Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang menggelar latihan militer gabungan guna memperkuat pencegahan terhadap ancaman nuklir Korea Utara. Adik perempuan Kim Jong Un mengecam latihan gabungan tersebut.
Latihan Iron Mace ini merupakan yang ketiga kalinya digelar, setelah sebelumnya dilakukan pada Agustus 2024 dan April 2025 (Foto: 26 April 2017)
Foto: Jung Yeon-Je/AFP
Iklan
Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) memulai latihan militer bertajuk Iron Mace pada Senin (15/9). Latihan taktis ini digelar di Camp Humphreys, pangkalan utama pasukan AS di Korea Selatan, dengan fokus meningkatkan respons gabungan pasukan sekutu dan memperkuat pencegahan terhadap ancaman nuklir serta rudal Korea Utara.
"Saya tidak melihat pelaksanaan Iron Mace kali ini sebagai respons langsung terhadap peristiwa tertentu, melainkan sebagai latihan yang sudah lama tertunda untuk mempelajari cara-cara efektif mencegah dan menghadapi kemungkinan ancaman nuklir dari Korea Utara," ujar Chun In-bum, seorang letnan jenderal purnawirawan dari Angkatan Darat Korea Selatan, yang kini menjabat sebagai peneliti senior di National Institute for Deterrence Studies.
“Meski latihan ini tidak bisa dikaitkan dengan satu peristiwa tertentu di Korea Utara, jelas bahwa kemampuan militer Pyongyang terus berkembang. Karena itu, aliansi harus siap menghadapi kemungkinan skenario nuklir di Semenanjung Korea untuk mencegah hal tersebut,” katanya kepada DW.
Iklan
Korea Utara kecam latihan gabungan AS-Korea Selatan
Iron Mace kali ini merupakan gelaran ketiga, setelah latihan pada Agustus 2024 dan April tahun ini. Setiap putaran latihan menunjukkan peningkatan dalam skala dan kompleksitas, meski militer Korea Selatan maupun AS merahasiakan detail operasional latihan ini.
Latihan ini juga bertepatan dengan Freedom Edge 25, latihan di udara dan laut yang melibatkan unit militer dari AS, Korea Selatan, dan Jepang di perairan timur serta selatan Korea.
Sejumlah kegiatan dilakukan dalam latihan tersebut, antara lain latihan pertahanan udara, evakuasi medis, pencegahan aktivitas maritim ilegal, serta peningkatan kemampuan pertahanan rudal balistik.
Rangkaian latihan ini pun memicu reaksi keras dari pemerintah Korea Utara.
Salah satunya dari Kim Yo Jong, adik perempuan sekaligus salah satu pejabat paling berpengaruh di lingkaran kekuasaan Kim Jong Un.
"Pamer kekuatan yang sembrono oleh AS, Jepang, dan Korea Selatan di lokasi yang keliru... sudah pasti akan membawa konsekuensi yang merugikan," kutip Korean Central News Agency (KCNA), kantor berita pemerintah Korea Utara.
Kim Yo Jong juga menyebut bahwa Pyongyang memandang latihan ini sebagai bentuk "unjuk kekuatan" dan kelanjutan dari sikap konfrontatif yang telah lama dianut pemerintahan Korsel.
Sejarah Perang Korea 1950-1953
Ambisi Kim Il Sung menguasai Semenanjung Korea tidak hanya merenggut jutaan nyawa, tetapi juga berakhir pahit untuk aliansi komunis di utara. Perang Korea gagal mengubah garis demarkasi yang masih bertahan hingga kini.
Foto: Public Domain
Korea Terbagi Dua
Selepas Perang Dunia II, Korea yang dijajah Jepang mendapat nasib serupa layaknya Jerman yang dibagi dua antara sekutu Barat dan Uni Soviet. Ketika AS membentuk pemerintahan boneka di bawah Presiden Syngman Rhee untuk kawasan di selatan garis lintang 38°, Uni Soviet membangun rezim komunis di bawah kepemimpinan Kim Il Sung.
Foto: Getty Images/AFP
Siasat Kim Lahirkan Perang Saudara
Awal 1949 Kim Il Sung berusaha meyakinkan Josef Stalin untuk memulai invasi ke selatan. Namun permintaan itu ditolak Stalin karena mengkhawatirkan intervensi AS. Terlebih serdadu Korut saat itu belum terlatih dan tidak mempunyai perlengkapan perang yang memadai. Atas desakan Kim, Soviet akhirnya membantu pelatihan militer Korut. Pada 1950 pasukan Korut sudah lebih mumpuni ketimbang serdadu Korsel
Foto: Bundesarchiv, Bild 183-R80329 / CC-BY-SA
Peluang Emas di Awal 1950
Keraguan Stalin bukan tanpa alasan. Sebelum 1950 Cina masih tenggelam dalam perang saudara antara kaum nasionalis dan komunis, pasukan AS masih bercokol di Korsel dan ilmuwan Soviet belum berhasil mengembangkan bom nuklir layaknya Amerika Serikat. Ketika situasi tersebut mulai berubah, Stalin memberikan lampu hijau bagi invasi pada April 1950.
Foto: picture-alliance/dpa/Bildfunk
Kekuatan Militer Korut
Berkat Soviet, pada pertengahan 1950-an Korut memiliki 200.000 serdadu yang terbagi dalam 10 divisi infanteri, satu divisi kendaraan lapis baja berkekuatan 280 tank dan satu divisi angkatan udara dengan 210 pesawat tempur. Militer Korut juga dipersenjatai 200 senjata artileri, 110 pesawat pembom dan satu divisi pasukan cadangan berkekuatan 30.000 serdadu dengan 114 pesawat tempur dan 105 tank
Foto: AFP/Getty Images
Kekuatan Militer Korsel
Sebaliknya kekuatan militer Korea selatan masih berada jauh di bawah saudaranya di utara. Secara umum Korsel hanya berkekuatan 98.000 pasukan, di antaranya cuma 65.000 yang memiliki kemampuan tempur, dan belasan pesawat, tapi tanpa tank tempur atau artileri berat. Saat itu pasukan AS banyak terkonsentrasi di Jepang dan hanya menempatkan 300 serdadu di Korsel.
Foto: picture-alliance/dpa
Badai Komunis Mengamuk di Selatan
Pada 25 Juni 1950 sekitar 75.000 pasukan Korut menyebrang garis lintang 38° untuk menginvasi Korea Selatan. Hanya dalam tiga hari Korut yang meniru strategi Blitzkrieg ala NAZI Jerman merebut ibu kota Seoul dengan mengandalkan divisi lapis baja dan serangan udara. Pada hari kelima kekuatan Korsel menyusut menjadi hanya 22.000 pasukan
Foto: picture-alliance/dpa
Arus Balik dari Busan
Kendati AS mulai memindahkan pasukan dari Jepang ke Korsel, hingga awal September 1950 pasukan Korut berhasil menguasai 90% wilayah selatan, kecuali secuil garis pertahanan di sekitar kota Busan. Dari kota inilah Amerika Serikat dan pasukan PBB melancarkan serangan balik yang kelak mengubur impian Kim Il Sung menguasai semenanjung Korea.
Foto: Public Domain
September Berdarah
Di bawah komando Jendral Douglas MacArthur, pasukan gabungan antara AS, PBB dan Korea Selatan yang kini berjumlah 180.000 serdadu mulai mematahkan kepungan Korut terhadap Busan. Berbeda dengan pasukan Sekutu, Korut yang tidak diperkuat bantuan laut dan udara mulai kewalahan dan dipaksa mundur semakin ke utara.
Foto: Public Domain
Nasib Buruk Berputar ke Utara
Pada 25 September pasukan sekutu berhasil merebut kembali Seoul. Serangan udara dan artileri militer AS berhasil menghancurkan sebagian besar tank dan senjata artileri milik Korut. Atas saran Cina, Kim menarik mundur pasukannya dari selatan. Jelang Oktober hanya sekitar 30.000 pasukan Korut yang berhasil kembali ke utara.
Foto: Public Domain
Intervensi Mao
Ketika pasukan AS melewati batas demarkasi pada 1 Oktober, Stalin dan Kim mendesak Mao Zedong dan Zhou Enlai agar mengirimkan enam divisi invanteri Cina ke Korea. Soviet sendiri sudah menegaskan tidak akan menurunkan langsung pasukannya. Permintaan tersebut baru dijawab pada 25 Oktober, setelah serangkaian perjalanan diplomasi antara Beijing dan Moskow.
Foto: gemeinfrei
Mundur Teratur
Hingga November 1950 pasukan AS tidak hanya merebut Pyongyang, tetapi juga berhasil merangsek hingga ke dekat perbatasan Cina. Kemenangan AS terhenti setelah pasukan Cina yang berkekuatan 200.000 tentara mulai melakukan serangan balik. Intervensi tersebut menyebabkan kekalahan besar pada pasukan AS yang terpaksa mengundurkan diri dari Korea Utara pada pertengahan Desember.
Foto: Public Domain
Berakhir dengan Kebuntuan
Hingga Juli 1951 pasukan Cina dan AS masih bertempur sengit di sekitar perbatasan garis lintang 38°. Baru pada pertengahan tahun kedua pihak mulai mengendurkan serangan yang menyebabkan situasi buntu. Setelah kematian Josef Stalin, sikap Uni Soviet mulai melunak dan pada 27. Juli 1953 kedua pihak menyepakati gencatan senjata yang masih berlaku hingga kini.
Foto: picture-alliance/dpa
Hilang Nyawa Terbuang
Pada akhir Perang Korea, sebanyak 33.000 pasukan AS dilaporkan tewas dalam pertempuran. Sementara Korsel melaporkan sebanyak 373.000 warga sipil dan 137.000 pasukan tewas. Sebaliknya Cina kehilangan 400.000 serdadu dan Korut 215.000 pasukan, serta 600.000 warga sipil. Secara umum angka kematian yang diderita kedua pihak mencapai 1,2 juta jiwa.
Foto: Public Domain
13 foto1 | 13
Korea Utara ikut pamerkan kekuatan nuklirnya
Media pemerintah Korea Utara secara bersamaan juga menyoroti laporan bahwa Kim Jong Un menghadiri uji coba darat sebuah mesin baru berbahan bakar padat dan berdaya dorong tinggi. Mesin tersebut digunakan untuk generasi terbaru rudal balistik antarbenua (ICBM) canggih yang menggunakan bahan serat karbon komposit.
Kim Jong Un menyebut terobosan teknologi itu sebagai "perubahan signifikan" dalam memperkuat kekuatan nuklir negaranya.
Korea Utara diduga tengah mengembangkan ICBM Hwasong-20, yang pertama kali dipamerkan bulan ini. Sejumlah analis meyakini bahwa kemajuan ini sebagian besar didorong oleh bantuan teknologi dari Rusia.
Korea Utara Konfirmasi Dukungan Militer untuk Rusia
00:37
This browser does not support the video element.
Menurut Kim Sang-woo, mantan politisi dari partai berhaluan kiri Kongres untuk Politik Baru yang juga menjabat sebagai anggota dewan di Kim Dae-jung Peace Foundation, latihan Iron Mace dan Freedom Edge memiliki signifikansi strategis dalam memperkuat aliansi Seoul-Washington.
"Mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol pergi ke Camp David pada Agustus 2023, bertemu Presiden AS Joe Biden dan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida. Di sana mereka sepakat membentuk kelompok konsultatif nuklir. Ini adalah jaminan dari AS untuk memperluas payung nuklirnya, khususnya saat Korea Utara menjadi semakin agresif dan kapabilitasnya meningkat," jelasnya kepada DW.
Kim Sang-woo menambahkan bahwa perjanjian Camp David juga dimaksudkan untuk meyakinkan Korea Selatan agar tidak perlu mengembangkan senjata nuklir sendiri, karena perlindungan AS sudah dijamin.
"Kesepakatan itu adalah penyeimbang terhadap Korea Utara dan pesan bahwa AS akan melindungi Korea Selatan," tegasnya.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Hubungan AS-Korsel di bawah Trump jadi tantangan baru?
Kim Sang-woo juga menyoroti bahwa pemerintahan baru Korea Selatan di bawah Presiden Lee Jae-myung telah bekerja keras memastikan jaminan perlindungan yang sama tetap berlaku di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump di AS.
Meski begitu, Kim Sang-woo tetap optimistis hubungan kedua negara bisa dipulihkan ketika Lee dan Trump bertemu dalam KTT APEC di Gyeongju, Korea Selatan, pada akhir Oktober 2025 mendatang.
Ia juga berharap Trump dapat memperbaiki hubungan dengan Presiden Cina Xi Jinping, melihat pentingnya peran Beijing dalam meredakan ketegangan regional.
"Bagi saya, yang paling penting adalah semua pihak mengambil langkah untuk menurunkan eskalasi ketegangan di kawasan. KTT ini adalah peluang besar untuk melakukan itu," jelasnya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris