1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Horst Köhler, presiden baru Jerman

24 Mei 2004

Horst Koehler, 61 tahun, mantan Direktur Dana Moneter Internasional IMF , terpilih sebagai Presiden baru Jerman. Ia memperoleh dukungan 604 suara, sementara lawannya Ny. Gesine Schwan , pakar ilmu politik, yang juga berusia 61 tahun, hanya mendapat 589 suara

Horst Köhler ( duduk tengah) di Parlemen Berlin setelah terpilih sebagai presiden baru Jerman
Horst Köhler ( duduk tengah) di Parlemen Berlin setelah terpilih sebagai presiden baru JermanFoto: AP

Kelompok konservatif akhirnya bisa mengalahkan partai koalisi beraliran tengah-kiri, pimpinan kanselir Gerard Schroeder, yang berkuasa. Presiden baru Horst Köhler berjanji akan membawa angin pembaruan di Jerman. Berikut komentar beberapa koran Jerman mengenai presiden baru Jerman.

Harian Tagesspiegel yang terbit di Berlin dalam tajuknya menulis: Tidaklah buruk bagi Jerman mempunyai presiden yang mantan Direktur IMF yang mengetahui betul, bagaimana globalisasi akan mengubah denyut ekonomi di dunia. Mayoritas suara untuk Köhler terutama adalah hasil kejenuhan terhadap koalisi pemerintahan SPD-Partai Hijau. Pembaruan dan reformasi yang dituntut oleh presiden baru merupakan kata-kata yang muluk. Sebenarnya pemerintah telah melaksanakan reformasi, namun selama ini tidak berhasil mendapat kepercayaan dan dukungan dari masyarakat. Maka yang tercermin sekarang: Jerman punya kanselir yang menjalankan reformasi , namun kehilangan dukungan. Sementara presiden yang pro reformasi, tidak memiliki kekuasaan politik.

Harian Hannoversche Allgemeine Zeitung yang terbit di Hannover berkomentar: Presiden Jerman sering dilambangkan sebagai sebuah institusi yang terutama melakukan peneguran dan memberikan peringatan . Namun sebenarnya peringatan dan teguran sudah cukup banyak di negeri ini. Yang langka adalah mentalitas yang memandang pembaruan - dari globalisasi sampai ke teknologi gen - bukan hanya sebagai risiko, melainkan juga sebagai peluang baru. Memanfaatkan peluang pembaruan adalah juga imbauan kanselir Schröder. Mungkin Schröder kini akan mendapat lebih banyak dukungan bagi politik refromasinya, ketimbang di zaman Presiden Rau. Namun itulah hiburan kecil bagi seorang kanselir, yang harus mengalami terpilihnya calon dari partai lawan sebagai presiden . Pengaruh politik yang kuat dari pihak lawan telah menimbulkan getaran , yang dampaknya akan dirasakan di hari-hari mendatang.

Horst Köhler, kandidat dari partai oposisi Uni Kristen dan Demokrat liberal FDP mengalahkan Ny. Gesine Schwan, calon dari partai koalisi SPD-Partai Hijau yang memerintah. Kemenangan Horst Köhler oleh pihak oposisi di Jerman dinilai sebagai isyarat bagi pergantian kekuasaan di Jerman. Bagaimana pandangan di luar negeri? Berikut beberapa komentar harian non-Jerman.

Harian Italia La Repubblica berkomentar: Jelas ini merupakan isyarat bagi pergantian haluan politik di Jerman, justru pada pertengahan masa jabatan pemerintahan SPD-Partai Hijau. Memang presiden Jerman hanya punya wewenang representatif, namun kemenangan Horst Köhler terhadap lawannya dari kubu kiri-tengah, merupakan sukses politik dan pribadi bagi ketua Partai Demokrat Kristen CDU Angela Merkel , terhadap kanselir Gerhard Schröder, dua tahun sebelum pemilihan umum Jerman di bulan September 2006.

Harian Belanda de Volkskrant berkomentar, kemenangan Köhler mengisyaratkan kecenderungan baru di Jerman: Dengan kemenangan Köhler, kemungkinan bagi seorang kanselir perempuan tidak menjadi lebih kecil. Dengan kemenangan Köhler, partai oposisi CDU, CSU dan FDP menunjukkan bahwa merekalah mayoritas baru di Jerman, meski pun masa pemerintahan kanselir Gerhard Schröder masih berlangsung dua tahun lagi. Merkel menilai kemenangan Köhler sebagai kekalahan SPD-Partai Hijau.

Sementara harian Swiss Neue Zürcher Zeitung menanggapinya sebagai kemenangan tokoh-tokoh yang non-politis : Bukanlah pertanda baik bagi situasi politik di Jerman, bahwa kedua kandidat untuk jabatan tertinggi justru begitu populer dan digemari, karena mereka tidak memegang jabatan politik. Apa lagi keduanya dengan gamblang menyatakan, situasi buruk di Jerman di tahun-tahun belakangan disebabkan oleh intrik-intrik antar partai.

Harian Swiss lainya Berner Zeitung dalam komentarnya menulis: Setelah Rau bukan perempuan. Sebab partai oposisi CDU, CSU dan FDP bertekad menunjukkan kekompakannya untuk mengisyaratkan pergantian kekuasaan. Kalkulasi politik partai oposisi meninggalkan rasa hambar. Jadi setelah Presiden Yohannes Rau bukan presiden perempuan. Namun , seorang ekonom yang brilyan , seorang analisis yang realistis. Semoga Köhler , setelah penampilannya yang pucat dalam kampanye pemilihan, sebagai presiden punya profil kuat dan berwajah lebih cerah.

Nada lain dalam komentar harian Austria Der Standard yang memperingatkan oposisi , agar jangan menarik kesimpulan yang salah menjelang pemilihan parlemen Jerman berikutnya: Sangat memalukan bahwa ketiga ketua partai oposisi CDU, CSU dan FDP menyebut kemenangan kandidatnya sebagai isyarat bagi pergantian kekuasaan di Berlin. Apa lagi karena partai-partai oposisi memiliki suara mayoritas dalam dewan pemilihan, bukanlah kejutan bahwa Köhler menang. Lagi pula menurut hasil angket , kemungkinan besar Ny. Gesine Schwan akan menang, seandainya rakyat dapat memlih langsung presidennya.