1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikIndia

India: Gerakan "Para Kecoak" Tantang PM Modi

Dharvi Vaid dengan AFP, AP, Reuters and ANI
20 Juli 2026

Polisi India tidak memberikan izin bagi aksi long march menuju parlemen yang digelar gerakan Partai Rakyat Kecoak (CJP). Meski demikian, ribuan demonstran tetap mencoba bergerak menuju kompleks parlemen.

New Delhi, India, 2026 | Aksi protes Cockroach Janta Party (CJP) di depan gedung parlemen
Para demonstran mengibarkan bendera nasional India di lokasi aksi menjelang rencana pawai menuju parlemen yang digelar CJPFoto: Anushree Fadnavis/REUTERS

Polisi India membubarkan ratusan demonstran muda yang berusaha melakukan aksi long march dari kawasan Jantar Mantar menuju parlemen pada Senin (20/7). Adapun mereka menggunakan tongkat dan pentungan.

Menurut kantor berita ANI, aparat tengah berhadapan dengan massa. Sejumlah demonstran terlihat dipukul dan dihalau saat mencoba menembus barikade keamanan. Hingga berita ini ditulis, aparat keamanan India belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.

Reporter DW, Shalu Yadav, yang berada di lokasi melaporkan ratusan bahkan ribuan personel polisi dan pasukan paramiliter telah dikerahkan untuk mengamankan kawasan Jantar Mantar. Lokasi aksi kini dikelilingi beberapa lapis barikade polisi.

"Saat saya berjalan masuk, saya bisa mendengar yel-yel yang menggema di udara," ujar Yadav.

Menurutnya, polisi terus mengimbau massa melalui pengeras suara agar tetap berada di dalam kawasan Jantar Mantar.

"Tapi sudah tidak ada ruang lagi di dalam. Massa melebar jauh melewati barikade," katanya.

Jalan-jalan menuju lokasi aksi juga dipenuhi kendaraan pengendali kerusuhan. Adapun kecepatan internet di sekitar lokasi dilaporkan melambat.

Personel Rapid Action Force (RAF), satuan pengendali kerusuhan India, berjaga di New Delhi menjelang aksi protes Partai Kecoak.Foto: Mahima Kapoor/DW

Sidang parlemen ditunda, pemerintah buka ruang dialog

Di tengah bentrokan yang terjadi, anggota parlemen dari kubu oposisi mendesak agar kebocoran soal ujian masuk fakultas kedokteran dibahas dalam sidang Lok Sabha, majelis rendah parlemen India. Aksi protes dari anggota oposisi membuat sidang hari pertama ditunda hingga tengah hari. 

Sementara itu, juru bicara Partai Rakyat Kecoak, Saurav Das, mengatakan melalui platform X bahwa pemerintah India telah menghubungi pihaknya untuk berdialog.

Das mengatakan dirinya bersama juru bicara lain, Ashutosh Ranka, sedang dalam perjalanan menemui Menteri Kesehatan India JP Nadda.

"Pemerintah sudah menghubungi kami untuk berdialog sejak pagi. Tuntutan kami jelas. Kaum muda telah berkumpul dalam jumlah besar," kata Das.

Pemerintah India belum memberikan tanggapan resmi mengenai proses pembicaraan tersebut.

Aktivis iklim Wangchuk dukung demo dengan mogok makan

Demonstrasi Partai Kecoak yang telah berlangsung sekitar satu bulan, akhirnya mendapat perhatian lebih setelah aktivis iklim India, Sonam Wangchuk, mulai mogok makan pada 28 Juni. Aksi itu dilakukannya sebagai bentuk dukungan terhadap demonstrasi tersebut.

Selama 21 hari mogok makan, kondisi Wangchuk (59) terus melemah. Walau begitu, ia tetap bertahan di Jantar Mantar, dikelilingi para demonstran muda.

Pada Sabtu (18/07), Wangchuk dipindahkan secara paksa oleh polisi dari lokasi aksi ke rumah sakit. Polisi menyatakan pemindahan Wangchuk dilakukan berdasarkan perintah pengadilan dan rekomendasi tim medis. Sejak aktivis iklim itu dipindahkan, ribuan pendukung berdatangan ke Jantar Mantar sepanjang akhir pekan.

Setelah Wangchuk dibawa ke rumah sakit, pendiri CJP, Abhijeet Dipke, melanjutkan aksi mogok makan dan menyerukan agar Perdana Menteri Narendra Modi mengundurkan diri.

Modi tidak memberikan tanggapan atas aksi mogok makan tersebut. Hal ini kemudian memicu kritik dari berbagai pihak. Sejumlah pemimpin oposisi menyatakan dukungan kepada Wangchuk.

Pendiri Partai Kecoak lanjutkan aksi mogok makan dan minta PM Modi undur diriFoto: Mahima Kapoor/DW

Teranyar, Wangchuk mengatakan ia hanya akan mengakhiri mogok makannya apabila pemerintah bertanggung jawab atas kegagalan sistem pendidikan. Ia juga meminta agar aksi CJP boleh diteruskan. Para anggota parlemen pun harus berkomitmen membahas persoalan tersebut.

"Terlepas dari kondisi kesehatan saya, mogok makan saya akan terus berlanjut hingga setelah Sansad Chalo March dan hanya akan diakhiri dalam keadaan berikut," tulis Wangchuk di X sambil mengunggah catatan tulisan tangan berisi tuntutannya dari rumah sakit.

Apa tuntutan gerakan "Kecoak”?

"Delhi sekarang dipenuhi kecoak," ujar pendiri CJP, Abhijeet Dipke, di hadapan ribuan pendukung yang berkumpul di Jantar Mantar, New Delhi, pada Senin (20/07).

Pendukung Cockroach Janta Party (CJP) menuntut Menteri Pendidikan India mundur di Jantar MantarFoto: Sanjeev Verma/Hindustan Times/Sipa USA/picture alliance

Dalam satu bulan terakhir, Partai Kecoak bertransformasi dari gerakan satir di media sosial menjadi salah satu tantangan publik terbesar bagi pemerintahan PM Modi pada masa jabatan ketiganya.

Gerakan ini lahir pada Mei lalu setelah Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, dilaporkan menyamakan sebagian anak muda yang menganggur dengan "kecoak" dan "parasit", yang memicu kemarahan di media sosial.

Pernyataan tersebut kemudian menginspirasi nama Cockroach Janta Party, permainan kata yang merujuk pada nama partai Modi, Bharatiya Janata Party (BJP).

Karena viral, aksi mereka berkembang menjadi demonstrasi di jalanan. Sejak 20 Juni, CJP menggelar aksi duduk di Jantar Mantar dan menuntut Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan, mengundurkan diri.

Para demonstran marah karena soal ujian masuk perguruan tinggi kedokteran dan seleksi pegawai pemerintah berulang kali bocor. Mereka juga menuntut kompensasi bagi keluarga mahasiswa yang bunuh diri setelah skandal kebocoran soal. Sebab, ujian tersebut jadi harus ditunda. Sebagai informasi, lebih dari dua juta peserta terpaksa mengulang ujian masuk kedokteran nasional India bulan lalu akibat skandal tersebut.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Felicia Salvina

Editor: Ayu Purwaningsih