlah absolut kupu-kupu telah menurun sebesar 40% hingga 50%.
Foto: DANIEL MUNOZ/AFP
Alarm Bahaya Penurunan Populasi
Ahli biologi Maria Fernanda Checa dari Universitas Katolik di Quito menggambarkan penurunan populasi kupu-kupu sebagai hal yang “sangat signifikan.” Menurut ahli biologi ini, kupu-kupu bereaksi sangat sensitif terhadap perubahan kecil sekalipun dalam ekosistem seumur hidupnya yang pendek mulai dari telur, ulat, hingga dewasa. “Penurunan ini mengkhawatirkan kami,” kata Checa.
Foto: RODRIGO BUENDIA/AFP
Jenis yang Langka
Di beberapa bagian wilayah Amazon, “laju penemuan spesies baru lebih lambat dibandingkan laju kepunahan,” kata Checa. PBB memperingatkan: 40% penyerbuk invertebrata –terutama lebah dan kupu-kupu– di dunia terancam punah. Akibatnya bisa berrisiko bagi manusia, karena tiga perempat tanaman buah-buahan dan benih bergantung pada hewan penyerbuk ini. (ap/as- Sumber: AFP)
Foto: RODRIGO BUENDIA/AFP
8 foto1 | 8
Membangun generasi yang tahu cara hidup di tengah panas
Dalam upayanya menghadapi panas ekstrem, Fortaleza menargetkan sekolah-sekolah negeri melalui rencana pemasangan sistem pendingin udara di seluruh kota pada 2028, yang sebagian akan ditenagai energi surya. Kota tersebut juga ingin mengembalikan ruang hijau ke halaman-halaman sekolah yang gersang.
“Kami tahu bahwa suhu tinggi secara langsung memengaruhi kenyamanan, konsentrasi, dan proses belajar siswa,” kata Leitao.
Di Kabupaten Kilifi County, para siswa belajar menanam dan merawat pohonFoto: Philippe Lissac/Godong/picture alliance
Sekolah juga menjadi bagian penting dari strategi pendinginan di Kilifi County, wilayah di timur laut Mombasa. Dalam upaya membalikkan laju deforestasi, klub-klub yang didukung pemerintah di sekolah berasrama dan perguruan tinggi kini mengajarkan siswa cara menanam dan merawat pohon peneduh.
“Ketika pulang ke rumah, mereka menanam pohon di pekarangan masing-masing,” kata Wilfred Kenga Baya. “Kami sedang membangun generasi yang memiliki pengetahuan tentang konservasi lingkungan dan upaya mitigasi panas.”
Baya mengatakan bahwa masyarakat di wilayah Kilifi yang lebih terpencil, dengan akses listrik yang tidak stabil dan sumber daya yang terbatas, sering kali tidak memiliki cara untuk menghindari panas.
Sebagai respons, pemerintah daerah memprioritaskan pemasangan sistem tenaga surya terdesentralisasi, yaitu jaringan lokal yang andal untuk membantu mendinginkan fasilitas-fasilitas penting yang sebelumnya tidak terhubung dengan jaringan listrik nasional Kenya, seperti pusat kesehatan, sekolah, dan rumah tangga.
“Pemanfaatan energi terbarukan benar-benar meningkat dalam beberapa tahun terakhir,” kata Baya, seraya menunjuk semakin banyak warga yang beralih ke kipas angin dan kompor bertenaga surya, dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar fosil yang mencemari lingkungan dan memperparah pemanasan global.
“Jaringan listrik mikro ini memastikan layanan-layanan vital tetap beroperasi tanpa bergantung pada jaringan transmisi listrik jarak jauh yang rentan.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid