1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SejarahIndonesia

GerakIngatan: Melawan Lupa, Merawat Luka Sejarah

26 September 2025

Sebuah inisiatif lahir untuk menghadirkan kembali narasi yang tenggelam dalam sejarah Indonesia, termasuk Tragedi 1965. Platform arsip digital #GerakIngatan diluncurkan di Amsterdam, Belanda, 19 September 2025.

 Amsterdam 2025
Peluncuran GerakIngatan di BelandaFoto: Ayu Purwaningsih/DW

Inisiator arsip digital ini mengungkapkan, platform arsip digital GerakIngatan hadir sebagai ruang kolektif untuk mengumpulkan, mengkurasi, dan mengaktifkan arsip gerakan kiri Indonesia — sebuah gerakan yang selama puluhan tahun dikesampingkan dalam narasi sejarah resmi.

Diinisiasi kolektif Watch65, peluncuran arsip digital ini dilakukan pada tanggal 19 September 2025 dalam pameran Lawan!, yang digelar selama dua pekan di Framer Framed, Amsterdam. Pameran ini terutama menyoroti tema perlawanan terhadap kolonialisme dan represi di Indonesia dan Papua Barat, melalui karya seni dan arsip budaya. Salah satu temanya adalah menelaah Tragedi 1965, di mana berlangsung pembantaian sepanjang tahun 1965-1966 terhadap mereka yang dituduh komunis di Indonesia.

Pameran Lawan! juga hadirkan diskusi kesaksial para eksil 1965 di Belanda, serta pemutaran film kerja-kerja Komitee Indonesië.Foto: Ayu Purwaningsih/DW

GerakIngatan:  Alat melawan keheningan sejarah

Selama 32 tahun kekuasaan Orde Baru, berbagai kisah perjuangan gerakan kiri, termasuk mereka yang menjadi korban Tragedi 1965 dan penindasan pasca tragedi, dihapus dari catatan sejarah nasional. Inisiator GerakIngatan mengemukakan dalam presentasinya, bagaimana narasi utama yang dibangun rezim Orde Baru secara sistematis membungkam suara-suara alternatif, dan mengaburkan dinamika perjuangan sosial-politik yang kompleks.

Kurator sekaligus peneiliti arsip GerakIngatan, Rika Theo menyebutkan, arsip digital ini berusaha memulihkan cerita yang terlupakan, mulai dari perjuangan antikolonialisme, perjuangan buruh, perempuan, hingga aktivisme prodemokrasi dan antifasisme. ”Dengan pendekatan partisipatif, platform ini menerima sumbangan dokumen, foto, rekaman suara, dan berbagai artefak digital dari masyarakat luas yang ingin berkontribusi dalam menjaga ingatan kolektif tersebut,” ujar Rika.

Kurator sekaligus peneiliti arsip GerakIngatan, Rika Theo saat menyampaikan presentasinya.Foto: Ayu Purwaningsih/DW

Menghubungkan arsip dengan seni dan aktivisme

Pameran Lawan! menghadirkan berbagai karya yang memvisualisasikan dampak kolonialisme, kekerasan politik, dan represi terhadap rakyat Indonesia, sekaligus memberikan ruang refleksi atas trauma masa lalu dan perjuangan kontemporer. Diskusi dan panel dengan tokoh-tokoh yang pernah terlibat dalam solidaritas internasional, seperti Komitee Indonesië, menambah dimensi sejarah hidup yang berkelindan dengan arsip-arsip yang dikumpulkan oleh GerakIngatan.

Salah satu ativis Watch65 Lea Pamungkas menjelaskan, 60 tahun setelah peristiwa 1965 atau tragedi 1965, tampaknya masyarakat sudah terlalu lama melupakan tragedi ini. Karenanya salah satu tujuan pameran dan peluncuran arsip digital tersebut adalah; ”Untuk membongkar bungkam yang selama ini terjadi di kalangan masyarakat, dan stigmatisasi yang terus berlangsung di Indonesia maupun di berbagai penjuru dunia, ketika para eksil yang tinggal di Belanda menyerukan untuk menyelesaikan secara yudisial apa yang terjadi di tahun 1965.”

Lea Pamungkas, salah satu aktivis Watch65. giat menyuarakan HAM bagi eksil di Belanda.Foto: Ayu Purwaningsih/DW

Lea menambahkan, diperlukan solidaritas internasional untuk penyelesaian hak masalah hak asasi manusia di Indonesia, baik untuk tragedi 1965 maupun 12 kasus HAM lain yang pernah dikedepankan di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

”Kasus-kasus itu sampai sejauh ini belum terselesaikan. Yang paling menantang, adalah ketidakpedulian pemerintah untuk masalah ini, untuk menjawab tuntutan dari masyarakat tentang keadilan itu. Mereka cuma diam, diam, dan diam. Yang kedua tentu saja untuk mengingatkan kepada generasi muda, bahwa banyak masalah hak asasi manusia yang belum terselesaikan di Indonesia, yang utama tentu tentang Tragedi 1965, karena dari situ mulainya Orde Baru berkuasa, dan di dari situ pula ketidakadilan mulai berlangsung. Itu tantangan kami untuk mengingatkan generasi muda,” tandas Lea,

Arsip sebagai bentuk perlawanan dan rekonstruksi sejarah

GerakIngatan bukan sekadar tempat penyimpanan dokumen, tetapi juga arena perlawanan terhadap dominasi narasi tunggal yang menegaskan kekuasaan melalui penghapusan sejarah. Rika menuturkan: "Dengan membangun arsip yang inklusif dan terbuka, GerakIngatan mengajak masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam membentuk kembali pemahaman atas sejarah Indonesia yang lebih plural dan kritis."

Lea menambahkan, GerakIngatan dan pameran Lawan! sama-sama menegaskan bahwa memori sejarah adalah medan perjuangan yang vital, bagi keberlanjutan demokrasi dan keadilan sosial. "Dengan mengangkat narasi yang selama ini dibungkam, keduanya mendorong masyarakat Indonesia dan dunia untuk merefleksikan kembali hubungan antara kekuasaan, sejarah, dan identitas."

Proyek Hidden Faces of Papua yang dipresentasikan oleh Udeido Collective bersama Kevin van BraakFoto: Ayu Purwaningsih/DW

Penampilan seni rupa Papua di panggung Belanda

Dalam pameran Lawan! saat peluncuran website GerakIngatan hadir pula karya seni Papua. Proyek Hidden Faces of Papua yang dipresentasikan oleh Udeido Collective bersama Kevin van Braak, dengan mengangkat isu-isu kontemporer Papua, yang berakar pada kekerasan kolonial dan imperialisme terhadap masyarakat dan lingkungan Papua Barat.

Melalui karya visual dan dokumentasi, proyek ini membongkar warisan penjajahan Belanda yang belum tuntas, serta bagaimana penggabungan Papua ke dalam Indonesia pada 1963—didorong oleh tekanan geopolitik dari AS, Belanda, dan PBB—mengawali era eksploitasi sumber daya dan represi terhadap suara-suara kritis di Papua. Udeido Collective menunjukkan, perjuangan rakyat Papua untuk penentuan nasib sendiri bukan hanya sejarah masa lalu, melainkan kenyataan yang terus berlangsung hingga hari ini, di tengah bisu dan bungkamnya narasi resmi.

Melalui gerakan kolektif ini, para inisiator pameran Lawan! berharap generasi sekarang dan yang akan datang dapat memahami kompleksitas sejarah Indonesia tanpa sekat-sekat ideologis, sekaligus menemukan inspirasi untuk melanjutkan perjuangan menuju masa depan yang lebih adil dan beradab.

*Editor: Agus Setiawan

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait