1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ilmuwan: Hutan Yang Asri Adalah Solusi Atasi Kemiskinan 

16 Oktober 2020

Hutan selama ini dibabat dengan alasan mengentaskan kemiskinan. Padahal menurut ilmuwan, hutan yang asri memiliki potensi ekonomi raksasa bagi penduduk miskin, meski belum sepenuhnya dipahami, terlebih dimanfaatkan. 

Lübecker Modell der Waldbewirtschaftung | Lübecker Wald
Foto: Knut Sturm/Forstamtsleitung Stadt Lübeck

Satu dari sepuluh orang di dunia hidup di dalam kemiskinan ekstrim. Nasib mereka kian runyam selama resesi ekonomi akibat pandemi. Namun wabah corona juga membantu mengurangi penetrasi manusia terhadap alam, demikian kesimpulan sebuah laporan yang disusun lebih dari 20 ilmuwan. 

“Salah satu cara mengendurkan tekanan itu dan mengentaskan kemiskinan adalah dengan mengakui dan mengoptimalkan peran kritis hutan dan pohon sebagai sekutu utama dalam memerangi kemiskinan,” tulis Alexander Buck, Direktur Eksekutif Serikat Internasional Organisasi Penelitian Hutan, di dalam laporan tersebut. 

Para ilmuwan mencatat, lebih dari 1,6 miliar manusia hidup dalam jarak 5 kilometer dari hutan, termasuk 250 juta penduduk paling miskin di dunia, yang seringkali bergantung hidup dari hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan pangan, obat-obatan dan sumber energi. 

Di banyak negara tropis, hutan menyumbang 20-25% terhadap pemasukan penduduk lokal, setara dengan sektor pertanian. 

Hutan, menurut Johan Oldekop, Guru Besar di University of Manchester, merupakan jaminan keamanan bagi penduduk dalam mengelola risiko ekonomi dan iklim. Hasil hutan bisa memenuhi separuh kebutuhan dasar penduduk miskin. 

Namun mereka yang paling miskin justru mendapatkan jatah paling sedikit dari industrialisasi hutan, lantaran ketiadaan hak tanah atau minimnya hak bersuara dalam menentukan bagaimana hutan digunakan, keluh Oldekop. 

“Komunitas-komunitas ini menggantungkan hidup dari hasil hutan dan sering tidak dilibatkan dalam proses pembahasan. Hal ini dibutuhkan untuk bisa mengelola hutan secara berkelanjutan di seluruh dunia,” kata dia kepada Reuters. 

Dalam banyak kasus, penduduk lokal yang harus menanggung beban kerusakan lingkungan akibat aktivitas industri, atau hilangnya hak memasuki kawasan yang dilindungi.  

Menurut laporan panel iklim antarpemerintah (IPCC), sebanyak 22% kawasan yang digunakan manusia merupakan hutan. Saat ini hanya 28% daratan Bumi yang masih asri dan alami.

Konsep global, solusi lokal 

Daniel C. Miller, Guru Besar Ilmu Lingkungan dan Sumber daya di Universitas Illinois, AS, menulis dalam laporan itu, ilmu pengetahuan belum mampu menawarkan “satu solusi pamungkas” untuk semua negara.  

Namun begitu para ilmuwan menemukan sejumlah konsep yang sudah teruji mampu mengurangi kemiskinan dengan mengandalkan hutan.  

Laporan itu mengutip proyek di Burkina Faso, di mana serikat petani dan pelaku usaha biji shea melatih kaum perempuan bercocoktanam. Sementara di Madagaskar, budidaya vanila dengan konsep ramah hutan sudah menjadi sumber pemasukan utama bagi petani. 

Adapun di Nepal, sebagian hutan sudah dikelola oleh komunitas lokal, meski kaum miskin dan berkasta rendah mendapat jatah paling kecil.  

Jika komunitas tidak dilibatkan, kata Oldekop, “maka mereka terancam termarjinalkan dan kita menciptakan lebih banyak kerugian ketimbang keuntungan.” 

Salah satu sektor bisnis yang ikut terimbas dampak negatif wabah corona adalah pariwisata ekologis, yang di banyak negara menjadi sumber pemasukan utama penduduk setempat. Hal ini bisa disimak di Costa Rica atau Thailand

Sejauh ini belum ada penelitian mengenai dampak negatif pandemi Covid-19 terhadap hutan dan kelangsungan hidup masyarakat lokal, klaim studi. 

Priya Shyamsundar, ekonom senior di lembaga lingkungan, The Nature Convservancy, menilai pandemi menjadi tantangan besar bagi warga paling miskin, antara lain berupa berkurangnya akses layanan kesehatan dan hilangnya pemasukan tambahan dari keluara yang bekerja di luar kota atau di luar negeri 

“Pandemi ini adalah ancaman eksistensial bagi kelangsungan hidup mereka,” kata dia. 

rzn/ap (Reuters) 

Budidaya Alami Cokelat ala Suku Ngöbe Selamatkan Hutan

06:14

This browser does not support the video element.


 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait