1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ketegangan Geopolitik Bikin Ilmuwan di Greenland Waswas

29 Januari 2026

Arktika dan Greenland menjadi pusat penelitian dalam menghadapi isu besar seperti perubahan iklim dan genetika, tapi sejumlah ilmuwan khawatir kerja sama internasional kini terancam.

Tiga beruang kutub tengah berjalan di hamparan es Arktika
Penelitian ilmiah di Greenland seluas dan beragam seperti bentang alamnya sendiriFoto: Kristin Laidre/AP Photo/picture alliance

Kerja sama ilmiah lintas negara yang sudah terbangun selama puluhan tahun kini berada di bawah tekanan, seiring hubungan politik Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang terus memanas akibat isu perdagangan dan pertahanan.

Lebih dari 30 tahun terakhir, negara-negara di kawasan Arktika bekerja bersama dalam berbagai bidang ilmu, mulai dari fisika, biologi, hingga ilmu sosial untuk memahami salah satu wilayah yang perubahannya paling cepat di dunia. Sejak akhir 1970-an, luas es laut Arktika menyusut sekitar 33.000 mil persegi setiap tahun, kurang lebih setara dengan luas wilayah Republik Ceko.

Menariknya, kolaborasi ilmiah tetap berjalan bahkan di masa Perang Dingin. Ilmuwan dari AS dan Rusia masih melakukan riset bersama, berbagi data, serta berkolaborasi dengan peneliti dari Kanada, Denmark, Norwegia, Islandia, Finlandia, dan Swedia. Setelah Perang Dingin berakhir, pendirian Dewan Arktika pada 1991 semakin memperkuat kerja sama ilmiah di kawasan tersebut.

Namun, hambatan lama kembali muncul setelah Rusia menginvasi Ukraina pada 2022. Peristiwa itu menghentikan puluhan tahun kolaborasi sains di Arktika. Ketegangan ini berpotensi bertambah rumit jika hubungan politik antara Eropa dan AS terus memburuk.

Alasan pentingnya riset di Arktika dan Greenland

Greenland, yang belakangan disebut-sebut dalam ambisi perluasan wilayah Presiden AS Donald Trump, sering dianggap sebagai sinyal awal bahaya bagi kondisi Bumi, ibarat "alarm dini".  Perubahan di Greenland kerap menjadi petunjuk awal krisis yang lebih besar.

Sekitar empat perlima wilayah Greenland tertutup lapisan es raksasa yang kini berada di titik rawan dalam krisis iklim. Lapisan es ini terus mencair akibat meningkatnya emisi karbon dari aktivitas manusia.

Mencairnya es memang membuka kemungkinan akses ke cadangan mineral tanah jarang Greenland, yang menarik bagi negara-negara dengan kebutuhan bahan baku strategis. Namun di sisi lain, jika seluruh lapisan es tersebut hilang, permukaan laut global berpotensi naik hingga 7,4 meter. Dampaknya akan dirasakan jutaan orang di wilayah pesisir di berbagai belahan dunia.

Bagi dunia sains, es Greenland sendiri memiliki nilai yang sangat besar. Inti es yang dibor hingga kedalaman ekstrem berfungsi seperti arsip alam, menyimpan jejak sejarah atmosfer Bumi dalam bentuk gelembung udara mikroskopis yang terperangkap selama ribuan tahun.

Selama puluhan tahun, para ilmuwan bekerja sama untuk meneliti perubahan lingkungan, penyusutan lapisan es dan gletser, serta hubungan kompleks antara ekosistem darat dan laut di Greenland dan kawasan Arktik secara keseluruhan.

Wilayah ini juga menjadi lokasi berbagai temuan penting, seperti meteorit York yang berukuran sangat besar, salah satu batu besi terbesar yang pernah jatuh ke Bumi. Selain itu, batuan purba bermagnet di Greenland memungkinkan tim peneliti AS dan Inggris pada 2024 memperpanjang perkiraan usia medan magnet Bumi hingga 3,7 juta tahun.

Tak hanya ilmu alam, riset ilmu sosial dan kesehatan juga berperan penting untuk memahami budaya, kondisi hidup, dan kesejahteraan masyarakat adat yang tinggal di dalam Lingkar Arktika.

"Memang terdengar klise, tapi apa yang terjadi di Arktika berdampak ke seluruh dunia," kata Maribeth Murray, arkeolog lingkungan asal Kanada dan Direktur Arctic Institute of North America, kepada DW. "Skalanya terlalu besar untuk ditangani oleh satu lembaga atau satu negara saja."

Situasi geopolitik pengaruhi penelitian sains 

Meski sikap Trump soal Greenland tampak mereda untuk sementara, kekhawatiran di kalangan ilmuwan belum hilang.

Menurut Murray, ketegangan seputar Greenland membuat sebagian komunitas ilmiah bersikap lebih berhati-hati dalam merencanakan proyek riset ke depan di kawasan tersebut.

"Kami merasa cukup tidak nyaman," ujarnya.

Para peneliti di wilayah kutub sudah melihat langsung bagaimana geopolitik bisa mengacaukan kerja ilmiah.

Perang Rusia di Ukraina memutus hubungan riset yang telah terjalin selama puluhan tahun dan menghentikan pertukaran ilmiah yang sebelumnya berjalan produktif, salah satunya melalui proyek INTERACT.

INTERACT dirancang sebagai program lintas Arktika yang memungkinkan berbagi riset dan akses lintas negara ke puluhan fasilitas penelitian.

"Kami berhasil membangun konsorsium di seluruh Arktika, melibatkan semua delapan negara Arktika," kata Margareta Johansson, ilmuwan kriosfer yang pernah menjadi koordinator INTERACT dan kini berafiliasi dengan Swedish Polar Research Secretariat.

Dengan pendanaan Uni Eropa, ilmuwan Eropa bisa melakukan riset di Rusia, data Rusia mengalir ke pusat riset Eropa, dan peneliti AS serta Kanada juga dapat bertukar riset dengan mitra Uni Eropa.

"Namun sejak Februari 2022, semua kerja sama itu berhenti," kata Johansson kepada DW.

Kebijakan Eropa menyebabkan keterlibatan 21 stasiun penelitian Rusia dihentikan, dengan dampak besar terhadap dunia sains. Awal 2025, laporan yang turut ditulis Johansson mencatat bahwa kombinasi kebijakan nasional, kebijakan lembaga, dan pertimbangan moral pribadi membuat sains Rusia dikeluarkan dari INTERACT serta menutup jalur diplomasi sains.

"Jika semua stasiun Rusia dikeluarkan, pada dasarnya kita kehilangan gambaran utuh tentang apa yang sedang terjadi di Arktika," jelas Johansson.

Sains jadi jembatan diplomasi

Program seperti INTERACT, dan riset Arktika secara umum, kerap dipandang sebagai bagian dari diplomasi sains. Secara sederhana, pendekatan ini memanfaatkan kerja ilmiah untuk membangun atau menjaga hubungan antarnegara.

Paul Berkman, diplomat sains yang berafiliasi dengan Harvard University, mengatakan kepada DW bahwa sains dapat membantu menemukan kepentingan bersama dan meredakan ketegangan politik.

"Diplomasi sains memberi ruang bagi sekutu maupun pihak yang berseberangan untuk membangun kepentingan bersama, serta memikirkan persoalan dari jangka pendek hingga jangka panjang," ujar Berkman.

Menurutnya, pendekatan ini membuka opsi dalam menghadapi tantangan besar, baik konflik militer maupun perubahan iklim.

"Arktika itu seperti pedang bermata dua," lanjutnya. "Wilayah ini bisa menjadi sumber konflik global, tapi juga berpotensi menjadi ruang perdamaian. Integrasi kepentingan Cina, Rusia, AS, Eropa, dan semakin banyak negara lain di Arktika adalah peluang untuk membuka dialog."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rivi Satrianegara

Editor: Muhammad Hanafi