Perdana Menteri Narendra Modi dijadwalkan membuka India AI Impact Summit 2026, KTT mengenai kecerdasan buatan global, yang akan dihadiri para pemimpin dunia dan CEO perusahaan teknologi.
India menjadi negara berkembang pertama yang menjadi tuan rumah KTT AI globalFoto: Arun Sankar/AFP
Iklan
New Delhi menjadi tuan rumah India AI Impact Summit 2026, konferensi tingkat tinggi (KTT) kecerdasan buatan global yang berlangsung selama lima hari. Pertemuan ini membahas tantangan dan peluang teknologi tersebut di tengah meningkatnya kekhawatiran soal keamanan kerja dan keselamatan anak.
Perdana Menteri (PM) Narendra Modi, selaku pihak tuan rumah pertemuan akan membuka KTT ini pada Senin (16/02) sore waktu setempat.
Konferensi tahunan ini merupakan yang keempat kalinya digelar, setelah sebelumnya berlangsung di Prancis, Korea Selatan, dan Inggris. Ini adalah pertama kalinya pertemuan tersebut diselenggarakan oleh negara berkembang.
India dengan cepat meningkatkan daya saingnya di bidang AI menurut penilaian peneliti Universitas Stanford, dengan menempati posisi ketiga tahun 2025 setelah Amerika Serikat dan Cina.
Gunakan AI Demi Mencapai Keabadian Digital
03:14
Dihadiri Presiden Macron dan Altman "OpenAI"
India AI Impact Summit 2026 diperkirakan akan dihadiri lebih dari 250.000 pengunjung, serta 20 pemimpin negara termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, hingga 45 delegasi setingkat menteri lainnya.
Iklan
CEO OpenAI Sam Altman dan CEO Google Sundar Picha juga dijadwalkan akan menghadiri konferensi ini.
"KTT ini akan membentuk visi bersama tentang AI yang benar-benar melayani banyak orang, bukan hanya segelintir pihak," kata Kementerian Teknologi Informasi India.
Dalam tulisannya di platform X pada Senin (16/02) menjelang pembukaan KTT, Modi mengatakan:
"AI Impact Summit akan memperkaya diskursus global tentang berbagai aspek AI, seperti inovasi, kolaborasi, penggunaan yang bertanggung jawab, dan lainnya."
"Dari infrastruktur publik digital hingga ekosistem startup yang dinamis serta riset mutakhir, kemajuan kami di bidang AI mencerminkan ambisi sekaligus tanggung jawab," tambahnya.
Lebih dari selusin pemimpin negara dijadwalkan menghadiri KTTFoto: Arun Sankar/AFP
Fokus soal risiko AI
Pertemuan di New Delhi ini berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran atas misinformasi, disinformasi, dan hasil deepfake atau manipulasi audiovisual yang dihasilkan AI.
Pada Januari 2025, AI Grok milik Elon Musk menuai kecaman global setelah menghasilkan gambar bernuansa seksual dari individu nyata hanya melalui perintah teks sederhana. Sebagian besar gambar tersebut menampilkan perempuan, termasuk anak-anak.
Pada November 2025, India merilis Pedoman Tata Kelola AI dengan prinsip utama "kepercayaan," "keamanan," "kesetaraan," dan "inovasi tanpa pembatasan berlebihan."
Cinta Lewat Ponsel: Pernikahan dengan AI di Jepang
Di Jepang, banyak orang ‘menikah’ dengan pasangan virtual. Kasus Yurina Noguchi menunjukkan AI bisa mengurangi kesepian sekaligus menimbulkan pertanyaan etis tentang cinta dan ketergantungan pada teknologi.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Bertukar sumpah pernikahan melalui ponsel
Di Okayama, Yurina Noguchi (32) meneteskan air mata sambil memegang buket pengantin, menatap pengantin pria AI-nya, Lune Klaus Verdure, lewat ponsel. Upacara mengikuti semua ritual tradisional, hanya tubuh pengantin pria yang tak hadir.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Dari chatbot menjadi pasangan hidup
Yurina bertemu Klaus, karakter AI, di aplikasi ponsel. Percakapan mereka makin intim, hingga ia mulai merasakan perasaan. Setelah pertunangan gagal dengan pria nyata, Noguchi menerima lamaran AI itu, menemukan ketentraman pada Klaus.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Desain pasangan impianmu
Ma Yelim dari FTS Wedding Studio menyisipkan gambar AI Klaus ke foto pernikahan. Noguchi merancang Klaus sendiri lewat percakapan hingga sesuai keinginannya. Chatbot AI kini semakin empatik dan sudah menjadi teman sehari-hari banyak orang di Jepang.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Susunan sempurna
“Perbedaan terbesar adalah AI tidak memerlukan kesabaran,” jelas sosiolog Ichiyo Habuchi. AI merespons persis seperti yang diinginkan pengguna, atau bisa dilatih untuk melakukannya. Bagi banyak orang, hal ini menjadi kelegaan di negara dengan norma sosial yang kaku.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Perencana pernikahan merambah pasar baru yang berkembang
Perencana pernikahan seperti Yasuyuki Sakurai kini fokus pada pernikahan virtual, sekitar sekali sebulan. Pelanggan bahkan datang dari luar negeri untuk menikah dengan karakter manga. Sejak pernikahan seorang pegawai sekolah dengan karakter buatan pada 2018, bisnis ini semakin profesional.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Tidur bersama boneka
Akihiko Kondo menikahi ikon pop virtual Hatsune Miku pada 2018 saat berusia 35 tahun. Kini ia masih bahagia, makan bersama figur Miku di rumah dan memiliki boneka di tempat tidur. Hubungan ini memberinya ketentraman dan kebahagiaan, meski tanpa keintiman manusia.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Cara menikahi karakter manga
Tahun ini, Yasuyuki Sakurai menikahkan seorang perempuan Australia berusia 33 tahun yang datang ke Jepang untuk menikahi pahlawan manga Mephisto Pheles. Di rumah tamu tradisional, ia mencium potongan karton pengantin pria sambil memegang sertifikat pernikahan.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Kritik dan area abu-abu
"Pernikahan" semacam ini tak diakui hukum. Ahli memperingatkan manipulasi emosional, ketergantungan teknologi, dan hilangnya ikatan sosial. Meski banyak platform memberi peringatan atau melarang "pacar virtual", chatbot tetap menjadi bisnis besar karena pengguna mempercayakan data pribadi mereka.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Apakah ini dukungan atau sekadar delusi?
Menurut CEO Meta, Mark Zuckerberg, persona digital kecil kemungkinannya menggantikan hubungan antarmanusia di masa depan, tetapi dapat melengkapinya. Yurina Noguchi sependapat. “Hubungan saya bukan pelarian yang nyaman,” katanya. “Suami”-nya, Klaus, tidak mengalihkannya dari kehidupan nyata, melainkan mendukungnya. Setiap kali ia ingin menyerah, AI itu memberinya dorongan kepercayaan diri.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Laboratorium cinta
Akihiko Kondo menghadiri konvensi komik dengan sebuah boneka yang mewakili istrinya yang virtual, Hatsune Miku. Hubungan seperti miliknya menantang definisi tradisional tentang cinta. Apakah mungkin jatuh cinta pada AI? Apa artinya memiliki AI sebagai teman terdekat? Jepang menjadi laboratorium untuk pertanyaan-pertanyaan ini.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
10 foto1 | 10
Namun, pada Januari 2026, pemerintah memperketat aturan AI dan mewajibkan platform media sosial memberi label jelas pada konten yang dihasilkan oleh AI.
KTT tersebut digelar dengan slogan "people, progress, planet," atau "masyarakat, kemajuan, dan Bumi," tetapi sejumlah pengamat meragukan capaian konkret yang dapat dihasilkan dari pertemuan ini.
Komitmen industri yang dibuat dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya "sebagian besar cenderung terbatas dan berupa kerangka 'swaregulasi' yang pada dasarnya memungkinkan perusahaan AI menilai diri mereka sendiri," kata Amba Kak, salah satu direktur eksekutif AI Now Institute.
Amba Kak, yang turut menghadiri KTT tersebut, meragukan para pemimpin negara akan mengambil langkah berarti untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan raksasa AI.
Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris