Hizbullah Bersitegang Dengan Saudi, Lebanon Jauhkan Diri
4 Januari 2022
Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, menyebut Raja Salman dari Arab Saudi sebagai “teroris,” sebagai balasan atas ungkapan serupa dari Riyadh. Pemerintah Lebanon buru-buru menyatakan tidak mendukung pernyataan tersebut.
Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, di depan pendukungnyaFoto: Hassan Ammar/AP/picture alliance
Iklan
Dalam pidatonya di Beirut, Lebanon, Senin (3/1), Hassan Nasrallah, menuduh Riyadh membantu menyebarkan ideologi ekstremisme Islam ke seluruh dunia. Dia juga mengatakan ribuan warga Lebanon yang bekerja di kawasan Teluk sebagai “sandera” Arab Saudi.
Pernyataannya itu merupakan reaksi atas komentar Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al Saud, yang mengajak penduduk Lebanon “untuk mengakhiri kekuasaan teroris Hizbullah,” dalam sebuah pidato pekan lalu.
Hizbullah yang sering disebut mewakili kepentingan Iran, merupakan salah satu kekuatan politik dan militer terbesar di Lebanon. Ia tidak hanya aktif di pemerintahan, tetapi juga mendukung agresi militer Iran di negeri jiran.
Perang kata-kata itu berkecamuk ketika pemerintah Lebanon berusaha memulihkan hubungan dengan Arab Saudi. Oktober silam, Riyadh menarik duta besarnya di Riyadh dan melarang impor semua jenis produk dari Lebanon.
Ledakan Mematikan di Beirut, Libanon
Sebuah ledakan dahsyat mengguncang ibukota Lebanon di Beirut, menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan lainnya. Rumah sakit kewalahan merawat pasien dan kekurangan pasokan darah.
Foto: Reuters/M. Azakir
Ledakan memicu kepanikan
Dua ledakan besar mengguncang Beirut dan daerah sekitarnya di ibukota Libanon, memicu kepanikan penduduk yang bergegas menuju ke tempat aman. "Saya belum pernah melihat bencana sebesar ini dalam hidup saya," kata Gubernur Beirut Marwan Abboud.
Foto: Reuters/M. Azakir
Terasa hingga ke pinggiran kota
Ledakan dahsyat yang berasal dari wilayah pelabuhan Beirut itu terasa hingga ke seluruh kota. Bahkan penduduk di pinggiran kota mendengar ledakan itu, beberapa mengatakan jendela mereka hancur akibat gelombang kejut dengan jangkauan yang sangat luas.
Foto: Reuters/K. Sokhn
Korban berjatuhan
Kementerian Kesehatan Libanon mengatakan setidaknya ratusan orang tewas dan lebih dari 4.000 lainnya terluka.
Foto: Reuters/M. Azakir
Stok amonium nitrat
Perdana Menteri Hassan Diab mengatakan sebanyak 2.750 ton amonium nitrat yang merupakan pupuk pertanian disinyalir menjadi penyebab insiden tersebut. "Tidak dapat diterima bahwa ada pengiriman 2.750 ton amonium nitrat yang tersimpan selama enam tahun di sebuah gudang, tanpa adanya tindakan pencegahan (bagi situasi) yang membahayakan keselamatan warga," kata Diab.
Foto: Getty Images/AFP/STR
Berlomba menyelamatkan korban
Lebih dari 30 tim Palang Merah dan banyak penduduk setempat membantu menyelamatkan para korban. Rumah sakit mengatakan kelebihan kapasitas dan kekurangan stok darah, dan membutuhkan generator agar listrik bisa tetap menyala.
Foto: picture-alliance/AA/H. Shbaro
Terdengar dan dirasakan hingga Siprus
Dahsyatnya ledakan yang mengguncang Beirut telah memicu guncangan berkekuatan 3,5 magnitudo, berdasarkan laporan dari pusat geosains Jerman, GFZ. Ledakan itu dilaporkan juga terdengar dan dirasakan oleh warga Siprus, yang berjarak sekitar 180 kilometer di seberang laut dari Beirut.
