Gelombang Pemogokan Melanda Prancis
21 November 2007
Demonstrasi besar-besaran para pegawai pelayanan publik di seluruh Prancis dikomentari dengan tajam sejumlah harian Eropa. Para pegawai pelayanan publik memprotes menurunnya daya beli akibat inflasi. Harian Prancis Le Monde yang terbit di Paris berkomentar:
"Menanggapi aksi protes massal itu, pemerintah di Paris sejauh ini terutama hanya bermain teater. Pemerintah menggelar konferensi menyangkut daya beli dan lapangan kerja, atau memanggil perwakilan industri perminyakan ke kementrian keuangan. Prakarsa semacam itu sudah diketahui tidak akan memicu tindakan konkrit. Juga pemerintah tidak berdaya mengatur harga energi, bahan pangan dan sewa rumah. Tiga sektor yang di mata publik dianggap penyebab utama inflasi."
Harian ekonomi Prancis La Tribune yang juga terbit di Paris dalam tajuknya menulis komentar senada:
"Meroketnya harga-harga di supermarket dan di pompa bensin dapat ditulis secara singkat, inflasi sudah kembali. Tapi masalahnya, presiden Nicolas Sarkozy dan PM Francois Fillon nyaris tidak berdaya mengatasi situasi. Sementara dorongan konjunktur, yang diharapkan tercipta dari pembebasan pajak upah lembur, sejauh ini tidak kunjung tiba. Presiden dan PM menghadapi jalan buntu, jika masalahnya berkaitan dengan daya beli. Hanya saja sektor publik di Perancis sejauh ini belum menyadarinya."
Harian Italia La Repubblica yang terbit di Roma dalam tajuknya menulis komentar dengan membandingkan presiden Prancis Nicolas Sarkozy, dengan mantan PM Inggris Margaret Thatcher. Dalam aksi pemogokan menentang haluan reformasi di Prancis, nama Thatcher sering muncul dan dibandingkan dengan Sarkozy. Tahun 1984 lalu Thatcher memutuskan penutupan seluruh pertambangan, yang memicu reaksi pemogokan berkepanjangan. Namun situasi Prancis saat ini, tidak sedramatis kondisi ekonomi dan struktural di Inggris tahun 80-an. Juga Sarkozy bukanlah juara liberalisme seperti Thatcher. Tapi Sarkozy dan Thatcher memiliki kemiripan, yakni memanfaatkan kekuasaan yang baru diperolehnya untuk melawan tuntutan serikat buruh, dengan didukung pendapat umum yang menghendaki reformasi."
Dan terakhir harian Jerman Thüringer Allgemeine yang terbit di Erfurt dalam tajuknya menulis:
"Sarkozy masih memandang aksi pemogokan dan protes massal sebagai sebuah ritual yang lazim di Prancis. Tapi serikat buruh sudah menunjukkan kekuatannya sebelum memasuki arena perundingan. Bukanlah ritual, jika sekarang pemerintah harus mencari kompromi. Dengan mengusung tema reformasi, enam bulan lalu Sarkozy menuai dukungan mayoritas pemilih. Semua warga menyadari, Perancis harus memulai program penghematan. Sarkozy menjanjikan, haluan ini pada akhirnya akan menaikan daya beli. Tapi menurunnya daya beli saat ini, justru memicu aksi protes massal, jauh sebelum reformasinya dijalankan."