1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Hidrogen Putih: Perburuan Harta Karun demi Dekarbonisasi

Jonas Mayer
12 Mei 2026

Triliunan ton hidrogen alami tersimpan di kerak bumi. Seorang geolog Jerman ingin membuka akses menuju sumber energi bersih dan murah, yang diharapkan bisa mempercepat dekarbonisasi industri.

Api yang terus menyala di lokasi emisi gas alam di Gunung Chimaera (Yanartas) di Turki.
Hidrogen alami atau hidrogen putihFoto: Haritonoff/Depositphotos/IMAGO

Di sebuah hutan di utara negara bagian Bayern, Jerman, Jürgen Grötsch melangkah melewati akar-akar pohon dan dahan rendah yang menjuntai. "Hampir tak ada yang tahu tempat ini,” ujarnya, dengan nada yang memadukan rahasia dan kebanggaan.

Jauh di bawah tanah yang diinjaknya, dia menemukan harta karun bernilai jutaan euro. Lebih dari itu: jika berhasil diangkat ke permukaan, temuan tersebut bisa membuka babak baru energi bersih dunia. Harta karun itu adalah hidrogen—gas yang mengalir alami dan terbarukan dari dalam bumi.

Grötsch adalah seorang geolog. Setelah puluhan tahun bekerja di perusahaan migas Shell, kini dia meneliti di Universitas Erlangen-Nürnberg. Di hutan itu dia ditemani dua mahasiswa. Mencari jejak hidrogen—yang dia sebut sebagai "mengendus”—adalah pekerjaan kasar yang melelahkan. Mereka memalu lubang sedalam satu meter di tanah hutan, memasukkan sensor gas, lalu menunggu hasil pembacaan alat ukur.

"Menarik,” gumamnya ketika angka kandungan hidrogen di layar terus menanjak. Jarum berhenti sedikit di atas 500 parts per million. Artinya, 0,05 persen sampel gas terdiri atas hidrogen. "Seribu kali lebih tinggi dibanding kandungan hidrogen di udara sekitar kita,” ujarnya. Bagi Grötsch, itu konfirmasi bahwa dia menemukan jackpot hidrogen.

Eksplorasi hidrogen oleh Jürgen Grötsch di Bayern, JermanFoto: Florian Kroker/DW

Dilema hidrogen

Selama bertahun-tahun para eksekutif perusahaan dan politikus—termasuk Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Menteri Ekonomi Jerman Katherina Reiche—menggembar-gemborkan hidrogen sebagai jalan keluar dekarbonisasi ekonomi. Panas tinggi dari pembakaran hidrogen dibutuhkan industri rakus energi seperti pelayaran dan peleburan baja.

Berbeda dengan minyak, gas bumi, atau batu bara, pembakaran hidrogen tidak menghasilkan emisi CO2, melainkan hanya air. Badan Energi Internasional memperkirakan permintaan global hidrogen bisa melonjak tiga kali lipat hingga 2050.

Masalahnya, seluruh hidrogen yang dipakai saat ini harus diproduksi terlebih dahulu. Dan proses produksinya mayoritas masih memakai bahan bakar fosil murah. Kurang dari satu persen yang tergolong "hidrogen hijau”, dibuat lewat proses elektrolisis mahal dengan tenaga listrik dari angin dan matahari.

Solusi dari kedalaman bumi?

Hidrogen alami—dikenal pula sebagai "hidrogen putih”—terbentuk secara natural di kerak bumi selama miliaran tahun.

"Sebagian besar mantel bumi terdiri atas batuan kaya besi,” kata Grötsch. "Ketika batuan itu bersentuhan dengan air pada suhu 200 hingga 350 derajat Celsius, besi menarik oksigen dari air, dan yang tersisa adalah hidrogen murni.”

Reaksi ini disebut serpentinisasi. Proses tersebut diyakini menjadi sumber utama cadangan hidrogen alami di bumi.

Peneliti dari US Geological Survey memperkirakan terdapat 5,6 triliun ton hidrogen tersimpan di kerak bumi. Sebagian besar memang terlalu dalam untuk dijangkau. Namun menurut studi mereka pada 2024, dua persen saja sudah cukup memenuhi kebutuhan hidrogen umat manusia selama 200 tahun.

Sebagai unsur paling ringan, hidrogen dapat merembes naik dari mantel bumi melalui retakan hingga ke permukaan. Sebagian lolos ke atmosfer, tetapi mayoritas terperangkap dalam reservoir batuan berpori seperti batu pasir, tertutup lapisan batuan yang lebih rapat. 

UE vs Cina dalam Pasar Hidrogen Hijau

02:52

This browser does not support the video element.

Perburuan harta karun global

Puluhan perusahaan di berbagai negara kini memburu reservoir semacam itu. Namun baru satu tempat di dunia yang benar-benar memproduksi hidrogen alami: desa Bourakébougou di Mali.

Produksinya masih kecil—sekitar 49 ton per tahun. Sebagai perbandingan, satu sumur gas bumi dapat menghasilkan ratusan hingga ribuan ton dalam periode yang sama. Meski demikian, kasus Mali membuktikan bahwa eksploitasi hidrogen alami secara teknis memungkinkan, sekaligus berpotensi menghapus kebutuhan produksi hidrogen buatan yang mahal.

Yang lebih penting lagi: tekanan gas di sumber Mali tetap sama seperti ketika fasilitas itu dibuka 14 tahun lalu. "Secara teknis, ini sumber energi terbarukan, karena proses pembentukan hidrogen alami terus berlangsung,” ujar Kate Adie, analis bawah permukaan dari perusahaan riset energi Wood Mackenzie. Dengan syarat, laju eksploitasi tidak melebihi laju pembentukannya di bawah tanah.

Di Bayern, Grötsch berencana menjual hidrogen alami seharga satu euro per kilogram—setara harga hidrogen berbasis fosil saat ini.

Mulai 2030, dia menargetkan produksi 1.000 ton hidrogen per tahun dari reservoir sedalam 1.500 meter di Bayern. Gas itu akan dipasok untuk perusahaan lokal dan jaringan pemanas distrik yang mendistribusikan panas ke berbagai bangunan.

"Dari reservoir yang sama kami juga ingin memompa air panas untuk memanaskan rumah,” kata Grötsch. Proyek panas bumi ini, menurut dia, menjadi penopang ekonomi jika bisnis hidrogen gagal berkembang.

Tambang hidrogen alami di Bourakébougou, MaliFoto: Gold Hydrogen

Jalan masih panjang

Namun seperti banyak pionir lain di sektor energi hidrogen, Grötsch menghadapi hambatan hukum. Hanya sedikit negara yang mengakui hidrogen putih sebagai sumber daya alam resmi. Akibatnya, izin pengeboran dan akses subsidi pemerintah sulit diperoleh. Di Jerman, pengakuan hukum terhadap hidrogen putih diperkirakan muncul paling cepat pada 2026.

Ketidakpastian regulasi itu membuat investor swasta ragu. Hingga kini, selain beberapa pengecualian kecil, perusahaan migas besar belum serius masuk ke perburuan hidrogen alami.

"Mereka memilih menunggu dan membiarkan startup menjadi pionir sekaligus penanggung risiko,” ujar Kate Adie. "Tapi begitu ada startup yang berhasil memproduksi hidrogen alami dalam skala komersial, perlombaan memperebutkan wilayah eksplorasi akan dimulai.”

Skenario paling optimistis Wood Mackenzie memperkirakan produksi hidrogen alami dunia bisa mencapai 20 juta ton per tahun pada 2050. Menurut estimasi IEA, angka itu setara 6,7 persen kebutuhan hidrogen global pada masa tersebut.

"Ini petualangan besar,” kata Grötsch sambil membereskan peralatannya di tengah hutan. "Kami berada di titik yang sama seperti industri minyak dan gas 150 tahun lalu. Kami sedang memulai era baru industri energi. Mudah-mudahan.”

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya