Ramadan berakhir. Kini, saatnya merayakan Idul Fitri. Presiden Jerman juga menyampaikan ucapan selamat atas hari kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Berlin: Frank-Walter Steinmeier baru-baru ini mengunjungi Masjid WilmersdorfFoto: picture alliance/dpa/dpa-Pool
Iklan
Di hari raya Idul Fitri, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menyampaikan ucapan selamat atas berakhirnya bulan suci ini, sambil mengajak untuk merayakan momen ini dengan semangat saling menghormati antaragama.
"Mari kita tunjukkan bahwa kita juga menghormati keyakinan dan pemahaman yang berbeda tentang yang Ilahi," ujar Steinmeier dalam pesan ucapan yang disebarkan pada hari Minggu (31/03).
Dengan demikian, semua umat manusia dapat berkontribusi pada perdamaian, "yang menjadi impian dan harapan para penganut semua agama."
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Islam "telah hadir di Jerman"
Di banyak tempat, tetangga-tetangga nonmuslim, kerap turut diundang untuk berbuka puasa, ujar kepala negara Jerman tersebut.
"Ini lebih dari sekadar isyarat yang indah – ini sangat penting bagi kehidupan bersama kita sebagai masyarakat," tegas Presiden.
"Tidak ada yang kehilangan apapun dari keyakinannya sendiri ketika mengundang orang lain, dan tidak ada yang kehilangan apapun dari keyakinannya ketika menerima undangan tersebut," tambahnya.
Agama memberi hidup suatu struktur dan dimensi yang melampaui dunia sehari-hari, ujar Steinmeier. "Saya pun mengalaminya sebagai seorang kristiani."
Menyambut Idul Fitri dengan Kalender Ramadhan
Kalender Ramadhan “Iftarlender“. Tiap pintu kalender ini dibuka satu persatu hingga Idul Fitri tiba. Pembuatnya seorang Muslimah Jerman. Ia ingin membawa keceriaan selama bulan puasa.
Foto: privat
Membangun suasana hati berpuasa
Umat Islam mempersiapkan hari suci: Idul Fitri. Setelah tiga puluh hari berpuasa, akan tiba hari yang dinantikan itu. Penting bagi Nadia Doukali, --pemeluk Islam di Frankfurt-- menumbuhkan suasana hati yang menyenangkan dalam berpuasa. Untuk itu ia membuat Kalender Ramadan bernama „Iftarlender“ yang idenya mirip kalender Adven bagi kaum Kristiani dalam menanti Natal.
Foto: privat
Inspirasinya dari Kalender Adven
Nadia Doukali mengaku kerap mengalami kesulitan berpuasa, dimana ia harus bertahan tidak makan dan minum, menahan segala hawa nafsu, dari mulai matahari terbit sampai terbenam. Ia lalu membuat kalender menarik yang inspirasinya datang dari Kalender Advent Jerman. Bentuknya sebuah papan berisi pintu kecil-kecil berisi hadiah, seperti coklat, yang dibuka satu persatu sampai hari raya tiba.
Foto: Colourbox
Setiap pintu ada kata-kata indah
“Iftarlender“ berbentuk karton besar yang etrdirid ari 30 kotak kecil-kecil lengkap dengan pintunya. Di tiap kotak kecil terdapat coklat. Ada yang berisi kurma, kacang atau lainyna. Tiap kotak berpintu ada satu kata Arab, misalnya yang berarti ‚kesabaran‘, ‚damai‘, dll. Setiap harinya, satu pintu dalam kotak karton itu dibuka, hingga mendekati Idul Fitri.
Foto: privat
Bekerja untuk anak-anak
Nadia Doukali lahir tahun 1971 di Marrakesh, Maroko. Ketika berusia lima tahun, bersama orangtuanya ia pindah ke Jerman. Nadia yang merupakan orangtua tunggal itu merupakan penulis buku anak-anak. Ia juga senang menyelenggarakan acara buat anak-anak dan menciptakan hal-hal baru, seperti Kalender Ramadhan., misalnya. “Iftarlender“ dengan ornamen unik, memancing ketertarikan anak-anak.
Foto: Nicola Rehbein
Tantangan
Butuh dua tahun untuk mewujudkan ide Kalender Ramadhan ini. Bukan proses produksinya yang memakan waktu lama, melainkan mencari peminat produknya. "Saya telah menawarkannya ke dua produsen cokelat besar, tetapi mereka menolak, karena khawatir dengan Islamofobia di Jerman.“ Namun kemudian pintu terbuka lebar, temannya menawarkan diri membantu.
Foto: picture-alliance/Ralph Goldmann
Produknya sudah dipasarkan
Teman Nadia, Sebastian Weigelt merupakan seorang desainer produk dan seniman grafis. Awalnya, bersama-sama mereka memproduksi 1000 lembar Kalender Ramadhan. Produk emreka dijual di hotel bintang lima, di mana banyak tamunya yang beragama Muslim. Produknya juga bsia ditemui di beberapa supermarket di Frankfurt.
Foto: privat
Pesanan berdatangan
Selain dipasarkan di supermarket, Nadia juga menjual kalender Ramadhan lewat online. Produknya bukan hanya melayani pasar Jerman, tetapi juga negara-negara tetangga. Setiap harinya, ada puluhan pesanan yang diterima.
Foto: Reuters/M. Shemetov
Membangkitkan kegembiraan jelang Idul Fitri
Aiman Mazyek, ketua Dewan Pusat Muslim Jerman menilai "Iftarlender" ini sebagai ide yang sangat baik dan bonus yang berguna bagi umat Islam selama bulan Ramadhan. Terutama untuk anak-anak dan remaja.
Foto: picture-alliance/dpa/O. Berg
8 foto1 | 8
Dalam pesan ucapan tersebut, Presiden Jerman mengingatkan tentang kalender Ramadan yang kini telah menjadi hal yang umum, yang dirancang mengikuti contoh kalender Advent Kristen dan sangat populer di kalangan anak-anak muslim.
Steinmeier melihat ini sebagai "sebuah tanda kecil betapa Islam telah diterima di Jerman dengan segala tradisi khasnya."
Pemikiran tentang rekonsiliasi
Dengan perayaan Idul Fitri, umat muslim di seluruh dunia merayakan akhir Ramadan. Selama bulan puasa, para umat berpuasa dari fajar hingga terbenamnya matahari, menahan diri dari makan dan minum.
Di seluruh dunia, diperkirakan ada sekitar 1,9 miliar umat muslim. Sebagian besar dari mereka tinggal di Indonesia, India, Pakistan, dan Bangladesh.
ap/hp (epd, kna, dpa)
Bagaimana "Anak Klender" Doyan Durian Ini Bisa Ujian Masuk Tentara Jerman?
Axel, remaja Jerman berdarah Indonesia, ikut ujian masuk pasukan Bundeswehr saat Ramadan. Ujian sambil puasa, latihan tempur, dan enggak bisa makan ketoprak atau durian kesukaannya! Siap siaga meski perut keroncongan.
Foto: Yusuf Pamuncak/DW
Axel ikut ujian masuk untuk jadi serdadu Jerman
Dengan tekad membuat orang tua bangga, Axel berjuang keras mengikuti ujian masuk tentara Jerman, Bundeswehr. Dari tugas darurat, pemetaan wilayah, hingga pertolongan medis, dia harus selalu siap siaga 24/7. Memanjat, push-up, sit-up, renang, bongkar pasang tenda, berbagai jenis ujian yang bisa datang kapan saja. Ia telah berlatih selama tiga bulan di Bundeswehr untuk meraih impian masa kecilnya.
Foto: Yusuf Pamuncak/DW
Puasa saat ujian masuk Bundewehr
Meskipun Axel adalah warga negara Jerman, ia bangga disebut sebagai anak Klender, Jakarta Timur. Ibunya berdarah Indonesia dan ayahnya Jerman. Pada Ramadan tahun 2025, Axel mengikuti ujian masuk pasukan Jerman, Bundeswehr, yang jadwalnya tidak bisa ditunda. Meski kadang merasa pusing menjelang petang, ia tetap merasa kuat. Dalam foto ini, ia terlihat sedang berpatroli bersama kameradnya.
Foto: Yusuf Pamuncak/DW
Siap siaga sepanjang ujian
Selama tiga hari dua malam, ia menjalani ujian dengan berbagai tugas sesuai instruksi. Mereka bisa saja dibangunkan di tengah malam untuk melakukan apa yang telah dipelajari, seperti memberikan pertolongan medis kepada yang membutuhkan. Dalam foto ini, ia sedang melakukan pemetaan.
Foto: Yusuf Pamuncak/DW
Calon tentara Jerman yang suka durian
Ketika ditanya tentang buah favoritnya, tanpa ragu ia menjawab: Durian. Makanan lain yang sangat ia sukai adalah ketoprak. Saat diwawancarai oleh DW, ia menjelaskan kedua makanan favoritnya itu kepada tentara seniornya. Pertukaran budaya ini membantu membangun rasa solidaritas.
Foto: Ayu Purwaningsih/DW
Membuat bangga orang tua
Malam ujian, Axel tidur di hutan di Minden, Jerman. Sambil membenahi terpal untuk bermalam, ia mengungkapkan salah satu motivasinya untuk masuk dinas ketentaraan Jerman: ingin membuat orang tuanya bangga karena bisa berbakti kepada negara. Kakek dari pihak ayahnya juga seorang tentara Jerman. Jadi, ketika Axel mengumumkan keinginannya untuk masuk dinas tentara, seluruh keluarganya bersuka cita.
Foto: Ayu Purwaningsih/DW
Ujian bergabung di Batalyon Pionir/ Zeni Jerman-Inggris
Ujian masuk ke Batalyon Pionir/Zeni Jerman-Inggris 130 yang bermarkas di Minden, Nordrhein-Westfalen, sangat menantang. Batalyon ini merupakan bagian dari Brigade Tank 9 dan satu-satunya dalam NATO yang memiliki sistem jembatan apung M3. Saat ini, Jerman masih kekurangan tentara, dengan jumlah serdadu sekitar 185 ribu orang, termasuk 3.000 di antaranya yang beragama Islam, menurut data Bundeswehr.