Harga Emas Terus Meroket di Awal 2026, Apa Penyebabnya?
27 Januari 2026
Harga emas terus menembus rekor tertinggi baru. Pada Senin (26/1), logam mulia ini untuk pertama kalinya menembus angka US$5.000 (sekitar Rp84.9 juta) per troy ounce (31,1 gram). Hal ini menjadi tanda bahwa banyak investor beralih ke emas, yang umumnya dianggap sebagai safe haven atau aset aman, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Emas telah mengalami kenaikan luar biasa dalam 12 bulan terakhir, hampir dua kali lipat nilainya dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ini adalah reli terbesar emas sejak tahun 1970-an. Meskipun kenaikannya semakin cepat dalam setahun terakhir, tren peningkatan harga emas sebenarnya sudah terlihat sejak 2019, saat harganya masih sedikit di atas US$1.280 (sekitar Rp21,44 juta) per troy ounce.
Mengapa harga emas meningkat begitu cepat?
Emas dianggap sebagai investasi yang aman dan stabil di masa ketidakpastian sejak puluhan tahun lalu. Ketidakpastian inilah yang menjadi pendorong utama kenaikan harga emas saat ini.
Ancaman terbaru Presiden AS Donald Trump untuk menginvasi dan mencaplok Greenland, serta memberlakukan tarif terhadap pihak yang menentang niatnya, menimbulkan tekanan besar dalam hubungan AS – Uni Eropa. Ancaman ini muncul tak lama setelah intervensi AS di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Nicolas Maduro oleh pasukan khusus AS dan penggulingannya dari kekuasaan.
Saat emas naik pada 2025, kekhawatiran geopolitik terkait perang di Ukraina dan Gaza juga menjadi faktor penting. Selain itu, ada kekhawatiran ekonomi, seperti keraguan terhadap tarif perdagangan Trump, tingginya utang pemerintah AS, dan masa depan dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia.
Dan Coatsworth, kepala pasar di AJ Bell, mengatakan kepada DW bahwa kenaikan emas yang berkelanjutan menunjukkan bahwa “para investor enggan melepaskan selimut pengaman mereka, kalau-kalau Donald Trump bangun tidur dengan ide kontroversial lainnya.”
Analis Thomas Kulp dari DZ Bank di Frankfurt menulis bahwa “pencarian aset safe haven adalah pendorong harga terkuat di pasar emas,” dengan merujuk pada serangan AS ke Venezuela, penindasan demonstrasi di Iran, dan sengketa Greenland. Kulp melihat adanya “kemerosotan kondisi geopolitik global” yang mendorong investor ritel dan institusional untuk “meningkatkan porsi emas dalam portofolio mereka.”
DZ Bank memperkirakan tren kenaikan harga emas akan berlanjut hingga 2026.
Keraguan terhadap status dolar AS sebagai mata uang cadangan
Minggu lalu, emas mencatat kenaikan terbaiknya dalam hampir 20 tahun, sementara dolar AS mengalami minggu terburuk sejak Mei 2025. Hal ini menunjukkan hubungan erat antara harga emas dan nilai dolar.
Fawad Razaqzada, analis di broker Forex.com, menilai pergerakan emas baru-baru ini sebagai “perilaku safe haven yang sesuai teori.” Ia menambahkan, “Permintaan untuk perlindungan masih ada. Kepercayaan terhadap dolar dan obligasi tampak agak goyah.”
Pelemahan dolar membuat emas dan perak lebih murah bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan. Ketidakpastian terhadap dolar juga mendorong investor mencari emas sebagai alternatif.
Pada 2025, dolar AS mengalami penurunan tahunan paling tajam sejak 2017, melemah 9,5% terhadap banyak mata uang utama lainnya. Banyak analis memperkirakan tren ini akan berlanjut pada 2026, karena ketidakpastian ekonomi AS, diversifikasi investor menjauh dari aset AS, dan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.
Mata uang safe haven lain, yen Jepang, juga mulai melemah akibat kekhawatiran fiskal Jepang. Ada spekulasi bahwa otoritas Jepang bisa melakukan intervensi untuk menahan pelemahan yen, yang bisa menambah tekanan pada dolar AS dan mendorong harga emas lebih tinggi lagi.
Investor baru di pasar emas
Lonjakan harga emas saat ini juga terkait masuknya investor baru ke pasar. Banyak analis mencatat meningkatnya permintaan terhadap exchange-traded funds (ETF) berbasis emas, dengan semakin banyak investor dari berbagai latar belakang.
Menurut analis Deutsche Bank, “Masuknya kembali permintaan ETF secara kuat berarti ada dua sumber ‘pembeli agresif’ emas, bank sentral dan investor ETF.”
Emas telah lama dibeli oleh bank sentral di seluruh dunia, tetapi permintaan baru dari ETF membantu mendorong reli saat ini. World Gold Council melaporkan bahwa pada akhir Desember 2025, aset kelolaan ETF emas global melonjak dua kali lipat menjadi US$559 miliar atau sekitar Rp9,36 kuadriliun, rekor tertinggi sepanjang masa.
Dewan ini menyebut kenaikan harga didorong oleh permintaan safe haven dan “momentum buying”, membeli karena harga yang terus naik menarik perhatian, serta melemahnya dolar AS.
Bagaimana prospek emas sepanjang 2026?
Pada akhir 2025, sebagian besar analis memperkirakan emas akan melanjutkan reli pada 2026, dan sejauh ini prediksi tersebut terbukti benar.
World Gold Council menyatakan prospek 2026 masih dipengaruhi ketidakpastian geopolitik. Jika pertumbuhan ekonomi melambat dan suku bunga turun lebih jauh, emas bisa naik moderat. Namun, jika perlambatan ekonomi lebih parah dan ketidakpastian geopolitik meningkat, harga emas bisa naik lebih tinggi lagi.
Dewan juga memperingatkan, jika kebijakan Trump berhasil “mempercepat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi risiko geopolitik,” hal ini bisa mendorong suku bunga lebih tinggi dan memperkuat dolar AS, yang akhirnya menekan harga emas.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid