1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikIran

Gencatan Senjata Dimulai, Militer Israel Bertahan di Lebanon

Emmy Sasipornkarn | Kate Hairsine | Muna Turki | Jenipher Camino Gonzalez | Jon Shelton | Wesley Dockery | Dmytro Hubenko sumber: AP, Reuters, AFP, dpa
17 April 2026

Gencatan senjata berlaku usai Trump berbicara dengan Aoun dan Netanyahu. Hizbullah menegaskan komitmen bergantung pada penghentian serangan Israel.

Visual sejumlah rentetan tembakan perayaan yang terjadi di pinggiran selatan Beirut, Jumat (17/04) dini hari waktu setempat
Tembakan-tembakan perayaan bergema di pinggiran selatan Beirut saat gencatan senjata dengan Israel mulai berlaku pada Jumat (17/04) dini hari waktu setempatFoto: Hassan Ammar/AP Photo/picture alliance

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa Israel dan Lebanon telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari yang akan dimulai pada Kamis (16/04) pukul 21.00 GMT (tengah malam waktu setempat di Lebanon dan Israel). Hal tersebut dikabarkan Trump lewat akun media sosial miliknya, Truth Social.

"Saya baru saja melakukan pembicaraan yang sangat baik dengan Presiden Lebanon yang sangat dihormati, Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kedua pemimpin ini sepakat bahwa untuk mencapai perdamaian, mereka akan secara resmi memulai gencatan senjata selama 10 hari pada pukul 17.00 EST," tulis Trump.

Sebelumnya, kesepakatan ini memang telah diberikan bocorannya oleh sumber keamanan Israel. Dia menyebut kepada sejumlah media AS bahwa diskusi gencatan senjata sedang dalam proses.

Informasi tersebut muncul ketika pihak Lebanon tengah menghadapi tekanan dari Hizbullah, kelompok dukungan Iran yang sedang berperang dengan Israel. Hizbullah menolak perundingan dan mendesak pemerintah Lebanon memboikot Israel.

Secara umum, Lebanon telah lama diguncang konflik antara Hizbullah dan Israel.

Pemerintah Lebanon sendiri bukan pihak dalam konflik tersebut dan telah mendesak gencatan senjata serta penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan.

Namun, Hizbullah belum memberikan komentar terkait kesepakatan ini.

Iran sambut gencatan senjata 10 hari di Lebanon

Kementerian Luar Negeri Iran menyambut gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Teheran menyebut kesepakatan itu merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata dua minggu sebelumnya antara Teheran dan Amerika Serikat untuk menghentikan konflik di Timur Tengah.

Menurut kantor berita IRNA, Kementerian Luar Negeri Iran melalui juru bicaranya, Esmaeil Baghaei, menyatakan pihaknya "menyambut pengumuman gencatan senjata di Lebanon” dan menegaskan penghentian perang tersebut merupakan bagian dari kesepahaman antara Iran dan AS yang dimediasi Pakistan."

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan gencatan senjata akan dimulai pukul 21.00 GMT (tengah malam waktu setempat di Lebanon dan Israel).

Namun, tembakan masih terdengar di pinggiran selatan Beirut saat gencatan senjata mulai berlaku. Hal tersebut berdasarkan laporan jurnalis AFP dan rekaman AFPTV.

Gelombang Serangan Israel Mengguncang Lebanon

01:05

This browser does not support the video element.

Israel dan Hizbullah saling serang jelang gencatan senjata

Sesaat sebelum gencatan senjata dengan Lebanon mulai berlaku, militer Israel menyatakan tengah menyerang peluncur roket milik Hizbullah

"IDF saat ini menyerang peluncur yang digunakan organisasi teroris Hizbullah untuk meluncurkan roket ke wilayah utara Israel beberapa waktu lalu," demikian bunyi pernyataan militer Israel.

Layanan darurat Israel, Magen David Adom, melaporkan satu orang mengalami luka serius di Israel utara akibat serangan yang berasal dari Lebanon, yang terjadi kurang dari dua jam sebelum gencatan senjata dimulai.

Respons berbagai pihak 

Seiring kabar gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel meluas, para pemimpin dunia mulai merespons.

Misalnya, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres yang menyambut gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon dan menyerukan "semua pihak" untuk menghormati kesepakatan tersebut. Hal itu disampaikan juru bicaranya, Stephane Dujarric.

"Sekretaris Jenderal (Guterres) menyambut pengumuman gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon dan mengapresiasi peran Amerika Serikat dalam memfasilitasinya," ujar Dujarric dalam sebuah pernyataan.

Guterres mendesak "semua pihak" untuk sepenuhnya menghormati gencatan senjata dan mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional, setiap saat, tambah Dujarric.

Seruan ini dinilai tidak hanya ditujukan kepada Israel dan Lebanon, tetapi juga mencakup kelompok Hizbullah.

Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Kamis (16/04) menulis di platform X. "Eropa akan terus menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon. Kami juga akan terus mendukung rakyat Lebanon melalui bantuan kemanusiaan yang signifikan."

Hal serupa dilakukan oleh Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam, dalam unggahan di X. Dia menyebut kesepakatan itu sebagai "tuntutan penting Lebanon yang telah kami perjuangkan sejak awal perang dengan Iran."

Sementara itu, anggota parlemen senior Hizbullah Hassan Fadlallah bersikap lebih hati-hati. Dia mengatakan kelompoknya hanya diberi tahu soal kesepakatan tersebut oleh duta besar Iran untuk Lebanon.

Saat ditanya Reuters terkait sikap Hizbullah untuk mematuhi gencatan senjata, Fadlallah menjawab bahwa hal itu bergantung pada keputusan Israel untuk menghentikan serangan selama periode tersebut.

Militer Israel tetap berjaga di Lebanon Selatan

Menurut laporan Reuters, militer Israel menyatakan pasukannya tetap ditempatkan di Lebanon selatan pascagencatan senjata. Mereka juga mengimbau warga Lebanon untuk tidak bergerak ke selatan Sungai Litani.

Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa dia menyetujui gencatan senjata untuk "mendorong" upaya perdamaian dengan Lebanon. Namun, dia menegaskan pasukan Israel tidak akan ditarik.

Pasukan Israel terlibat pertempuran sengit dengan militan Hizbullah di perbatasan, seiring operasi militer yang terus bergerak ke Lebanon selatan untuk membentuk "zona keamanan," menurut pejabat terkait. Dalam pernyataan video, Netanyahu mengatakan zona tersebut akan membentang hingga 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon.

"Di situlah posisi militer kami dan kami tidak akan pergi," tegasnya.

Pemerintah Lebanon tidak terlibat langsung dalam konflik antara Israel dan Hizbullah, tetapi terus mendorong deeskalasi serta penarikan pasukan Israel dari wilayah selatan.

Militer Lebanon tuduh Israel langgar gencatan senjata

Beberapa jam setelah gencatan senjata berlaku, militer Lebanon menuduh Israel melakukan "tindakan agresi," termasuk penembakan sporadis ke sejumlah desa di Lebanon selatan. Hal tersebut menurut Lebanon telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku tengah malam Jumat (17/04) waktu setempat.

Dalam pernyataannya, militer Lebanon juga mengimbau warga untuk tidak kembali ke desa dan kota di wilayah selatan.

Terkait tuduhan tersebut, militer Israel belum memberikan komentar.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Cinta Zanidya

Editor: Muhammad Hanafi