Di balik lonjakan harga cokelat yang tak terhindarkan, produser cokelat di Eropa dan petani kakao di Afrika Barat merasakan dampak dari hasil panen yang buruk, yang dipicu oleh virus dan perubahan iklim.
Kakao sangat penting untuk membuat coklat. Namun para petani tidak pernah mendapatkan bagian pendapatan yang adilFoto: DANIEL MUNOZ/AFP
Iklan
Oliver Coppeneur, seorang produsen cokelat asal Bad Honnef, Jerman, yang telah berkecimpung dalam dunia cokelat sejak tahun 1990-an, tengah menghadapi tantangan besar akibat kenaikan harga bahan utama kreasi camilannya: Kakao.
Tahun lalu, ia terpaksa menaikkan harga cokelatnya, hal serupa dilakukan oleh banyak pembuat cokelat lainnya di seantero jagad raya.
Harga kakao di pasar dunia melambung tinggi pada akhir 2024, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan tajam ini memberi tekanan besar pada industri cokelat global, mempengaruhi produsen, konsumen, dan petani kakao.
Coppeneur mengatakan kepada DW bahwa lonjakan harga kakao saat ini akan membuat "produk cokelat menjadi semakin mahal," yang pada akhirnya dapat mengakibatkan "penurunan signifikan dalam volume" di pasar.
Namun hingga saat ini, ia tetap bertahan tanpa harus memberhentikan sebagian tenaga kerjanya, dan berusaha menjaga harga cokelat tetap stabil. Lantas, mengapa harga kakao bisa melonjak begitu cepat?
Sekitar 65% biji kakao dunia berasal dari empat negara di Afrika Barat—Pantai Gading, Ghana, Nigeria, dan Kamerun.
Iklan
Biang keroknya virus dan perubahan iklim
Lonjakan harga kakao kali ini berakar dari kekurangan biji kakao yang sangat besar.
Panen yang menghancurkan pada 2024 melanda perkebunan di seluruh Afrika Barat. Penyebabnya adalah penyakit yang disebut "cocoa swollen shoot virus" (CSSV), yang menyebar dari pohon ke pohon dan dapat mengurangi hasil panen hingga 50% hanya dalam dua tahun.
Laporan dari Organisasi Kakao Internasional menunjukkan bahwa 81% perkebunan di Ghana—penghasil kakao terbesar kedua setelah Pantai Gading—terinfeksi CSSV. Karena penyakit ini juga menyebar di Pantai Gading, maka sekitar 60% produksi kakao dunia terpengaruh.
Selain itu, organisasi nirlaba media Amerika, Climate Central, melaporkan bahwa "perubahan iklim menyebabkan suhu yang lebih panas menjadi lebih sering" di tempat-tempat seperti Pantai Gading, Ghana, Kamerun, dan Nigeria.
Sebuah studi dari outlet ilmiah yang berbasis di Princeton, New Jersey, menunjukkan bahwa suhu di atas 32°C (90°F) dapat mengurangi kualitas dan kuantitas hasil panen, yang menyebabkan panas berlebih berdampak buruk pada wilayah penghasil kakao utama.
9 Manfaat Cokelat Bagi Kesehatan
Anda menghindari makan cokelat, karena takut bertambah gemuk atau jerawatan? Kalau yang Anda santap cokelat hitam, tidak perlu khawatir. Menurut berbagai penelitian, cokelat ini justru bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Foto: Fotolia/Rob Stark
Menjaga Kesehatan Jantung
Banyak penelitian yang mengungkap, bahwa flavonoid dalam cokelat bisa membantu urat darah dan pembuluh nadi menjadi tetap elastis. Sekitar 7 studi mengikuti 114.000 peserta yang diberikan cokelat hitam beberapa kali dalam seminggu. Hasilnya, resiko terkena serangan jantung berkurang 37% dan stroke berkurang 29%, jika peserta studi mengkonsumsi cokelat lebih banyak.
Foto: picture alliance/David Ebener
Perbaiki Ingatan di Usia Lanjut
Penelitian menunjukkan, jika manula diberi ekstrak kakao khusus yang kaya akan flavanol, kemampuan kognitifnya akan mengalami peningkatan. Masalahnya, kadar flavanol sangat berkurang dalam proses pembuatan coklat, selain itu terdapat tambahan telur, gula dan susu.
Foto: Fotolia
Lebih Pintar Hitung-hitungan
Profesor David Kennedy dari Northumbria University (UK) melakukan studi, dengan peserta diberikan 500 mg flavanol dalam minuman cokelat panas. Mereka diuntungkan dengan meningkatnya stimulasi dalam otak dan lebih mampu menyelesaikan soal matematika yang rumit.
Foto: Fotolia/alphaspirit
Tekanan Darah Jadi Lebih Rendah
Kandungan NO (nitrogen monoksida) yang sesuai dalam tubuh bisa membantu pembuluh nadi Anda merasa lebih rileks. Efeknya, tekanan darah akan menjadi lebih rendah. Flavanol cokelat hitam bisa membantu produksi nitrogen monoksida.
Foto: Fotolia/Andrei Tsalko
Kurangi Komplikasi Kehamilan
Salah satu komplikasi kehamilan adalah preeklampsia yang menyebabkan tekanan darah meningkat secara drastis. Peneliti menemukan, salah satu bahan kimia pada cokelat hitam, teobromin, bisa menstimulasi jantung dan membantu pembuluh nadi melebar. Jika perempuan hamil diberikan dosis cokelat lebih besar, resiko terkena komplikasi ini berkurang 40 persen.
Foto: Fotolia/Subbotina Anna
Kurangi Rasa Lelah
Jika Anda menderita sindrom kelelahan kronis, sebaiknya Anda mulai makan cokelat. Sekelompok penderita penyakit ini diberi cokelat setiap hari selama dua bulan. Rasa lelah mereka berkurang dan berat badan mereka tidak bertambah.
Foto: Fotolia/Light Impression
Sembuhkan Batuk
Efek lain teobromin dalam cokelat adalah kemapuannya meredakan batuk yang mengganggu. Jadi semacam obat batuk yang lebih aman dan tidak mengandung kodein yang memiliki efek samping yang tidak diinginkan.
Foto: Fotolia/Brenda Carson
Perbaiki Daya Penglihatan
Peneliti University of Reading ingin mengetahui apakah flavanol cokelat hitam bisa memperbaiki penglihatan, karena zat ini diketahui memperbaiki sirkulasi darah. Mereka bereksperimen dengan dua kelompok peserta studi. Satu kelompok mendapat cokelat putih, kelompok lainny mendapat cokelat hitam. Hasilnya, dalam tes kemampuan melihat, kelompok yang menyantap cokelat hitam lebih unggul.
Foto: Fotolia/Steffen Schwenk
Bisa Kurangi Resiko Kanker
Kakao flavanol pada cokelat hitam bersifat anti peradangan dan antioksidan. Ini penting untuk meredam aksi radikal bebas, yang berupa protgonis saat kanker mulai menginvasi sel.
Foto: Colourbox
9 foto1 | 9
Selain itu, fenomena cuaca El Nino menyebabkan musim hujan di Afrika Barat tahun lalu lebih basah dari biasanya, yang semakin menurunkan hasil panen kakao.
Harga tinggi, keuntungan lebih tinggi
Mengutip data resmi pemerintah, agensi berita Bloomberg melaporkan bahwa "setidaknya dua belas perusahaan pembuat cokelat yang dimiliki keluarga di Eropa - gulung tikar" pada tahun 2024.
Pengecer permen asal Jerman, seperti Arko, Hussel, dan Eilles, mengajukan permohonan perlindungan atas kebangkrutan pada 2024.
Sementara itu, kekurangan kakao juga dirasakan langsung oleh konsumen Eropa, dengan harga cokelat naik 35% sejak 2020. Namun, Friedel Hütz-Adams, seorang peneliti di SÜDWIND Institute di Bonn, Jerman, mengatakan bahwa produsen cokelat Eropa "umumnya mampu membebankan kenaikan harga kakao."
"Keuntungan mereka yang stabil tahun lalu menunjukkan bahwa setidaknya perusahaan besar berhasil mengatasi harga tinggi... dan dalam beberapa kasus bahkan berhasil meraih keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya," paparnya kepada DW.
Pembuat cokelat asal Swiss, Lindt & Sprüngli Group, mengatakan pada Januari bahwa mereka menghadapi "tahun yang penuh tantangan dengan biaya kakao yang mencapai rekor tertinggi, kenaikan harga yang substansial, dan melemahnya sentimen konsumen."
Mereka menambahkan bahwa untuk mengimbangi tingginya biaya kakao, mereka harus "menyesuaikan harga," dan akan terus melakukannya pada tahun ini.
Kopi, Teh dan Coklat Indonesia Tersaji di Pasar Hamburg
Ragam produk kopi, teh dan coklat asal Indonesia diperkenalkan dalam pameran internasional COTECA 2018. Apa keunggulan Indonesia dibanding 39 negara lainnya pada pameran di kota Hamburg, Jerman itu?
Foto: KBRI Berlin
Paviliun Terbesar
Paviliun Indonesia menjadi magnet bagi pengunjung ketika memasuki pameran skala internasional bagi pengusaha kopi, teh dan kakao, COTECA 2018. Selain memiliki areal terbesar, letak paviliun Indonesia juga strategis karena tepat di pintu masuk. Ada sembilan pengusaha Indonesia yang dibawa meramaikan paviliun. Pameran yang berlangsung di Hamburg, Jerman itu menampilkan 39 paviliun.
