1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Hampir Separuh Warga Jerman Ingin Petasan Dilarang

31 Desember 2025

Di Jerman, kembang api, petasan, dan mercon hanya boleh dijual selama tiga hari jelang Malam Tahun Baru. Ada yang rela antre untuk membelinya, tapi banyak juga yang khawatir.

Petasan dan kembang api di malam pergantian tahun di Dresden, Jerman
Petasan dan kembang api memang semarak dan cantik, tetapi juga bisa berbahaya.Foto: Robert Michael/dpa/picture alliance

Pada dini hari Senin (29/12) di daerah Thüringen, Jerman, seorang warga menelepon polisi karena melihat "gerombolan pencuri" mencoba masuk ke sebuah supermarket.

Ketika tiba di lokasi, polisi tidak mendapati pelaku kriminal, melainkan sekelompok pemuda ‘bersenjata' teh panas dan selimut hangat. Mereka menjalani tradisi menginap menunggu toko buka demi menjadi yang pertama dalam antrean membeli petasan.

Tanggal 29 Desember di Jerman adalah awal dari rentang waktu tiga hari saat kembang api dapat dijual kepada orang dewasa di atas usia 18 tahun, untuk merayakan Malam Tahun Baru. Di tengah gelap dan cuaca dingin, banyak orang rela antre dan menunggu setiap tahun untuk membeli produk-produk dengan nama seperti Giftzwerg (kurcaci racun), Hysteria, Hurricane Force ini.

Tidak semua orang suka menyalakan petasan

Keluarga-keluarga di Jerman punya tradisi panjang merayakan Malam Tahun Baru dengan membeli dan menyalakan kembang api, petasan, maupun mercon. Bagi produsen, bisnis ini menguntungkan dan terus berkembang.

Asosiasi Industri Kembang Api Jerman memperkirakan bahwa pada tahun 2024 omzetnya mencapai €197 juta (sekitar Rp3,8 triliun). Ini adalah rekor tertinggi, naik dari €180 juta pada tahun sebelumnya. Asosiasi produsen memperkirakan penjualan di tahun 2025 akan meningkat 10% hingga 15%. 

Sebagian orang di Jerman menghabiskan ratusan euro membeli kembang api dan petasan untuk merayakan Tahun BaruFoto: Frank Hammerschmidt/dpa/picture alliance

Namun hanya 22% orang yang tinggal di Jerman ingin menyambut Tahun Baru dengan membeli dan menyalakan sendiri kembang api mereka. Ini adalah temuan dari survei representatif terhadap 2.500 orang berusia di atas 18 tahun oleh lembaga penelitian opini Civey. Survei ini komisikan oleh Asosiasi Badan Inspeksi Teknis Jerman (TÜV).

"Hanya sebagian kecil orang yang menyalakan petasan, roket, atau kembang api lainnya sendiri pada Malam Tahun Baru," kata Joachim Bühler, CEO asosiasi TÜV. Tradisi ini paling populer di kalangan anak muda dan keluarga dengan anak-anak.

Kian banyak cedera serius karena petasan

Di balik warna-warni yang menarik, mercon dan kembang api dapat membawa dampak negative yang serius dan menimbulkan polusi.

Badan Lingkungan Federal mencatat bahwa pembakaran petasan dan kembang api untuk menyambut tahun baru menghasilkan lebih dari 2.000 metrik ton partikel halus, yang merupakan risiko bagi kesehatan. Jumlah ini setara dengan sekitar 1% dari seluruh polusi partikulat tahunan di Jerman.

Namun, kekhawatiran yang paling serius adalah meningkatnya cedera dan kerusakan properti terutama di kota-kota besar. Petasan dapat menyebabkan cedera serius seperti trauma akustik, luka bakar, dan kehilangan bagian tubuh, seperti jari atau seluruh tangan.

Kebanyakan ceder aitu akibat kembang api yang dibeli secara ilegal di pasar gelap di Polandia, Republik Ceko, dan Belanda, dan memiliki daya ledak yang jauh lebih besar. Menurut polisi, kembang api tersebut sebanding dengan bom dan granat.

Pada tahun 2024, dua pemuda meninggal di Jerman setelah menyulut petasan yang berisi lebih dari 600 gram bubuk mesiu. Seorang dokter menggambarkan salah satu pria itu "tercabik-cabik".

Banyak organisasi berharap pelarangan petasan

Kembang api dan petasan mercon juga dapat disalahgunakan untuk menyerang polisi, pemadam kebakaran, dan paramedis. Agresi dan kekerasan cenderung terjadi pada Malam Tahun Baru, terutama di kota-kota besar. Beberapa daerah bahkan nyaris seperti di zona perang.

Itu sebabnya, dinas keamanan menyerukan pelarangan menyeluruh terhadap semua jenis kembang api. Petisi untuk pelarangan ini dikeluarkan serikat pekerja polisi (GdP) di Berlin dan telah ditandatangani hampir 2,5 juta orang. Ketua cabang GdP di Berlin, Stephan Weh, percaya bahwa para politisi harus bertindak. 

"Yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir hanyalah pemberlakuan larangan lokal terhadap petasan, senjata api, dan pisau, di zona-zona tertentu," katanya. "Kami tidak mau menunggu sampai salah satu kolega kehilangan nyawa dalam kegilaan petasan yang liar dan tidak masuk akal ini."

Lebih dari 50 organisasi masyarakat sipil juga menyerukan para individu untuk menyulut mercon, dan kembang api pribadi pada Malam Tahun Baru, dengan menggunakan tagar #böllerciao ("Selamat tinggal, petasan"). Asosiasi medis, Aksi Lingkungan Jerman, dan organisasi kesejahteraan hewan termasuk yang mendukung inisiatif ini. Sekitar 750.000 orang telah menandatangani petisi tersebut.

Tahun Baru Harus Berkembang Api dan Berpetasan?

01:59

This browser does not support the video element.

Zona bebas mercon makin banyak

Meningkatnya agresi pada Malam Tahun Baru juga memengaruhi persepsi masyarakat tentang keamanan. Survei TÜV menemukan bahwa hampir satu dari tiga orang, khususnya perempuan, tidak merasa aman di tempat umum jika ada kembang api di sekitar. Sejumlah 32% dari responden dan 45% perempuan yang disurvei mengatakan tidak merasa aman di luar rumah pada Malam Tahun Baru karena mercon. 

Hampir setengah responden mendukung pelarangan total, kecuali untuk jenis yang terkecil seperti kembang api percik. Dan 22% ingin semua jenis, baik besar maupun kecil, dilarang. Sementara 33% responden menolak segala bentuk larangan, dengan alasan tradisi dan kebebasan pribadi.

Tampaknya, pelarangan belum akan terjadi dalam waktu dekat. Namun semakin banyak zona bebas petasan telah ditetapkan di Berlin, Hamburg, Köln, München, dan kota-kota besar lainnya, terutama di pusat kota. Menyalakan kembang api, petasan, dan petasan mercon juga dilarang di sekitar rumah sakit, gereja, panti asuhan, panti jompo, dan bandara di seluruh Jerman.

Artikel ini diadaptasi dari bahasa Inggris dan pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Arti Ekawati

Editor: 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait