1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikAsia

Hadapi Ancaman Korut, AS-Korsel-Jepang Perkuat Militer

16 September 2025

Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang menggelar latihan militer gabungan guna memperkuat pencegahan terhadap ancaman nuklir Korea Utara. Adik perempuan Kim Jong Un mengecam latihan gabungan tersebut.

Foto arsip diambil pada tanggal 26 April 2017, menunjukkan tentara Korea Selatan dan AS tengah  mengawasi latihan tembak gabungan antara Korea Selatan dan AS di di Pocheon, 65 km timur laut Seoul.
Latihan Iron Mace ini merupakan yang ketiga kalinya digelar, setelah sebelumnya dilakukan pada Agustus 2024 dan April 2025 (Foto: 26 April 2017) Foto: Jung Yeon-Je/AFP

Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) memulai latihan militer bertajuk Iron Mace pada Senin (15/9). Latihan taktis ini digelar di Camp Humphreys, pangkalan utama pasukan AS di Korea Selatan, dengan fokus meningkatkan respons gabungan pasukan sekutu dan memperkuat pencegahan terhadap ancaman nuklir serta rudal Korea Utara.

"Saya tidak melihat pelaksanaan Iron Mace kali ini sebagai respons langsung terhadap peristiwa tertentu, melainkan sebagai latihan yang sudah lama tertunda untuk mempelajari cara-cara efektif mencegah dan menghadapi kemungkinan ancaman nuklir dari Korea Utara," ujar Chun In-bum, seorang letnan jenderal purnawirawan dari Angkatan Darat Korea Selatan, yang kini menjabat sebagai peneliti senior di National Institute for Deterrence Studies.

“Meski latihan ini tidak bisa dikaitkan dengan satu peristiwa tertentu di Korea Utara, jelas bahwa kemampuan militer Pyongyang terus berkembang. Karena itu, aliansi harus siap menghadapi kemungkinan skenario nuklir di Semenanjung Korea untuk mencegah hal tersebut,” katanya kepada DW.

Korea Utara kecam latihan gabungan AS-Korea Selatan

Iron Mace kali ini merupakan gelaran ketiga, setelah latihan pada Agustus 2024 dan April tahun ini. Setiap putaran latihan menunjukkan peningkatan dalam skala dan kompleksitas, meski militer Korea Selatan maupun AS merahasiakan detail operasional latihan ini.

Latihan ini juga bertepatan dengan Freedom Edge 25, latihan di udara dan laut yang melibatkan unit militer dari AS, Korea Selatan, dan Jepang di perairan timur serta selatan Korea.

Sejumlah kegiatan dilakukan dalam latihan tersebut, antara lain latihan pertahanan udara, evakuasi medis, pencegahan aktivitas maritim ilegal, serta peningkatan kemampuan pertahanan rudal balistik.

Rangkaian latihan ini pun memicu reaksi keras dari pemerintah Korea Utara.

Salah satunya dari Kim Yo Jong, adik perempuan sekaligus salah satu pejabat paling berpengaruh di lingkaran kekuasaan Kim Jong Un.

"Pamer kekuatan yang sembrono oleh AS, Jepang, dan Korea Selatan di lokasi yang keliru... sudah pasti akan membawa konsekuensi yang merugikan," kutip Korean Central News Agency (KCNA), kantor berita pemerintah Korea Utara.

Kim Yo Jong juga menyebut bahwa Pyongyang memandang latihan ini sebagai bentuk "unjuk kekuatan" dan kelanjutan dari sikap konfrontatif yang telah lama dianut pemerintahan Korsel.

Korea Utara ikut pamerkan kekuatan nuklirnya

Media pemerintah Korea Utara secara bersamaan juga menyoroti laporan bahwa Kim Jong Un menghadiri uji coba darat sebuah mesin baru berbahan bakar padat dan berdaya dorong tinggi. Mesin tersebut digunakan untuk generasi terbaru rudal balistik antarbenua (ICBM) canggih yang menggunakan bahan serat karbon komposit.

Kim Jong Un menyebut terobosan teknologi itu sebagai "perubahan signifikan" dalam memperkuat kekuatan nuklir negaranya.

Korea Utara diduga tengah mengembangkan ICBM Hwasong-20, yang pertama kali dipamerkan bulan ini. Sejumlah analis meyakini bahwa kemajuan ini sebagian besar didorong oleh bantuan teknologi dari Rusia.

Korea Utara Konfirmasi Dukungan Militer untuk Rusia

00:37

This browser does not support the video element.

Menurut Kim Sang-woo, mantan politisi dari partai berhaluan kiri Kongres untuk Politik Baru yang juga menjabat sebagai anggota dewan di Kim Dae-jung Peace Foundation, latihan Iron Mace dan Freedom Edge memiliki signifikansi strategis dalam memperkuat aliansi Seoul-Washington.

"Mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol pergi ke Camp David pada Agustus 2023, bertemu Presiden AS Joe Biden dan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida. Di sana mereka sepakat membentuk kelompok konsultatif nuklir. Ini adalah jaminan dari AS untuk memperluas payung nuklirnya, khususnya saat Korea Utara menjadi semakin agresif dan kapabilitasnya meningkat," jelasnya kepada DW.

Kim Sang-woo menambahkan bahwa perjanjian Camp David juga dimaksudkan untuk meyakinkan Korea Selatan agar tidak perlu mengembangkan senjata nuklir sendiri, karena perlindungan AS sudah dijamin.

"Kesepakatan itu adalah penyeimbang terhadap Korea Utara dan pesan bahwa AS akan melindungi Korea Selatan," tegasnya.

Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Hubungan AS-Korsel di bawah Trump jadi tantangan baru?

Kim Sang-woo juga menyoroti bahwa pemerintahan baru Korea Selatan di bawah Presiden Lee Jae-myung telah bekerja keras memastikan jaminan perlindungan yang sama tetap berlaku di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump di AS.

Namun, hubungan kedua negara belakangan diwarnai ketegangan akibat sengketa perdagangan dan pengusiran pekerja Korea Selatan dari AS, yang telah membayangi kerja sama pertahanan kedua negara.

Meski begitu, Kim Sang-woo tetap optimistis hubungan kedua negara bisa dipulihkan ketika Lee dan Trump bertemu dalam KTT APEC di Gyeongju, Korea Selatan, pada akhir Oktober 2025 mendatang.

Ia juga berharap Trump dapat memperbaiki hubungan dengan Presiden Cina Xi Jinping, melihat pentingnya peran Beijing dalam meredakan ketegangan regional.

"Bagi saya, yang paling penting adalah semua pihak mengambil langkah untuk menurunkan eskalasi ketegangan di kawasan. KTT ini adalah peluang besar untuk melakukan itu," jelasnya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Adelia Dinda Sani

Editor: Prihardani Purba

 

Julian Ryall Jurnalis di Tokyo, dengan fokus pada isu-isu politik, ekonomi, dan sosial di Jepang dan Korea.
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait