Mampukah Kubu Sosialis Prancis Rebut Hati Pemilih Muda?
20 Oktober 2026
Kawasan Belleville di Paris yang secara historis dihuni kelas pekerja telah mengalami gentrifikasi dalam beberapa tahun terakhir. Di kawasan inilah Raphaël Glucksmann, anggota Parlemen Eropa dari Partai Sosialis Prancis, merayakan kemenangannya dalam pemilihan pendahuluan calon presiden partai tersebut pada Minggu (18/10). Pemungutan suara diperkirakan berlangsung dalam dua putaran. Namun, Glucksmann, 46 tahun, putra filsuf dan esais André Glucksmann, berhasil menang telak pada putaran pertama dengan meraih 66% suara. Ia pun akan menjadi kandidat Partai Sosialis dalam pemilihan presiden Prancis 2027.
Saat meninggalkan restoran Cantine de Belleville, Glucksmann disiram tepung oleh orang tak dikenal. Keesokan paginya, ia mendesak Jean-Luc Mélenchon, tokoh populis sayap kiri Prancis yang menjadi pesaingnya, untuk mengecam serangan yang dilakukan para pendukungnya. Namun, belum dapat dipastikan apakah pelaku serangan tersebut memang pendukung La France Insoumise (LFI), partai yang dipimpin Mélenchon.
Insiden ini menyoroti persoalan yang kemungkinan akan membayangi pencalonan Glucksmann dalam beberapa pekan mendatang: Bagaimana ia bisa meraih dukungan pemilih Mélenchon jika menolak bekerja sama dengan kandidat mereka?
Glucksmann naik daun dengan cepat
Di mana posisi Anda terhadap Mélenchon? Pertanyaan ini mendominasi sebagian besar kampanye pemilihan pendahuluan. Pemimpin Partai Sosialis Olivier Faure ingin tetap membuka peluang kerja sama dengan LFI. Namun, Glucksmann menyerukan pemutusan hubungan yang tegas dengan sayap kiri radikal. Karena itu, kemenangannya yang telak juga mencerminkan dukungan terhadap sikap untuk membedakan diri dari kubu tersebut.
Kandidat lain dalam pemilihan pendahuluan mempertanyakan pengalaman politik Glucksmann. Ségolène Royal, mantan kandidat presiden, mengibaratkan pencalonan Glucksmann ke Istana Élysée seperti seorang "anak magang” yang ingin memimpin sebuah perusahaan. Menurutnya, Glucksmann tidak memiliki pengalaman di pemerintahan, bahkan dalam memimpin pemerintahan daerah sekalipun.
Meski menang telak dalam pemilihan pendahuluan, posisi awal Glucksmann tetap sulit. Jajak pendapat yang dilakukan Toluna Harris Interactive dan diterbitkan pada Senin (19/10) memperkirakan ia akan memperoleh 10–11% suara, bergantung pada siapa saja kandidat yang ikut bertarung. Sementara itu, Mélenchon diperkirakan meraih 18%, sehingga peluangnya untuk lolos ke putaran kedua jauh lebih besar. Survei tersebut dilakukan sebelum Glucksmann memenangkan pemilihan pendahuluan. Karena itu, hasilnya belum memperhitungkan kemungkinan peningkatan dukungan setelah ia ditetapkan sebagai kandidat.
Partai Sosialis Prancis mengandalkan seorang pria yang bahkan bukan anggota partai untuk membawa mereka keluar dari ketidakrelevanan politik. Raphaël Glucksmann merupakan anggota partai kecil berhaluan kiri-tengah bernama Place Publique. Dalam pemilihan presiden terakhir pada 2022, kandidat Partai Sosialis Anne Hidalgo hanya memperoleh 1,75% suara nasional.
Daya tarik Mélenchon bagi pemilih muda
Glucksmann menghadapi tugas berat untuk meraih dukungan, terutama dari kaum muda Prancis. Dalam survei Ipsos pada September, yang menempatkan Glucksmann sebagai kandidat sosial demokrat dan Édouard Philippe sebagai satu-satunya kandidat dari kubu tengah, Mélenchon memperoleh dukungan 41% di kalangan pemilih berusia di bawah 25 tahun. Sementara itu, 20% kelompok usia ini mendukung Marine Le Pen, tokoh nasionalis sayap kanan jauh. Pemilih muda Prancis memang terbelah secara politik, tetapi Mélenchon masih mendominasi kubu kiri.
Politikus berusia 75 tahun itu saat ini aktif berkampanye bersama para mahasiswa yang aksi protesnya telah menarik perhatian internasional. Dalam sebuah rapat umum di dekat Clermont-Ferrand, Prancis tengah, pada Minggu, ia menyatakan solidaritas terhadap gerakan mahasiswa tersebut. Ia juga kembali menyerukan agar usia minimum pemilih diturunkan menjadi 16 tahun dan Parcoursup, sistem nasional penerimaan mahasiswa perguruan tinggi di Prancis, dihapuskan.
Dalam analisis yang diterbitkan Fondation Jean-Jaurès, lembaga pemikir yang dekat dengan Partai Sosialis, ilmuwan politik Antoine Bristielle membedakan antara kelompok inti pemilih LFI yang loyal dan kelompok kiri yang lebih luas. Menurutnya, pendukung Mélenchon yang paling setia umumnya merupakan anak muda berpendidikan yang tinggal di perkotaan. Banyak di antara mereka juga menghadapi tekanan finansial yang berat. Empat dari sepuluh orang dalam kelompok ini tinggal di rumah tangga dengan pendapatan bersih bulanan kurang dari 2.000 euro.
Bristielle memperkirakan bahwa sedikit di bawah sepertiga pemilih sayap kiri dalam penelitiannya lebih mementingkan kemenangan kubu kiri daripada kesetiaan kepada partai tertentu. Hampir separuh kelompok ini berusia di bawah 35 tahun. Mereka mempertimbangkan untuk memilih Partai Sosialis, Partai Hijau, atau LFI. Kebijakan redistribusi kekayaan dan peran aktif pemerintah merupakan hal penting bagi mereka. Namun, sebagian besar lebih memilih politisi yang bersedia berkompromi.
Upaya Glucksmann meraih pemilih muda
Pola yang belakangan terlihat di Jerman, yakni perempuan muda lebih cenderung memilih sayap kiri sementara laki-laki muda lebih condong ke sayap kanan, tidak berlaku di Prancis. Ilmuwan politik Anja Durovic, Nonna Mayer, dan Noémie Piolat menemukan bahwa dalam pemilihan Parlemen Eropa dan pemilihan legislatif pada 2024, perempuan muda di Prancis tidak secara signifikan lebih cenderung memilih sayap kiri atau lebih kecil kemungkinannya memilih sayap kanan jauh dibandingkan laki-laki seusia mereka. Belum diketahui apakah pola ini akan terulang dalam pemilihan presiden 2027.
Glucksmann mengatakan akan meringankan beban pajak atas pendapatan hasil kerja dengan menurunkan pajak jaminan sosial CSG di Prancis, sembari menaikkan pajak atas warisan bernilai lebih dari 2 juta euro (sekitar 2,25 juta dolar AS). Ia juga menampilkan diri sebagai pendukung kuat integrasi Eropa, sementara Mélenchon menyebut Uni Eropa sebagai lembaga neoliberal. Profil politik Glucksmann memadukan tuntutan kebijakan sosial dengan posisi politik luar negeri yang berpotensi menarik pemilih dari kubu Presiden Emmanuel Macron saat ini.
Kebijakan Prancis terhadap Ukraina menjadi salah satu isu tersebut. Glucksmann mendukung bantuan tegas bagi Kyiv. Sementara itu, Manon Aubry, anggota Parlemen Eropa dari LFI pimpinan Mélenchon, mengatakan partainya mendukung bantuan militer hanya dengan sejumlah syarat. Bantuan untuk Ukraina harus terlebih dahulu melalui perdebatan demokratis, tidak boleh memungkinkan serangan jauh ke dalam wilayah Rusia, dan tidak boleh melemahkan kemampuan pertahanan Prancis sendiri. Pada 2024, anggota parlemen dari LFI memberikan suara menentang perjanjian keamanan Prancis-Ukraina.
Ketegangan antara partai-partai sayap kiri kembali terlihat setelah insiden penyiraman tepung di Belleville. Anggota parlemen dari LFI, Sébastien Delogu, mengunggah pernyataan "dukungan” di X bagi sopir taksi yang harus membersihkan kendaraannya.
Glucksmann harus meraih dukungan banyak pemilih dari kubu Mélenchon jika ingin memiliki peluang memenangkan pemilihan presiden. Ini kemungkinan akan jauh lebih sulit daripada sekadar mengambil jarak dari Mélenchon.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Fika Ramadhani
Editor: Rizki Nugraga