Ikan sapu-sapu meski berguna di akuarium ternyata menjadi ancaman bagi ekosistem perairan. Dikenal invasif, ikan ini merusak biodiversitas dan keseimbangan habitat.
Ikan sapu-sapu sudah dikategorikan sebagai ikan jenis asing invasif (JAI) lantaran mengancam kelestarian ikan lokal dan habitatnyaFoto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Iklan
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gema Wahyu Dewantoro, mengungkap bahaya yang ditimbulkan ikan sapu-sapu di perairan Indonesia. Gema mengatakan ikan sapu-sapu berpotensi merusak ekosistem.
"Ikan sapu-sapu merupakan ikan introduksi yang bersifat invasif sesuai Permen KP 19 tahun 2020. Ikan sapu-sapu sudah termasuk mencemari perairan karena sifatnya merusak dan reproduksinya tinggi, merusak jaring nelayan, melubangi pinggiran sungai atau danau," kata Gema kepada wartawan, Rabu (15/04).
Gema mengatakan meski bukan predator, ikan sapu-sapu dapat menggeser populasi ikan asli. Dia mengatakan ikan sapu-sapu mengandung logam berat dan berbahaya bagi kesehatan.
"Dagingnya diduga mengandung logam berat sehingga dapat berdampak negatif apabila dikonsumsi dalam jangka panjang," ujarnya.
Personel gabungan dari Pemprov DKI Jakarta menggelar operasi penangkapan ikan sapu-sapu di Kali Cideng, tepat di depan Plaza IndonesiaFoto: Jakarta Provincial Government
Sementara itu, peneliti BRIN, Haryono, menilai langkah Pemprov DKI Jakarta yang melakukan penangkapan ikan sapu-sapu sudah tepat. Menurutnya, populasi ikan tersebut saat ini telah melimpah dan mengganggu ekosistem perairan.
"Upaya seperti ini patut dicontoh untuk wilayah lain, bukan hanya penangkapan ikan sapu-sapu, tetapi juga ikan invasif lainnya seperti ikan red devil," ungkapnya.
Haryono menjelaskan ikan sapu-sapu merupakan ikan introduksi asal Amerika Selatan yang kini telah tersebar luas di Indonesia. Spesies ini, kata dia, bahkan sudah dikategorikan sebagai ikan jenis asing invasif (JAI) lantaran mengancam kelestarian ikan lokal dan habitatnya.
Jakarta, Kota Terbesar di Dunia dan Masalahnya
Menggeser Tokyo sebagai kota terbesar dunia, Jakarta, kota penuh kontradiksi: gedung pencakar langit berdampingan dengan permukiman kumuh, menghadapi polusi udara, kekurangan rumah, dan ketimpangan sosial yang meningkat.
Foto: Bay Ismoyo/AFP/Getty Images
Pemandangan surealis pencakar langit Jakarta
Pemandangan dari gedung tertinggi Jakarta, Autograph Tower di kompleks Thamrin Nine, sangat menakjubkan. Menurut laporan terbaru PBB, Jakarta kini menjadi kota terpadat di dunia, dengan hampir 42 juta penduduk. Pertumbuhan pesat ini membawa peluang ekonomi, tetapi juga memberi tekanan pada infrastruktur, lingkungan, dan kualitas hidup.
Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP/Getty Images
Potret kontras dalam ruang sempit
Di Jakarta, kompleks perumahan mewah dan gedung perkantoran kaca sering hanya berjarak beberapa meter dari permukiman kumuh. Menurut sebuah studi, kepadatan penduduk Jakarta kini mencapai 22.000 orang per kilometer persegi. Akibatnya, kontras sosial sangat terlihat. Sementara sebagian tinggal di gedung pencakar langit modern, banyak lainnya kesulitan mencari hunian yang terjangkau.
Foto: Bay Ismoyo/AFP/Getty Images
Kualitas udara yang buruk
Pertumbuhan penduduk juga berdampak pada lalu lintas perkotaan. Jalanan macet dan kemacetan menjadi hal biasa, menurunkan kualitas udara. Menurut studi terbaru Universitas Pertahanan Republik Indonesia, polusi partikel sangat kritis di kawasan padat penduduk seperti Jakarta Pusat.
Foto: Bay Ismoyo/AFP/Getty Images
Minimnya ruang terbuka hijau
Jakarta masih memiliki banyak ruang untuk meningkatkan area hijau. Meski terdapat beberapa proyek berkebun lokal, jumlahnya masih jauh dari cukup. Berdasarkan pemantauan satelit bertenaga AI oleh Husqvarna Urban Green Space Insights (HUGSI), yang memantau ruang hijau dan perkembangannya, area hijau hanya mencakup 18% dari total luas Jakarta, dan dari jumlah itu, hanya 14% yang tertutup pepohonan.
Foto: Romeo Gacad/AFP/Getty Images
Laju pertumbuhan berbuah sebuah konsekuensi
Urbanisasi menjadi faktor utama tingginya kepadatan penduduk Jakarta. Angka kelahiran relatif rendah, dan angka kematian tidak di atas rata-rata. Selain orang yang pindah ke Jakarta, sebagian masyarakat juga berpindah ke wilayah pinggiran Jakarta atau kota penyangga menciptakan arus komuter yang memadati Jakarta.
Foto: Adek Berry/AFP/Getty Images
Korban krisis iklim
Jakarta tidak hanya menghadapi masalah kepadatan penduduk, tetapi juga terdampak krisis iklim. Warga di kawasan pesisir yang padat harus menghadapi banjir rutin atau tinggal di rumah apung. Tanah yang tenggelam akibat ekstraksi air tanah berlebihan, naiknya permukaan laut, dan hujan deras membuat Jakarta sangat rentan.
Foto: Donal Husni/ZUMA/picture alliance
Ibukota yang akan dipindah?
Ibukota baru Indonesia, Nusantara, di Kalimantan, direncanakan untuk mengurangi beban Jakarta. Rencananya membangun “kota hutan pintar” dengan banyak ruang hijau, energi ramah lingkungan, infrastruktur modern, dan sistem transportasi cerdas. Namun, kritikus menilai proyek ini lebih bermotif politik dan untuk memperkuat citra pemerintah daripada menyelesaikan masalah nyata.
Foto: AFP/Getty Images
7 foto1 | 7
"Dampaknya terhadap manusia bersifat secara tidak langsung yaitu bila dikonsumsi akan membahayakan kesehatan manusia, karena kemungkinan mengandung bahan-bahan cemaran seperti logam berat," jelasnya.
Terkait upaya pengendalian, Haryono menyebut ada tiga metode yang dapat dilakukan di antaranya, secara biologi, kimiawi, dan manual. Namun, menurutnya, metode manual melalui penangkapan merupakan metode paling aman.
"Agar dapat terkendali populasinya perlu dilakukan penangkapan secara intensif dan periodik sehingga populasinya dapat ditekan dan semakin lama akan terkikis habis. Hal ini perlu adanya edukasi dan melibatkan semua pihak terkait (stakeholder)," tuturnya.