1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KesehatanIndonesia

Cek Fakta: Arti “Hanta” pada Hantavirus Omong Kosong?

19 Juni 2026

Muncul klaim “hanta” dalam hantavirus berarti omong kosong dalam bahasa Ibrani. Penelusuran DW menunjukkan klaim itu salah. Nama hantavirus berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan.

Tangkapan layar konten TikTok viral yang mengeklaim "hanta" berasal dari bahasa Ibrani yang berarti kebohongan.
Tangkapan layar konten TikTok viral yang mengeklaim "hanta" berasal dari bahasa Ibrani yang berarti kebohonganFoto: TikTok

Dalam sebuah video di TikTok, Dharma Pongrekun mengeklaim kata "hanta” dalam hantavirus berasal dari bahasa Ibrani. Ia menyebut kata itu berarti omong kosong, pembohong, dan penipu.

Video tersebut telah ditonton lebih dari 1 juta kali dan memicu ribuan komentar, banyak di antaranya percaya pada klaim tersebut. Cek Fakta DW melakukan verifikasi terkait hal ini.

Klaim: "Hanta itu dari bahasa Ibrani artinya omong kosong, pembohong, dan penipu."

Cek Fakta DW: Salah.

Berawal dari kesalahan 'chatbot' AI

Penelusuran DW menemukan klaim ini bermula dari percakapan di X pada 10 Mei 2026. Saat itu, seorang pengguna menanyakan arti kata "hanta” dalam bahasa Ibrani kepada chatbot AI milik platform X, Grok.

Grok kemudian menjawab bahwa "hanta” berarti penipuan, omong kosong, kebohongan, atau sesuatu yang palsu. Jawaban itu lalu beredar dan dipakai sebagian pengguna sebagai bukti bahwa kata "hanta” punya makna tersembunyi.

Namun, jawaban Grok itu salah.

Sejumlah pengguna X kemudian membalas dan menunjukkan bahwa Grok mencampuradukkan "hanta” dengan kata slang Ibrani lain, yaitu "kharta” atau "chartah”.

Setelah dikoreksi, Grok merevisi jawabannya dan mengakui bahwa definisi sebelumnya keliru. Kata yang maknanya lebih dekat dengan omong kosong adalah "kharta” atau "chartah”, bukan "hanta”.

Tertukar: "hanta” dan "kharta”

Kata yang banyak disebut sebagai "hanta” adalah "חנטה”. Dalam kamus Ibrani Morfix, kata ini tidak berarti penipuan, kebohongan, atau omong kosong. Artinya berkaitan dengan pematangan buah. Kata terkaitnya juga bisa berarti membalsem, atau dalam konteks pohon, berbuah atau matang.

Sementara itu, kata slang yang Grok akui tertukar sebenarnya adalah "חרטא”, yang biasa ditulis sebagai "kharta”, "harta”, atau "chartah”.

Morfix menandai kata "חרטא” sebagai slang dengan arti rubbish atau nonsense. Urban Dictionary juga memuat entri "Kharta Barta” sejak 2005 dan menjelaskannya sebagai slang Ibrani untuk "bullsh*t”. Dalam entri itu, "kharta” juga disebut bisa digunakan sendiri dengan makna yang sama.

Nama hantavirus berasal dari sungai di Korea

Nama hantavirus sendiri tidak berasal dari bahasa Ibrani.

Artikel ilmiah "A Brief History of Bunyaviral Family Hantaviridae” menjelaskan bahwa virus yang semula disebut "KHF strain 76-118” kemudian dinamai "Hantaan virus, strain 76-118” karena berasal dari area Sungai Hantan.

Sungai Hantan di Korea Selatan, yang menjadi asal penamaan Hantaan virus, cikal bakal nama hantavirusFoto: Yonhap News/IMAGO

The Korea Times juga mencatat hantavirus pertama kali diidentifikasi di area Sungai Hantan. Penyakit yang kemudian dikaitkan dengan virus ini pernah menjangkiti lebih dari 3.200 tentara PBB pada masa Perang Korea. Virolog Korea Selatan Lee Ho-wang kemudian mengidentifikasi virus tersebut dari hewan pengerat yang ditangkap di dekat Sungai Hantan.

Artinya, "hanta” dalam hantavirus merujuk pada nama geografis, bukan arti kata dalam bahasa Ibrani.

Tidak seperti Covid-19

Dalam laman resminya, Kementerian Kesehatan RI menjelaskan penyakit virus Hanta adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh Orthohantavirus dan ditularkan melalui tikus dan celurut. Penularan dapat terjadi lewat urine, feses, saliva, atau debu terkontaminasi.

Kemenkes juga menyebut hantavirus sudah terdeteksi di Indonesia dan perlu diwaspadai. Isu ini kembali disorot setelah muncul klaster Hanta Pulmonary Syndrome di kapal pesiar MV Hondius, yang menurut WHO terkait Andes hantavirus.

MV Hondius, kapal pesiar ekspedisi yang dikaitkan dengan klaster kasus Hanta Pulmonary SyndromeFoto: Piroschka van de Wouw/REUTERS

Namun, pola penularannya tidak seperti Covid-19.

Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono, menegaskan hantavirus bukan virus baru. Menurutnya, sebagian besar penularan hantavirus terjadi dari hewan pengerat ke manusia, bukan mudah menyebar antarmanusia.

"Selama belum ada penularan yang kita yakinkan dari manusia ke manusia, selama itu kita tidak usah terlalu khawatir akan terjadi pandemi seperti COVID,” kata Pandu kepada DW Indonesia.

Namun, Pandu mengingatkan informasi keliru soal penyakit tetap bisa merugikan. Jika suatu penyakit benar-benar menjadi ancaman, narasi bahwa penyakit itu rekayasa atau kebohongan bisa membuat masyarakat terlambat merespons.

AI bukan kamus

Fact-Check Specialist Mafindo, Aribowo Sasmito, menilai kasus ini menunjukkan risiko ketika jawaban AI langsung dipakai sebagai bukti, tanpa dicek lagi ke sumber yang lebih kuat.

Grok sempat memberi jawaban keliru soal arti kata “hanta”Foto: Matthias Balk/dpa/picture alliance

Menurut Aribowo, chatbot AI bisa memberi jawaban keliru jika mengambil rujukan dari sumber yang salah atau belum terverifikasi. Karena itu, jawaban AI tidak bisa menggantikan pengecekan ke kamus, ahli bahasa, sumber ilmiah, atau lembaga pemeriksa fakta.

“AI itu juga ada periode belajarnya dan diajari oleh manusia juga. Mungkin awal-awal karena isunya belum ada yang memberi klarifikasi, mereka akan mengambil dari sumber-sumber yang sebetulnya bukan mengklarifikasi, tapi malah tambah menjerumuskan,” ujar Ari.

Editor: Prihardani Purba

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait