1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialAsia

Gen Z India Kalem di Tengah Maraknya Protes, Kok Bisa?

2 Januari 2026

Aksi protes oleh Gen Z mengguncang Sri Lanka, Bangladesh, dan Nepal dalam beberapa tahun terakhir, tetapi tidak di India. Kenapa bisa begitu?

India Patna 2019 | Pemilih mengambil foto selfie setelah memberikan suara
India memiliki populasi anak muda terbesar di dunia. Generasi ini berperan penting dalam membentuk masa depan demokratis negara tersebut.Foto: Sachin Kumar/AFP/Getty Images

"Gen Z adalah generasi yang mengutamakan kenyamanan," kata Harshita V., merujuk pada aktivisme politik generasinya, sambil menyesap kombucha rasa stroberi.

Ketika Mahkamah Agung India memerintahkan pemindahan anjing liar dari jalanan New Delhi pada Agustus lalu, salah satu temannya merencanakan aksi protes. Banyak yang mendaftar online, tetapi hanya empat atau lima yang muncul.

"Mereka berunjuk rasa secara daring," kata Harshita. "Namun, ketika tiba waktunya untuk menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai, antusiasme itu padam."

Perpaduan beragam opini politik

India memiliki populasi pemuda terbesar di dunia. Sekitar 377 juta warga India atau sekitar 27% dari populasinya termasuk dalam generasi Z, istilah yang merujuk pada orang-orang yang lahir antara tahun 1997 dan 2012. Ini adalah demografi yang akan memainkan peran penting dalam membentuk masa depan demokrasi negara ini.

Dalam suatu diskusi di sebuah kedai kopi di Delhi Selatan, DW berbicara dengan lima anak muda India untuk memahami cara pandang mereka tentang politik dan posisi mereka di negara demokrasi terbesar di dunia ini.

Para peserta dikumpulkan melalui jaringan pribadi dan lingkaran profesional di Delhi, dengan tujuan mengumpulkan berbagai suara politik dalam sebuah diskusi informal yang dimoderasi.

Mereka berusia 23-24 tahun, terdiri dari Saurabh, seorang pendidik dan calon pegawai negeri sipil yang sangat melek politik; Advik (bukan nama sebenarnya), professional di bidang keuangan; Yashaswini, mahasiswa ilmu politik yang sedang bersiap untuk ujian pegawai negeri sipil; Yasir, seorang mahasiswa hukum yang berbicara dengan hati-hati tentang politik; dan Harshita, yang bekerja di bidang pemasaran media sosial.

Yasir mengidentifikasi diri sebagai orang yang condong ke kiri, Yashaswini menyebut dirinya seorang liberal kanan, Saurabh seorang sentris, dan Harshita menganggap dirinya apolitis.

Advik ingin meninggalkan negara itu. "India berubah menjadi negara pengawasan," katanya. "Pemerintah bermasalah dengan semua yang ingin saya katakan. Jadi ya, pergi adalah keputusan politik."

Memilih "hidup dalam gelembung lokal”

Diskusi dimulai dengan mengukur minat mereka dalam politik. Yasir, Yashaswini, dan Saurabh mengatakan mereka mengikuti politik dengan cermat. Advik dan Harshita mengatakan tidak lagi terlalu mengikuti perkembangan.

"Membaca berita politik membuat saya cemas. Saya pilih mengabaikannya dan hidup dalam gelembung lokal," kata Advik. Profesional keuangan itu mengatakan dia mengikuti "YouTube yang sangat terkurasi dengan pembawa acara yang tidak berteriak kepada saya."

Harshita lebih nihilistik. Dia percaya mengharapkan perubahan politik adalah "khayalan" dan memilih untuk fokus kepada diri sendiri.

Semua mengatakan bahwa mereka menerima berita tentang politik umum dari media sosial, meski mereka juga berhati-hati memilih sumbernya.

Gen Z India cenderung hindari interaksi media sosial

Bagi generasi yang tumbuh dengan akses ke media sosial, kelompok ini sangat waspada terhadap apa yang mereka katakan di internet. Mereka semua cenderung menahan diri untuk tidak memposting konten politik di media sosial.

Advik mengatakan dia cenderung menjaga jarak ketika diskusi daring memanas. "Hanya karena kau anonim, di mana kemanusiaanmu?" Yang lain mengangguk setuju.

Para pemuda ini menghindari konfrontasi daring karena mudahnya seseorang menyematkan label. Setiap unggahan atau komentar daring, kata mereka, dengan cepat dicap sebagai "kiri," "antinasional," "bhakt," istilah untuk pendukung Perdana Menteri Narendra Modi.

Yasir mengatakan bahwa sebagai seorang muslim, dia harus berhati-hati dengan semua ucapannya di internet setelah insiden doxing oleh kelompok sayap kanan yang mempublikasikan informasi pribadinya, termasuk alamat orang tuanya.

Ketegangan India Bangladesh Usai Pembunuhan Pekerja Hindu

01:24

This browser does not support the video element.

Apakah gen Z India merasa terwakilkan dalam politik?

Ketika ditanya apakah politik India mencerminkan isu-isu yang paling memengaruhi kehidupan generasi muda, kelima orang ini dengan tegas dan bulat berkata "tidak".

"Generasi Z diwakili oleh orang-orang yang bukan dari generasi kita," kata Saurabh.

Di negara dengan usia rata-rata anggota parlemennya di pertengahan 50-an, ia berpendapat bahwa politisi yang lebih tua mengandalkan langkah-langkah populis, sementara kaum muda lebih peduli tentang lapangan kerja, pendidikan, dan keamanan ekonomi jangka panjang.

Kasta dan politik identitas tetap menjadi pusat perhatian dalam pemilihan umum India.

"Yang kita butuhkan adalah homogenisasi," katanya. Namun, pandangan tentang homogenisasi ini sangat diperdebatkan dalam wacana publik India.

11 tahun pemerintahan Modi, apa dampaknya?

Sebagian besar generasi Z India tumbuh dewasa di bawah Partai Bharatiya Janata pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi, yang telah berkuasa sejak 2014.

"Sebelum pemerintahan Modi berkuasa, India dipandang sebagai kekuatan lunak, tetapi sekarang keadaan telah berubah menjadi lebih baik," kata Yashaswini.

Ia memuji pemerintah karena mempromosikan kemandirian dan memperluas aksesibilitas pembayaran digital.

Gen Z India peduli politik, tetapi juga letih

Meskipun suara-suara dari dunia politik India kian lantang selama dekade terakhir, kaum muda generasi Z di negara itu tampak lebih kalem dibandingkan dengan tempat lain di Asia Selatan. Di Sri Lanka, Nepal, dan Bangladesh gelombang protes bahkan sampai berhasil menggulingkan pemerintahan.

Namun, grup pemuda di warung kopi ini tidak setuju apabila sikap ini disebut mencerminkan apatisme.

Jadi, apa yang menghalangi kaum muda di India untuk turun ke jalan dan menggelar protes?

Yasir mengatakan salah satu kemungkinannya adalah kebingungan di kalangan kaum muda negara itu, yang dibombardir informasi daring dengan sedikit verifikasi. Menurutnya, pemisahan regional, agama, dan kasta mencegah mobilisasi pemuda secara nasional.

"Ada perpecahan berdasarkan wilayah, agama, kasta, dll., dan itu menguntungkan negara... Saya rasa orang India tidak akan pernah memiliki satu kesamaan yang bisa mempersatukan dan dapat dipakai untuk akhirnya menggulingkan pemerintah."

India: Tekad Jadi Eksportir Besar Alat Kesehatan

03:43

This browser does not support the video element.

Frustrasi yang terungkap di meja perundingan mencerminkan apa yang telah diamati oleh kelompok-kelompok keterlibatan pemuda di seluruh negeri.

Shipra Baduni, CEO Young Leaders for Active Citizenship, sebuah organisasi yang berupaya meningkatkan keterlibatan pemuda dalam proses pembuatan kebijakan, mengatakan bahwa ini bukanlah generasi yang apatis. "Data secara konsisten menunjukkan bahwa generasi Z tetap terlibat dalam isu-isu yang sangat memengaruhi mereka dan komunitas mereka," tegasnya.

Kurangnya figur sentral dalam oposisi India yang mampu menantang Modi juga menjadi perhatian diskusi itu.

Masa depan generasi Z dan demokrasi India

Angka-angka dari pemilihan umum India 2024 membantu menjelaskan mengapa percakapan di kedai kopi itu terus berputar kembali pada kelelahan daripada kemarahan.

"Meskipun 22% dari pemilih terdaftar berusia di bawah 30 tahun, hanya 38% dari pemilih pertama kali yang memenuhi syarat berusia 18-19 tahun yang benar-benar terdaftar," kata Baduni dari Young Leaders for Active Citizenship. "Pada tahun 2024, partisipasi pemuda menurun menjadi sekitar 65%, lebih rendah daripada pemilihan tahun 2014 dan 2019."

Data tersebut bisa jadi menunjukkan turunnya minat politik, kata Baduni. Akan tetapi, kesenjangan sistemik yang lebih besar juga turut berperan.

Bagi kelima anak muda di meja itu, menjaga jarak dari politik bukanlah bentuk ketidakpedulian, melainkan respons terhadap sistem politik yang menurut mereka tidak responsif.

Namun, terlepas dari kelelahan dan frustrasi, pertemuan itu berakhir dengan nada optimisme.

Saurabh mengatakan kaum muda semakin ingin tahu secara politik dan semakin tertarik mempertanyakan otoritas. Harshita menegaskan bahwa generasinya punya keberanian.

Yasir juga percaya bahwa perkembangan kecil menandakan perubahan yang lebih besar di masa depan, termasuk permohonan kesetaraan pernikahan di Mahkamah Agung.

Sementara Yashaswini mengatakan: "Saya punya harapan bagi negara saya. Karena saya adalah harapan itu."

Diadaptasi dari artikel DW bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Arti Ekawati

Editor: Hani Anggraini

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait