Hubungan AS dan India Retak, Trump Jadi Sorotan
28 April 2026
New Delhi pekan lalu mengecam sebagai komentar yang “tidak pantas” unggahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di media sosial yang menyebut India sebagai “lubang neraka.”
Trump membagikan cuplikan dari acara radio The Savage Nation, di mana komentator konservatif Michael Savage mengatakan: “Seorang bayi di sini langsung menjadi warga negara, lalu mereka membawa seluruh keluarga dari Cina atau India atau lubang neraka lain di planet ini.”
Kementerian Luar Negeri India menggambarkan pernyataan tersebut sebagai “jelas tidak berdasar, tidak pantas, dan tidak berkelas,” dalam pernyataan yang dikutip Reuters.
“Pernyataan tersebut jelas tidak mencerminkan realitas hubungan India-AS, yang telah lama didasarkan pada saling menghormati dan kepentingan bersama.”
Komentar ini muncul di tengah tekanan ekonomi yang lebih luas yang semakin membebani sentimen publik di India terhadap Washington.
Mengapa hubungan India-AS tetap penting
Hubungan India–AS merupakan bagian sentral dari strategi global kedua negara, dibangun di atas kepentingan ekonomi, keamanan, dan teknologi yang sama.
Amerika Serikat adalah mitra dagang terbesar India dan tujuan utama bagi diasporanya.
New Delhi juga menjadi kunci dalam strategi Indo-Pasifik Washington, terutama sebagai penyeimbang terhadap meningkatnya pengaruh Cina.
Meski hubungan formal tidak mungkin berubah, pandangan India yang dulu aspiratif terhadap AS kini semakin bergeser menjadi lebih transaksional.
India memasuki tahun 2025 dengan optimisme terhadap apa yang akan dibawa masa jabatan kedua Trump bagi hubungan bilateral.
Lima bulan kemudian, Presiden AS dan Perdana Menteri India Narendra Modi terlibat dalam ketegangan diplomatik setelah Trump mengumumkan gencatan senjata antara India dan Pakistan pascaserangan Pahalgam di Kashmir yang dikelola India, dengan mengeklaim dirinya sebagai perantara. Pakistan mendukung klaim tersebut.
Namun India dengan tegas membantah klaim Trump, menegaskan bahwa pembicaraan gencatan senjata dilakukan secara bilateral dan keterlibatan pihak ketiga dalam isu Kashmir tidak dapat diterima.
Bagaimana tarif AS terhadap India mengguncang kepercayaan bilateral
Pada Juli 2025, AS menyatakan akan mengenakan tarif sebesar 50% terhadap India, salah satu yang tertinggi di dunia, sebagian karena India membeli minyak Rusia.
Dalam laporan Agustus 2025 yang diterbitkan oleh lembaga pemikir Delhi Policy Group, mantan diplomat Hemant Krishan Singh menyebut hubungan AS-India berada pada “titik belok.”
“Menjadikan India sebagai sasaran atas pembelian minyak Rusia sambil memberi kelonggaran kepada pembeli lain (dan yang lebih besar) sulit dianggap sebagai hal lain selain tindakan bermusuhan,” tulis Singh.
“Terjadi kemunduran dalam kepercayaan timbal balik, rasa percaya terguncang, ketidakpastian muncul, dan dukungan publik di India telah menurun,” tambahnya.
Dalam pidatonya pada konferensi keamanan Raisina Dialogue bulan lalu di New Delhi, Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau mengatakan bahwa “India harus memahami bahwa kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan India seperti yang kami lakukan dengan Cina.”
“Itu merupakan puncak dari apa yang terjadi selama setahun terakhir. Fakta bahwa komentar ini disampaikan dalam forum strategis menunjukkan bagaimana pemerintahan AS memandang India,” kata Navtej Sarna, mantan duta besar India untuk AS.
Sarna mengatakan kepada DW bahwa hal ini membuat banyak pejabat di Delhi marah. “Kehangatan terhadap Pakistan juga menambah rasa tidak percaya di India,” tambahnya.
Bagaimana tindakan AS berdampak pada masyarakat India
Para ahli menyebut serangkaian insiden lain, mulai dari pengetatan pembatasan program visa H-1B yang banyak digunakan migran India dan Cina, hingga influenser yang berafiliasi dengan Trump yang memperkuat narasi yang dianggap rasis tentang India, serta Trump yang memberikan “izin” sementara kepada India untuk membeli minyak Rusia di tengah kekurangan yang terkait dengan blokade efektif Selat Hormuz.
Karen Rebelo, jurnalis independen dan pakar disinformasi, menjelaskan bahwa perang Iran telah “membalikkan segalanya.”
“Rupee mencapai titik terendah, pasar saham mengalami kerugian, rantai pasok terganggu. Kehidupan masyarakat terdampak langsung, dan tidak ada yang kebal, terutama di India yang bergantung pada impor,” katanya kepada DW.
Pemilih sayap kanan India, yang sebagian besar merupakan pelaku usaha kecil, menengah, dan besar, sebelumnya cenderung mendukung Trump karena kesamaan ideologi.
“Keduanya bertumpu pada agama, keduanya konservatif dan properdagangan, keduanya melihat minoritas Muslim sebagai musuh,” ujar Rebelo.
Namun dukungan tradisional tersebut kini berubah menjadi frustrasi yang lebih tersembunyi seiring bisnis mereka terdampak.
“Bahkan ada rasa iri. Mereka ingin India menjadi pihak yang menentukan, memiliki kekuatan untuk mengatur arah,” katanya.
Media India mengubah posisi terhadap AS
Pemerintahan Modi sebagian besar bersikap menahan diri dalam merespons pemerintahan Trump kedua, sebagai imbalan atas sesekali pujian dari presiden AS yang menyebut New Delhi sebagai “teman yang sangat baik.”
“India memutuskan untuk terus menjaga hubungan yang telah dibangun secara konsisten agar tidak kehilangan semuanya,” kata Sarna, seraya mencatat bahwa India berusaha merespons dengan kedewasaan, bahkan ketika sikap yang lebih tegas mungkin dapat dibenarkan.
Namun ketika pemerintah memilih menahan diri, para influenser yang sejalan dengan pemerintah justru mengkritik tajam presiden AS.
YouTuber dengan jutaan pengikut, seperti Nitesh Rajput, Shams Sharma, Abhi dari Abhi and Niyu, dan Abhijit Chavda, sebelumnya mengikuti narasi pemerintah.
Dalam tiga bulan terakhir, semuanya telah menerbitkan konten yang menjauh dari narasi “teman baik.” Beberapa video bahkan mempertanyakan kewarasan Trump.
“Sentimen anti-AS jelas berada di titik tertinggi dalam beberapa waktu terakhir,” kata Sundeep Narwani, salah satu pendiri perusahaan riset AI India Narrative Research Lab, yang menggunakan data perilaku dan konsumen untuk memprediksi minat dan memetakan narasi media.
“Pekerjaan utama dalam pembentukan narasi kini dilakukan oleh YouTuber berpengaruh, baik yang propemerintah maupun yang kritis,” katanya.
Narwani menyebut bahkan saluran TV arus utama di India telah meninggalkan posisi pro-Trump.
“Saluran TV sebelumnya lebih pro-Amerika, tetapi sekarang terlihat jelas adanya keseimbangan dalam pemberitaan.”
“Saluran TV kini menampilkan korban dan kehancuran (dalam perang Iran) di kedua sisi secara setara. Koreksi dari simpati yang sebelumnya timpang adalah fenomena baru,” katanya kepada DW.
Narasi yang ditetapkan oleh influenser besar dengan cepat diadopsi oleh kreator yang lebih kecil, kata Narwani.
“Setelah menyebar ke influenser regional, konten analisis geopolitik yang mendalam itu menjadi terlalu disederhanakan dan emosional,” tambahnya.
Apa artinya bagi hubungan AS-India?
Untuk saat ini, sentimen publik di India kemungkinan tidak akan menggagalkan hubungan India–AS, yang tetap berakar pada kepentingan strategis dan ekonomi yang kuat. Namun perubahan yang terjadi di bawah permukaan semakin sulit diabaikan.
Apa yang dulunya merupakan hubungan yang didorong oleh aspirasi dan niat baik kini semakin dibingkai ulang melalui biaya, konsekuensi, dan persepsi ketimpangan.
Bagi banyak warga India, AS tidak lagi sekadar mitra atau model yang ditiru, melainkan kekuatan yang keputusannya dapat mengganggu kehidupan jauh melampaui batas wilayahnya.
Kalibrasi ulang tersebut, yang didorong oleh tekanan ekonomi nyata sekaligus dinamika geopolitik, mungkin akan lebih bertahan lama dibandingkan satu ketegangan diplomatik saja.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid