1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Gula Aren Obat Diabetes Pemenang Falling Walls Indonesia

Agus Setiawan
14 September 2021

Mengobati diabetes dengan gula aren? Kedengaran kontroversial. Namun temuan periset muda Amalia bisa membantu penderita diabetes mengatasi masalah mereka dengan gula aren. Bagaimana berfungsinya?

Deutschland Berlin Science Week 2020
Ilustrasi dari Berlin Science week, Falling walls science breakthroughs tahun2020.Foto: Berlin Science Week

Pengidap diabetes mellitus harus berjuang mengatasi keseharian yang membosankan, untuk menjaga kadar gula darahnya tetap stabil pada batas aman. Mereka juga harus melakukan terapi obat-obatan sepanjang hidupnya. Dan yang paling menyiksa adalah tidak boleh mengkonsumsi makanan atau minuman manis yang mengandung gula.

Bahan pemanis buatan yang saat ini lazim digunakan, juga memiliki sejumlah efek negatif yang harus diwaspadai. Mencermati berbagai batasan dan terapi panjang para pasien diabetes ini, periset muda Amalia Sitti Khayyira membuat penelitian berbasis gula aren untuk mengembangkan makanan sejenis obat bagi penderita diabetes.

Metode produksinya mulai dilakukan tahun 2017, berbasis fermentasi sederhana mengkonversi gula aren menjadi senyawa D-allulosa, yaitu gula langka (rare sugar) yang bebas kalori dan memiliki manfaat penurunan glukosa darah tapi masih menyisakan rasa manis gula. Keunggulan metode produksinya, adalah bisa dilakukan dalam skala industri rumahan.

Para pemenang kompetisi Falling Walls Lab Indonesia. Juara 1, Amalia Sitti Khayyira (ki) juara 2, Putu Brahmanda Sudarsana (t) dan juara 3, Jeallyza Muthia Azra (ka)

Menang kompetisi Falling Walls Indonesia

Riset gula aren untuk mengobati diabetes sukses mengantarkan Amalia menjadi juara pertama kompetisi Falling Walls Labs Indonesia  yang digelar lembaga pertukaran akedemis Jerman DAAD Jakarta secara virtual Sabtu (11/9). Acara digelar DAAD Jakarta bermitra dengan kementrian luar negeri Jerman, Euraxess dan Deutsche Welle.

Periset di CV Amalose Indonesia itu menyebutkan, gagasan dan risetnya dipicu problematika yang dihadapi di masyarakat terutama di Indonesia, di mana jumlah kasus diabetes mellitus (DM) ini sangat masif. "Penderitanya sangat beragam dari kalangan bawah, menengah, hingga atas, menandakan masalah ini memang akarnya adalah gaya hidup masyarakatsecara keseluruhan, tidak hanya kalangan tertentu saja” ujar master farmasi dari Universitas Indonesia itu kepada DW.

Amalia mencermati masyarakat Indonesia memang sangat menyukai makanan dan minuman manis yang mengandung gula. Konsumsi makanan dan minuman manis sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Oleh karena itu, saat seseorang didiagnosis dengan DM, kebiasaan konsumsi manis tersebut jugalah yang sangat sulit ditinggalkan.

Screenshot para pemenang Falling Walls Lab Indonesia bersama para jury dari kalangan ilmuwan dan praktisi serta pemandu acara dari DAAD Jakarta.

Dalam kompetisi virtual yang dibuka oleh Direktur DAAD kantor regional Jakarta, Thomas Zettler dan dipandu oleh dua staf DAAD Jakarta Christian Rabl dan Ribka Gloria itu, Amalia mengungguli 18 finalis lainnya yang lolos ke babak final kompetisi. Posisi kedua diraih Putu Brahmanda Sudarsana yang mengajukan tema preservasi manuskrip kuno dan posisi tiga diraih Jeallyza Muthia Azra yang mengusung tema pengolahan air kelapa muda untuk pemanfaatan lebih efektif. 

Ide-ide yang lolos ke babak final Falling Walls Indonesia berspektrum cukup luas dan inovatif mulai dari yang berskala lokal hingga global. Topiknya mulai dari yang sederhana seperti koperasi petani jamur lokal, hingga yang berskala luas seperti pembuatan bahan bakar dari limbah plastik atau kapal laut berbahan bakar hidrogen untuk transpotasi samudra.

Beradu gagasan inovatif di Berlin

Sebagai pemenang Falling Walls Lab Indonesia, Amalia akan mewakili Indonesia beradu gagasan inovatif dalam acara Falling Walls Science Summit dari  7 sampai 9 November di Berlin. Di Jerman, wakil Indonesia itu akan kembali mempresentasikan proyeknya, bersaing lagi dalam kompetisi sains internasional yang diikuti sekitar 1000 peserta dari 115 negara di seluruh dunia.

Seluruhnya ada 7 kategori disiplin keilmuan yang akan saling bersaing ketat menampilkan para kandidat dari berbagai negara, untuk meraih gelar juara yang bergengsi di bidang masing-masing. Organisator Falling Walls Science Summit di Berlin membaginya dalam ketegori: Life Sciences, Physical Sciences, Engineering and Technology, Social Sciences and Humanities, Art and Science, Future Learning, and Science and Innovation Management.

Kompetisi Falling Walls yang digelar setahun sekali, terutama bertujuan mencari telenta dan inovator-inovator muda atau lembaga riset dengan gagasan cemerlang untuk mengatasi berbagai masalah baik global maupun regional dengan penetrasi luas di masyarakat. Dinamai Falling Walls terinspirasi oleh runtuhnya Tembok Berlin pada 9 November 1989.

as/hp