Pertanyaan ini kembali muncul saat ditemukannya dokumen-dokumen baru yang mendukung dugaan bahwa harta tersebut adalah hasil jarahan Nazi. Lantas, apakah harta tesebut akan dikembalikan kepada ahli warisnya?
Salib abad pertengahan ini adalah bagian dari Harta Karun Guelph - apakah harus dikembalikan?Foto: Markus Schreiber/AP/picture alliance
Iklan
Relikui lengan, salib, potret orang-orang suci yang diukir dengan halus, terbuat dari emas dan perak, dihiasi dengan mutiara, kristal batu, dan gading adalah Harta Karun Guelph. Harta karun yang terdiri dari 44 karya seni ini merupakan harta karun gereja terpenting dari abad pertengahan, yang dimiliki keluarga Guelph, keluarga kerajaan tertua di Eropa. Harta karun keluarga Guelph bisa bernilai ratusan juta euro.
Kini harta karun tersebut, dapat dilihat di Museum Gemäldegalerie, Berlin. Lantas, apakah Yayasan Warisan Budaya Prusia Stiftung Preußischer Kulturbesitz (SPK), yang menyimpannya, adalah pemilik yang sah atau apakah itu karya seni hasil jarahan Nazi, hal ini masih menjadi pertanyaan.
Relikui berkubah ini dibuat menjelang akhir abad ke-12, sekarang berada di Museum Bode, BerlinFoto: Stephanie Pilick/AP/picture alliance
Kasus ini sudah lama tampak jelas: Selama era Nazi (1933-1945), Harta Karun Guelph dijual ke negara Prusia oleh konsorsium pedagang seni Yahudi Frankfurt, yang telah memperolehnya dari keluarga kerajaan pada tahun 1929. Setelah Perang Dunia Kedua, harta karun ini menjadi milik Yayasan Warisan Budaya Prusia (SPK).
Sepuluh tahun yang lalu, Dewan Penasihat Komisi Limbach Limbach memutuskan bahwa Harta Karun Guelph bukanlah karya seni hasil rampasan. Panel para ahli tidak menemukan bukti bahwa penjualan karya seni saat itu adalah suatu paksaan dari pihak Nazi. Gugatan yang diajukan oleh ahli waris harta karun tersebut ditolak oleh pengadilan AS tahun 2023.
Iklan
Tarik ulur masalah hukum Harta Karun Guelph
Para ahli waris keturunan Yahudi telah mengklaim ganti rugi sejak 2008. Tarik ulur masalah hukum ini pun dimulai. Yayasan Prusia memperkirakan nilai harta karun tersebut sebesar 100 juta euro, sedangkan ahli waris mengklaim hingga 260 juta euro.
Dokumen yang ditemukan di Arsip Negara Bagian Hessen Jerman, tahun 2022, menunjukkan bahwa penjualan Harta Karun Guelph tidak dilakukan secara suka rela seperti yang diasumsikan sebelumnya.
Seolah-olah mereka ingin menyampaikan pendapat mereka: Relikui-relikui lengan Harta Karun Guelph di Kunstgewerbemuseum, BerlinFoto: Alina Novopashina/dpa/picture alliance
Penjualan di bawah paksaan?
Menurut laporan tersebut, Alice Koch - seorang Yahudi yang juga mewarisi seperempat harta tersebut - dibayar sebesar 1.115.000 reichsmark pada tahun 1935, tetapi jumlah tersebut kemudian dipotong lagi pajak khusus emigrasi "Reichsfluchtsteuer" yang ditetapkan pemerintah Nazi saat itu.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
"Reichsfluchtsteuer adalah skema untuk menyedot aset warga Yahudi yang ingin beremigrasi," kata pengacara para korban di Berlin, Jörg Roßbach, kepada lembaga penyiaran RBB (Rundfunk Berlin-Brandenburg). "Tanpa pembayaran pajak Reichsfluchtsteuer, tidak ada sertifikat pembayaran pajak; tanpa sertifikat pembayaran pajak, mereka tidak mendapat izin keluar Jerman."
Sebuah dokumen yang sebelumnya tidak diketahui menunjukkan Alice Koch menerima surat ketetapan pajak penerbangan seharga lebih dari satu juta reichsmark. Empat hari setelah menerima surat pajak tersebut Alice membayarnya sehingga ia mendapatkan surat keterangan bebas pajak dan dapat meninggalkan Jerman, melarikan diri dari Nazi.
Nasib Seni di Era Hitler
Sebelum ia berkuasa, Adolf Hitler adalah seorang pelukis. Saat ia memimpin Nazi, ia pun mengelompokkan karya seni sesuai seleranya. Karya yang dibencinya dilabeli sebagai "seni yang tak bermoral" dan disita dari museum.
Foto: picture-alliance/akg-images
Seni yang Bobrok
Karya seni modern yang gaya, subjek, dan senímannya tidak disetujui
Adolf Hitler dan kaum Sosialis Nasionalis dicap sebagai 'seni yang bobrok'. Dari tahun 1937, Nazi menyita karya seni semacam itu dari museum-museum di Jerman. Pameran keliling untuk "seni yang bobrok" digelar sebagai bahan olokan di publik. Menteri propaganda Joseph Goebbels dan Hitler menghadiri pameran di München (foto).
Foto: picture-alliance/dpa
Karya Seni Hilter
Hitler sangat menyukai karya seni era Romantisme dan karya abad ke-19. Ia paling suka pemandangan bernuansa damai khas pedesaan. Koleksi pribadinya adalah karya seni milik Cranach, Tintoretto dan Bordone. Mengikuti jejak tokoh idolanya Raja Bavaria Ludwig I. dan Frederick the Great, Hitler juga ingin menggelar pameran seni sesudah pensiun, di "Museum Führer" yang terletak di kota Linz, Austria.
Foto: picture-alliance/Everett Collection/Actual Films
Membuang karya seni
Nazi bukanlah pihak pertama yang menekan para seniman, namun mereka mengambil langkah yang lebih jauh dengan melarang karya mereka ditampilkan di museum. Pada tahun 1937, pihak berwenang memiliki lebih dari 20.000 karya seni yang dikeluarkan dari 101 museum milik negara Jerman. Apa pun yang menurut Nazi tidak 'memperbaiki moral' warga Jerman akan diasingkan.
Foto: Victoria & Alber Museum
Koleksi Nasional Hitler
Karya seni abstrak tidak mendapat tempat pada "koleksi nasional" Hitler. Pada saat "Pameran Seni Jerman Besar" digelar di München, 18 Juli 1937, karya yang dipajang hanya lukisan bergaya tradisional, bernuansa sejarah, dan gambar telanjang. Ketika karya mampu menggambarkan suasana persis seperti kondisi sebenarnya, maka karya tersebut semakin indah di mata Führer.
Foto: Bundesarchiv, Bild 183-C10110/CC-BY-SA
Karya seni apa yang dianggap bobrok?
Bahkan orang-orang di lingkaran terdekat Hitler tidak yakin seniman mana yang disetujui Sang 'Führer'. "Pameran Seni Terhebat Jerman" 1937 dan pameran "Seni Bobrok" yang digelar di München, setidaknya membawa sedikit kejelasan. Yang menarik perhatian Hitler adalah seniman pada periode modern seperti Max Beckmann, Otto Dix, Wassily Kandinsky, Paul Klee, Ernst Ludwig Kirchner dan Max Pechstein.
Foto: picture-alliance/akg-images
Menebar kebencian lewat pameran
Untuk pameran "Seni yang Bobrok", ada sekitar 650 karya seni yang disita dari 32 museum di Jerman. Pameran tersebut disandingkan dengan sketsa karya orang-orang cacat mental dan diperlihatkan bersamaan dengan foto orang lumpuh. Tujuannya: untuk memprovokasi kebencian dan keengganan di antara pengunjung. Lebih dari dua juta pengunjung melihat pameran tersebut dalam tur keliling di berbagai kota.
Foto: cc-by-sa/Bundesarchiv
Dasar hukum
"Undang-Undang Penyitaan Karya Seni yang Bobrok" yang diterbitkan tanggal 31 Mei 1938 menjadi dasar hukum bagi negara untuk menyita karya seni tanpa perlu ganti rugi. Karya seni tersebut dianggap sebagai sumbangan untuk mengisi pundi negara. Saat ini, seni yang dulunya dilabeli sebagai "karya bobrok" oleh Nazi dapat diperdagangkan secara bebas.
Foto: CC by Österreichische Nationalbibliothek
Memperjualbelikan "karya seni yang bobrok"
Seni yang telah disita akan dibawa ke fasilitas penyimpanan di Berlin dan Istana Schönhausen. Banyak karya yang dijual oleh empat pedagang seni era Hitler: Bernhard A. Böhmer, Karl Buchholz, Hildebrand Gurlitt, dan Ferdinand Möller. Pada tanggal 20 Maret 1939, terjadi kebarakan di Berlin. Sekitar 5.000 artefak yang tidak terjual hangus terbakar. Peristiwa itu disebut sebagai "latihan".
Lebih dari 21.000 karya seni yang dicap "seni yang bobrok" disita selama Hilter berkuasa. Namun angka karya seni yang terjual di pasaran berbeda-beda, berkisar
6.000 hingga 10,000. Sebagin lainnya dihancurkan atau hilang. Ratusan karya seni belakangan ditemukan di apartemen milik Cornelius Gurlitt, putra dari ahli sejarah seni ternama di Jerman.
Foto: privat/Nachlass Cornelius Gurlitt
9 foto1 | 9
Akankah kasus ini dibuka kembali?
Akankah dokumen ini menjadi titik balik dalam kasus Harta Karun Guelph? Tidak juga: komisi barang seni jarahan Raubkunst-Kommission hanya bisa membuka kembali kasus ini jika Yayasan Warisan Budaya Prusia (SPK) menyetujuinya.
Setelah sempat ragu, yayasan ini nampak siap. "SPK akan menyetujui rujukan," kata yayasan tersebut dalam sebuah pernyataan, ”asalkan persyaratannya diklarifikasi mengikuti prosedur."
Untuk melakukannya, SPK harus menghubungi komisi dan pengacara keturunan Alice Koch untuk memperjelas isu-isu yang ada. Di sisi lain, ketua komisi, pengacara Hans-Jürgen Papier, ingin mempercepat proses ini: "SPK (...) berkewajiban untuk menyetujui rujukan ke komisi tanpa penundaan. Pemeriksaan penerimaan adalah tanggung jawab penuh komisi."
Altar Eilbertus yang portabel dari abad pertengahan ini juga merupakan bagian dari harta karun GuelphFoto: Markus Schreiber/AP/picture alliance
Meskipun belum ada undang-undang restitusi di Jerman, negara ini berkomitmen terhadap prinsip-prinsip Deklarasi Washington 1998. Di mana deklarasi menyatakan solusi yang adil dan layak harus diberikan untuk karya seni yang dijarah oleh Nazi.
Sejauh ini, hal tersebut merupakan tugas dari Komisi Limbach, yang dinamai sesuai dengan nama ketua pertamanya, Hakim Konstitusi Jutta Limbach. Di masa depan, pengadilan arbitrase juga dapat diminta oleh salah satu pihak yang bersengketa, akan memutuskan kasus-kasus yang disengketakan.