Foto: Getty Images/AFP/STR
Melacak orang yang dicintai melalui media sosial
Jurnalis DW Bassel Aridi mengatakan orang-orang menggunakan media sosial untuk mencoba melacak orang yang mereka cintai setelah ledakan terjadi. Aridi juga mengunjungi rumah sakit di Beirut dan mengungkapkan "apa yang saya lihat di rumah sakit sangat dramatis. Semua rumah sakit mengumumkan bahwa mereka benar-benar kelebihan beban."
Foto: picture-alliance/AP Photo/H. Ammar
Keadaan darurat selama dua minggu
Presiden Libanon Michel Aoun menetapkan keadaan darurat selama dua minggu di Beirut dan menyerukan pertemuan kabinet darurat hari Rabu (05/08).
Foto: Getty Images/AFP/STR
Libanon menghadapi dua pukulan
Ledakan dahsyat itu terjadi ketika Libanon tengah mengalami gejolak ekonomi yang parah, dengan banyak orang turun ke jalan dalam beberapa bulan terakhir untuk memrotes situasi ekonomi. Perdana Menteri Hassan Diab menyatakan bahwa hari Rabu (05/08) akan menjadi hari berkabung nasional bagi para korban ledakan. (ha/hp)
Foto: Getty Images/D. Carde
9 foto1 | 9
Kisruh berawal ketika seorang anggota kabinet Lebanon menyerang Arab Saudi soal perang di Yaman. Dalam sebuah wawancara televisi, Menteri Informasi George Kordahi, mengatakan konflik tersebut merupakan buah agresi Arab Saudi.
Kordahi akhirnya mengundurkan diri awal Desember silam. Tapi langkah tersebut urung meredakan ketegangan dengan Riyadh.
Iklan
Konflik Yaman bebani hubungan diplomasi
Perang di Teluk Aden berawal pada 2014, ketika ibu kota Sanaa direbut pemberontak Houthi yang menguasai kawasan utara Yaman. Setahun kemudian koalisi bentukan Arab Saudi melancarkan intervensi berdarah dengan misi memulihkan pemerintahan resmi yang diakui dunia internasional.
Menyambut pernyataan pedas Nasrallah, Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati, buru-buru menegaskan pandangan pemuka Hizbullah itu tidak mewakili sikap pemerintah, atau “mayoritas penduduk Lebanon.”
Dia mengajak politisi Lebanon ikut mendahulukan kepentingan negara dengan tidak membuat pernyataan “yang menyesatkan.”
Arab Saudi Digempur Rudal Pemberontak Yaman
00:50
This browser does not support the video element.
Nasrallah tidak menahan diri ketika menjawab tuduhan Raja Salman. “Yang mulia raja, teroris sesungguhnya adalah mereka yang mengekspor ideologi Wahhabi-Daesh ke seluruh dunia dan mereka adalah Anda,” kata Nasrallah merujuk pada Islamic State.
Dia menuduh Arab Saudi mengirimkan gerilayawan ke Suriah dan Irak, serta Yaman. “Teroris adalah siapapun yang menyandera ratusan ribu atau puluhan ribu warga Lebanon dan mengancam pemerintah Lebanon untuk mengusir mereka,” pungkasnya dalam pidato di malam peringatan dua tahun kematian jendral Iran, Qassem Soleimandi, yang dibunuh AS di Baghdad, Irak.
Ketegangan ini sempat memicu keresahan di kalangan warga Lebanon yang bekerja di wilayah Teluk. Usai pidato Nasrallah, Duta Besar Saudi untuk Lebanon, Waleed Bukhari, menyebut pernyataannya sebagai “kebohongan yang tidak bisa disimpan di dalam kegelapan.”
Bukhari tidak secara langsung menyebut nama Nasrallah, melainkan menggunakan nama Abu Raghal, sebuah figur sejarah yang sering dikutip sebagai simbol pengkhianatan.