Goyahnya Koalisi Besar di Jerman
3 November 2005
Berbagai media cetak internasional mulai memprediksi runtuhnya koalisi besar dan kemungkinan diadakannya pemilu baru di Jerman.
Harian Denmark berhaluan kiri Information yang terbit di Kopenhagen mengomentari situasi politik di Berlin:
“Bahwa ’Showdown’ dalam partai SPD itu dapat terjadi, merupakan hal yang sangat ganjil. Franz Müntefering bisa dikatakan jiwa dan barometer ukur perubahan suasana dalam partainya, tapi ia ternyata tak dapat memprediksi terjadinya pemberontakan dalam partainya sendiri. Padahal, akan sangat mudah baginya untuk mengembalikan kestabilan partai SPD dengan beberapa ungkapan yang tepat. Walau perundingan koalisi besar akan tetap berlanjut, keputusan Müntefering untuk mengundurkan diri telah mengoyahkan fundamen bakal Kanselir Angela Merkel. Sekarang, Jerman adalah suatu negara di ambang kolaps.“
Sementara harian Neue Züricher Zeitung yang terbit di Jenewa menulis:
“Mungkin sekarang ilusi terakhir pun telah sirna, bahwa pemerintahan merah hitam adalah solusi terbaik untuk Jerman. Karena bagaimana pun juga, suatu koalisi besar tidak mungkin adalah jawaban bagi permasalahan yang dihadapi Jerman. Sebenarnya, kalau sikap ceroboh, keras kepala dalam mempertahankan suatu ideologi dan sikap narsis dari kedua partai yang ingin berkoalisi dapat dihapuskan, suatu keberhasilan telah tercapai. Barangkali, pihak yang terlibat akan menyadari hal ini setelah melihat kejadian dua hari terakhir. Untuk Jerman langkah ini sangat penting.“
Harian Wina Kurier menyampaikan ulasan senada
“Berakhirnya masa legistlatif lebih awal di Jerman, kampanye Pemilu yang diwarnai penghasutan dan yang memutar-balik peran pemerintah dan oposisi, klaim atas kedudukan kanselir oleh partai yang jelas kalah dalam pemilu, judi politik yang menyebabkan para pemilih merasa dipermainkan dan akhirnya penyangkalan semua janji-janji yang dibuat dalam pemilu: demokrasi Eropa terbesar memamerkan sisi yang tak dikenal masyarakat umum.
Ternyata Jerman yang kerap dianggap membosankan dan serius itu juga bisa bersikap ganjil dan aneh. Dan sikap itu bukan ditunjukan oleh partai pinggiran atau partai oposisi seperti yang biasa terjadi di Austria. Sama seperti para pemilih, partai rakyat SPD dan CDU pun sepertinya tidak tahu bersikap bagaimana menghadapi perubahan yang dibawa zaman baru. Globalisasi dan bertambahnya penduduk usia lanjut secara tidak proporsional mengancam kemakmuran Jerman dan mendesak warganya untuk bertindak.“
Harian Italia Il Messaggero mengomentari pengunduran diri ketua partai SPD Franz Müntefering dan keputusan pimpinan CSU Edmund Stoiber untuk tetap berpolitik dari Bayern:
“Jalan untuk menuju koalisi besar bakal kanselir Angela Merkel semakin berliku dan terjal. Setelah shock hari Senin karena pimpinan partai SPD Müntefering menyatakan tidak akan mencalonkan diri lagi sebagai ketua, hari Selasa menyusul shok kedua: Stoiber secara resmi menyatakan tidak mau menjadi bagian koalisi besar. Krisis politik yang tampaknya mereda dengan dihentikannya adu kekuatan antara Angela Merkel dan Gerhard Schröder dan dimulainya perundingan koalisi kini tampak merebak kembali. Situasi saat ini tidak jelas dan kelanjutannya tak dapat diprediksi.“
Harian Inggris berhaluan konservatif The Times menulis:
“Pemilu baru jauh lebih baik daripada koalisi besar yang terancam keruntuhan. Rakyat Jerman memberikan suaranya dalam pemilihan umum 45 hari yang lalu. Mereka yang berpikir optimis memperkirakan akan butuh 20 hari lagi sampai koalisi besar antara partai CDU yang berhaluan liberal kanan dan SPD yang condong ke liberal kiri akan terwujud. Ada kemungkinan, koalisi besar itu akan menghadapi krisis pertama sebelum jangka waktu 65 hari. Dan barangkali krisis itu bukan lah yang terakhir dalam masa jabatan empat tahun. Perkawinan politik yang tidak didasari cinta ini akan berakhir dalam perceraian.“