Mampukah India Jadi Pusat Semikonduktor Setelah Taiwan?
23 Juli 2026
Lebih dari 90% cip semikonduktor paling canggih di dunia dibuat di Taiwan, tempat yang menjadi pusat persaingan yang terus berlanjut antara Amerika Serikat (AS) dan Cina.
Gangguan apa pun terhadap industri cip Taiwan kemungkinan akan mengguncang perekonomian global. Semikonduktor modern digunakan untuk membuat berbagai produk, mulai dari ponsel pintar dan kendaraan listrik (EV) hingga pesawat terbang dan sistem militer.
Selama pandemi Covid-19, kelangkaan cip memaksa produsen otomotif menghentikan produksi. Hal itu memperlihatkan betapa bergantungnya dunia pada segelintir produsen di Asia Timur.
Akibatnya, berbagai negara berlomba membangun rantai pasok semikonduktor yang lebih tangguh. AS, Jepang, Korea Selatan, dan juga Uni Eropa telah meluncurkan program bernilai miliaran dolar untuk menarik produsen cip.
Kini, India sedang menjalankan upaya terbesar yang pernah dilakukannya untuk menjadi bagian dari jaringan tersebut dan memasuki panggung global sebagai kekuatan baru di industri elektronik masa depan.
Ambisi India dalam pembuatan cip
Pekan lalu, pemerintah India menyetujui program semikonduktor senilai $13,2 miliar (sekitar Rp215,2 triliun) yang diberi nama Semicon 2.0. Program ini melanjutkan India Semiconductor Mission (ISM) senilai $9 miliar (sekitar Rp147 triliun) yang diluncurkan pada 2021, dengan tujuan membangun seluruh ekosistem industri cip semikonduktor, mulai dari desain dan fabrikasi cip hingga pengemasan tingkat lanjut, pengembangan material khusus, produksi peralatan, serta pelatihan tenaga kerja.
Ribuan insinyur yang bekerja untuk perusahaan seperti Nvidia, AMD, Qualcomm, dan Texas Instruments telah merancang beberapa cip semikonduktor paling canggih di dunia dari pusat riset di kota Bengaluru, Hyderabad, dan Noida, India.
Namun, para analis memperingatkan bahwa India masih tertinggal dalam manufaktur berskala besar. Dalam industri semikonduktor, sektor inilah yang memberikan nilai ekonomi sekaligus kepentingan strategis.
"India sudah memiliki keahlian untuk merancang cip semikonduktor yang canggih," kata V Kamakoti, Direktur Indian Institute of Technology di Kota Madras.
"Insinyur India yang bekerja di perusahaan dalam negeri maupun perusahaan multinasional telah berhasil merancang dan menghasilkan cip yang kompleks," ujar Kamakoti kepada DW. "Tantangan yang lebih besar adalah memproduksinya."
Sejauh ini, kemajuan India lebih banyak berfokus pada pengemasan dan pengujian cip, bukan pada proses manufaktur cip itu sendiri.
Kamakoti mengatakan, langkah berikutnya adalah membangun ekosistem manufaktur dalam negeri agar kemampuan desain tersebut dapat diwujudkan menjadi produksi dalam skala besar.
Target pasar senilai $100 miliar pada 2030
Micron Technology, produsen cip memori asal AS, serta Kaynes Semicon dan CG Semi, dua perusahaan perakitan dan pengemasan semikonduktor asal India, telah memulai produksi komersial dalam tahap pertama program semikonduktor India.
Menteri Elektronik dan Teknologi Informasi India, Ashwini Vaishnaw, mengatakan bahwa tahap berikutnya bertujuan agar lebih banyak tahapan dalam rantai nilai industri semikonduktor dilakukan di India.
"Meyakinkan perusahaan-perusahaan global kini tidak lagi sesulit dulu," kata Kepala Eksekutif India Semiconductor Mission (ISM), Amitesh Kumar Sinha, sambil merujuk pada 12 proyek fabrikasi dan pengemasan yang telah disetujui, di mana tiga di antaranya sudah memasuki tahap produksi komersial.
Pemerintah India menargetkan terbentuknya pasar semikonduktor domestik senilai $100 miliar hingga $110 miliar (sekitar Rp1,63 kuadriliun) pada 2030. Pemerintah juga ingin memenuhi hingga tiga perempat kebutuhan industri elektronik India melalui cip yang dirancang dan diproduksi di dalam negeri.
Industri yang mahal
Kamakoti berpendapat bahwa India sebaiknya terlebih dahulu membuktikan kemampuannya memproduksi cip 28 nanometer (28 nm) yang sudah matang dan andal dalam skala besar, sebelum mencoba memproduksi prosesor 3 nanometer (3 nm) tercanggih yang digunakan pada ponsel pintar kelas atas dan AI.
"Cip 28 nm akan memenuhi sebagian besar kebutuhan India. Setelah itu berhasil, kita bisa secara bertahap beralih ke teknologi yang lebih maju," ujarnya.
Memanfaatkan perkembangan AI
Ambisi India juga didorong oleh berbagai faktor di luar kendalinya.
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan pesatnya perkembangan AI, banyak perusahaan mulai meninjau kembali rantai pasok mereka. Sementara itu, permintaan terhadap semikonduktor diperkirakan akan meningkat tajam dalam satu dekade mendatang.
Sambit Sahu, veteran industri semikonduktor yang memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di Qualcomm dan Intel, mengatakan India perlu membangun kemampuan di seluruh rantai nilai industri semikonduktor, mulai dari desain cip dan pengembangan kekayaan intelektual hingga fabrikasi dan manufaktur.
"Pertumbuhan pesat AI akan terus mendorong permintaan semikonduktor selama bertahun-tahun ke depan, sehingga membuka peluang bagi India," kata Sahu kepada DW.
"Membangun ekosistem manufaktur semikonduktor akan membutuhkan biaya besar dan menghadapi tantangan teknis. Namun, dengan investasi yang berkelanjutan dan kebijakan yang mendukung, India berpotensi menjadi salah satu pusat manufaktur penting dalam satu dekade mendatang."
Namun, tidak semua pihak yakin India dapat dengan cepat mengejar ketertinggalannya di bidang manufaktur.
Seorang eksekutif senior industri semikonduktor yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa, untuk masa mendatang, India kemungkinan masih akan lebih unggul dalam desain cip dibandingkan fabrikasi.
"India telah membangun kemampuan kelas dunia dalam desain cip, tetapi manufaktur merupakan tantangan yang berbeda," katanya. "Dalam jangka pendek, peluang terbesar ada pada pengemasan, pengujian, dan manufaktur cip dengan teknologi matang."
Semicon 2.0 menjadi upaya paling ambisius India sejauh ini untuk ikut bersaing dalam industri semikonduktor.
Keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada miliaran dolar yang telah dijanjikan India, tetapi juga pada kemampuannya mewujudkan komitmen itu menjadi pabrik, tenaga kerja terampil, dan ekosistem manufaktur yang kompetitif.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Levie Wardana
Editor: Melisa Lolindu