1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiGlobal

IEA Lepas Cadangan Minyak Terbesar dalam Sejarah

Rahka Susanto sumber: AP, AFP
12 Maret 2026

IEA mengumumkan pelepasan 400 juta barel cadangan minyak, terbesar dalam sejarah, untuk menstabilkan pasar energi setelah perang Iran mengganggu pasokan global dan menghentikan pengiriman tanker melalui Selat Hormuz.

Jerman, Hamburg 2026 | Drum minyak berwarna-warni ditumpuk di sebuah gudang penyimpanan minyak
Gangguan pengiriman minyak di Selat Hormuz mengancam hampir seperlima pasokan minyak global dan memicu lonjakan harga energi di pasar internasionalFoto: BREUEL-BILD/IMAGO

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) pada Rabu (11/3) mengumumkan pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat negara anggotanya, langkah terbesar sepanjang sejarah organisasi tersebut. Kebijakan ini diambil untuk meredam gejolak pasar energi setelah perang yang melibatkan Iran mengganggu pasokan minyak global.

Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, mengatakan keputusan tersebut bertujuan mengurangi dampak langsung gangguan di pasar energi.

“Ini adalah langkah besar yang bertujuan mengurangi dampak langsung dari gangguan pasar,” kata Birol. “Namun perlu ditegaskan, hal terpenting agar aliran minyak dan gas kembali stabil adalah dibukanya kembali jalur transit melalui Selat Hormuz.”

Konflik yang meletus sejak 28 Februari setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran membuat lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz hampir berhenti total. Jalur sempit tersebut biasanya dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia setiap hari.

Menurut IEA, volume ekspor minyak mentah dan produk olahan kini turun menjadi kurang dari 10% dari tingkat sebelum perang, sementara pasokan energi global diperkirakan telah berkurang sekitar 20%.

AS dan negara G7 ikut gunakan cadangan energi

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan pemerintahannya juga akan memanfaatkan Strategic Petroleum Reserve (SPR) untuk menekan kenaikan harga bahan bakar.

“Kami akan melakukannya, lalu kami akan mengisinya kembali,” kata Trump kepada stasiun berita Local 12 pada Rabu (11/3). Ia menambahkan bahwa langkah tersebut diharapkanmendorong harga energi turun.

Departemen Energi AS kemudian mengonfirmasi bahwa Washington akan melepaskan 172 juta barel minyak dari cadangan strategis mulai minggu depan selama sekitar empat bulan.

Cadangan tersebut merupakan stok darurat minyak mentah terbesar di dunia, yang dibentuk untuk membantu negara menghadapi krisis pasokan energi.

Negara-negara industri dalam kelompok G7 juga mendukung langkah IEA. Presiden Prancis Emmanuel Macron memuji keputusan pelepasan cadangan tersebut dan mengatakan langkah itu sangat penting untuk meningkatkan pasokan global serta menstabilkan pasar energi.

Macron menambahkan bahwa sekitar 70% dari total minyak yang dilepas berasal dari negara-negara G7, termasuk 14,5 juta barel dari Prancis.

Analis: Hanya solusi sementara

Meski jumlah minyak yang dilepas sangat besar, sejumlah analis menilai dampaknya kemungkinan hanya bersifat sementara jika konflik terus berlangsung.

Eksekutif energi yang bekerja dengan Stanford Hydrogen Initiative, Maksim Sonin, mengatakan pelepasan cadangan dapat membantu menenangkan pasar dalam jangka pendek.

“Ini bukan solusi ajaib yang bisa menyelesaikan semuanya,” kata Sonin. “Masalah utamanya tetap harus diselesaikan.”

Sementara itu analis minyak dari Sparta, Neil Crosby, menilai langkah tersebut hanya memberikan dampak terbatas jika jalur perdagangan utama tetap tertutup.

“Skenario ini dulu sering dianggap tidak mungkin oleh banyak pihak di industri: jika terjadi perang dengan Iran, Angkatan Laut AS akan memastikan Hormuz tidak akan tetap tertutup,” katanya. “Namun sekarang kita sampai pada situasi itu, dan jalurnya benar-benar tertutup. Ini bencana besar.”

Direktur Center for Energy Studies di Rice University, Kenneth Medlock, juga memperingatkan bahwa penggunaan cadangan strategis memiliki risiko.

“Harga sudah naik, tetapi bisa menjadi lebih buruk,” kata Medlock. “Jika konflik ini berlangsung dua atau tiga bulan, Anda bisa kehilangan cadangan penyangga.”

Ia menambahkan, “Anda menguras stok sekarang. Itu selalu menjadi dilema. Anda menjualnya hari ini, tetapi besok tidak bisa menjual lagi karena cadangannya sudah habis.”

Para analis menilai pelepasan 400 juta barel minyak hanya mampu menggantikan beberapa minggu pasokan yang hilang. Stabilitas pasar energi global pada akhirnya tetap bergantung pada satu faktor utama: dibukanya kembali jalur perdagangan minyak melalui Selat Hormuz.

Editor: Prita Kusumaputri

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait