Hong Kong Menurut Dua Bekas Narapidana Politik Berusia Muda
S. Ripley | May James Kontribusi foto di Hong Kong
26 November 2025
Lima tahun setelah diberlakukan Beijing, UU keamanan nasional sepenuhnya mengubah wajah Hong Kong. Dua mantan narapidana muda mengisahkan hidup dalam kebebasan yang mereka definisikan oleh kesunyian yang mengusik.
Pada usia 18 tahun, Kelly dipenjara berdasarkan undang-undang keamanan nasional — empat tahun kemudian, ia kembali ke kota yang hampir tidak dikenalnyaFoto: May James/DW
Iklan
"Aku tahu dulu aku masuk bui karena mencoba membuat perubahan — tapi ongkosnya jauh lebih besar dari yang kubayangkan,” ungkap Kelly, yang enggan menyebutkan nama belakangnya.
Ia masih berusia 18 tahun ketika ia ditangkap pada tahun 2021 atas tuduhan "konspirasi menghasut subversi” dan "konspirasi membuat bahan peledak.”
Ia adalah salah satu terdakwa termuda yang terhubung dengan kelompok anak muda yang menamakan diri mereka "Returning Valiant,” kasus pertama di mana anak di bawah umur dijatuhi hukuman berdasarkan undang-undang keamanan nasional yang diberlakukan Cina atas Hong Kong pada tahun 2020.
Suara-suara kota yang ia kunjungi kembali seperti sebuah kenangan yang tidak bisa ia hindari, kata KellyFoto: May James/DW
Setelah hampir empat tahun ditahan, Kelly kembali menghirup udara bebas pada April lalu, memasuki sebuah kota yang terasa tak lagi dikenalnya.
"Segalanya terasa asing,” tuturnya. Kafe-kafe kecil, toko-toko setempat, sudut-sudut yang dulu terasa akrab— lenyap atau tergantikan oleh yang baru. Terasa asing baginya. "Hong Kong yang kukenal sudah pergi.”
Hari-harinya kini mengikuti ritme yang lebih sunyi. Ia bekerja paruh waktu di sebuah kafe, mengunjungi psikiater sebulan sekali, dan berusaha tidur semalam penuh tanpa terbangun dengan tubuh basah oleh keringat. "Kadang aku bermimpi orang-orang mengejarku, menembak dari atap. Saat terbangun, aku mengecek pintu, jendela—sekadar memastikan mereka tak berada di sana.”
Suara-suara kota yang ia datangi kembali menghantam seperti kenangan yang enggan melepaskannya. "Aku tak bisa bernapas kalau ada terlalu banyak orang.”
'Hong Kong yang saya kenal sudah hilang,' kata KellyFoto: May James/DW
Kendali Beijing atas Hong Kong semakin mencengkeram
Banyak teman lamanya telah pergi; sebagian lainnya menjauh. "Ada yang tak tahu harus berkata apa. Ada juga yang hanya takut.”
Iklan
Kelly menundukkan kepala—menghindari slogan, sahabat-sahabat lama, atau apa pun yang mungkin mengusik pikirannya. Ia belajar untuk lebih sedikit bicara, menimbang kata dengan hati-hati. "Bahkan tawa kini terdengar berbeda.”
Kesendirian yang telah ia pelajari untuk hidup bersamanya kini juga dirasakan oleh kota itu.
Pada tahun 2025, ketika pemerintah menandai lima tahun diberlakukannya undang-undang keamanan nasional, jumlah penangkapan memang melambat, tetapi cengkeraman kendali justru semakin mendalam.
Inisiatif pendidikan baru memantau ujaran siswa di dunia maya, sementara calon anggota dewan distrik harus lulus pemeriksaan loyalitas, dan mantan narapidana—meski secara teknis bebas—menggambarkan hidup dalam bayang pengawasan yang tak terlihat.
Sementara itu, awal bulan ini, pemerintah mengumumkan rencana memasang puluhan ribu kamera berteknologi kecerdasan buatan AI di seluruh kota pada 2028—bagian dari jaringan "SmartView” yang diklaim pejabat akan meningkatkan keamanan publik. Bagi banyak warga Hong Kong, ini terasa seperti perpanjangan dari sistem yang sama, tandas Kelly.
Joker Chan menjalani hukuman lima bulan penjara karena postingan online yang menghasut.Foto: May James/DW
Tekanan itu lebih kentara bagi Joker Chan
Joker Chan menjalani lima bulan hidup di penjara karena unggahan daring yang dianggap menghasut—frase dan slogan yang dibagikan pada masa ketika ekspresi masih terasa mungkin.
Sejak dibebaskan dari bui pada tahun 2022, polisi telah menahan dan menggeledahnya ratusan kali. ‘Kamu keluar penjara dengan berpikir bahwa kamu sudah menebus kesalahanmu,' katanya, ‘tapi masyarakat terus menagih bunga. Rasanya seperti mereka mengingatkanku setiap hari — bahwa kamu tidak pernah benar-benar bebas.'”
Tato-tatonya, yang dulu simbol keyakinan, kini membuatnya mencolok di jalan. "Kadang mereka hanya menatap,” ujarnya. "Kadang mereka menanyakan hal-hal yang tak ada hubungannya dengan apa pun.”
Kasih Sayang Tuhan di Tengah Demonstrasi Hong Kong
Pendeta Alan Keung terjun langsung ke dalam protes di wilayah administratif khusus Cina ini. Ia tawarkan segala bantuan yang dibutuhkan termasuk doa, ceramah, dan pembasuh mata akibat gas air mata.
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
Dari mimbar turun ke jalan
Alan Keung adalah salah satu dari beberapa pendeta yang mencoba membantu para demonstran di Hong Kong. Sering kali ia melakukan ini di tengah suasana yang memanas. Dalam foto, terlihat ia menenangkan seorang pejalan kaki yang marah dan memaki pengunjuk rasa karena memblokade jalan. "Misi saya adalah membawa cinta kepada orang banyak," ujar Keung.
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
Kenakan helm, rompi keselamatan, dan kerah pendeta
Agar mudah dikenali dan untuk perlindungannya, Keung menggambar tanda salib di helmnya. Dia juga mengenakan rompi berwarna kuning neon. Laki-laki berusia 28 tahun itu telah bergabung dengan tim penolong yang bekerja sukarela. Mereka utamanya membantu orang untuk mencuci mata mereka dari gas air mata. Jika ada yang butuh dukungan spiritual, Keung juga menyediakan waktu untuk berdoa singkat.
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
Melawan rasa sakit
Bersama relawan lain, Keung membantu seorang pejalan kaki yang terkena gas air mata untuk mencuci matanya. Polisi Hong Kong menggunakan gas air mata, semprotan merica, dan meriam air untuk mengatasi kerusuhan. Sedangkan demonstran menyerang petugas keamanan dengan alat pembakar serta busur dan panah.
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
Pertolongan untuk semua
Ketika sedang bertugas, Keung tidak berada di pihak mana pun. "Kadang-kadang kami membantu polisi yang terluka dan membutuhkan pertolongan." Pada bulan Juli, setelah terjadinya serangan di stasiun kereta, kelompok relawannya membantu pasukan keamanan dan melindungi mereka dari penumpang yang marah.
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
Di antara dua kubu
Yang dikerjakan Keung bukannya tanpa bahaya. Dia sendiri sudah pernah merasakan pedihnya gas air mata. Baru-baru ini, kerusuhan pecah di Hong Kong, terutama di Universitas Politeknik. Polisi mengancam akan menggunakan peluru tajam. Sebelum pemilu, pemerintah mengawasi situasi dengan ketat untuk memastikan pemilihan lokal yang dijadwalkan pada akhir pekan (24/11) bisa berlangsung aman.
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
"Bukan tipe orang yang tinggal diam di gereja"
Keung telah menjadi pendeta di sebuah komunitas yang terdiri dari sekitar 30 orang di wilayah timur laut Hong Kong selama tujuh tahun. "Saya bukan seseorang yang hanya diam di gereja dan berbicara tentang kemanusiaan, keadilan, dan moralitas tetapi mengabaikan apa yang terjadi di luar," katanya. "Saya ingin berada di tengah massa saat dibutuhkan."
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
"Kalian masing-masing terlibat"
Pengalaman dan pelajaran yang didapat dalam protes itu, kadang juga terbawa di dalam khutbahnya. Di sini, ia bersama para siswa seusai waktu berdoa di atap gedung sebuah gereja, mengatakan: "Jangan kalian merasa kalian bukan bagian dari (protes) itu," katanya."Masing-masing dari kalian adalah masa depan Hong Kong dan dunia, kalian masing-masing terlibat." (ae/rap)
Foto: Reuters/K. Kyung-Hoon
7 foto1 | 7
Bebas dari penjara bukanlah akhir cerita bagi para pengunjuk rasa Hong Kong
Kisah Kelly dan Joker berbeda, tetapi hidup mereka mengikuti pola yang sama. Yang satu hidup dengan beban ingatan, yang lain di bawah tatapan kecurigaan. Bagi keduanya, kebebasan bukanlah penutup bab, melainkan perpanjangan—kebebasan yang dijalani dengan rasa was-was, dalam keheningan, dalam ruang samar antara mengawasi dan diawasi.
Ketika hakim menjatuhkan hukuman kepada para terdakwa Returning Valiant, ia menulis: "Bahkan jika hanya satu orang yang dihasut oleh mereka, stabilitas sosial Hong Kong dan keselamatan penduduk dapat terancam secara serius.”
Ia mengakui tidak ada bukti langsung bahwa siapa pun telah terhasut, namun menyebut "risiko nyata” cukup untuk menjatuhkan hukuman.
Dalam penalaran itulah tersimpan inti tatanan baru kota ini: Gagasan tentang bahaya itu sendiri telah dianggap menjadi kejahatan. Penindakan tak berakhir di penjara; melainkan hanya berganti rupa.
Tubuhku adalah catatanku — tak seorang pun dapat menghapusnya. Masa lalu Joker terukir di kulitnya sebagai beban dan kenanganFoto: May James/DW
Beberapa orang memilih memulai hidup baru di tempat lain—tetapi bagi Kelly dan Joker, bertahan menjadi sebuah tindakan kesaksian kecil.
"Pergi rasanya seperti menghapus segala yang telah kami lalui,” tutur Kelly. Ia tetap tinggal demi keluarganya, demi mereka yang masih dipenjara, dan demi serpihan kota yang dulu jadi bagian dari sejarah hidupnya yang tak bisa terhapus bergitu saja.
Joker pun tetap tinggal, masa lalunya terukir di kulitnya sebagai luka dan kenangan—sebuah catatan tentang apa yang tak lagi bisa diucapkan lantang: "Ini rumahku, jalanku, kisahku.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Rizki Nugraha
Hari-hari Penuh Kekerasan di Hong Kong
Selama setengah tahun, para mahasiswa di Hong Kong berdemonstrasi menuntut kebebasan dan demokrasi. Protes pun semakin radikal. Terakhir, pecah bentrokan di Universitas Politeknik Hong Kong.
Foto: Reuters/T. Siu
Protes di Kampus Politeknik
Inilah kampus Universitas Politeknik. Para demonstran dipukul mundur di sini dan terlibat dalam bentrokan dengan polisi selama lebih dari 24 jam. Di kampus, ratusan orang berbekal senjata alat pembakar dan senjata rakitan sendiri. Untuk menangkal polisi, mereka menyalakan api besar-besar.
Foto: Getty Images/AFP/Ye Aung Thu
Diringkus dan ditangkap
Aktivis melaporkan bahwa polisi mencoba menyerbu gedung universitas. Karena gagal, aparat pun menciduk para demonstran di sekitaran universitas. Mahasiswa yang ingin meninggalkan kampus ditangkap. Polisi mengatakan mereka menembakkan amunisi di dekat universitas pada pagi hari, tetapi tidak ada yang tertembak.
Foto: Reuters/T. Siu
Gagal melarikan diri
Di luar kampus, polisi bersiaga dengan meriam air. Asosiasi mahasiswa melaporkan bahwa sekitar 100 mahasiswa mencoba meninggalkan gedung universitas. Namun mereka terpaksa kembali ke dalam gedung kampus ketika polisi menembakkan gas air mata ke arah mereka.
Foto: Reuters/T. Peter
Lokasi strategis penting
Universitas Politeknik menjadi penting dan strategis bagi para demonstran karena terletak di pintu masuk terowongan yang menghubungkan daerah itu dengan pulau Hong Kong. Dalam beberapa hari terakhir, pengunjuk rasa telah mendirikan barikade di luar terowongan untuk memblokir pasukan polisi. Ini adalah bagian dari taktik baru untuk melumpuhkan kota dan meningkatkan tekanan pada pemerintah.
Foto: Reuters/T. Peter
Apa tuntutannya?
Protes di Wilayah Administratif Khusus ini telah berlangsung selama lebih dari lima bulan. Tuntutan para demonstran antara lain yaitu pemilihan umum yang bebas dan penyelidikan kekerasan yang dilakukan oleh polisi. Perwakilan pemerintahan Beijing di Hong Kong belum menanggapi kedua tuntutan ini.
Foto: Reuters/T. Peter
Peningkatan kekerasan
Protes yang awalnya damai kini berubah menjadi penuh kekerasan. Polisi menindak tegas dan mengancam akan menggunakan amunisi tajam. Aktivis Hong Kong berbicara tentang adanya 4.000 penangkapan sejak protes dimulai. Para demonstran sendiri melawan dengan melempari batu, melemparkan bom Molotov dan menggunakan busur serta anak panah.
Foto: Reuters/T. Siu
Busur dan anak panah untuk melawan
Seorang polisi terluka pada hari Minggu (17/11) akibat tusukan anak panah di kakinya. Aktivis terkenal Hong Kong, Joshua Wong, membenarkan kekerasan yang dilakukan para demonstran. "Dengan protes yang damai, kami tidak akan mencapai tujuan kami. Dengan kekerasan saja juga tidak mungkin, kami membutuhkan keduanya," kata Wong kepada media Jerman, Süddeutsche Zeitung.
Foto: picture-alliance/dpa/Hong Kong Police Dept.
Sembunyikan identitas
Pemerintah Hong Kong telah melarang pemakaian topeng. Banyak demonstran memakai masker gas untuk perlindungan terhadap serangan gas air mata. Yang lain mengikat kain di depan wajah mereka untuk menyembunyikan identitas. Mereka takut penangkapan dan konsekuensinya jika mereka sampai dikenali.
Foto: Reuters/T. Siu
Khawatir militer turun tangan
Eskalasi kekerasan juga makin berlanjut. Kehadiran beberapa tentara Cina pada hari Sabtu (16/11) di Hong Kong menyebabkan kekhawatiran. Para tentara ini diturunkan untuk membantu membersihkan serakan batu. Di antara para demonstran, muncul kekhawatiran besar bahwa Cina bisa saja menggunakan militernya untuk mengakhiri protes di Hong Kong. (ae/pkp)