190209 Clinton China
19 Februari 2009
Hillary Clinton bukan nama yang asing di Cina. Kebanyakan rakyat Cina mengenalnya sebagai mantan First Lady Amerika. Perhatian lebih besar dicurahkan pada Clinton saat mencalonkan diri sebagai kandidat partai Demokrat dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Media Cina banyak memuat laporan tentang apa yang disebut Clinton smart power, kekuatan yang digunakan secara cerdas.
Kini, Clinton memilih Asia dalam kunjungan pertamanya sebagai Menlu AS. Selama ini merupakan kelaziman, bahwa Menlu AS pertama-tama mengunjungi mitranya. Professor Wang Feiling dari Sam Nunn Sekolah Hubungan Luar negeri di Institut Teknologi Georgia percaya bahwa pemerintah Obama ingin memberi isyarat tertentu dengan lawatan Clinton ke Asia.
Wang mengatakan, "Itu menunjukkan, pemerintahan Obama menilai penting hubungan dengan negara-negara Asia. Bisa juga diinterpretasikan bahwa Obama ingin membawa sedikit keseimbangan dalam politik luar negeri Amerika. Tidak disangsikan, Asia memainkan peran penting dalam politik dunia.“
Professer Li Cheng, peneliti senior di Institut Brookings yang juga pakar hubungan Amerika-Cina, melihat adanya kemungkinan perubahan dalam pertimbangan teman dan musuh, dalam politik luar negeri AS.
Li mengatakan, "Cina adalah mitra penting bagi AS. Sebelum lawatan ke Asia, Clinton berpidato di depan Asia Society dan mengatakan, Cina bukanlah musuh Amerika. AS dan Cina merupakan motor ekonomi terbesar di dunia. Terkait krisis ekonomi, kedua negara menempatkan kerjasama di garis terdepan. Hanya dengan begitu keduanya mampu bertahan dan menghidupkan lagi perekonomian dunia. Potensi kerjasama di bidang militer juga besar. Hanya dalam satu hal Cina dan AS kelihatannya tidak sepakat, yaitu hak asasi, tepatnya soal Tibet.“
Banyak organisasi HAM berpandangan sama. Beberapa diantaranya, termasuk Amnesty International dan Wartawan Tanpa Batas Negara menyerukan kepada Clinton agar dalam kunjungan ke Cina membicarakan situasi hak asasi manusia dan kondisi di Tibet.
Liao Tianqi bekerja bagi Yayasan Penelitian Laogai di Washington dan sejak lama memperjuangkan penegakan HAM di Cina. Kunjungan Clinton ke negeri tirai bambu ditanggapi Liao dengan optimis.
Liao mengatakan, "Clinton akan mengangkat isu hak asasi dalam kunjungan ke Cina kali ini. Seperti yang dulu ia lakukan sebagai First Lady tahun 1995. Tambahan lagi, tahun ini diperingati 50 tahun perlawanan rakyat Tibet. Dan sebagai perempuan, Clinton seharusnya juga bicara tentang politik satu anak Cina. Kebijakan yang membuat banyak perempuan Cina menderita lahir dan batin. Kebijakan-kebijakan ini harus ditinjau ulang."
Daftar panjang harapan bagi Menlu baru AS. Apakah Clinton akan betul-betul membicarakannya dengan pemerintah Cina, masih harus ditunggu. Bagaimanapun juga dituntut kepekaan tingkat tinggi dalam melakukannya. Clinton kini harus menunjukkan, bagaimana ia menggunakan smart power di Cina. (rp)