1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Mampukah Protes Gen Z di Asia Dorong Perubahan Politik?

Anupam Deb Kanunjna
18 September 2025

Kemarahan anak muda di berbagai negara Asia memicu gelombang unjuk rasa. Mereka menuntut perubahan, peluang ekonomi dan setop korupsi. Mampukah gerakan ini mendorong perubahan nyata?

Protes di Nepal
Para demonstran berunjuk rasa menentang pembunuhan 19 orang oleh pasukan keamanan Nepal pada 9 September, setelah demonstrasi anti-korupsi di Kathmandu, NepalFoto: Safal Prakash Shrestha/ZUMA/picture alliance

Generasi yang lahir di era digital atau Gen Z kini dilihat sebagai pemimpin transformasi politik di sejumlah negara di Asia. Pasalnya, gerakan mereka sangat beragam, mulai dari penyerbuan istana, atau menumbangkan pemerintah yang menyebabkan pemimpin negara melarikan diri.

Gen Z adalah sebuah istilah untuk kelompok anak muda yang lahir antara1997 hingga 2012. Mereka yang dikenal sebagai figur melek digital ini telah muncul sebagai kekuatan besar, menantang otoritarianisme, korupsi, dan ketimpangan ekonomi lewat aktivisme di jalan.

Di Nepal misalnya, unjuk rasa anak muda terhadap larangan media sosial dan korupsi menjatuhkan pemerintahan Perdana Menteri Khadga Prasad Oli pada September 2025 ini.

Baru-baru ini Indonesia juga menyaksikan demonstrasi besar-besaran, yang dipicu oleh kebijakan tunjangan mewah bagi anggota DPR/MPR, serta sejumlah tuntutan lainnya. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto nyaris goyah dan berusaha meredam tuntutan anak muda dengan menggaanti sejumlah menteri serta mencabut tunjangan tersebut.

Tragedi Affan Kurniawan: Aksi Demonstrasi Ojol Tuntut Keadilan di Depan Brimob

00:40

This browser does not support the video element.

Selain itu, di Bangladesh, protes mahasiswa pada Juli-Agustus 2024 telah mengakhiri rezim 15 tahun Perdana Menteri Sheikh Hasina. Gerakan itu menyebabkan Sheikh Hasina terpaksa melarikan diri ke negara tetangga, India.

Juga sebelumnya, kerusuhan yang meluas pada 2022 akibat krisis ekonomi di Sri Lanka,  berujung pada penggulingan Presiden Gotabaya Rajapaksa.

Sejumlah pakar membandingkan situasi di Asia ini dengan Arab Spring, yaitu sebuah gelombang protes besar-besaran di Timur Tengah dan Afrika Utara pada awal 2010-an. Apa penyebabnya?

Gagal menampung aspirasi anak muda

Arab Spring atau gerakan musim semi Arab dipicu oleh kemarahan rakyat terhadap korupsi dan kesulitan ekonomi di sejumlah negara berbahasa Arab. Gerakan tersebut telah menggulingkan beberapa pemerintahan, antara lain Tunisia, Mesir, Libya, dan Yaman.

Namun, hasilnya jauh dari kata kemenangan. Arab Spring justru membuka jalan bagi maraknya aksi kerusuhan dan transisi politik yang rapuh selama bertahun-tahun.

Meski berada pada kondisi politik berbeda, sejumlah pakar mengatakan, persoalan yang memicu Arab Spring serupa dengan protes yang menyulut demonstrasi di Sri Lanka, Bangladesh, dan Nepal. Akar masalahnya adalah rasa putus asa yang mendalam terhadap korupsi, kesulitan ekonomi, dan pemerintahan yang buruk.

Annisa R. Beta, seorang dosen senior kajian budaya di University of Melbourne menyoroti peran penting media sosial dalam menyebarkan rasa ketidakpuasan, dan memfasilitasi unjuk rasa yang dipimpin anak muda.

Menurut dia, perubahan ini membuat anak muda sulit dikontrol secara terpusat.

"Generasi muda, Gen Z, Gen Alpha, tidak tertarik dipimpin hanya oleh satu figur karismatik," kata Beta kepada DW, sambil menambahkan bahwa mereka nyaman dengan gerakan terdesentralisasi yang berfokus pada tujuan mereka.

Hal senada juga disampaikan oleh Ishrat Hossain, seorang peneliti di German Institute of Global and Area Studies (GIGA).

"Dalam banyak kasus, platform digital justru memperkuat dampak protes di jalanan dan menjadi ruang munculnya pemimpin protes nontradisional, contohnya penyayi rap dan peretas," papar Hossain.

Gelombang perubahan generasi?

Rajat Das Shrestha, seorang musisi yang menjadi salah seorang figur paling menonjol dari gerakan Gen Z di Nepal meyakini, penyebab kerusuhan di semua negara ini serupa.

"Saya pikir korupsi dan pola pikir otoriter pemerintah bukan hanya masalah di Nepal atau Bangladesh. Itu ada, dengan tingkat berbeda, di seluruh kawasan."

Rajat Das Shrestha melihat pola yang sama terjadi di Asia. Menurutnya, pesan dari Bangladesh dan Sri Lanka sangat jelas. "Pemerintah bisa tumbang ketika anak muda bangkit."

"Jika para penguasa "terus mengabaikan mimpi dan rasa frustrasi anak muda,kejadian serupa akan terjadi di banyak negara lain di kawasan ini," tegasnya.

Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Annisa R. Beta juga meyakinii gerakan yang dipimpin anak muda ini bukanlah fenomena sesaat, melainkan fenomena perubahan generasi.

"Kita akan melihat proses yang berkelanjutan, kebangkitan politik yang terus-menerus yang ditandai oleh Gen Z. Kita akan melihat hal ini dengan sangat jelas juga di Gen Alpha dan Gen Beta," ujarnya, merujuk pada generasi yang lahir setelah 2010.

Protes serupa, jalan akhir berbeda

Meskipun percikan awal protes di negara-negara tersebut terlihat serupa, tapi masing-masing wilayah kini menentukan jalannya sendiri.

Sri Lanka telah memulihkan stabilitas politik dan ekonomi selama tiga tahun terakhir. Ekonominya kembali tumbuh dengan laju yang cukup baik. Hal tersebut menandakan pemulihan dari krisis finansial terburuk dalam puluhan tahun.

Pengemudi Ojel Tewas, Demo Tolak Tunjangan DPR Ricuh

01:15

This browser does not support the video element.

Sementara itu, Indonesia masih mempertahankan sistem yang ada, melewati gelombang protes terbaru tanpa guncangan sistematik.

Sementara Bangladesh berada di posisi genting. Negara ini terjebak di antara reformasi besar-besaran, pemilu demokratis, dan risiko jatuh ke dalam kekacauan yang lebih dalam.

Pakar GIGA, Ishrat Hossain, memandangnya tetap "optimistis dengan hati-hati" terhadap apa yang akan datang.

"Tanpa pelembagaan tuntutan protes yang lebih luas, melalui mekanisme hukum, alokasi anggaran, dan struktur pengawasan, kemenangan hari ini bisa menjadi nostalgia di masa depan," pungkasnya.

Reporter DW Indonesia Felicia Salvina dan Syamantak Ghosh dari India berkontribusi dalam liputan ini.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh: Muhammad Hanafi dan Adelia Dinda Sani

Editor: Tezar Aditya 

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait