Masyarakat di Joyotakan, Solo, Jawa Tengah, merayakan Iduladha dengan konsep Green Kurban, yakni kurban tanpa kantong plastik. Hampir seluruh bagian hewan kurban dimanfaatkan agar ramah lingkungan.
Di Kampung Joyotakan, Green Kurban dimotori oleh Eco Bhinneka, sebuah komunitas beranggotakan muda-mudi lintas iman yang bertujuan menjembatani nilai-nilai agama dan lingkungan.Foto: Andreas Pamungkas/DW
Iklan
Seusai melaksanakan salat Id pada Senin (17/06), warga Kampung Joyotakan, Solo, Jawa Tengah, mulai bersiap melaksanakan kurban. Selain mempersiapkan perkakas dan seperangkat alat penyembelihan, muda-mudi di kampung ini juga tampak sibuk menata besek, daun pisang, dan kantung kain.
Nantinya, semua daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat akan dibungkus daun pisang, lalu dimasukkan ke dalam besek atau wadah dari anyaman bambu. Besek dipilih untuk mengubah kebiasaan masyarakat memakai pembungkus plastik saat mendistribusikan daging kurban.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Selain bisa dipakai ulang, besek juga lebih ramah lingkungan karena mudah terurai dan tak mengandung bahan kimia berbahaya. Panitia juga telah menyiapkan kantong-kantong dari kain untuk memudahkan masyarakat membawa jatah daging kurban.
Iklan
Pentingnya jaga lingkungan dalam berkurban
Penyembelihan hewan kurban dalam jumlah besar tak jarang menghasilkan limbah yang merusak lingkungan. Melansir data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, pada 2022 proses penyaluran daging kurban menyumbang sedikitnya 70 ton sampah plastik.
Puluhan ton plastik inilah yang jadi fokus dari program Green Kurban. Konsep ini mengajak masyarakat berkurban dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dan meminimalisasi dampak negatif terhadap lingkungan.
Sisa Sayuran Bisa Jadi Sumber Nutrisi Bagi Sapi
Kacang panjangnya dimakan, daunnya yang tak kamu makan jangan dibuang. Sisa dari berbagai sayuran ini bisa jadi amat bermanfaat bagi sapi. Peneliti Indonesia di Jerman ini meneliti kandungan nutrisi pakan sapi.
Foto: DW/A. Purwaningsih
Di Eropa, informasi pakan ternak bernutrisi datanya lengkap
Pakan yang mengandung nutrisi seimbang amat baik untuk ternak berkontribusi pula pada kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Di negara-negara beriklim sedang, seperti di Eropa, sudah ada pendataan yang lengkap mengenai nutrisi hijauan makanan ternak. Sementara di negara-negara beriklim tropis seperti Indonesia, pendataan informasi terkait hijauan pakan ternak ini masih terbatas.
Foto: DW/A. Purwaningsih
Jadi yang pertama meneliti untuk kawasan tropis
Untuk itu peneliti nutrisi ternak asal Indonesia Risma Rizkia Nurdianti, melakukan studi fraksinasi serat pada hijauan pakan ternak di daerah beriklim sedang seperti di Eropa. Lewat studi itu, ia mencari tahu pemecahan senyawa serat pada hijauan makanan ternak di kawasan tropis seperti di Indonesia. Di Universitas Hohenheim di Stuttgart, Jerman, perempuan Indonesia ini melakukan penelitiannya.
Foto: DW/A. Purwaningsih
Bersiap ke kandang sapi
Risma meneliti fraksinasi serat yang terdapat pada hijauan makanan ternak dari beberapa negara tropis melalui teknologi in vitro dan mengevaluasi pengaruhnya terhadap ternak ruminansia misalnya produksi susu dan kecernaan ternak melalui metode in vivo di Indonesia. Untuk itu ia harus bersiap ke kandang sapi.
Foto: DW/A. Purwaningsih
Mengambil cairan pada sapi
Untuk metode in vitro, Risma membutuhkan cairan dari lambung sapi. Di sini dilakukan simulasi pencernaan sapi melalui inkubasi pakan ternak menggunakan lambung sapi dalam jangka waktu tertentu dalam tabung reaksi. Cairan ini nanti akan dijadikan media utama untuk proses inkubasi.
Foto: DW/A. Purwaningsih
Menggabung cairan dari lambung sapi
“Dengan metode in vitro ini saya gunakan simulasi lambung sapi, kemudian cairan dari lambung sapi yang diambil dari kandang tadi digabungkan dengan campuran hijauan pakan ternak," demikian Risma menjelaskan metodenya. Ia menggunakan botol khusus sebagai tempat inkubasi pakan ternak dan cairan rumen.
Foto: DW/A. Purwaningsih
Mulai mengukur nutrisi ternak
Inkubasi ini harus dilakukan selama 10 hari lalu dilanjutkan dengan uji lainnya. Tujuannya adalah untuk mengukur nilai nutrisi pakan ternak dengan menggunakan mokroorganisme dari cairan lambung sapi segar. Risma sang peneliti adalah anggota Komunitas Intelektual Indonesia Terpadu di Jerman, ICONIC.
Foto: DW/A. Purwaningsih
Apa saja manfaat nutirsi yang baik?
Kandungan serat pada hijauan sangat dibutuhkan ternak untuk merangsang gerakan otot saluran pencernaan. Pada ternak ruminansia atau ternak memamah biak, serat kasar digunakan sebagai sumber energi. Salah satu kelemahan serat pada ternak ruminansia yakni dapat menyebabkan turunnya lemak susu. Manfaat serat lainnya adalah mendukung pertumbuhan dan fungsi mikroorganisme pencerna serat.
Foto: DW/A. Purwaningsih
Ternak tak hanya butuh protein
Bersama rekan-rekannya sehari-hari ia bekerja di laboratorium ini demi masa depan sektor peternakan di tanah air: “Kita sering lupa bahwa ternak tidak hanya butuh protein. Produk ternak yang sehat yang nantinya dikonsumsi manusia juga butuh asupan serat yang seimbang. Lewat penelitian saya ini, diharapkan para peternak bisa menyuplai ternaknya dengan nutrisi termasuk serat yang baik,” tandasnya.
Foto: DW/A. Purwaningsih
Dari Indonesia, bisa jadi sisa sayuran yang kita konsumsi bisa diamnfaatkan
Banyak sumber pakan ternak yang berasal dari limbah hasil pertanian, misalnya jerami. Jerami mengandung serat yang sangat tinggi. Tapi apakah serat itu sepenuhnya merugikan atau malah menguntungkan bagi ternak? Itulah yang Risma teliti. Hal ini berlaku juga pada limbah pertanian atau sisa makanan manusia lainnya, misal daun kacang panjang, kacang tanah, kacang hijau, dan lain-lain.
Foto: DW/A. Purwaningsih
Pemutakhiran informasi nutrisi pakan ternak.
Hasil dari penelitian ini adalah pemutakhiran informasi fraksinasi serat pada hijauan makanan ternak di daerah tropis khususnya Indonesia. "Kalau kita makan kacang panjang kan daunnya dibuang, bisa jadi ini sangat dibutuhkan sapi," ujar Risma. Penanggung jawab kandang di Universitas Hohenheim, Raoul von Schettow banyak membantu Risma dalam penelitiannya.
Foto: DW/A. Purwaningsih
Bermanfaat bagi sektor industri peternakan di Indonesia
Ia berharap nantinya penelitian ini dapat bermanfaat bagi sektor industri peternakan Indonesia. Risma adalah kandidat doktor pertama di institutnya yang ingin menginisisasi kerja sama dengan kelompok riset di Asia Tenggara khususnya di Indonesia. Sebelumnya institut ini hanya berfokus pada Asia Tengah/Timur/Barat, Afrika Utara dan Amerika Selatan.
Foto: DW/A. Purwaningsih
11 foto1 | 11
Di Kampung Joyotakan, Green Kurban dimotori oleh Eco Bhinneka, sebuah komunitas beranggotakan muda-mudi lintas iman yang bertujuan menjembatani nilai-nilai agama dan lingkungan. Eco Bhinneka adalah komunitas binaan Muhammadiyah, salah satu organisasi keagamaan Islam terbesar di Indonesia.
"Di momen-momen keagamaan, sering kali kita tidak sadar bahwa ternyata kita membawa dampak buruk untuk lingkungan. Jadi kami ingin mengembalikan bahwa hakikatnya Islam itu rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam)," ujar Uswatu Hasanah, Koordinator Eco Bhinneka Solo.
Sejak 2017, Eco Bhinneka mulai mengenalkan Green Kurban ke beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan bagi masyarakat Joyotakan, ini jadi kali pertama mereka merayakan Iduladha ramah lingkungan.
Uswah menambahkan, "pelan-pelan kami mengenalkan Green Iduladha ini ke masyarakat, bergantian tiap tahun dan tahun ini di Joyotakan. Permasalahan sampah di sini cukup memprihatinkan."
Bagi masyarakat Joyotakan, Solo, ini kali pertama mereka merayakan Iduladha ramah lingkungan.Foto: Andreas Pamungkas/DW
Manfaatkan hampir semua bagian hewan kurban
Sebanyak 4 sapi dan 6 kambing akan dipotong di sini. Panitia telah menyiapkan 400 besek lengkap dengan daun pisang dan kantung kain untuk membungkus daging yang akan disalurkan ke warga sekitar.
Selain meminimalisasi penggunaan plastik, Green Kurban juga mendorong pemanfaatan maksimal hewan kurban, mulai dari daging, darah, kulit, hingga jeroan. Semua dimanfaatkan dan diolah secara ramah lingkungan.
Darah hewan kurban dialirkan ke dalam lubang sedalam 5 meter agar tak mencemari tanah di sekitarnya dan jadi sumber penyakit. Nantinya darah ini akan diproses oleh masyarakat setempat untuk dijadikan pupuk kompos atau biogas sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan. Begitu pula dengan tulang-tulang hewan yang juga akan diolah dan dimanfaatkan menjadi pupuk organik.
Jeroan kurban juga tak serta merta dibuang begitu saja. Panitia mengemas jeroan dengan dibungkus daun pisang secara terpisah, karena jeroan mengandung bakteri lebih banyak yang berpotensi mempercepat proses pembusukan daging.
"Kulit hewan juga kan bernilai tinggi, bisa dijual kembali atau diolah oleh masyarakat setempat jadi kerupuk. Begitu pula tulang dan jeroan, selain diolah jadi pupuk masyarakat di sini biasanya bakal menjadikannya sebagai bahan masakan untuk dibuat jadi tengkleng atau sup," jelas Uswah.
Ia juga menambahkan bahwa langkah ini jadi salah satu edukasi penting ke masyarakat untuk meminimalkan sampah sisa kurban.
Green Kurban mendorong pemanfaatan maksimal hewan kurban, mulai dari daging, darah, kulit, hingga jeroan. Semua dimanfaatkan dan diolah secara ramah lingkungan.Foto: Andreas Pamungkas/DW
Green Kurban cegah pemakaian 2 ton plastik sekali pakai
Green Kurban menawarkan pendekatan holistik yang mengintegrasikan nilai-nilai religius dengan aspek keberlanjutan dan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Membangun kesadaran masyarakat menjadi salah satu langkah penting.
KLHK mencatat pada 2022, sebanyak 81 kabupaten/kota telah menerapkan Green Kurban, Gerakan ini berhasil mencegah lebih dari 2 ton penggunaan kantong plastik sekali pakai.
Penerapan praktik pertanian berkelanjutan dapat mendorong inovasi dan pertumbuhan industri hijau, hal ini juga dapat meningkatkan kesadaran konsumen terhadap produk-produk ramah lingkungan. Data Kementerian Pertanian menyebut, permintaan produk organik di Indonesia meningkat sebesar 20% per tahun.
Prinsip peternakan berkelanjutan seperti pengolahan kotoran ternak, hingga pendekatan manajemen pakan juga dapat menekan jejak karbon. Melansir Badan Pusat Statistik (BPS), sektor peternakan lokal menyumbang sekitar 15% dari total emisi gas rumah kaca di Indonesia. Memilih hewan kurban dari peternak lokal juga dapat mengurangi jejak karbon yang dihasilkan dari transportasi hewan jarak jauh. (ae)