Foto: KBRI Berlin
Ragam kopi nusantara
Kopi memang menjadi salah satu produk unggalan Indonesia yang ditampilkan dalam COTECA 2018. Saat ini Indonesia masuk dalam 5 negara penghasil kopi terbesar di Indonesia. Setiap tahunnya, sekitar 630.000 ton kopi diproduksi petani Indonesia.
Foto: KBRI Berlin
Popularitas kopi luwak
Salah satu kopi khas yang diperkenalkan adalah kopi luwak. Matt Ross dari perusahaan khusus kopi luwak "Kopi Ross" asal Bali hadir memaparkan keunggulan kopi berharga mahal itu dalam seminar "Make Luwak Great Again" dan memperkenalkan ragam rasa dan jenis kopi Indonesia lewat seminar “Indonesian Coffee: The Remarkable Story of Discovery, Diversity and Taste”.
Foto: KBRI Berlin
Seni menghirup aroma nan nikmat
Indonesia juga membuka kesempatan bagi para pengunjung untuk melakukan 'cupping' kopi alias seni menghirup aroma, menyeruput dan meneguk kopi. Beragam jenis kopi disajikan di Cupping Room Kaffee Campus.
Foto: KBRI Berlin
Manfaat COTECA
Kenapa penting bagi para pengusaha Indonesia tampil di COTECA 2018? "Para pengusaha bisa saling berbagi informasi tentang regulasi dan trend inovasi terbaru dari kopi, teh dan kakao yang diminati pasar”, ujar Dubes Indonesia untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno. Pameran COTECA diikuti oleh 200 perusahaan dari 40 negara.
Foto: KBRI Berlin
Inovasi dalam secangkir teh
Lewat melihat inovasi dari negara lain, maka pengusaha Indonesia bisa belajar memberi nilai tambah pada produk. Maren Thobaben pemilik Mrs T asal Jerman menjelaskan, “Kami membuat inovasi produk turunan teh. Daun teh yang selama ini digunakan untuk minuman, kami kembangkan sebagai rempah-rempah untuk ekstrak rasa, baik manis maupun asin. Selain itu, daun teh juga kami kembangkan untuk dekorasi.“
Foto: Colourbox
Berlabuh di Hamburg
Jerman termasuk pasar terbesar di Eropa untuk kopi, teh, dan coklat. Kota yang menjadi tempat penyelenggaraan pameran, Hamburg dikenal sebagai pelabuhan penting khusus untuk impor kopi, teh serta coklat. (ts/ap)
Foto: picture-alliance/C. Ohde
7 foto1 | 7
Apakah generasi mendatang masih bisa menikmati cokelat?
Clay Gordon, pencipta TheChocolateLife—komunitas daring untuk "pecinta cokelat & calon pecinta cokelat"—menyatakan dalam sebuah email: "Cokelat secara historis telah menjadi makanan yang tahan resesi."
Ia menulis di situs platform tersebut bahwa "orang membeli cokelat untuk membuat diri mereka bahagia."
Hütz-Adams dari SÜDWIND setuju, dan mengatakan bahwa "penjualan yang relatif stabil" saat ini menunjukkan bahwa "pelanggan mampu mengatasi harga yang lebih tinggi dan terus membeli cokelat."
Namun, ia mencatat bahwa selama bertahun-tahun, sebagian besar petani di Afrika Barat "hampir tidak memiliki sumber daya untuk menerapkan praktik pertanian yang baik," yang mengakibatkan penurunan hasil panen per hektar.
"Pelanggaran hak asasi manusia yang masif menjadi hal biasa dan bisa berkurang di masa depan berkat harga yang lebih tinggi," tambah Hütz-Adams.
Pabrik coklat Oliver Coppeneur di Jerman sedang mengalami kesulitan karena naiknya harga kakaoFoto: Stefanie Neuhaus/DW
Pembuat cokelat Oliver Coppeneur juga berpendapat bahwa harga kakao yang begitu rendah selama bertahun-tahun membuat petani tidak memiliki sumber daya untuk meningkatkan hasil mereka.
Seperti ahli industri lainnya, ia memperingatkan bahwa tanpa investasi dalam peningkatan hasil panen dan tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim, fluktuasi harga kakao akan tak terhindarkan di masa depan.
"Generasi petani mendatang harus bertanya pada diri mereka sendiri: 'Apakah kami ingin melanjutkan pekerjaan ini, apakah kami ingin tetap bekerja di perkebunan?'" ujar Coppeneur, seraya memungkaskan keluh kesahnya bahwa jika perusahaan cokelat tidak berinvestasi pada petani kakao, "kita tidak perlu terkejut jika pada generasi berikutnya tidak lagi ada (cokelat) yang tersisa."
Budidaya Alami Cokelat ala Suku Ngöbe Selamatkan Hutan