1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Hadapi Ancaman Drone, Jerman Bangun Sistem Pertahanan Baru

Nik Martin sumber: Bild am Sonntag, Reuters
7 September 2026

Menurut surat kabar Bild am Sonntag, beberapa kota di Jerman akan diperkuat dengan unit pertahanan anti-drone yang dapat dikerahkan dengan cepat untuk melindungi infrastruktur penting dari potensi serangan drone.

Seorang petugas polisi Jerman berdiri di samping perangkat pengacau sinyal drone di Bandara Nuremberg pada 14 Agustus 2026
Jerman menyiapkan perisai baru terhadap sabotase di lokasi-lokasi pentingFoto: Ardan Fuessmann/IMAGO

Jerman sedang merencanakan sistem perlindungan menyeluruh untuk mencegah serangan seperti yang terjadi di Bandara Leipzig. Hal itu disampaikan Menteri Dalam Negeri Jerman, Alexander Dobrindt, pada hari Minggu (06/09).

Pada 4 Agustus lalu, beberapa drone kecil menargetkan Bandara Leipzig-Halle. Salah satu drone mengenai pesawat yang sedang terparkir, sementara drone lainnya diduga menghantam pesawat kargo yang sedang mendekati bandara.

Badan intelijen Jerman menuduh Rusia berada di balik insiden tersebut, tapi Moskow membantah tuduhan itu.

Bandara Leipzig-Halle adalah pusat kargo utama yang digunakan untuk menerbangkan senjata dan perbekalan menuju UkrainaFoto: Daniel Kessler/imageBROKER/picture alliance

Dobrindt ungkap rencana perisai anti-drone Jerman

Dobrindt mengatakan kepada surat kabar Bild am Sonntag bahwa serangan hibrida Rusia kini menjadi kenyataan yang bisa terjadi setiap hari. Ia menambahkan, "Serangan-serangan ini akan semakin meningkat, tetapi kita dapat mempertahankan diri dan melindungi diri kita."

Surat kabar tersebut mengutip informasi dari Kementerian Dalam Negeri Jerman yang menunjukkan bahwa pemerintah berencana memperluas unit pertahanan anti-drone bergerak milik kepolisian federal.

Langkah-langkah yang akan diambil mencakup penggunaan kendaraan dan helikopter yang dapat dikerahkan dengan cepat untuk melindungi wilayah udara di atas kota-kota penting, seperti Frankfurt, München, dan Berlin dari ancaman serangan drone.

Menurut Bild, perisai pertahanan ini tidak hanya mampu mencegat drone, tetapi juga dapat menjinakkan bom yang dibawa drone serta perangkat peledak lainnya.

Surat kabar itu juga menjelaskan bahwa perubahan undang-undang akan memungkinkan operator infrastruktur penting, termasuk perusahaan penyedia air, listrik, dan industri pertahanan, untuk mendeteksi serta melawan upaya sabotase menggunakan drone.

Jammer membanjiri drone dengan suara radio sehingga pilot tidak dapat lagi mengarahkannyaFoto: Michael Bihlmayer/Bihlmayerfotografie/IMAGO

Lavrov tuduh Merz ingin berperang

Pada hari Minggu (06/09), Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan bahwa tuduhan Jerman terhadap Rusia pada dasarnya merupakan "awal dari perang yang sesungguhnya."

Ia kembali menegaskan bantahan Rusia atas keterlibatan dalam serangan drone di Leipzig. Lavrov juga mengkritik Kanselir Jerman Friedrich Merz yang berencana meningkatkan kemampuan militer negaranya sebagai respons terhadap ancaman hibrida.

"Semua pernyataan Merz tentang menjadikan Jerman kembali sebagai kekuatan militer utama di Eropa sedang diwujudkan dalam praktik. Pada dasarnya, ia sedang menyatakan perang terhadap kami," kata Lavrov kepada saluran televisi pemerintah Rusia, Vesti.

Lavrov juga mengkritik keputusan Jerman untuk menutup pusat kebudayaan Russian House di Berlin dan konsulat Rusia di Bonn.

Teknologi baru akan untuk meningkatkan keamanan siber

Bild juga melaporkan bahwa Jerman akan membangun perisai siber nasional yang bertujuan mendeteksi dan menggagalkan serangan peretasan.

Langkah ini diambil di tengah ratusan serangan siber yang setiap hari menargetkan lembaga pemerintah, infrastruktur, dan perusahaan. Banyak dari serangan tersebut dituduhkan berasal dari Rusia, negara-negara lain, maupun kelompok kriminal.

Surat kabar itu menambahkan bahwa pemerintah juga ingin memperluas penggunaan kecerdasan buatan (AI), teknologi pengenalan wajah biometrik, dan sistem pengawasan video, khususnya di pusat-pusat transportasi. Tujuannya adalah mengidentifikasi pelaku yang dicurigai sebelum mereka sempat melakukan serangan.

Lebih dari 1.000 penampakan drone pada 2025

Kepala Kantor Polisi Kriminal Federal Jerman (BKA), Holger Münch, mengatakan kepada Bild pada Desember lalu bahwa lebih dari 1.000 aktivitas penerbangan drone mencurigakan tercatat di Jerman sepanjang tahun sebelumnya.

Sebagian besar insiden tersebut menargetkan fasilitas militer, bandara, pelabuhan, dan perusahaan pertahanan. Kasus-kasus itu umumnya dianggap sebagai aktivitas pengintaian atau intimidasi, bukan serangan langsung.

Bandara Leipzig sebelumnya juga pernah menjadi sasaran dugaan sabotase. Pada Juli 2024, sebuah paket yang diduga dikirim oleh pihak yang terkait Rusia dan mengandung bahan pembakar terbakar di pusat logistik DHL di bandara tersebut.

Pusat logistik kargo itu juga digunakan oleh militer Ukraina dan NATO untuk mengangkut senjata melalui jalur udara guna mendukung pertahanan Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahas Inggris

Diadaptasi oleh Hani Anggraini

Editor: Yuniman Farid

Nik Martin Penulis berita aktual dan berita bisnis, kerap menjadi reporter radio saat bepergian keliling Eropa.
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait