1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Hutan Bumi Dalam "Kondisi Darurat"

25 April 2019

Meski ada perkembangan positif dari Indonesia, laju deforestasi di seluruh dunia belum menunjukkan tanda akan melambat. Hampir sepertiga kawasan yang rusak adalah hutan hujan seluas Jawa Barat.

Brasilien Kampf gegen die Abholzung des Regenwaldes
Foto: Reuters/B. Kelly

Dunia kehilangan 12 juta hektar tutupan hutan hujan selama tahun 2018 silam. Laju deforestasi tercatat mencapai luas 30 lapangan bola per menit. Sepertiga kawasan tersebut atau hampir seluas Jawa Barat, berupa hutan hujan alami. Ilmuwan mewanti-wanti nasib Bumi kian di ujung tanduk.

Catatan 2018 merupakan penurunan luas hutan terbesar keempat sejak dunia pertama kali melakukan pencatatan pada 2001 silam. Data tersebut diolah dari temuan Global Forest Watch, yang menggunakan citra satelit dan pengindraan jauh untuk memonitor tutupan hutan tropis dari Brazil, Amerika Selatan, hingga Ghana, Afrika.

Data statistik menunjukkan produksi daging sapi di Brazil dan minyak sawit di Indonesia sebagai faktor terbesar pendorong deforestasi global.

"Hutan di Bumi berada di ruang gawat darurat," kata Frances Seymour, Peneliti World Resources Institute (WRI) yang juga memimpin tim riset. "Kesehatan planet Bumi sedang dipertaruhkan dan kebijakan tambal sulam sebagai jawaban tidak cukup," imbuhnya.

Seymour mengatakan laju deforestasi saat ini merupakan "kehilangan yang menyedihkan," dengan masyarakat kesukuan yang paling rentan kehilangan rumah tinggal dan sumber pemasukan akibat lenyapnya hutan.

Studi tersebut mencatat sejumlah hotspot baru deforestasi, terutama di Afrika, di mana penambangan ilegal, pembalakan liar dan ekspansi perkebunan cokelat mempercepat kerusakan hutan di negara-negara sabuk hijau seperti Ghana atau Pantai Gading.

Indonesia dianggap satu-satunya negara yang berhasil melindungi hutannya. Tercatat laju deforestasi melambat selama dua tahun terakhir menyusul moratorium penebangan hutan yang dikeluarkan pemerintah Joko Widodo. Selama ini industri kertas dan minyak sawit tercatat sebagai pelaku deforestasi terbesar.

"Kami berharap ini adalah indikasi bahwa kebijakan kami sejauh ini berdampak positif," kata Belinda Margono, Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Data statistik mengenai emisi CO2 dari deforestasi yang dipicu perdagangan global antara 2010-2014 dalam gigaton.

Laju kerusakan hutan ikut mempercepat pemanasan global. Selama ini ilmuwan meyakini tutupan hutan di permukaan Bumi menampung sepertiga gas rumah kaca yang diproduksi manusia setiap tahunnya. "Hutan adalah pertahanan terbaik kita melawan perubahan iklim dan kehilangan keragaman hayati, tapi deforestasi semakin marak," kata John Sauven, Direktur Eksekutif Greenpeace Inggris.

Penelitian itu juga mencatat kerusakan terbesar terjadi di hutan hujan. Pohon berusia tua mampu menampung emisi CO2 dalam jumlah besar dan sebabnya sangat sulit untuk digantikan.

"Langkah dramatis dibutuhkan untuk menanggulangi krisis global termasuk merestorasi hutan yang hilang. Tapi tanpa menghentikan laju deforestasi terlebih dahulu, kita hanya mengejar ekor sendiri," imbuhnya.

Laju kerusakan hutan pada 2018 lebih rendah ketimbang dua tahun sebelumnya. Deforestasi memuncak pada 2016 ketika dunia kehilangan 17 juta hektar hutan tropis, antara lain oleh kebakaran hutan. Ilmuwan meyakini, deforestasi melepaskan lebih banyak gas rumah kaca ke atmosfer Bumi ketimbang gabungan emisi gas buang seluruh kendaraan, kapal laut dan pesawat.

"Sangat vital buat kita untuk melindungi hutan yang tersisa," kata Glenn Hurowitz, Direktur Mighty Earth, sebuah LSM lingkungan global.

rzn/ap

Orangutan Melawan Buldozer

01:03

This browser does not support the video element.