Pengadilan Negeri Jakarta Selatan akhirnya memvonis bersalah terdakwa asal Kanada, Neil Bantleman. Pria yang bekerja sebagai guru Jakarta Intercultural School (JIS) itu harus mendekam selama 10 tahun di penjara, serta membayar denda Rp. 100 juta.
"Jika tidak dapat membayar denda, dapat diganti pidana kurungan selama enam bulan," kata ketua majelis hakim, Nur Aslam Bustaman. Majelis berdalih, Neil terbukti bersalah berdasarkan bukti-bukti hasil pemeriksaan forensik terhadap korban, hasil uji psikologi dan keterangan saksi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum.
Neil didakwa melakukan tindak pidana pelecehan seksual terhadap murid JIS. Pria Kanada itu sendiri tidak mengaku bersalah. Namun tiga saksi ahli psikolog yang dihadirkan jaksa menyebutkan, pihaknya tidak menemukan adanya indikasi kebohongan pada kesaksian korban mengenai identitas pelaku.
Kejanggalan pada Putusan Hakim
Kasus Neil sempat mendapat angin baru setelah hasil uji Anuskopi yang dilakukan rumah sakit Women's and Children's Hospital di Singapura terhadap korban tidak menemukan adanya indikasi pelecehan seksual. Hasil tersebut berbeda dengan hasil pemeriksaan rumah sakit di Indonesia.
"Kalau ingin memeriksa kondisi anus kan seharusnya dibius dulu. Tapi di rumah sakit di Indonesia tidak dan dua jam saja sudah selesai. Bagaimana bisa?" ujar Hotman Paris yang bertindak sebagai kuasa hukum Neil.
Namun majelis hakim tidak mengindahkan bukti baru tersebut dengan alasan administratif. Menurut pengadilan, semua bukti harus berupa dokumen asli dan bukan fotokopi. Dalih tersebut dibantah Hotman lantaran dokumen yang diajukan pihaknya telah dilengkapi dengan putusan Pengadilan Tinggi Singapura.
Tanpa bukti fisik, putusan pengadilan sepenuhnya berdasarkan kesaksian korban. Namun kuasa hukum terpidana curiga, korban yang masih anak-anak itu dipaksa untuk menyebutkan Neil sebagai pelaku.
Tidak heran jika kritik bermunculan atas putusan pengadilan. "Ini adalah noktah hitam lain untuk reputasi PN Jakarta Selatan," kata aktivis HAM, Andreas Harsono.
rzn/as (antara, dpa, ap)
Peringatan ini khususnya ditujukan bagi kaum perempuan. Survei Thomson Reuters Foundation terhadap 6.550 perempuan dan transgender menemukan 8 kota dengan transportasi umum paling berbahaya bagi perempuan.
Foto: Christophe Archambault/AFP/Getty ImagesDalam hasil survei, Bogota menempati urutan pertama sebagai kota dengan sistem transportasi umum paling berbahaya buat perempuan. Bogota berpenduduk 9,6 juta jiwa dengan sistem kereta api dan bus yang buruk. Kejahatan seperti pencurian, penjambretan hingga pelecehan seksual menjadi ancaman buat perempuan di kota itu jika bepergian malam hari.
Foto: Reuters/John VizcainoMexico City merupakan ibukota terbesar ke-tiga di dunia dengan jumlah penduduk 21 juta jiwa. Menurut survei, perempuan yang menggunakan transportasi umum di kota itu terancam menghadapi risiko pelecehan seksual baik secara verbal atau fisik . Enam dari 10 perempuan di Mexico City mengatakan, mereka telah diraba-raba atau mengalami beberapa jenis pelecehan fisik dalam transportasi umum.
Foto: Reuters/Edgard GarridoIbu kota Lima memiliki populasi penduduk 6,2 juta jiwa. Spertiga penduduknya hidup di perkampungan-perkampungan kumuh di bawah garis kemiskinan. Imbasnya, tak aman buat perempuan bepergian dengan transportasi umum di kota ini karena ancaman penodongan, penjambretan hingga pelecehan seksual.
Foto: Reuters/Enrique Castro-MendivilBuat perempuan jangan bepergian seorang diri saat berkunjung ke kota ini. New Delhi tercatat menduduki peringkat dua sebagai ibu kota dengan populasi penduduk terbanyak di dunia dengan jumlah 25 juta jiwa. Pemerkosaan ramai-ramai dan pembunuhan terhadap gadis 23 tahun di bus pada Desember 2012 lalu, secara langsung menunjukkan betapa tak aman transportasi di kota itu buat perempuan.
Foto: picture-alliance/dpaJakarta memiliki sistem transportasi yang buruk. Bus Transjakarta hingga kereta api sampai memisahkan ruangan bagi penumpang laki-laki dan perempuan karena tingkat pelecehan seksual di dalam transportasi umum di kota ini sudah cukup meresahkan. Angka Kasus pencopetan di dalam minibus, seperti Kopaja dan Metromini pada jam-jam sibuk juga sangat tinggi.
Foto: Ulet Ifansasti/Getty ImagesKeselamatan dan keamanan penumpang perempuan di kota ini juga terancam. Buenos Aires dikenal sebagai "Parisnya Amerika Selatan" karena keanggunannya. Sayang, orang-orang miskin menumpuk di kota ini. Imbasnya, pencopetan marak terjadi, apalagi di kendaraan umum.
Foto: picture-alliance/AP/Natacha PisarenkoKeamanan menggunakan moda transportasi umum ditentukan oleh dua hal, yakni amankah bepergian pada malam hari dan bagaimana tingkat risiko perempuan terhadap pelecehan seksual. Melalui hasil survei, Malaysia rupanya termasuk dalam kategori negara tidak aman bagi perempuan bepergian dengan transportasi umum.
Foto: Manan Vatsyayana/AFP/Getty ImagesBangkok adalah salah satu negara tujuan wisata di Asia Tenggara dan cukup berkembang pesat secara ekonomi. Namun pada saat yang sama masih mempunyai masalah dalam sektor infrastruktur, termasuk sistem transportasinya sehingga kurang aman bagi perempuan untuk menaiki transportasi umum di sana. Ancaman yang acap muncul diantaranya adalah pelecehan seksual dan pencopetan.
Foto: Christophe Archambault/AFP/Getty Images