1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SejarahInggris

Great Stink: Saat Bau Busuk Menyelimuti London

13 Juli 2026

Panas ekstrem di tahun 1858 membuat Sungai Thames berbau busuk hingga orang-orang kesulitan bernapas. Tapi kejadian tersebut menginspirasi sistem pembuangan limbah modern.

“The silent highwayman” - Karikatur dari Majalah Punch tahun 1858
Peristiwa “Great Stink” merenggut korban jiwaFoto: public domain

Sungai Thames pernah berbau busuk parah hingga membuat warga kesulitan bernafas. Mereka yang mampu, segera meninggalkan kota. Mereka yang tak punya pilihan lain lantas membasahi tirai dengan kalsium klorida untuk menahan bau busuk. Saat keluar rumah, mereka menempelkan sapu tangan ke hidung. "Siapa pun yang pernah menghirup bau busuk ini tidak akan pernah melupakannya, dan bersyukur jika masih hidup,” demikian jelas pers lokal.

Hal itu terjadi di tahun 1858. Selama berminggu-minggu, suhu di musim panas terik berada di atas 30 derajat, tidak ada setetes pun hujan yang mendinginkan kota dan menyapu kotoran di Sungai Thames.

Pada tahun 1858, Sungai Thames tidak terlihat seindah yang tergambar dalam lukisan iniFoto: Oxford Science Archive/Heritage Images/picture alliance

Thames yang jadi urat kehidupan di London, berubah layaknya saluran pembuangkan kotoran. Airnya keruh berlumpur, penuh kotoran manusia dan hewan, segala macam sampah, serta limbah industri dari pabrik-pabrik.

Di tengah suhu panas yang memecahkan rekor, kotoran dan sampah yang membusuk terpapar sinar matahari tanpa henti, mengeluarkan bau busuk yang menyelimuti kota dan membuat udara terasa menyesakkan.

Saluran pembuangan yang mematikan

Antara tahun 1800 dan 1850, jumlah penduduk London meningkat dua kali lipat menjadi 2,5 juta orang. Pada masa itu, ibu kota Kekaisaran Britania Raya ini merupakan metropolis terbesar di dunia. Namun, sistem pembuangan yang usang dan beban berlebih tidak mampu menampung jumlah penduduk kota tersebut; pipa-pipanya mengalirkan segala macam kotoran langsung ke Sungai Thames.

Toilet model baru, yang mulai dibeli oleh warga kaya sejak pertengahan abad tersebut, justru memperburuk keadaan: kotoran langsung terbuang ke sungai. Sebelumnya, para pengumpul kotoran mengosongkan tangki septik di malam hari. Saat banjir, sungai tersebut meluapkan limbah ke jalan-jalan.

Bau hebat Sungai Thames pun mencapai dimensi baru, hingga tercatat dalam sejarah. "Sebuah saluran pembuangan mematikan mengalir melintasi jantung kota, bukan aliran sungai yang indah dan segar,” tulis sastrawan terkenal Charles Dickens dalam karyanya "Little Dorrit”. Namun demikian, orang-orang tetap menggunakan air tersebut untuk mencuci dan minum.

Sebuah kesalahpahaman: Menghirup uap busuk membuat sakit

Pada musim panas tersebut penyakit disentri, tifus, dan kolera yang ditakuti menyebar dengan cepat. Orang-orang percaya penjelasan medis "miasma” yang mematikan dari zaman kuno (red. "Miasma” bahasa Yunani untuk pencemaran). Mereka percaya, menghirup bau busuk atau tercemar, membuat mereka sakit.

Namun, sejak wabah kolera terakhir yang menewaskan sekitar 30.000 orang antara tahun 1831 dan 1854, dokter John Snow sudah mulai curiga. Di kawasan kumuh Soho pada masa itu, sekitar 500 orang meninggal setelah tangki septik meluap. Ia yakin bahwa air minum yang terkontaminasilah yang jadi penyebab penyakit.

Ia memerintahkan agar tuas pompa air di kawasan tersebut dibongkar. Hal ini menghentikan penyebaran penyakit. Selanjutnya, ia menyelidiki kasus-kasus kematian di sekitar pompa air lainnya dan menemukan bahwa di sekitar pompa-pompa tersebut, banyak warga yang terjangkit kolera. Namun banyak politisi yang belum mempercayai Snow saat itu. Pada Juni 1958, Snow meninggal, tidak lama sebelum terjadinya "Great Stink”.

Dokter John Snow membuktikan bahwa air minum yang terkontaminasi menjadi penyebab penyebaran wabahFoto: Bridgeman Images/IMAGO

Sistem pembuangan limbah baru

Metropolitan Board of Works, badan pengelola pembangunan kota, telah bertahun-tahun mendesak agar sistem saluran pembuangan London diperbarui. Namun, Parlemen saat itu belum menyetujui anggaran yang diperlukan. Proyek-proyek prestisius lebih menarik perhatian daripada infrastruktur bawah tanah. Namun, hal itu berubah ketika para anggota parlemen tersebut merasakan sendiri bau busuk yang menyengat itu.

Istana Westminster, yang baru dibangun beberapa tahun sebelumnya di tepi Sungai Thames, menjadi markas Parlemen Inggris. Namun anggota parlemen tidak dapat memikirkan urusan pemerintahan di tengah bau hebat "Great Stink”. Para anggota parlemen pun mengungsi ke pedesaan. Dan mereka mengambil keputusan yang telah mereka tunda selama bertahun-tahun: London harus segera dibebaskan dari "uap berbahaya” Sungai Thames. Dalam waktu 18 hari, rancangan undang-undang untuk mendanai sistem saluran pembuangan baru disahkan dan tiga juta pound (sekitar 69 miliar Rupiah) tersedia untuk proyek tersebut.

Insinyur Joseph Bazalgette ditugaskan untuk mengerjakannya. Ia merancang jaringan terowongan bawah tanah sepanjang sekitar 1.800 kilometer, yang menampung limbah dari jalan-jalan dan ruang bawah tanah kota, tidak langsung membuangnya langsung ke Sungai Thames.

Joseph Bazalgette dianugerahi gelar ksatria pada tahun 1874 atas jasanyaFoto: Sunny Celeste/Bildagentur-online/picture alliance

Selain itu, Bazalgette memerintahkan pembangunan bendungan dan trotoar tepi sungai yang menyembunyikan pipa pembuangan utama bawah tanah sekaligus melindungi kota dari banjir. Terakhir, ia membangun dua stasiun pompa raksasa yang mengangkat air limbah agar dapat dialirkan lebih jauh. Stasiun Pompa Abbey Mills yang selesai dibangun pada tahun 1868 sering disebut sebagai "Katedral Air Limbah” karena arsitekturnya yang megah dan jadi penanda kemenangan atas kotoran, sampah, dan penyakit.

Baru pada tahun 2025 sistem bersejarah ini akan terbebas dari beban

Pada tahun 1875, proyek ini selesai. Bazalgette telah menciptakan sistem pembuangan limbah paling modern di dunia pada masa itu. Insinyur ini begitu visioner merancang kapasitas sistem saluran pembuangan untuk populasi kota yang dua kali lipat lebih besar, yaitu sekitar empat setengah juta jiwa. Sejak saat itu, kolera menjadi bagian dari sejarah.

Pemandangan di dalam terowongan pembuangan limbah era VictoriaFoto: Getty Images

Satu setengah abad kemudian, hampir sembilan juta orang tinggal di London, telah menyumbat pipa-pipa dari era Victoria dengan produk zaman modern, mulai dari pembalut, popok, kondom, hingga sisa makanan. Hingga tahun 2025, infrastruktur karya Bazalgette masih menanggung beban utama sistem drainase London, dengan beberapa bagian diperluas.

Pada tahun 2025, Terowongan Thames Tideway sepanjang 25 kilometer diresmikan, karena sistem bersejarah Bazalgette sudah tidak lagi memadai.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait