Setelah sukses jadi negara ke-4 wujudkan 'soft landing' di BuIan, India kembali rencanakan misi berikutnya ke Bulan. Misi dengan nama Chandrayaan-5 itu akan bekerja sama dengan Jepang dan membawa rover seberat 250 kg.
Foto: Wahana pendarat dari Misi Chandrayaan-3 bernama Vikram di BulanFoto: Indian Space Research Organisation/AP/picture alliance
Iklan
Pemerintah India dilaporkan telah menyetujui rencana untuk misi berikutnya ke Bulan bernama Chandrayaan-5.
Hal ini diungkapkan oleh Ketua Organisasi Penelitian Antariksa India (ISRO), V Narayanan, dalam sebuah acara di kantor pusat ISRO di kota Bengaluru, India selatan, pada Senin (17/03).
Menurut dia, Misi Chandrayaan-5 akan membawa sebuah kendaraan penjelajah atau rover berbobot 250 kilogram yang akan mempelajari permukaan Bulan.
"Hanya tiga hari lalu, kami mendapat persetujuan untuk Misi Chandrayaan-5. Kami akan melakukannya bersama Jepang,” kata Narayanan seperti diberitakan Indian Express.
"Kendaraan penjelajah canggih ini bertujuan melakukan studi rinci tentang permukaan dan komposisi Bulan,” tambahnya.
Membangun Stasiun Permanen di Bulan
03:54
This browser does not support the video element.
India dan misi-misinya ke Bulan
Misi pertama India ke Bulan dinamai Chandrayaan-1, berhasil diluncurkan pada tahun 2008. Misi ini bertujuan mengumpulkan data kimia, mineralogi, dan foto-geologi Bulan.
Misi berikutnya dinamai Chandrayaan-2, diluncurkan pada tahun 2019 dan bertujuan mempelajari topografi dan komposisi mineral Bulan.
Misi ini terdiri dari pengorbit (orbiter), pendarat (lander), dan penjelajah (rover) unuk menjelajahi Kutub Selatan Bulan yang belum tersentuh.
Meskipun misi ini mengalami beberapa kemunduran di tahap-tahap akhirnya, wahana pengorbit dari Chandrayaan-2 terus mengirimkan gambar-gambar beresolusi tinggi dari Bulan.
Misi selanjutnya dinamai Chandrayaan-3. Wahana pendarat yang dinamai Vikram dari misi ini berhasil mendarat dengan mulus di Kutub Selatan Bulan pada 23 Agustus 2023.
Kita mengirim wahana untuk terbang dari planet ke planet dan bulan ke bulan dalam beberapa dekade terakhir. Beberapa di antaranya bahkan sudah terbang melampaui tata surya. Namun, mengapa kita melakukannya?
Foto: NASA/New Horizons
Aksi ganda luar angkasa
Sekedar lewat? Itu biasa. Namun, jika dua wahana terbang hanya berbeda sehari? Itu baru spesial! Untuk pertama kalinya di luar angkasa, dua wahana terbang di sekitar Venus pada Agustus lalu. BepiColombo mengarah ke Merkurius dan Solar Orbiter mengarah ke matahari. Mereka tidak akan sampai ke tujuannya tanpa bantuan gravitasi. Sayangnya, mereka tidak saling berpapasan.
Foto: ESA
Gravitasi membantu lajunya pesawat luar angkasa
BepiColombo mengambil gambar Venus ini. Namun, pengambilan gambar tersebut hanya misi sekunder. Wahana itu terbang melewati Venus untuk memperlambat lajunya. BepiColombo harus menyamai “energi orbit”nya dengan energi orbit milik Merkurius, untuk mencapai orbit planet tersebut. Mudahnya, wahana itu melaju ke Venus dan dengan bantuan gravitasi, sama layaknya seperti ketapel antar planet.
Foto: ESA
Perang dingin di Venus
Perang dingin dimulai seiring dengan perlombaan luar angkasa pertama. Rusia merupakan yang pertama mencoba terbang melewati Venus pada 1961, tapi gagal. Mereka merasa terpukul ketika AS mencoba hal yang sama setahun kemudian dan berhasil dengan wahana Mariner 2. Ketika Rusia mengantongi keberhasilan pertama pada 1978, Amerika sudah mencapai Merkurius, Mars, dan Jupiter.
Foto: NASA/JPL
Berpetualang melampaui batas
Meluncur pada 1977, wahana Voyager 1 dan 2 dikirim untuk menjelajah luar tata surya. Setiap wahana membawa piring emas berisikan suara Bumi. Wahana terbang melewati Jupiter, di mana Voyager 1 memfoto bintik merah besar, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Mereka sekarang berada jauh di luar angkasa dan menjadi barang buatan manusia dengan jangkauan terbang terjauh yang pernah ada.
Orang-orang sering membahas bulan yang penuh dengan keajaiban dan cinta. Namun, tahukah kalian kalau Jupiter memiliki 79 bulan? Wahana Voyager 2 menemukan satu diantaranya. Ditemukan juga bahwa Europa, bulan Jupiter, memiliki tanda kehidupan lain selain di Bumi. Tertarik dengan lautan asin Jupiter, NASA ingin mencari tahu lebih lanjut dengan wahana Europa Clippernya.
Foto: NASA/JPL-Caltech
Hancur dan terbakar dalam kemenangan
Tak kalah dengan Jupiter, Saturnus memiliki 82 bulan. Wahana Cassini merupakan misi kolaborasi Amerika dan Eropa penjelajah Saturnus, menargetkan sekitar 162 target terbang melewati bulan Saturnus, termasuk Titan dan Enceladus. Setelah 13 tahun menjelajah tata surya, Cassini mengambil satu eksplorasi terakhir di Saturnus, mendata hasil observasinya hingga akhir.
Foto: NASA/JPL-Caltech/Space Science Institute
Hingga ke Pluto
Voyager 1 dan 2 memiliki rekan di ujung tata surya, yakni New Horizon. Setelah mampir ke Jupiter untuk mendapatkan dorongan, wahana itu terbang mengitari Pluto selama enam bulan untuk mempelajarinya lalu berkelana ke Sabuk Kuiper. Pioneer 10 dan 11 adalah wahana lain yang berhasil sampai ke Pluto. Misi ini membantu kita memahami geologi dan kehidupan di luar angkasa.
Foto: NASA/New Horizons
Luar angkasa tak berujung
Masih ada misi terbang lain yang penting, seperti Rosetta, yang melakukan misi terbang lintas Bumi dan Mars, sebelum pergi ke komet Chury, Giotto di komet Halley, Deep Space 1, Deep Impact, Stardust, dan di masa depan Hera, yang akan menjadi wahana pertama yang mencapai sistem asteroid biner, Dydimos. Mengapa? Karena manusia ingin tahu asal usul dan posisinya di alam semesta ini. (mn/hp)
Foto: ESA
8 foto1 | 8
Misi Chandrayaan-4 baru akan diluncurkan India pada tahun 2027. Persetujuan untuk misi ini telah diberikan pemerintah India tahun lalu, dan nantinya akan bertugas mengumpulkan sampel meterial Bulan dan membawanya kembali ke Bumi.
India juga berharap untuk meluncurkan misi luar angkasa berawak pertamanya yang dinamai Misi Gaganyaan pada tahun 2028.