Hantavirus: Kepulauan Kanaria Tolak Kapal Pesiar Bersandar
6 Mei 2026
Spanyol telah memberikan lampu hijau bagi kapal pesiar yang dilanda wabah hantavirus mematikan untuk bersandar di Pulau Tenerifa. Namun, para pejabat di Kepulauan Kanaria keberatan dengan langkah tersebut.
Sementara itu dua pasien yang sedang diterbangkan menuju Amsterdam, Belanda membutuhkan pesawat ambulans udara pengganti, setelah pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Gran Canaria akibat mengalami gangguan teknis, demikian disampaikan oleh para pejabat Spanyol yang berbicara dengan syarat anonimitas.
Kantor berita AFP mengutip sumber-sumber di Kementerian Kesehatan Spanyol yang menyatakan bahwa dokter di dalam pesawat tersebut "melaporkan adanya gangguan pada sistem pendukung kelistrikan" bagi salah satu pasien. "Oleh karena itu, pasien tersebut tetap berada di dalam pesawat dengan mengandalkan pasokan listrik dari bandara sambil menunggu kedatangan pesawat baru untuk melanjutkan perjalanan mereka."
Sementara itu, kantor berita Spanyol, EFE, mengutip sumber-sumber di pemerintahan Kepulauan Kanaria yang juga melaporkan adanya masalah kelistrikan, khususnya terkait dengan isolation bubble (ruang isolasi khusus) bagi pasien tersebut.
Sumber tersebut menyebutkan bahwa masalah tambahan inilah yang menjadi alasan mengapa Maroko menolak memberikan izin akses bagi pesawat tersebut untuk melakukan pemberhentian pengisian bahan bakar yang telah dijadwalkan di Marrakesh.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) turut merngumumkan, "Tiga orang yang diduga terjangkit hantavirus baru saja dievakuasi dari kapal MV Hondius dan sedang dalam perjalanan untuk mendapatkan perawatan medis di Belanda,” kata Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah postingan di X.
Kementerian Luar Negeri Belanda menyatakan bahwa tiga orang telah dievakuasi adalah seorang warga negara Belanda, seorang warga negara Jerman, dan seorang warga negara Inggris, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
WN Belanda dan Inggris yang dievakuasi adalah awak kapal, keduanya menunjukkan gejala akut, jelas operator kapar MV Hondius, Oceanwide Expeditions. Orang ketiga dalam evakuasi tersebut tidak memiliki gejala akut namun sempat berkontak erat dengan penumpang asal Jerman yang telah meninggal dunia pada 2 Mei lalu.
Selain itu seorang penumpang asal Inggris yang jatuh sakit pada 24 April dengan gejala demam dan pneumonia masih berada di unit perawatan intensif di Afrika Selatan.
Pejabat Swiss, di saat bersamaan turut mengonfirmasi pada hari Rabu(6/5) bahwa seorang penumpang laki-laki yang meninggalkan kapal pesiar lebih awal saat kapal tengah singgah di St. Helena, tengah menjalani perawatan di Zurich karena terinfeksi hantavirus. Namun pasien tersebut dinyatakan tidak berbahaya bagi publik.
Tiga korban tewas
Pasangan asal Belanda yang sebelumnya telah melakukan perjalanan berkeliling Amerika Selatan sebelum menaiki kapal Hondius di Argentina pada 1 April 2026 menjadi korban pertama yang dikonfirmasi meninggal.
Sang suami yang menunjukkan gejala infeksi virus pada tanggal 4 April, meninggal sehari setelahnya. Jenazahnya diturunkan dari kapal pada 24 April di St. Helena. Sang istri yang merasa tidak sehat, ikut turun dari kapal di St. Helena. Namun, dalam penerbangan ke Johannesburg pada 25 April, kondisinya memburuk dan sehari kemudian meninggal dunia di rumah sakit. Korban dikonfirmasi telah terjangkit hantavirus pada 4 Mei.
Korban tewas lainnya adalah seorang penumpang asal Jerman yang mengalami demam tinggi pada 28 April yang kemudian berkembang menjadi pneumonia dan meninggal dunia pada tanggal 2 Mei. Jenazahnya masih berada di atas kapal.
Apa yang dapat kita ketahui tentang Hantavirus?
Hasil uji laboratorium di Afrika Selatan dan Swiss memastikan bahwa kasus-kasus yang terjadi di kapal tersebut disebabkan oleh varian hantavirus Andes yang telah menyebar di Amerika Selatan, termasuk Argentina, tempat perjalanan kapal pesiar itu dimulai.
Sebuah laporan yang dikutip Reuters menyebutkan bahwa tes yang dilakukan oleh Institut Nasional untuk Penyakit Menular Afrika Selatan menunjukkan bahwa varian Andes tersebutlah yang menyebabakan infeksi berujung kematian pada perempuan WN Belanda yang meninggal di Johannesburg serta seorang WN Inggris yang masih dalam perawatan intensif di rumah sakit di Johannesburg. "Ini adalah satu-satunya varian yang diketahui menyebabkan penularan antarmanusia, tetapi penularan semacam itu sangat jarang terjadi dan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hal itu hanya terjadi akibat kontak yang sangat dekat,”demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Penyakit langka ini biasanya menular dari hewan pengerat yang terinfeksi, umumnya melalui air seni, kotoran, dan air liur. Belum ada vaksin atau obat khusus untuk hantavirus. Tahun lalu, istri aktor peraih Oscar Gene Hackman meninggal dunia akibat hantavirus.
Namun, para pejabat termasuk Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa risiko kesehatan masyarakat secara keseluruhan dari wabah saat ini rendah, karena diperlukan kontak erat untuk penularan virus tersebut.
Bagaimana dengan situasi di atas kapal?
Seorang penumpang, Kasem Hato, mengatakan kepada Reuters bahwa kapten kapal terus memberikan informasi terbaru kepada para penumpang. Penumpang yang berada di atas kapal pun disarankan untuk membatasi kontak dekat dengan penumpang lain serta membersihkan tangan secara teratur.
"Orang-orang menanggapi situasi ini dengan serius namun tanpa panik, berusaha menjaga jarak sosial dan memakai masker demi keamanan,” jelasnya.
Terdapat lebih dari 140 orang di MV Hondius, termasuk diantaranya 80 penumpang dari 15 negara. Para penumpang tersebut berasal dari Inggris, Amerika Serikat, Spanyol, dan Belanda. Sebagian besar awak kapal berasal dari Filipina.
"Hari-hari kami hampir seperti biasa, hanya menunggu pihak berwenang menemukan solusi, tetapi semangat di kapal tetap tinggi dan kami menyibukkan diri dengan membaca, menonton film, menikmati minuman hangat, dan hal-hal semacam itu,” kata Hato lebih lanjut.
Kapan kapal akan berlabuh?
Pelayaran Kapal tersebut dimulai dari Ushuaia di Argentina pada 1 April lalu. Setelah singgah di Tristan da Cunha dan pulau-pulau terdekat lainnya, kapal tersebut berlabuh di St. Helena pada 22–24 April, lalu di Pulau Ascension pada 27 April.
Cape Verde semula direncanakan sebagai tujuan akhir kapal sejak Minggu namun negara kepulauan di lepas pantai Afrika Barat itu tidak mengizinkan para penumpang untuk turun ke darat karena adanya wabah tersebut.
WHO mengatakan rencananya kapal tersebut akan berlayar ke utara menuju Kepulauan Kanaria di Spanyol untuk menjalani desinfeksi, penilaian risiko, dan penyelidikan epidemiologi menyeluruh.
Kementerian Kesehatan Spanyol menyatakan kepada kantor berita AP Selasa(5/5) bahwa pihaknya akan menerima kapal MV Hondius di Kepulauan Kanaria atas permintaan WHO dan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC).
Namun Gubernur Kepulauan Kanaria, Fernando Clavijo, khawatir kedatangan kapal tersebut dapat membahayakan penduduk setempat dan menuntut diadakannya pertemuan mendesak dengan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez. "Baik masyarakat maupun pemerintah Kepulauan Canary tidak bisa merasa tenang karena jelas bahwa ancaman terhadap penduduk itu nyata,” kata Clavijo kepada stasiun radio Onda Cero.
Meskipun ada penolakan dari para pemimpin setempat, pemerintah Spanyol menegaskan bahwa pada akhirnya keputusan ada di tangan pemerintah pusat.
Editor: Ayu Purwaningsih