Donald J. Trump. Apakah kepanjangan “J” pada nama tengah presiden terpilih Amerika Serikat tersebut? Konon katanya, “Jekyll.” Sebagaimana nama tokoh novel karangan Robert Louis Stevenson, Dr. Jekyll. Opini Geger Riyanto.
Foto: picture-alliance/dpa/M. Reynolds
Iklan
Kita mengenal Trump sebagai sosok yang mengemban segenap predikat buruk yang tak kita bayangkan akan pernah dimiliki seorang pejabat publik. Ia rasis, intoleran, seksis, temperamental, picik, tak berpikir panjang, bebal, fanatik, tak tahu adat, pongah, anti ilmu pengetahuan, dan seterusnya. Ia secara terang-terangan menyerang sejumlah figur publik dengan cercaan fisik yang tak pantas. Ia menuding para pendatang dari Meksiko garong dan pemerkosa. Ia mengampanyekan akan melarang umat Muslim memasuki Amerika Serikat.
Namun, pernahkah Anda membayangkan orang dengan daftar kelakuan tidak terpuji yang tak habis-habisnya ini ternyata pengusaha yang santun, perhatian, bersahabat, ramah? Sejumlah petinggi Partai Republik menggambarkan, seperti inilah sosok yang akan Anda temui bila Anda menjumpai Trump secara langsung. Kalau-kalau Anda tak percaya pengakuan orang-orang yang akan ditunjuk menjadi kabinetnya, beberapa orang dari luar Partai Republik, bahkan yang berseberangan pandangan politik dengan Trump, menyampaikan pandangan serupa. Trump adalah orang yang akan menanyakan terlebih dulu kepada rekannya apakah ada yang bisa dibantunya, membumi dengan orang-orang, memutuskan dengan matang, dan seterusnya...
Penulis: Geger Riyanto Foto: Privat
Ada satu kesempatan di mana seseorang, yang mengaku mengajak perusahaan Trump bekerja sama, sadar, ide bisnis yang dipresentasikannya kepada Trump tidak terlalu menarik. Trump baru datang di tengah-tengah presentasi dan ini gelagat yang biasa ditunjukkannya kala ia mendapati konsep bisnis yang nampak menguntungkan namun tak memikatnya dengan kuat. Apakah Trump lantas dengan lantang melucuti presentasinya secara bombastis sebagaimana yang biasa ditampilkan personanya di televisi? Tidak. Trump terus mendengarkannya dengan seksama. Kendati Trump jauh lebih lama malang-melintang di dunia bisnis dan ia punya segala alasan untuk tidak menghabiskan waktunya mendengarkan presentasi sang pengusaha, ia tetap berada di sana dan mendiskusikan dengan pengusaha bersangkutan konsep bisnisnya secara antusias.
Kenyataan bahwa Trump merupakan sosok yang bisa diajak berdiskusi dan, lebih jauh lagi, peduli, tak membenarkan perbuatan-perbuatannya di masa silam, tentu. Ia pernah melecehkan wanita. Ia pernah memperlakukan orang-orang dari etnis lain secara diskriminatif. Tetapi, setidaknya, di sini kita menemukan Trump bukanlah seorang maniak yang dengan sendirinya akan mengorbankan semua agenda riil yang lebih mendesak hanya demi mengusir setiap pendatang, menerapkan aturan-aturan rasis di satu negara. Ia, setidaknya, bukan orang yang tampak cukup gegabah akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan sipil di negaranya sekadar guna memuaskan hasrat pribadinya.
Trump menjadi Mr. Hyde, kepribadian Dr. Jekyll yang liar, tak terkendali, pada waktunya. Pada waktu kamera televisi terbidik kepadanya. Pada waktu khalayak pendukung mengerumuninya dan mengelu-elukannya sebagai sosok penyelamat—mesias.
Trump: Populis, Mogul, Presiden
Pengusaha real estate, penulis buku, bintang televisi, dan kini presiden AS ke-45. Berikut langkah kehidupan sosok yang dianggap banyak orang sebagai konyol.
Foto: picture-alliance/dpa
Bersama Keluarga
Diapit oleh keluarga yang menjadi pendukung terberatnya: Donald Trump bersama istri, Melania, kedua putrinya, Ivanka dan Tiffany, putranya Eric dan Donald Junior, serta cucunya Kai dan Donald Junior III. Tiga anak Trump merupakan "Senior Vice President" dalam "Trump Organization".
Foto: picture-alliance/dpa
1984
Foto ini diambil saat Trump meresmikan kasino Harrah's di Trump Plaza, Atlantic City. Selain warisan yang diterimanya, kasino ke-5 yang dibuka di AS setelah dilegalkannya judi ini merupakan salah satu dari sekian banyak investasi Donald Trump yang membawanya menjadi miliarder.
Foto: picture-alliance/AP Images/M. Lederhandler
Sang Ayah: Frederick Junior
Modal untuk memulai bisnis sebesar satu juta US Dollar diperoleh Trump dari ayahnya, Frederick. Setelah kematiannya pada 1999, Frederick mewariskan kekayaan sebesar 400 juta US Dollar kepada Donlad Trump dan tiga saudaranya, Maryanne, Elizabeth dan Robert.
Foto: imago/ZUMA Press
Miliarder dengan Namanya
Keagresifannya dalam berinvestasi membawa Trump pada banyak kegagalan, namun juga membawa keberhasilan jangka panjang misalnya Trump Tower di New York City. Kekayaannya saat ini dikatakan sebesar 10 miliar US Dollar. Tapi para pakar menaksir, hanya sepertiga dari jumlah tersebut yang dikantongi Donald Trump.
Foto: Getty Images/D. Angerer
"Very good, very smart"
"Sangat baik, sangat cerdas" - demikian Trump menggambarkan dirinya. Dikatakannya, ia kuliah di universitas elit, Whartin di Philadelphia, dan menggondol gelar sarjana pada tahun 1968..
Foto: picture-alliance/AP Photo/B.J. Harpaz
Pendidikan Militer
Sebelumnya, saat Trump berusia 13 tahun, ayahnya mengirimkan dia ke sekolah militer di Cornwall-on-Hudson untuk belajar disiplin. Ia menyelesaikan pendidikannya di sini bahkan dengan mendapat peringkat perwira. Trump pernah mengatakan bahwa di sana ia lebih banyak mengambil manfaat pelatihan militer daripada di dinas militer sendiri.
Foto: picture-alliance/AP Photo/
Lolos dari Perang Vietnam
Walau genggam pendidikan militer, namun Donald Trump bisa menghindar dikirim ke Vietnam. Bermasalah pada tumit menjadi alasan kenapa ia tidak bisa di kirim ke medan perang.
Foto: picture-alliance/AP Photo
Istri Pertama: Ivana
Pada tahun 1977, Trump menikah dengan model asal Ceko, Ivana Zelníčková. Pernikahan, yang kerap digoyang rumor perselingkuhan, ini membuahkan tiga anak. Ivana lah yang mempopulerkan panggilan bagi Trump: "The Donald".
Foto: Getty Images/AFP/Swerzey
Keluarga Nomor 2
Tahun 1990 Donald Trump menceraikan istrinya Ivana. Ia kemudian menikahi Marla. Dari pernikahan dengan istrinya yang berusia 17 tahun lebih muda ini, Trump dikaruniai seorang putri, Tiffany.
Foto: picture alliance/AP Photo/J. Minchillo
Selalu Tampil dengan Gadis
Trump senang tampil di muka umum. Ia kerap menghadiri kontes kecantikan dan berpose dengan model muda belia, Dari tahun 1996 sampai 2015, acara kontes kecantikan Miss Universe ada di tangannya.
Foto: picture-alliance/dpa/K. Lemm
The Art of the Deal
Bagaimana meraup jutaan Dollar dengan cepat? Buku Trump berjudul The Art of Deal berisi otobiografi serta panduan bagi pengusaha ambisius, Bukunya ini tidak saja terjual laris, tapi juga melejitkan nama Trump.
Foto: Getty Images/AFP/M. Schwalm
Arena bagi Trump
Sepertinya tidak ada orang lain seperti Trump yang mampu mengalihkan semua lensa kamera ke arahnya, seperti misalnya di arena wrestling seperti tampak dalam foto. Ia juga sempat memandu "The Apprentice", acara realitas TV. Lewat program ini, Trump terkenal dengan perkataan favoritnya: "You're fired!" "Anda dipecat!"
Foto: Getty Images/B. Pugliano
Trump di Panggung Politik
Sebenarnya Trump hampr sama sekali tidak punya pengalaman politik. Namun pada 16 Juni 2015 ia mengumumkan bahwa ia mencalonkan diri sebagai kandidat presiden dari Partai Republik. Slogannya: "Make America Great Again". Kampanyenya yang kerap dengan pernyataan menentang imigran, Muslim, perempuan serta lawannya telah mengundang amarah banyak pihak.
Foto: picture-alliance/dpa/J. Lane
Jabatan Terhormat
Tidak banyak yang bisa membayangkan bahwa sosok populis, yang mengundang banyak cemoohan ini, bisa memimpin AS dan ikut membawa dunia menjadi lebih baik. Namun jalan hidupnya juga menunjukkan: Donald J. Trump memiliki kemampuan untuk berubah bagaikan bunglon.
Foto: Getty Images/AFP/M. Ngan
14 foto1 | 14
Menjadi insan lain
Namun, saya percaya, kendati kita mungkin tak akan lagi dalam satu usia hidup menemukan seseorang yang demikian kentara terpilah kepribadiannya terpilih menjadi presiden negara adidaya, fenomena Trump bukanlah fenomena yang benar-benar asing. Trump hanyalah sebuah pembenaran lebih jauh—dan lebih akbar dibanding kebanyakan kasus lain, tentu—bahwa manusia merupakan homo dramatikus. Ia akan menjadi insan lain kala menemukan panggungnya dan, di atas panggungnya, insan ini akan melakukan segalanya untuk memukau penontonnya.
Anda tak sulit menemukannya dalam wujud lain di dekat Anda. Tetapi, agar kita mempunyai rujukan bersama, kita sebut saja satu nama yang relatif dikenal khalayak. Ahok. Ahok adalah sosok yang tak keliru untuk dikatakan identik dengan kontroversi. Orang-orang bersimpati sekaligus membencinya karena emosinya dan pernyataan-pernyataannya yang tajam, menyinggung, tak tedeng aling-aling. Namun, orang-orang yang bertatap muka pribadi dengan Ahok dengan harapan aneh akan memperoleh pengalaman disemprot olehnya biasanya kecewa. Mereka akan menemukan sosok yang sopan dan berpembawaan tenang.
Ada yang bilang, Ahok adalah sosok yang menguasai dirinya sampai dengan para wartawan menghampirinya dengan pertanyaan-pertanyaan pancingan yang provokatif. Sampai dengan panggung digelar untuknya. Sampai dengan ia diadu dengan politisi-politisi lain dalam sebuah drama yang dibayangkan para pembaca media melibatkannya selaku pemeran utamanya. Di sanalah ia menjelma menjadi Ahok yang kita kenal.
Ahok dan Penggusuran
Pemerintah ibukota terus lakukan penggusuran. Di tengah aksi penolakan warga, pemerintah DKI Jakarta menggusur Pasar Ikan Luar Batang di Jakarta Utara.
Foto: Reuters/Beawiharta
Ribuan Aparat Diturunkan
Meski diwarnai protes, pemerintah DKI Jakarta tetap lakukan penertiban bangunan di zona satu dan zona dua kawasan Pasar Ikan Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Lebih 4000 aparat gabungan Polda Metro Jaya TNI dan satuan pamong praja diturunkan ke lokasi. Untuk antisipasi demonstrasi, petugas juga membawa water cannon.
Foto: Reuters/Beawiharta
Kericuhan Pecah
Petugas memperingatkan warga sebelum mesin-mesin berat meluluhlantakkan perumahan nelayan di Luar Batang. Penduduk tak mau menyerah begitu saja. Sebagian berusaha pertahankan rumah mereka dan berdiri menantang petugas, sebelum pada akhirnya petugas tetap hancurkan rumah mereka.
Foto: Reuters/Beawiharta
Warga Berhadapan dengan Petugas
Warga yang menentang penggusuran tampak berhadap-hadapan dengan petugas. Menurut Pemprov DKI Jakarta dari total 240 kios yang ada di dekat kawasan Museum Bahari itu, sekitar 100 kios di antaranya justru dijadikan tempat tinggal. Pemprov DKI juga mengatakan, setelah akuarium raksasa dipindahkan ke Ancol, banyak warga memasuki lokasi ini.
Foto: Reuters/Beawiharta
Nasib Pemukim Dipertanyakan
Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengatakan tidak akan meratakan seluruh bangunan di sekitar Museum Bahari-Pasar Ikan, melainkan mengembalikan konsep kios di Pasar Ikan Luar Batang seperti zaman kolonial Belanda dahulu. Namun bagaimana nasib para pemukim ini kemudian?
Foto: Reuters/Beawiharta
Kemana Mereka Pergi?
Tampak warga menggotong barang miliknya, ketika alat berat mulai meratakan bangunan yang dikategorikan ilegal di Luar Batang 11 April 2016.
Foto: Reuters/Beawiharta
Hujan Kritikan
Kebijakan penggusuran yang dilakukan pemprov DKI Jakarta mendulang kritik, di antaranya dari Konsorsium Masyarakat Miskin Kota (Urban Poor Consortium-UPC), yang melihat rakyat kecil selalu menjadi korban, dengan alasan menempati tanah negara. Padahal menurut UPC, banyak oknum di pemerintahan yang menjual lahan kepada warga, namun pemerintah tidak menindak oknum-oknum tersebut.
Foto: Reuters
Sebelumnya Kalijodo
Akhir Februari lalu, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama melakukan penggusuran kawasan Kalijodo, guna kembalikan fungsi lahan. Warga terkejut karena merasa kurangnya sosialisasi. Warga yang punya KTP disediakan rumah susun, sementara yang tak punya KTP ditawarkan pulang ke kampung halaman. Pemerintahan Ahok juga menggusur warga di kolong tol Pluit.
Foto: Reuters/Antara Foto/W. Putro
Penggusuran demi Penggusuran
Sebelumnya juga telah dilakukan penggusuran di beberapa wilayah lain, seperti Bukit Duri, Jakarta Selatan yang ingin dibuat tanggul. Lalu Kampung Pulo, Jakarta Timur yang merupakan langganan banjir. Mei 2015, pemprov DKI juga melakukan penggusuran di kawasan bantaran Ancol, Pinangsia.
Foto: Getty Images/AFP/B. Ismoyo
8 foto1 | 8
Drama tak pernah semata soal aktor belaka
Tetapi, kendati homo dramatikus tak selalu memaksudkan apa yang disampaikannya, permasalahannya, drama tak pernah semata soal aktornya belaka. Ia, toh, digelar hanya karena ada yang mau menontonnya. Ia, pada dasarnya, ada karena penonton yang mendamba-dambakan bergulirnya sebuah cerita yang mencengangkan, menakjubkan, dan memuaskan mereka.
Para pengecam, artinya, tak seyogyanya berlega hati seandainya Trump, yang memang jauh lebih terlatih mencuri perhatian alih-alih merumuskan kebijakan, ternyata tak percaya dengan kata-katanya sendiri. Perkaranya, para pendukungnya mempercayainya. Semua racaunya, sejak awal, adalah komitmen politik yang dipegang pendukungnya. Siapa yang bisa menerka apa yang akan dilakukan Trump bila ia sewaktu-waktu di masa depan membutuhkan dukungan politik? Ia bisa mengalihkan kegagalannya menyejahterakan kelompok-kelompok masyarakat yang memerlukan dengan mengambinghitamkan para pendatang, toh, pendukungnya, sedari awal, memandatinya memimpin negerinya karena narasi yang diecernya ini.
Boris Johnson, lagi pula, politisi pendukung getol Brexit yang sebelumnya jelas terlihat ragu dengan faedah Brexit, kini tak jemu-jemunya menyampaikan ke depan publik bahwa Brexit akan menjadi kemenangan besar Inggris. Tulisan lama Johnson memperlihatkan ia sadar meninggalkan Uni Eropa berarti meninggalkan pasarnya yang menguntungkan perekonomian Inggris. Namun, Brexit telah terjadi dan Johnson tak punya pilihan. Ia kini harus percaya dengan kata-katanya sendiri. Sebagaimana Trump nanti, kala menahkodai negerinya, harus percaya dengan kekonyolan-kekonyolan yang pernah dicetuskannya sendiri. The show must go on? Ya.
Jadi, apakah Anda masih bingung mengapa dunia politik diliputi dengan hal-hal surealistis belakangan? Seharusnya tidak. Karena ia pada dasarnya adalah drama. Dimainkan oleh homo dramatikus. Disaksikan oleh mereka yang menginginkan hidup, yang sejatinya fana dan tak menarik, setidaknya sedikit lebih berbumbu.
Penulis: Geger Riyanto (ap/rzn)
Esais dan peneliti sosiologi. Mengajar Filsafat Sosial dan Konstruktivisme di Universitas Indonesia. Bergiat di Koperasi Riset Purusha.
@gegerriy
*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWnesia menjadi tanggung jawab penulis.
Trump Yang Mungkin Tidak Anda Ketahui
Tahukah Anda bahwa presiden AS ini sama sekali tidak minum alkohol dan pernah meraih piala Razzie sebagai peran pembantu terburuk dalam sebuah film? Simak fakta menarik lainnya pada galeri berikut!
Foto: Getty Images/AFP/W. McNamee
Tidak Harus Bekerja
Warisan uang dari ayah Trump sebenarnya akan lebih menguntungkan jika tidak dijadikan dana investasi ribuan bisnis Donald Trump dan hanya disimpan dalam bentuk reksadana yang kini nilainya sudah pasti berlipatganda.
Foto: picture-alliance/AA
Remaja Nakal
Saat remaja Trump bermasalah di sekolahnya di Queens. Orangtuanya lalu memutuskan untuk 'memberi hukuman' dengan memindahkan Trump ke sekolah militer di New York. Dari sana, Trump kuliah di Fordham University, lalu pindah ke University of Pennsylvania's Wharton School. Ia lulus tahun 1968.
Foto: picture alliance/landov
Tidak Minum Alkohol
Banyak yang tidak mengetahuinya. Tapi Trump sama sekali tidak minum alkohol. Mungkin ini ada hubungannya dengan kematian kakak laki-lakinya Fred yang kecanduan akohol. Tapi ironisnya, tahun 2006 ia mendirikan pabrik destilasi vodka dengan produk yang diberi nama Trump Vodka.
Foto: fotolia/Storm Flash
Tidak Pernah Gunakan ATM
Saat diwawancarai Conan O’Brien dalam acara televisi Late Night With Conan O’Brien,Donald Trump mengaku belum pernah menggunakan mesin ATM.
Foto: Fotolia/meryll
Makan Pizza dengan Garpu dan Pisau
Tidak seperti kebanyakan orang, Trump hanya menyantap pizza dengan menggunakan pisau dan garpu. Alasannya, karena lebih nyaman dan agar ia tidak kotor.
Foto: Colourbox
Germaphobia
Trump menderita fobia yang disebut germaphobe. Ia terobsesi dengan kebersihan dan takut terkena kuman jika bersentuhan dengan orang lain. Sulit bagi seorang calon presiden. Tapi sebisa mungkin, Trump selalu menghindari untuk bersentuhan dengan orang lain.
Foto: Reuters/L. Jackson
The Game
Papan mainan ini dirilis Milton Bradley tahun 1989 menyusul kesuksesan Trump di dunia real estate. Pada "The Game", pemainnya bisa mencoba dan mengikuti cara Trump menjadi kaya atau kehilangan semuanya. Permainan ini gagal total di pasaran.
Foto: Getty Images/S. Platt
Razzie Award
Trump sudah sering tampil sebagai cameo di banyak film. Tapi perannya yang terburuk adalah di film Ghosts Can’t Do It. Film ini meraih piala Razzie sebagai film terburuk di tahun 1990 dan Trump 'menang' sebagai pemeran pembantu pria terburuk.
Foto: picture alliance/ZUMA Press/a75
Walk of Fame
Trump memiliki bintang di Hollywood Walk of Fame tahun 2007 berkat kepopuleran show televisinya The Apprentice. Juli 2016, orang tak dikenal memasang tembok disekeliling bintang Trump, lengkap dengan kawat berduri diatasnya dan stiker bertuliskan 'jangan masuk' dan 'berhenti membuat orang bodoh jadi terkenal'.
Foto: picture-alliance/dpa/N. Stern
Tawarkan Gratis Main Golf Seumur Hidup Bagi Obama
Trump pernah menawarkan presiden AS Barack Obama untuk main golf secara gratis seumur hidup di salah satu lapangan golf miliknya. Syaratnya, Obama harus mengundurkan diri sebagai presiden.