Hari Perempuan Internasional: Hak Perempuan Masih Terancam
7 Maret 2025
Hak-hak perempuan dan anak perempuan sekarang sedang diserang, dan diskriminasi gender masih mengakar sangat kuat di banyak negara, kata PBB memperingati Hari Perempuan Internasional, 8 Maret.
Gambar simbol: Hak perempuan di bawah ancamanFoto: Yasuyoshi Chiba/AFP/Getty Images
Iklan
Tiga puluh tahun setelah para pemimpin dunia menyepakati rencana besar untuk mencapai kesetaraan gender, sebuah laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa hak-hak perempuan dan anak perempuan sekarang sedang diserang, dan diskriminasi gender masih mengakar sangat kuat di banyak negara.
Laporan yang dikeluarkan badan perempuan PBB , UN Women ini menyatakan bahwa hampir seperempat dari pemerintah di dunia melaporkan adanya perlawanan terhadap hak-hak perempuan pada tahun lalu.
Jumlah negara yang melaporkan perlawanan terhadap hak-hak perempuan ini mungkin lebih sedikit dari yang sebenarnya, karena laporan ini hanya mencakup sebagian kecil negara.
Iklan
Makin tak ramah pada perempuan
Hal ini menunjukkan adanya "lingkungan yang semakin tidak ramah" terhadap kesetaraan gender, ujar Direktur Kebijakan dan Program UN Women, Sarah Hendriks, dalam sebuah konferensi pers. "Ini bukan masalah baru," tambahnya, "tetapi satu hal yang baru adalah semakin cepat dan meluasnya perlawanan ini, terutama di negara-negara dengan sistem patriarki yang kuat."
Sebanyak 35 negara melaporkan adanya perlawanan terhadap kesetaraan gender, termasuk Spanyol, Jerman, Kanada, Filipina, Brasil, dan beberapa negara lainnya.
Meski ada sedikit kemajuan, seperti misalnya peningkatan akses pendidikan untuk perempuan dan anak perempuan serta perencanaan keluarga, UN Women menyebutkan bahwa setiap 10 menit, seorang perempuan atau anak perempuan tewas dibunuh oleh pasangan atau anggota keluarga.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Selain itu, kekerasan seksual dalam konflik meningkat 50% sejak tahun 2022. Laporan ini juga mencatat bahwa hanya 87 negara yang pernah dipimpin oleh seorang perempuan.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengungkapkan, "Secara global, hak-hak perempuan sedang diserang. Alih-alih memperjuangkan hak yang setara, kita justru melihat semakin banyak kebencian terhadap perempuan."
Ia menekankan pentingnya perjuangan untuk hak asasi manusia dan kesetaraan bagi semua perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia.
Pada konferensi perempuan Beijing 1995, 189 negara sepakat untuk mencapai kesetaraan gender melalui sebuah deklarasi dan platform aksi yang menyebutkan 12 sektor yang perlu diubah, termasuk mengatasi kemiskinan, kekerasan berbasis gender, dan menempatkan perempuan di posisi-posisi penting di bisnis, pemerintahan, dan perdamaian.
Untuk pertama kalinya dinyatakan bahwa hak asasi manusia perempuan mencakup hak untuk mengatur kehidupan seksual dan kesehatan reproduksi mereka tanpa diskriminasi atau kekerasan.
Larangan Kuliah oleh Taliban, Hak Perempuan Afganistan Dirampas
Sejak merebut kekuasaan pada pertengahan 2021, Taliban semakin membatasi hak-hak perempuan dan anak perempuan Afganistan. Kini, mereka membatasi akses perempuan ke pendidikan tinggi hingga memicu kemarahan internasional.
Foto: AFP
Perpisahan untuk selamanya?
Perempuan tidak akan diizinkan untuk kembali berkuliah. Dalam pernyataan pemerintah pada hari Selasa (20/12), Taliban menginstruksikan semua universitas di Afganistan, baik swasta maupun negeri, untuk melarang perempuan mengenyam pendidikan. Sekarang ini semua mahasiswa perempuan dilarang masuk ke universitas
Foto: AFP
Perempuan disingkirkan
Pasukan Taliban menjaga pintu masuk sebuah universitas di Kabul, sehari setelah larangan untuk perempuan berkuliah diberlakukan. Para mahasiswi diberitahu bahwa mereka tidak bisa masuk kampus. Larangan diberlakukan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Namun, sudah ada aksi protes di universitas, di mana siswa laki-laki batal mengikuti ujian dan beberapa dosen laki-laki juga mogok mengajar.
Foto: WAKIL KOHSAR/AFP/Getty Images
Pendidikan tinggi hanya untuk laki-laki
Sejumlah pembatasan telah diberlakukan sebelum ini. Setelah Taliban mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021, universitas harus memisahkan pintu masuk dan ruang kuliah berdasarkan jenis kelamin. Mahasiswi hanya boleh diajar oleh dosen perempuan atau oleh pria tua. Gambar ini menunjukkan ada batas pemisah untuk mahasiswi di Universitas Kandahar.
Foto: AFP/Getty Images
Angkatan terakhir
Mahasiswi Universitas Benawa di Kandahar, masih bisa ikut wisuda Maret lalu dengan gelar di bidang teknik dan ilmu komputer. Pembatasan baru atas hak-hak perempuan di Afganistan mengundang kecaman keras dari dunia internasional. Human Rights Watch menyebut larangan kuliah bagi perempuan sebagai "keputusan yang memalukan", sementara PBB menyatakan keputusan itu melanggar hak asasi perempuan.
Foto: JAVED TANVEER/AFP
Dampaknya menghancurkan masa depan negara
Ribuan perempuan dan anak perempuan mengikuti ujian masuk universitas pada Oktober lalu, salah satunya di Universitas Kabul. Banyak yang ingin belajar kedokteran atau menjadi guru. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, larangan Taliban "tidak hanya melanggar persamaan hak perempuan dan anak perempuan, tetapi akan berdampak buruk pada masa depan negara."
Foto: WAKIL KOHSAR/AFP/Getty Images
Tutup peluang pendidikan untuk perempuan
Larangan untuk perempuan berkuliah adalah satu lagi pembatasan pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan. Selama lebih dari setahun, gadis remaja hanya bisa bersekolah sampai kelas tujuh di sebagian besar provinsi. Gadis-gadis yang berjalan ke sekolah di Afganistan timur ini beruntung karena beberapa provinsi yang jauh dari pusat kekuatan Taliban mengabaikan larangan tersebut.
Foto: AFP
Negeri tanpa kehadiran perempuan
Perempuan dan anak perempuan sekarang disingkirkan dari sebagian besar aspek kehidupan publik Afganistan. Mereka tidak diizinkan mengunjungi gym atau taman bermain di Kabul selama berbulan-bulan. Taliban membenarkan larangan tersebut dengan berkilah, peraturan tentang pemisahan jenis kelamin tidak dipatuhi, dan banyak perempuan tidak mengenakan jilbab seperti yang diwajibkan oleh mereka.
Foto: WAKIL KOHSAR/AFP/Getty Images
Realitas distopia
Sejumlah perempuan mengumpulkan bunga safron di Herat. Ini adalah pekerjaan yang boleh mereka lakukan, tidak seperti kebanyakan profesi lainnya. Sejak berkuasa, Taliban telah memberlakukan banyak peraturan yang sangat membatasi kehidupan perempuan dan anak perempuan. Misalnya, mereka dilarang bepergian tanpa pendamping laki-laki dan harus mengenakan hijab di luar rumah setiap saat.
Foto: MOHSEN KARIMI/AFP
Sebuah aib yang memalukan
Banyak perempuan Afganistan menolak penghapusan hak-hak mereka dan berdemonstrasi di Kabul pada November lalu. Sebuah plakat bertuliskan "Kondisi Mengerikan Perempuan Afganistan Merupakan Noda Aib bagi Hati Nurani Dunia." Siapapun yang ikut protes perlu keberanian besar. Demonstran menghadapi risiko represi kekerasan dan pemenjaraan. Para aktivis hak-hak perempuan juga dianiaya di Afganistan.
Foto: AFP
9 foto1 | 9
Banyak kemajuan, tapi hak perempuan tetap terancam
Dalam tinjauan terbaru ini, UN Women mengungkapkan bahwa meski banyak kemajuan yang dicapai dalam kesetaraan gender dan hak-hak perempuan dalam lima tahun terakhir, hak-hak tersebut tetap menghadapi ancaman yang semakin besar.
Di sisi lain, ada juga hal positif. Laporan tersebut mengatakan bahwa sekitar 88% negara telah membuat undang-undang untuk melawan kekerasan terhadap perempuan dan memberikan layanan bagi korban dalam lima tahun terakhir.
Banyak negara juga telah melarang diskriminasi di tempat kerja, dan hampir setengah negara sedang memperbaiki kualitas pendidikan untuk perempuan dan anak perempuan. Namun, diskriminasi gender masih sangat kuat, dengan kesenjangan besar dalam hal kekuasaan dan sumber daya yang membatasi hak-hak perempuan.
"Lemahnya institusi demokrasi berhubungan langsung dengan perlawanan terhadap kesetaraan gender," demikian dinyatakan dalam laporan UN Women.
Mereka juga memperingatkan bahwa kelompok yang menentang hak-hak perempuan berusaha merusak kemajuan yang telah dicapai dan menghalangi pencapaian kesetaraan gender.
Menurut laporan tersebut, perempuan hanya memiliki 64% hak hukum yang dimiliki oleh pria, dan meskipun jumlah perempuan di parlemen meningkat dua kali lipat sejak 1995, tiga perempat anggota parlemen masih didominasi oleh pria.
Rentang Sejarah Perjuangan Perempuan di Arab Saudi
Hak perempuan di Arab Saudi adalah sebuah kisah perjuangan panjang yang berjalan perlahan. Berkat tekanan internasional dan keberanian generasi baru Monarki di Riyadh, perempuan mulai diberikan kebebasan di ruang publik.
Foto: picture-alliance/AP Photo/H. Ammar
1955: Sekolah Perempuan Pertama, 1970: Universitas Perempuan Pertama
Perempuan Arab Saudi awalnya tidak diizinkan mengeyam pendidikan dasar. Hingga akhirnya sekolah khusus perempuan, Dar al-Hanan, dibuka tahun 1955. Namun butuh waktu hampir dua dekade bagi perempuan untuk bisa mendapat akses menuju perguruan tinggi, yakni Riyadh College of Education yang beroperasi tahun 1970.
Foto: Getty Images/AFP/F. Nureldine
2001: KTP Perempuan
Pada awal abad ke 21 perempuan untuk pertamakalinya mendapat Kartu Tanda Penduduk. KTP membantu kaum perempuan Saudi dalam kasus hukum seputar warisan atau properti. Awalnya perempuan harus mendapat izin dari wali laki-laki untuk mendapat KTP. Aturan tersebut dilonggarkan pada 2006 ketika perempuan bebas mendapat KTP tanpa izin walinya.
Foto: Getty Images/J. Pix
2005: Akhir Pernikahan Paksa
Pemerintah Arab Saudi secara resmi melarang pernikahan paksa pada 2005. Namun kontrak nikah antara calon pengantin pria dan orangtua perempuan masih marak dilakukan. Kontrak semacam itu mewajibkan perempuan menikahi pria pilihan orangtua.
Foto: Getty Images/A.Hilabi
2009: Perempuan Pertama di Pemerintahan
Pada 2009 raja Abdullah mengangkat perempuan untuk jabatan tinggi di pemerintahan. Noura al-Fayez hingga kini adalah wakil Menteri Pendidikan Arab Saudi. Ia bertugas mengurusi pemberdayaan perempuan.
Foto: Foreign and Commonwealth Office
2012: Atlit Olympiade Perempuan
Keberadaan Noura al-Fayez di pucuk pemerintahan banyak mengubah nasib atlit perempuan Arab Saudi. Pada 2012 untuk pertamakalinya Riyadh mengizinkan perempuan mengikuti Olympiade di London. Salah satunya adalah Sarah Attar, atlit lari di cabang 800 meter. Sebelumnya Komite Olympiade Internasional diisukan bakal melarang keikutsertaan Arab Saudi jika Riyadh melarang partisipasi perempuan.
Foto: picture alliance/dpa/J.-G.Mabanglo
2013: Izin Bersepeda dan Sepeda Motor
Setahun setelah Olympiade, pemerintah Arab Saudi untuk pertamakalinya mengizinkan perempuan menggunakan sepeda dan sepeda motor. Namun begitu kelonggaran tersebut bukan tanpa catatan. Perempuan hanya diizinkan bersepeda atau mengendarai sepeda motor di area rekreasional, diwajibkan mengenakan niqab dan didampingi wali pria.
Foto: Getty Images/AFP
2013: Perempuan di Majelis Syura
Pada Februari 2013 Raja Abdullah melantik 30 perempuan untuk Majelis Syura, dewan pertimbangan Arab Saudi. "Perubahan ini harus dilakukan secara gradual," kata Abdullah tentang hak perempuan. Tidak lama setelah keputusan tersebut, perempuan diizinkan untuk mencalonkan diri untuk jabatan publik.
Foto: REUTERS/Saudi TV/Handout
2015: Hak Pilih dan Dipilih
Pemilihan komunal 2015 di Arab Saudi ditandai dengan peristiwa bersejarah: untuk pertamakalinya perempuan diizinkan memilih dan dapat mencalonkan diri untuk jabatan publik. Sebagai hasilnya sebanyak 20 perempuan terpilih untuk berbagai jabatan di tingkat pemerintah kota.
Foto: picture-alliance/AP Photo/A. Batrawy
2017: Direktur Bursa Saham Perempuan
Pada Februari 2017, bursa saham Arab Saudi menunjuk Sarah al-Suhaimi sebagai direktur. Putri bankir berusia 37 tahun ini ikut merangkai salah satu penawaran umum perdana paling akbar sejagad, yakni ketika perusahaan minyak negara Aramco melepas sebagian kecil sahamnya ke lantai bursa.
Foto: pictur- alliance/abaca/Balkis Press
2018: Perempuan di Kemudi
Pada 26 September 2017, pemerintah Arab Saudi mengumumkan perempuan akan diperbolehkan mengemudi mobil mulai bulan Juni 2018. Mereka nantinya tidak perlu meminta izin wali pria untuk mendapatkan surat izin mengemudi dan tidak perlu mengajak walinya untuk ikut menemani ketika mengemudi.
Foto: picture-alliance/AP Photo/H. Jamali
2018: Perempuan di Stadion Olahraga
Tidak lama berselang, pada 29 Oktober 2017, otoritas olahraga Arab Saudi mengumumkan perempuan akan diizinkan untuk menginjakkan kaki di stadion olahraga. Tiga stadion yang tadinya hanya mengizinkan penonton laki-laki juga akan dibuka buat perempuan pada awal 2018.
Foto: Getty Images/AFP/F. Nureldine
2019: Perempuan Saudi akan mendapat notifikasi melalui pesan singkat jika mereka diceraikan
Hukum baru dirancang untuk melindungi perempuan saat pernikahan berakhir tanpa sepengetahuan mereka. Perempuan dapat mengecek status pernikahannya online atau mendapatkan fotokopi surat tanda cerai dari pengadilan. Hukum ini tidak sepenuhnya melindungi perempuan karena cerai hanya dapat diajukan dalam kasus yang sangat terbatas dengan persetujuan suami atau jika suami melakukan tindak kekerasan.
Foto: picture-alliance/AP Photo/H. Ammar
12 foto1 | 12
UN Women juga menyebutkan bahwa perempuan usia 15 hingga 24 tahun tertinggal dalam hal akses ke perencanaan keluarga modern, dan angka kematian ibu hampir tidak berubah sejak tahun 2015. Sementara itu, 10% perempuan dan anak perempuan hidup di rumah tangga yang sangat miskin.
Kasus kekerasan seksual yang terkait dengan konflik juga meningkat 50% sejak 2022, dan perempuan serta anak perempuan menjadi korban hampir 95% dari kejahatan tersebut.
UN Women menyatakan bahwa berdasarkan temuan laporan ini, mereka telah membua(ID):Minggu Depan Huj...t peta jalan untuk mencapai kesetaraan gender pada tahun 2030.
Peta jalan ini mencakup pemerataan akses teknologi untuk perempuan dan anak perempuan, investasi dalam perlindungan sosial, layanan kesehatan universal, pendidikan yang berkualitas, serta mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.
Peta jalan ini juga mencakup pemberdayaan perempuan dalam pengambilan keputusan dan bantuan kemanusiaan yang responsif terhadap gender dalam situasi konflik dan krisis.